October 15, 2017

Mencari Pusaka di Museum Nasional

Agus Wibowo

Prasasti Kutai
Museum Nasional di Jakarta memiliki banyak koleksi benda bersejarah di Indonesia. Dari benda-prasejarah berupa gading gajah raksasa, arca-arca di masa kerajaan, benda teknologi, alat transportasi, senjata untuk perang, maupun prasasti berisi naskah yang menjadi bukti fase perjalanan Indonesia masuk masa sejarah. Saat berkunjung ke Museum Nasional awal Oktober 2017, sedang ada renovasi sisi kanan museum, sehingga saya tidak bisa melihat koleksi yang berupa arca. Baruntung masih ada yang buka, yaitu lantai 2 -naiknya pakai eskalator.

Begitu sampai di lantai dua, saya langsung melihat jajaran prasasti yang pajang terbuka maupun di dalam kaca. Saya langsung melihat prasasti berbentuk tiang batu yang ternyata adalah Prasasti Kutai. Ini adalah prasasti yang menjadi batas masa prasejarah dan masa sejarah di Indonesia. Mengapa demikian, karena prasasti Kutai merupakan peninggalan sejarah bertulis tertua yang ditemukan di Indonesia. Di sampingnya ada prasasti Sywagrha yang ada di dalam kotak kaca. Prasasti ini merupakan peninggalan Rakai Kayuwangi yang menceritakan pembangunan Candi Prambanan yang dilakukan oleh Rakai Pikatan, ayah Rakai Kayuwangi.

Pajangan prasasti di lantai 2 museum nasional sangat banyak, ada replika Prasasti Ciaruteun yang 
Perahu Panjang Papua
sangat besar peninggalan Raja Purnawarman dari Taruma Negara, ada prasasti Kayu Angin peninggalan Sri Aryeswara Raja Panjalu dan lainnya. Terus bergeser ke tengah ada benda yang berkaitan dengan kapal laut, ada jangkar, lampu kapal, replika kapal pinishi dan kapal lette dari madura. Belok ke kanan ada pajangan kompas dan globe yang mulai digunakan di akhir abad 19. Di bagian ujung ada perahu panjang dari Papua yang bikin takjub. Perahu ini sangat panjang, dibuat dari gelondongan kayu tanpa sambungan. Perahu ini mengingatkan saya pada perahu bangsa Viking yang ada di game Age of Empire.

3 Lempeng Prasasti Malurung
Setelah saya berpikir sudah tidak ada prasasti lagi, saya melihat jajaran prasasti dalam bentuk lempeng tembaga atau perunggu. Ada ada prasasti Mula Malurung 3 lempeng, ada prasasti Dhanadi, prasasti pamintihan dan lainnya. Prasasti Mula Malurung yang saya tahu ada 12 lempeng, 9 lempeng ditemukan tahun 1975 dan tiga lempeng sisanya ditemukan di pedagang barang loakan di Kediri pada tahun 2001. Prasasti ini berisi nama raja-raja Singasari dan anak-anak Ken Arok.
Prasasti Pamintihan yang ditemukan di selatan Bojonegoro diberikan oleh Raja Majapahit di Daha, yaitu Singhawikramaqardhana yang bergelar Brawijaya IV. Prasasti ini dibuat sebagai pengukuhan pemberian anugrah tanah perdikan karena desa memberikan perlindungan bagi Brawijaya IV saat melarikan diri dari pemberontakan Bre Kertabhumi yang kemudian memjadi raja Majapahit di istana Trowulan bergelar Brawijaya V.

Senapan Sniper di Perang Padri
Di ruang pajang sebelah, dipajang beberapa senjata maupun alat perang, ada bermacam pedang, keris, meriam ber-roda dorong serta senapan laras panjang sepanjang 2 meter lebih. Dari keterangan yang ada di meja pajang, senapan laras panjang ini digunakan dalam perang Padri di Sumatera Barat. Senjata sniper ini digunakan oleh tentara Belanda untuk menhadapi pasukan Minangkabau yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol.

Rompi Perang
dari Logam Kuningan
Ada satu lagi yang membuat saya takjub yaitu rompi dan topi perang yang terbuat dari logam kuningan. Topi dan rompi perang ini berasal dari Sulawesi Selatan, ini merubah pandangan saya, bahwa pasukan di jaman Kerajaan dulu bertelanjang dada dan tanpa perlindungan karena sakti.

Masih banyak yang ingin saya lihat dan saya simak di Museum Nasional, tapi harus bersabar menunggu renovasi selesai. Ketika saya datang di tahun 2007, jajaran arca yang merupakan penghormatan arwah raja sebagai dewa, saat ini belum bisa dilihat karena ditutup. Saya juga belum menemukan informasi lebih lengkap tentang isi prasasti yang dipajang di Museum Nasional.

Sebagai obyek wisata, Museum Nasional mudah ditemukan karena terletak di jalan utama, yaitu medan merdeka barat, tepat menghadap shelter busway Monumen Nasional. Jika ditempuh dari Stasiun Juanda juga dekat yaitu naik ojek 15 ribu atau taksi 20 ribu. Jika naik ojek atau taksi online lebih murah lagi. Meski mudah dicari, jika salah sebut bisa tersesat atau sopir tidak tahu. Resminya museum ini bernama museum nasional, tapi  masyarakat Jakarta lebih mengenalnya sebagai Museum Gajah. Hal ini karena adanya patung gajah di halaman utama museum. 

Ketika saya berkunjung, cukup banyak yang datang, termasuk ketika hari Jumat. Ada turis asing dari Eropa, dari Arab, maupun India. Mereka begitu antusias melihat-lihat dan membaca keterangan dalam Bahasa Inggris meskipun sangat terbatas. Museum nasional kini relative lebih tertata, lebih informative dengan tiket masuk yang masih lima ribu rupiah perorang. Semoga semakin baik dan semakin memberikan manfaat, menjadi pusaka nasional.