October 28, 2017

Kotak Pandora Raffles dan Sumpah Pemuda



89 Tahun Sumpah Pemuda

Agus Wibowo


28 Oktober diperingati sebagai hari Sumpah Pemuda di Indonesia. Al kisah, pada 1928 beberapa organisasi pemuda lintas suku, agama dan organisasi kepemudaan lain mengadakan konggres di Jakarta dan mendeklarasikan Sumpah Pemuda. Mereka berikrar berbangsa satu, bertanah air satu dan menjunjung bahasa persatuan yaitu Bahasa Indonesia.
Peta Indonesia/Badan Iinformasi Geospasial
Beberapa pemuda yang terlibat diantaranya: Soenario dari Madiun, Johanes Leimina dari Ambon, M. Yamin dari Minagkabau, Amir Syarifudin Harahap dari Pemuda Batak, serta Muhammad Roem, AK Gani, Sie Kong Liong, Mangunsarkoro, Singodimejo dan banyak lagi termasuk Kartosuwiryo. Konggres ini melanjutkan konggres tahun 1926 di mana Mohammad Yamin mulai mengusulkan penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Kesepakatan untuk berbangsa dan bertanah air satu yaitu Indonesia di dalam Sumpah Pemuda memunculkan pertanyaan, "Bagaimana mereka ingin bersatu padahal berasal dari negara atau kerajaan yang berbeda?" Seperti diketahui Wilayah Nusantara terdiri dari ribuan pulau dan memiliki banyak kerajaan yang punya kedaulatan masing-masing.
Di Pulau Jawa ada Kasunanan atau Kesultanan Sutakarta, Yogyakarta, Cirebon, Kesultanan dan Banten. Di luar Jawa ada Kesultanan Goa dan Bugis di Sulawesi Selatan, Ternate dan Tidore di Kepulauan Maluku, Deli di Sumatera, juga Aceh Darussalam. Apakah karena rasa senasib dan menjadi jajahan Belanda? Bisa jadi, karena sejak abad 19 Pemerintahan Hindia Belanda memang sudah memiliki kontrol yang kuat di sebagian besar wilayah di Nusantara, dari ujung barat Pulau Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku bahkan sampai Papua.
Yang pasti, bisa dikatakan bahwa kesadaran bertanah air satu bukan dari fakta bahwa wilayah nusantara adalah satu kesatuan sebelum Belanda datang. Waktu pertama VOC masuk di Sunda Kelapa di akhir abad 16, di wilayah nusantara banyak negara atau kerajaan yang berdaulat. Bisa dipastikan bahwa bukan untuk menuntut kembali wilayah sebelum Belanda datang.  
Rasa sebagai satu bangsa juga bisa tumbuh karena sama-sama mengenyam pendidikan Belanda, baik di Belanda, di Jakarta maupun kota besar lainnya. Mereka mempunyai pengalaman dan perasaan yang sama, yaitu sama-sama dijajah oleh Belanda. Alasan lain adalah bahwa di Nusantara pernah ada kerajaan yang menyatukan wilayah nusantara, yaitu Majapahit. Pertanyaannya, "Bagaimana para pemuda bisa tahu pernah ada Majapahit yang menyatukan Nusantara?"
Terkait pengungkapan eksistensi Majapahit dan kerajaan-kerajaan pra-Mataram Islam, ada peran besar Thomas Stamfort Raffles, yang bertugas di Pulau Jawa di tahun 1811 sampai 1816. Denys Lombard dalam buku ketiga “Nusa Jawa Silang Budaya” menjelaskan bahwa dalam 5 tahun tugasnya di Jawa dan Sumatera, Raffless menelusuri banyak artefak peninggalan kerajaan berupa candi dan prasasti batu berhuruf palawa yang mirip dengan yang ada di India. Raffles mengirim prasasti Sangguran dan prasasti Pucangan ke India untuk diterjemahkan oleh ahli sejarah yang ada di India. Selanjutnya Raffles mambawa beberapa ahli sejarah di India ke Pulau Jawa, diantaranya J. brandes dan H. Kern.
Dalam penelusurannya, kedua ahli sejarah ini mendapatkan naskah lontar dari istana Bali, yaitu Pararaton dan Dasawarnana. Hasil eksplorasi yang dirintis oleh Raffles dituliskan dalam 3 buku, yaitu: The History of Java oleh Raffless disusul terjemahan Kitab Pararaton oleh J. Brandes di tahun 1896 dan Negarakertagama oleh H. Hern di tahun 1915 –yang diterjemahkan dari Dasawarnana. Buku Negarakertagama inilah yang memberikan informasi tentang Majapahit yang pernah menyatukan wilayah Nusantara, bahkan lebih luas daripada yang dikuasai Belanda.
Pupuh 13 dan 14 Negarakertagama merinci wilayah Majapahit dari barat sampai timur, diantaranya: M’layu, Jambi, Palembang, Toba dan Darmasraya pun ikut juga disebut Daerah Kandis, Kahwas, Minangkabau, Siak, Rokan, Kampar dan Pane. Lalu  Lamuri, Batan, Lampung dan juga Barus. Itulah terutama Negara-negara melayu yang telah tunduk. Negara-negara di Pulau Tanjungnegara; Kapuas-Katingan, Sampit, Kota Lingga, Kota Waringin, Sambas, Lawai ikut tersebut (pupuh 13). Di pupuh 14 bahkan disebut daerah-daerah di semenjangung Malaka diantaranya Pahang, Kelantan, Trengganu dan lain-lain. Di sebelah timur, pupuh 14 juga menyebutkan Bali, Lombok, Makasar, Buton, Sumba, Ambon, Seran, Timor dan lainnya.

Konsepsi Persatuan Indonesia
Salah satu pemuda yang mempelajari Negarakertagama adalah Muhammad Yamin. Penyatuan wilayah nusantara ini yang memberinya inspirasi tentang bertanah air satu Indonesia. Berdasarkan informasi dari Negarakertagama, pada tahun 1940 Muhammad Yamin mendatangi Trowulan di Mojokerto untuk memantapkan bangunan konsepsi tentang Indonesia. Bahkan dia juga mereka sosok Gajah Mada, tokoh penting penyatuan Nusantara, yang terkenal dengan sumpah Amukti Palapa.
Sengaja atau tidak Thomas Stamford Raffles membuka kotak Pandora tentang bersatunya nusantara di abad 14 yang menjadi inspirasi pemuda Indonesia di tahun 1928 untuk menemukan esensi dari berbangsa satu, bertanah air satu, dan menjunjung bahasa persatuan yaitu Indonesia. Muhammad Yamin dengan sengaja meyampaikan penyatuan nusantara dan mengkonstruksi persatuan Indonesia berdasarkan Negarakertagama. Pemuda masa kini, yang dikenal sebagai generasi milenial, tetap penting untuk mendapatkan inspirasi dari Sumpah Pemuda dan menggalih lebih dalam daripada yang pernah dilakukan oleh Thomas Stamford Raffles.
Terakhir, hal yang lebih penting, para pemuda harus tetap mampu merumuskan konsepsi tentang Indonesia di masa depan, selain tentang persatuan wilayah dan politik, hal penting ke depan adalah bagaimana konsepsi pembangunan ekonomi yang integratif, lautan yang menyatukan ribuan pulau, sekaligus menggali dan memanfaatkan pontensi SDA dan SDM untuk kemajuan bersama. Alasan untuk bersatu sudah dirumuskan oleh para pemuda di tahun 1928, kini dibutuhkan alasan untuk lebih maju, untuk saling bekerja sama, saling mendukung untuk lebih mampu berbuat dalam persaingan global.***