October 04, 2017

Daha, Kota Baru untuk Kerajaan Panjalu

Agus Wibowo


Candi Ijo di Kediri/Iyum
Pada usia 55 tahun, Raja Erlangga yang berkuasa di Kahuripan telah berhasil membangun kejayaan Wangsa Isyana di Jawa Timur. Ia ingin berhenti menjadi raja dan menjadi resi atau istilah ngetopnya “lengser keprabon mandeg pandito”. Hanya saja dia menghadapi situasi rumit karena persaingan dua orang putranya. Satu putra dari premaisuri bernama Smarawijaya dan satu putra dari istri lain yang bernama Mapanji Garasakan. Putri sulungnya yang diharapkan bisa menjadi penggantinya dengan legitimasi yang kuat tidak bersedia menjadi pemimpin kerajaan, malah memutuskan menjadi resi di usia muda.
Erlangga juga berusaha melakukan pendekatan ke Bali, dimana dia mempunyai ha katas tahta Bedhahulu, karena Erlangga adalah putra mahkota di sana. Tapi Kerajaan Bedahulu ternyata sudah diwariskan kepada adiknya. Karena tidak mempunya pilihan yang lebih baik, Erlangga akhirnya memutuskan untuk membagi Kerajaan menjadi dua. Dengan bantuan Mpu Barada, pendeta kerajaan, Erlangga membangi Kerajaan Kahuripan menjadi 2 kerajaan, yaitu Jenggala dan Panjalu. Kerajaan Jenggala memiliki wilayah di timur Gunung Kawi sedangkan Kerajaan Panjalu memiliki wilayah yang terbentang di barat Gunung Kawi, termasuk wilayah Kediri.
Kerajaan Jenggala diberikan kepada Mapanji Gasarakan yang berkuasa di Kota Kahuripan yang sudah ada, sedangkan Kerajaan Panjalu harus membangun kota baru. Kota baru ini akhirnya dibangun di daerah Kediri, tepatnya di Daha. Istana Daha dibangun di sisi barat Kali Brantas yang membelah wilayah Kediri. Ibukota Kerajaan Panjalu dibangun berdasarkan pertimbangan agar kerajaan ini bisa mengontrol wilayah selatan, mempunyai akses ke laut melalui Kali Brantas, dan bisa mengembangkan ekonomi pertanian.
Kota Daha sebagai ibukota kerajaan kemudian terbukti bertahan sampai beberapa abad kemudian. Ketika Raja Jayabaya berhasil menyatukan Kerajaan Panjalu dan Jenggala, ibukota tetap di Daha Kediri. Ketika Kerajaan Singasari mengalahkan Kertajaya di tahun 1222, Ken Arok tetap menjadikan Daha sebagai kota penting dan menempatkan putranya, Mahisa Wong Ateleng, sebagai raja muda yang berkedudukan di Daha. Ketika berhasil mengkudeta Kertanegara sebagai Raja Singasari, Jayakatwang menamakan kerajaan sebagai Kediri dan tetap berpusat di Daha. Eksistensi Kota Daha bahwa tetap sampai Jaman Majapahit, dimana Daha menjadi salah satu istana Raja kerajaan bawahan yang ditempati oleh keluarga raja.
Pada saat Kerajaan Majapahit memiliki dua raja, yaitu Bre Kertabumi dan Singhawikramawardhana, Kota Daha menjadi pusat pemerintahan Majapahit barat. Ibukota terkhair Majapahit justru tetap di Daha ketika Girisawardhana berhasil menyatukan kembali Majapahit di tahun 1478.  Kota Daha tetap popular di abad 17 ketika Trunojoyo memberontak kepada Amangkurat I yang berkuasa di Kerajaan Mataram. Trunojoyo menjadi Daha sebagai pusat kerajaannya sebelum digempur oleh Tentara VOC yang berhasil menangkapnya.

.