October 04, 2017

Watan Mas dan Kahuripan Istana Raja Erlangga

Agus Wibowo

Gunung Penanggungan di Mojokerto
Dalam penyerangan Pasukan Aji Wurawari dari Kerajaan Lawram di tahun 1006 yang menghancurkan ibukota Kerajaan Medang di Wwatan, Erlangga dan istrinya berhasil melarikan diri dengan pengawalan guru Erlangga, bernama Narotama. Mereka terus bergerak menghindari kejaran pasukan Kerajaan Lawram dan Kerajaan Sriwijaya, berpindah-pindah dari Gunung Lawu, Wonogiri, Madiun, Ponorogo, Kediri, Jombang sampai Gunung Penanggungan di Mojokerto. Setelah tiga tahun melanglang buana dari hutan ke hutan dan dari gunung ke gunung, Erlangga berhasil mengumpulkan sisa-sisa keluarga dan pasukan Kerajaan Medang yang tercerapi berai. Erlangga membangun kota baru di lereng Gunung Penanggungan, yang memiliki perlindungan alam yang cukup baik. Kota baru bagi Kerajaan Medang ini dinamakan Watan Mas, mengingat nama kota Wwatan, kota Kerajaan Medang di Maospati Kabupaten Magetan.

Dari Istana Watan Mas, Erlangga membangun kembali kekuatan militer Kerajaan Medang dan menyatukan kembali wilayah-wilayah yang sebelumnya menjadi bawahan Kerajaan Medang. Erlangga mengirim utusan ke berbagai penjuru wilayah, termasuk ke Malang, dan Tulungagung di Selatan, ke Arah Timur sampai Bali dan ke arah barat, salah satunya ke Kerajaan Hasin. Cukup banyak kerajaan yang menolak menjadi bawahan Eralangga, menantu Raja Darmawangsa. Kondisi ini membuat Erlangga harus melakukan ekspansi militer untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan yang tidak mau menjadi koalisi. Erlangga melakukan penyerangan ke Lodoyong di daerah Tulungagung dan Blitar, memerangi Kerajaan Hasin di barat dua kali dan memerangi Kerajaan Lawram yang menaklukan Kerajaan Medang di tahun 1006.
Ekspansi militer oleh Erlangga semuanya berhasil kecuali penyerangan ke Lodoyong. Kerajaan yang dipimpin oleh Ratu pengikut Dewi Durga ini bahkan bisa melakukan serangan balasan. Pada saat Erlangga mengerahkan pasukan secara besar-besaran untuk ekspansi ke Kerajaan Lawram, pasukan Kerajaan Lodoyong melakukan penyerangan ke Watan Mas dan menghancurkan istana Medang yang tidak terjaga dengan dengan maksimal. Setelah berhasil menaklukan Kerajaan Lawram pada tahun 1032, dan mengetahui istananya hancur, Erlangga membangun kembali istana di Kahuripan sebagai ibukota Kerajaan Medang. Kota baru di Kahuripan yang mulai ditempati pada tahun 1036 ini membuat Kerajaan Medang yang dipimpin Erlangga kemudian dikenal sebagai Kerajaan Kahuripan.

Pembangunan ibukota kerajaan Kahuripan yang di dekat Sungai Brantas dan dekat laut ini
Prasasti Pucangan
Di Gunung Penanggungan

kemungkinan dipertimbangkan berdasar dua fakta, yaitu: Kerajaan Lawram sudah ditaklukkan dan ancaman kekuatan militer laut Kerajaan Sriwijaya sudah hancur karena dihancurkan oleh Kerajaan Cola Mandala dari India. Kerajaan Medang yang dibangun sebagai kerajaan berbasis gunung berubah menjadi Kerajaan Kahuripan yang memiliki basis pertanian sekaligus mengembangkan basis maritim. Dengan membangun basis maritime, Kerajaan Kahuripan menjual produk pertanian ke luar Pulau Jawa dan lebih bisa mengendalikan perdagangan produk-produk dari luar Pulau, termasuk dari China dan India.

Sepak terjang Erlangga membangun kembali Kerajaan Medang ditulis pada Prasasti Pucangan pada tahun 1037. Lima tahun kemudian, ketika putra-putrinya telah besar, pada tahun 1042, Erlangga membagi Kerajaan Kahuripan menjadi dua, yang diberikan kepada dua putranya, yaitu: Smarawijaya dan Mapanji Garasakan. Erlangga melepaskan kekuasaannya sebagai raja dan kembali ke Gunung Penanggungan sebagai resi.