October 26, 2017

Kerajaan Kutai, Dari abad V dan Masih Eksis Hingga Masa Milenial



Agus Wibowo

Istana Kutai Kertanegara
Kutai merupakan salah satu kerajaan tertua di wilayah Nusantara, eksis di abad 4 Masehi, eksis di masa Majapahit, eksis di masa penjajahan Belanda bahkan masih ada di masa reformasi. Berdasarkan bukti tertulis Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia, bahkan menjadi batas masa pra-sejarah dengan masa sejarah. Memang ada kerajaan yang diduga lebih tua, yaitu Salakanegara di ujung barat Pulau Jawa, tapi informasi yang mengabarkan kerajaan ini kebanyakan berasal dari berita luar negeri, baik berita China maupun Eropa.

Prasasti Yupa menyebutkan bahwa Kerajaan Kutai dirintis oleh Kudungga dilanjutkan oleh putranya Aswawarman, kemudian dipimpin cucunya yang bernama Mulawarman. Pada masa Mulawarman inilah Kerajaan Kutai mencapai kejayaan, diantaranya membangun 7 prasasti yupa kemudian menjadi prasasti tulis tertua di Indonesia dan dijadikan batas waktu peradaban masa pra-sejarah dan masa sejarah di Indonesia. Setelah Raja Mulawarman, tidak ditemukan lagi berita tentang Kerajaan Kutai yang terletak Martadipura di seberang Muara Kaman, meskipun pusat kerajaan masih eksis sampai abad 14.


Berdasarkan informasi yang disajikan dalam situs web Pemerintah Kabupaten Kutai Kertanegara, informasi tentang Kutai muncul kembali di abad 13, atau sejaman dengan Kerajaan Singasari. Dalam situs http://kesultanan.kutaikertanegara.com, disebutkan bahwa pada akhir abad 13 berdiri kerajaan baru di Tepian Batu yang bernama Kutai Kertanegara. Kerajaan baru yang sama-sama di dekat Sungai Mahakam ini didirikan oleh Aji Batara Agung Dewa Sakti yang berkuasa dari 1300-1325. Kerajaan ini bernama Kutai Kertanegara, ada kemiripan dengan Raja Singasari Kertanegara, dan waktu berdirinya 7 tahun setelah berdirinya Kerajaan Majapahit di tahun 1293. 


Dua kerajaan yang terletak di tepian Sungai Mahakam ini saling bersaing selama ratusan tahun, sampai kemudian kerajaan baru Kutai Kertanegara yang dipimpin Raja Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa mengalahkan Kutai lama, atau Kutai Martadipura. Sang raja kemudian menyatukan dua kerajaan dengan menamakan kerajaannya menjadi Kutai Kertanegara Ing Martadipura. 


Prasasti Yupa Kutai



Pada abad 17 penyebaran pengikut Agama Islam mulai tersebar luas di wilayah Nusantara, di Pulau Jawa sudah berdiri Kerajaan Demak, kemudian Kerajaan Mataram Islam yang menyatakan diri sebagai kelanjutan dari Kerajaan Majapahit. Kutai Kertanegara menerima Agama Islam sebagai agama resmi kerajaan, dan raja mulai menggunakan gelar Sultan. Raja pertama yang menggunakan gelar sultan adalah Sultan Aji Muhammad Idris (1735-1778). Sultan Aji Muhammad Idris adalah menantu Sultan Wajo di Sulawesi Selatan, terlibat dalam perang Kerajaan di Sulawesi Selatan melawan pasukan VOC dan gugur pada 1739.
 

Meninggalnya Sultan Idris memunculkan perebutan kekuasaan di Kutai Kertanegara oleh salah satu kerabat sultan, yaitu Aji Kado yang mengangkat dirinya menjadi Sultan dengan gelar Sultan Aji Muhammad Aliyeddin. Hal ini membuat putra mahkota Aji Imbut yang masih kecil dilarikan ke Wajo yang kembali ke Kutai setelah dewasa.  Aji Imbut mendapatkan dukungan dari kalangan keluarga di Bugis dan kerabat istana yang setia pada putra mahkota, dan dia dinobatkan sebagai sultan Kutai Kertanegara dengan gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin dengan istananya di Mangkujenang {Samarinda Semerang). 


Persaingan dua Kutai ini berlangsung cukup lama, dimana Kutai di Mangkujenang melakukan embargo terhadap  Kutai Kertanegara, melalui kerjasama dengan Kerajaan Bugis dan bajak laut Sulu. Dikabarkan bahwa Aji Kado sempat meminta bantuan VOC tapi tidak dipenuhi, akhirnya Sultan Aji Muhammad berhasil mengalahkan Aji Kado dan merebut istana  Pamarangan pada tahun 1780. Ibukota kerajaan kemudian dipindahkan ke Tepian Pandan pada 28 September 1782. Kota ini kemudian dikenal sebagai Tangga Arung yang berarti Rumah Raja, dan kii dikenal sebagai Tenggarong.


Pada tahun 1844 ada dua kapal dagang Inggris yang ingin mendapatkan lahan, mendirikan pos dagang, serta hak ekslusif menjalankan kapal uap masuk perairan Sungai Mahakam. Sultan Aji Muhammad hanya mengijinkan mereka untuk berdagang di Samarinda saja. Kecewa dengan penolakan Sultan armada dagang Inggris menyerang istana yang langsung dibalas dan pimpinan armada dagang Inggris, James Erskine Murray tewas. Insiden ini membuat kerajaan Inggris marah dan akan melakukan pembalasan.


Sebagai penguasa atas wilayah Nusantara, Belanda menyatakan kepada Kerajaan Inggris untuk menghukum kerajaan Kutai Kertanegara. Pemerintah Belanda yang mengambil alih kekuasaan VOC sejak tahun 1805 mengirim pasukan untuk menyerang Kutai. Sultan diungsikan dan pasukan Belanda dihadapi oleh Pangeran Senopati Awang Long. Kesultanan Kutai ditaklukkan dan pada tanggal 11 Oktober 1844, Sultan A.M. Salehudin membuat perjanjian dengan Belanda yang intinya Sultan mengakui pemerintahan Hindia Belanda dan mematuhi Residen di Banjarmasin sebagai wakil pemerintah Hindia Belanda. Kesultanan Kutai menyatakan menjadi bagian dari pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1863 ketika dipimpin oleh Sultan A.M. Sulaiman yang berkuasa dari 1850 sampai 1899.


Di masa ini mulai ada eksplorasi batubara yang dimulai oleh seorang insinyur dari Belanda. Kesultanan Kutai Kertanegara makin makmur dan terkenal karena mendapatkan royalti dari hasil tambang batubara. Di tahun 1907 pemerintah Belanda meminta wilayah hulu Sungai Mahakam untuk komplek misi Katolik di Laham dengan kompensasi sebesar 12.990 gulden.  Memasuki abad 20 perekonomian Kutai Kertanegara berkembang makin pesat, mendirikan perusahaan Borneo-Sumatera Trade Co, menghasilkan akumulasi kapital yang mantap dan di tahun 1924 kesultanan Kuta mempunyai dana sebesar 3,28 juta Gulden –jumlah yang sangat besar. Ditahun 1936, Sultan A.M. Parikesit membangun istana baru dari beton yang selesai dalam 1 tahun.


Sewaktu ekspansi oleh Jepang Kesultanan Kutai Kertanegara tunduk pada Tenno Heika dan mendapatkan gelar Koo dengan nama kerajaan sebagai Kooti –ucapan orang Jepang terhadap Kutai. Dua tahun setelah Indonesia merdeka, Kesultanan Kutai Kartanegara dengan status Daerah Swapraja masuk kedalam Federasi Kalimantan Timur bersama-sama daerah Kesultanan lainnya seperti Bulungan, Sambaliung, Gunung Tabur dan Pasir dengan membentuk Dewan Kesultanan. Pada tahun 1953 Kesultanan Kutai mendapatkan status sebagai Daerah Istimewa otonom tingkat kabupaten, yang disahkan melalui UU Darurat no. 3 tahun 1953.

Kutai di Masa Indonesia Merdeka

Mahkota Kutai
Pada tahun 1959, wilayah Kesultanan Kutai dibagi menjadi 3 daerah, yaitu Kabupaten Kutai dengan ibukota di Tenggarong, Kota Balikpapan dan Kota Samarinda. Pada 20 Januari 1960, pemerintah RI mengangkat Bupati dan Walikota, masing-masing sebagai berikut: 1. A.R. Padmo sebagai Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kutai, 2. Kapt. Soedjono sebagai Walikota Kotapraja Samarinda dan 3. A.R. Sayid Mohammad sebagai Walikota Kotapraja Balikpapan. Sehari kemudian, melalui Sidang Khusus DPRD Daerah Istimewa Kutai, Pemerintahan Kesultanan Kutai Kertanegara dibubarkan dan Sultan Aji Muhammad Parikesit diturunkan dari tahta dan menjadi rakyat biasa.


Setelah reformasi, mulai muncul inisiatif untuk menghidupkan kembali Kesultanan Kutai sebagai upaya pelestarian warisan sejarah dan budaya Kerajaan Kutai, sebagai kerajaan tertua di Indonesia. Upaya ini dipelopori oleh Bupati Kutai Kertanegara Drs. H. Syaukani dengan menghadap Presiden ke-4 Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid. Gus Dur setuju dikembalikannya Kesultanan Kutai Kartanegara kepada keturunan Sultan Kutai yakni putera mahkota H. Aji Pangeran Praboe. Pada 22 September 2001, Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara, H. Aji Pangeran Praboe Anoem Soerya Adiningrat dinobatkan menjadi Sultan Kutai Kartanegara dengan gelar Sultan H. Aji Muhammad Salehuddin II. Penabalan dilaksanakan setahun kemudian pada tanggal 22 September 2001.


Informasi lebih lengkap dan detil tentang Kerajaan/Kesultanan Kutai bisa dilihat di beberapa link berikut. Ada informasi tentang silsilah, gelar kebangsawanan, lambang kerajaan dan sebagainya. Selain itu juga ada informasi tentang obyek-obyek wisata di wilayah Kutai Kertanegara di provinsi Kalimantan Timur.***