October 01, 2017

Kerajaan Singasari Bangkit dari Sisa Kerajaan Jenggala

Agus Wibowo


Ken Dedes:
ibu raja-raja Singasari
Kerajaan Singasari dideklarasikan di Tumapel pada tahun 1204, menaklukkan Kerajaan Kediri tahun 1222, dan  mencapai puncak kejayaan pada dekade 1250-an sampai awal 1290-an. Kerajaan yang dibangun oleh Ken Arok bergeralar Rajasa sang Amurwabhumi ini runtuh pada tahun 1292 ketika dipimpin Raja Kertanegara. Keberadaan Kerajaan Singasari diketahui dari beberapa sumber, baik berupa kitab maupun Prasasti, dianaranya: Kitab Pararaton, Kitab Negara Kertagama, Prasasti Lawadan, Prasasti Mulamalurung, Prasasti Wurareh, serta Prasasti Kudadu (1294), Prasasti Sukamerta (1296) dan Prasasti Belawi (1305) yang dibuat di masa awal Kerajaan Majapahit. Kitab Pararaton ditemukan di abad 16, tidak diketahui penulisnya. Kitab Negara Kertagama ditulis oleh Mpu Prapanca, seorang pemuka agama Budha Kerajaan Majapahit pada abad 14, yang diidentifikasi oleh Profesor Slamet Mulyana bernama Nadendra -yang terdiri dari 5 huruf: na - da - na - da - ra.
Prasasti Lawadan adalah prasasti batu yang dibuat oleh Raja Kediri, Sri Kertajaya, sebagai pengukuhan anugerah sima perdikan kepada penduduk Desa Lawadan yang telah memberikan perlindungan setelah kekalahan dalam peperangan pertama antara Kerajaan Tumapel dengan Kerajaan Kediri di tahun 1205. Prasasti Mula Malurung merupakan dokumen tertulis paling lengkap tentang Kerajaan Singasari yang dibuat oleh Raja Wisnuwardhana pada tahun 1254. Prasasti Wurareh dibuat oleh Raja Kertanegara pada tahu 1289. Prasasti Belawi dibuat pada tahun 1295 oleh pendiri Kerajaan Majapahit, Kertarajasa Jayawardhana, yang lebih dikenal dengan nama Raden Wijaya.

Kitab Pararaton mengisahkan terbentuknya Kerajaan Singasari melalui sepak terjang pendirinya yang bernama Ken Arok, seorang pemuda berandalan yang ditemukan oleh Begawan Lohgawe, dididik dan kemudian dititipkan untuk menjadi pengawal Adipati Tumapel, Tunggul Ametung. Ketika menjadi kepala pengawal Adipati bawahan Kerajaan Kediri ini, Ken Arok ingin membunuh Tunggu Ametung setelah melihat pesona Ken Dedes, istri Tunggul Ametung. Pembunuhan berhasil dilakukan menggunakan keris Mpu Gandring, dengan memperalat temannya yaitu Kebo Ijo.
Prasasti Mula Malurung
Kitab Pararaton tidak menyebutkan asal usul Pendiri Kerajaan Singasari dengan jelas, tapi menyebutkan bahwa Ken Arok adalah ketururan Dewa Brahma, titisan Dewa Wisnu dan penganut Dewa Syiwa. Kitab Negara Kertagama menyebutkan bahwa pendiri Kerajaan Singasari bergelar Sri Rangga Rajasa, putra Bhatara Girinatha yang lahir tanpa ibu pada tahun 1182, yang mana hal ini menunjukkan bahwa ibunya adalah rakyat biasa, tidak berstatus keluarga kerajaan atau bangsawan. Siwi Sang, seorang Sejarawan dari Tulungagung mengaitkan Bhatara Girinatha sebagai Sri Girindra Maharaja, Raja Jenggala terakhir yang dikalahkan oleh Tunggul Ametung dan melarikan diri dari Istana Kutaraja.
Dari informasi yang tercatat dalam Prasasti Lawadan, wilayah Tumapel menyatakan memisahkan diri dari Kerajaan Singasari pada tahun 1204, kemudian pasukan Kerajaan Kediri menyerang Tumapel pada tahun 1205 tapi mengalami kekalahan sampai Raja Kertajaya melarikan diri dan mendapatkan perlindungan dari penduduk Desa Lawadan sebelum kembali dengan selamat di istana Kediri. Pernyataan pemisahan diri wilayah Tumapel menjadi kerajaan yang merdeka ini dilakukan dua tahun setelah Ken Arok diangkat menjadi Adipati Tumapel menggantikan Tunggul Ametung. Ken Arok dipercaya menjadi Adipati karena posisinya sebagai pemimpin pasukan pengawal dan jasanya yang diaggap berhasil menangkap pembunuh Tunggul Ametung.
Catatan di Prasasti Mula Malurung menyebutkan bahwa Bathara Siwa mengalahkan Kerajaan Kediri pada tahun 1222, dan menyatukan wilayah Kerajaan Tumapel yang terletak di timur Gunung Kawi dengan Kerjaan Kediri yang terletak di sisi barat Gunung Kawi. Wilayah Kerajaan Tumapel merupakan wilayah Kerajaan Jenggala yang ditaklukkan oleh Tunggul Ametung pada tahun 1194, yang tercatat di dalam Prasasti Kamulan. Lima tahun setelah menyatukan wilayah Tumapel dan Kediri, Ken Arok yang ditulis sebagai Bathara Siwa di  Prasasti Mulamalurung, meninggal di atas tahta kencana pada tahun 1227. Meninggalnya Ken Arok di Tahta Kencana, dalam Kitab Pararaton disebutkan dibunuh dengan Keris Mpu Gandring, oleh orang suruhan Anusapati –putra Ken Dedes dari suami pertamanya Tunggul Ametung.

Candi Kidal
didermakan untuk Anusapati
Setelah Ken Arok mangkat, Kerajaan Singasari dipimpin oleh dua raja, yaitu Anusapati yang berkuasa di Tumapel dan Mahisa Wungateleng (putra Ken Dedes dari Ken Arok) menjadi pemimpin pemerintahan di Kediri. Mahisa Woangateleng kemudian wafat digantikan oleh adiknya Gunigbaya. Anusapati dan Gunigbaya tewas oleh pemberontakan yang dilakukan oleh Tohjaya –putra Ken Arok dengan selirnya Ken Umang. Tohjaya kemudian berhasil menduduki tahta Kediri, sedangkan Anusapati digantikan oleh putranya, Sri Seminingrat yang bergelar Wisnuwardhana. Perebutan kekuasaan di Kerajaan Singasari terus terjadi, sampai Mahisa Cempaka alias Ranggawuni berhasil merebut kekuasaan dari Tohjaya dengan bantuan Wisnuwardhana. Dalam Kitab Pararaton, pembunuhan beruntun terhadap Tunggul Ametung, Kebo Ijo, Ken Arok, Anusapati dan Guningbhaya, kemudian Tohjaya merupakan konsekuensi dari kutukan Mpu Gandring yang dibunuh Ken Arok karena ingin cepat mengambil keris pesanannya yang belum selesai. Jika di utak-atik gathuk, korban keris mPu Gandring tepat 7 orang, yaitu: mPu Gandring, Tunggul Ametung, Kebo Ijo, Ken Arok, Anusapati, Gunigbaya, dan Tohjaya.
Di masa kepemimpinan Wisnuwardhana dan Mahisa Cempaka dua kerajaan disatukan dengan damai, dengan kesediaan Mahisa Cempaka untuk mengundurkan diri dan menyerahkan kekuasaan kepada Raja Tumapel. Wisnuwardhana kemudian mengangkat Sri Kertanegara (putranya) sebagai Raja Muda di Kediri. Atas perintah Wisnuwardhana, Kertanegara menerbitkan Piagam Mulamalurung dalam bentuk 12 lempeng tembaga. Prasasti ini yang pertama kali meyebut nama kerajaan sebagai Kerajaan Singasari. Wilayah kekuasaan meliputi bekas Kerajaan Jenggala yang terletak di sisi timur Gunung Kawi dan bekas wilayah Kerajaan Panjalu (Kediri) yang terletak di sisi barat Gunung Kawi.
Di masa kepemimpinan Wisnuwardhana, Kerajaan Singasari berkembang menjadi Negara damai dan mulai menjalin kerjasama dengan kerajaan lain di Pulau Jawa, juga melakukan ekspansi ke luar pulau –termasuk menaklukkan kerajaan-kerajaan di Bali dan melakukan ekspedisi pasukan laut sampai ke sisi barat Pulau Kalimantan. Wisnuwardhana meninggal dunia pada tahun 1269 dan digantikan oleh putranya Sri Kertanegara.

Candi Jago
didermakan untuk Wisnuwardhana
Sri Kertanegara menjadi Raja Singasari dalam kondisi kerajaan yang damai, tapi menghadapi tantangan baru, yaitu munculnya kekuatan Dinasti Yuan, kekaisaran Mongol yang berkuasa di daratan China. Kekaisaran di utara ini mulai melakukan ekspansi ke Asia Tenggara, termasuk wilayah kepulauan Nusantara. Raja Kertanegara melanjutkan kebijakan pendahulunya untuk melakukan ekapansi ke wilayah barat melalui Ekspedisi Pamalayu. Pengiriman pasukan laut ini ditujukan untuk membangun kerjasama dengan kerajaan-kerajaan di Pulau Sumatera dan di Semenanjung Malaka. Ekspedisi Pamalayu dilakukan dua kali pada tahun 1275 dan tahun 1286. Ekspedisi Pamalayu kedua dilakukan setelah utusan Kubilai Khan diusir oleh Kertanegara pada tahun 1280. Pada Ekspedisi Pamalayu kedua, pasukan Kerajaan Singasari membawa Archa Amogaphasa. Hal ini menandakan kemungkinan bahwa Kerajaan Melayu bersedia bersekutu dengan Kerajaan Singasari.

Runtuhnya Kerajaan Singasari
Kerajaan Singasari mengalami kejatuhan pada tahun 1292 setelah diserang oleh pasukan Jayakatwang, yang menjadi Bupati Gelang Gelang, daerah di wilayah Kerajaan Kediri yang terletak di sekitar Madiun. Pemberontakan ini pada awalnya tidak dipercaya oleh Raja Kertanegara ketika pertama kali mendapatkan laporan adanya pergerakan pasukan. Dalam Pararaton diceritakan bahwa Raja Kertanegara baru percaya adanya penyerangan setelah melihat banyak prajurit yang terluka bahkan tewas.
Setelah memerintah pasukan terbaik istana melakukan penghadangan ke utara, serangan lebih besar justru datang dari selatan yang lagsung menyerbu istana Kerajaan Singasari. Raja Kertanegara tewas di istana bersama para penasehatnya. Keponakan raja, Sangrama Wijaya yang diperintahkan menghadang serangan di utara selamat dan berhasil melarikan di ke Pulau Madura untuk meminta perlindungan kepada Adipati Sumenep, Aria Wiraraja.
Pemberontakan Jayakatwang sangat mungkin tidak diduga oleh Raja Kertanegara karena dua hal. Pertama, Jayakatwang adalah saudara sepupu dengan Kertanegara. Jayakatwang adalah putra dari cucu Kertajaya, yaitu Jayawarsa yang menikah dengan bibi Kertanegara –adik Wisnuwardhana. Kedua, Jayakatwang akan menjadi besan Raja Kertanegara dengan mengawinkan putrinya dengan putra Jayakatwang, yaitu Ardharaja.
Jayakatwang yang merupakan putra Jayawarsa, cucu Jayasabha, dan cicit Kertajaya Raja Kediri yang ditaklukan oleh Ken Arok, membangkitkan kembali Kerajaan Kediri dan memimpin Kerajaan dari isatananya di Daha. Menurut Pararaton, runtuhnya Kerajaan Singasari merupakan hasil konspirasi yang dilakukan oleh Aria Wiraraja dengan Jayakatwang. Aria Wiraraya kecewa kepada Raja Kertanegara karena dimutasi dari istana Singasari ke ujung timur Pulau Madura. Di sisi lain, Jayakatwang yang saudara sepupu Raja Kertanegara, mempunyai ambisi untuk mengembalikan kejayaan nenek moyangnya raja-raja Kediri sebelum ditaklukkan oleh pendiri Kerajaan Singasari.

Majapahit sebagai Suksesor Kerajaan Singasari
Kerajaan Kediri hanya sempat bangkit selama satu tahun. Sangrama Wijaya yang mendapatkan keparcayaan dari Jayakatwang atas jaminan Aria Wiraraja menyatukan sisa-sisa kekuatan Singasari di daerah yang baru dibuka di Hutan Tarik, yang kemudian dinamakan sebagai Majapahit. Dengan dukungan pasukan Aria Wiraraja dan memanfaatkan pasukan Mongol yang datang untuk menghukum Kertanegara, pasukan Sangrama Wijaya berhasil mengalahkan pasukan Kerajaan Kediri. Setelah berhasil mengusir pasukan Mongol melalui tipu muslihat dan gerilya, Sangrama Wijaya mendeklarasikan berdirinya Kerajaan Majapahit pada 10 Agustus 1293, dan dia dilantik menjadi raja dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana. 

Dalam situasi damai, Sangrama Wijaya membangun beberapa prasasti batu sebagai peneguhan pemberian sima perdikan kepada beberapa desa yang penduduknya telah berjasa membantu dalam pelarian maupun dalam peperangan. Di dalam beberapa prasasti tersebut, termasuk Prasasti Kudadu maupun Prasasti Belawi, Sangrama Wijaya menyebut dirinya sebagai anggota Wangsa Rajaya. Dalam Kitab Pararaton, Sangrama Wijaya yang disebut sebagai Raden Wijaya, adalah anak dari Mahisa Cempaka, anak Mahisa Wongateleng, cucu Ken Arok. Kitab Negara Kertagama menyebutkan bahwa Nararya Sangrama Wijaya adalah cucu Mahisa Cempaka, anak dari Dyah Lembu Tal. Meskipun ada perbedaan, baik Pararaton maupun Negara Kertagama sama-sama menjelaskan keterkaitan Sangrama Wijaya dengan Ken Arok, Rajasa Sang Amurwabhumi pendiri Kerajaan Singasari, pendiri Wangsa Rajasa.