August 08, 2016

Mengapa 1000 Monarki?

Dari abad 5 sampai Indonesia Merdeka banyak kerajaan yang berkuasa di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Sumba, Kepulauan Maluku bahka Papua. Di masa perjuagan kemerdekaan, beberapa kerajaan bahkan menjadi penopang awal Republik Indonesia, baik berupa dukungan finansial, aset kerajaan, jiwa-raga maupun dukungan politik. Kini ada beberapa kerajaan yang masih eksis, masih punya raja dan istana, dan kepemimpinannya diakui oleh masyarakat. Eksistensi paling kongkret adalah Kesultanan Yogyakarta, yang masih memiliki keistimewaan monarki sebagai Daerah Istimewa Yogyakarta. Salah satunya, raja Yogyakarta secara otomatis menjadi Gubernur Provinsi DI Yogyakarta.
Di daerah lain, keluarga pewaris monarki harus ikut dalam kompetisi atau kontestasi politik melalui proses demokrasi, melalui pemilihan wakil rakyat di lembaga legislatif maupun pemilihan kepala daerah. Kebangsawanan bisa menjadi komoditas politik untuk menang dalam kontestasi politik. Tapi, dalam prakteknya, hanya mereka yang dekat dengan rakyat yang mendapatkan legitimasi pemilik suara dalam pemilu maupun Pilkada.

Selain kerajaan, ada entitas lain yang dimana konsep monarki menjadi praktek yang lazim. Diantaranya di perusahaan keluarga yang diwariskan ke anak cucu, dan dalam kadar tertentu berlaku di organisasi massa maupun partai politik. 1000monarki.com memandang bahwa monarki maupun demokrasi punya unsur positif dan negatif, dan ada prasyarat bagi keduanya untuk mencapai 'kebaikan' optimalnya masing-masing.