October 27, 2017

Misteri 5 Abad Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon



Yustiyadi 
Twitter@yuzemerald

Gerbang Masjid Auung sang Cipta Rasa (Yustiyadi)
Salah satu bangunan bersejarah yang menarik di Cirebon adalah Masjid Sang Cipta Rasa. Para peziarah walisongo ke Cirebon menjadi lebih afdol apabila juga mengunjungi masjid ini. Masjid sang Cipta Rasa dibangun pada zaman Sunan Gunung Jati pada tahun 1408 dan masih kokoh hingga kini. Gaya arsitektur masjid mengambil perpaduan gaya Jawa dan Hindu Majapahit. Hal ini bisa dilihat dari gapura di bagian halaman masjid dan serambi, serta atap masjid yang menyerupai rumah Joglo, rumah adat masyarakat Jawa. Secara umum, masjid ini mempunyai 9 pintu masuk, yang terdiri dari satu pintu utama dan masing-masing 4 pintu di di sisi kanan dan sisi kiri.
Masjid Sang Cipta Rasa pada awalnya dibangun dengan 12 tiang penyangga atau saka guru dari batang kayu jati. Karena faktor usia, kayu penyangga ditopang dengan tiang-tiang dari baja dan ditambah 18 penyangga baru. Pemugaran dilakukan setelah usianya lebih 5 abad, yaitu pada 1977.
Pada bagian mihrab atau tempat imam memimpin shalat terdapat tiga ubin yang dipasang oleh Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, dan Sunan Bonang. Ketiga unsur ini mewakili iman, islam, dan ihsan. Terdapat unsur Majapahit yang terukir dalam mihrab tersebut, dan memiliki kuncup daun teratai, yang menyerupai dengan lambang Surya Majapahit, yang dibuat oleh Sunan Kalijaga.
Adzan yang Dikumandangkan oleh 7 orang (Yustiyadi)
Masjid ini memiliki beberapa keunikan, salah satunya Adzan Pitu, yaitu adzan yang dikumandangkan oleh 7 orang secara bersamaan. Adzan Pitu pada awalnya merupakan  titah Sunan Gunung Jati untuk menghadapi dan mengalahkan pendekar jahat berilmu hitam bernama Menjangan Wulung. Selain sebagai pendekar jahat, Menjangan Wulung juga digambarkan sebagai makhluk jahat yang menebar wabah penyakit dan kematian. Tujuh dalam bahasa Jawa berarti pitu, yang mengandung makna konotatif pitulung yang berarti pertolongan –yaitu pertolongan Allah swt.

Di dalam ruangan utama banyak tiang-tiang kayu dengan pilar kokoh yang ditopang dengan konstruksi besi modern sebagai bagian dari  konservasi bangunan bersejarah. Di atas dinding bata, menyeruak bertebaran kaligrafi lukisan kaca dengan aneka ayat-ayat Al Quran. Lukisan kaca memang salah satu seni lukis khas Cirebon dengan teknik montase yang unik.

Mimbar salat Jumat berupa singgasana kayu yang antik. Tempat imam salat berupa batu putih dengan ornamen bunga teratai, dekorasinya seperti akulturasi Agama Islam dengan Hindu. Pada saf pertama dan shaf terakhir masing-masing memiliki sekat berdinding kayu berukuran 2x2 meter untuk tempat salat keluarga keraton.
 
Sumur Cis (Yustiyadi)
Daya tarik lain yang ada di masjid sang Cipta Rasa adalah adanya Sumur Cis, yang airnya disucikan dan populer dianggap sebagai air zam-zamnya masjid Cipta Rasa. Diantara pengunjung ada yang mengambil air dari Sumur Cis ini untuk dibawa pulang. Ada diantara mereka yang percaya bahwa air dari Sumur Cis memiliki berkah, yang baik untuk maksud perjodohan, mudah dalam mendapatkan pekerjaan maupun rejeki.

Yang paling menakjubkan dari masjid ini adalah kisah pembangunannya yang konon hanya memakan waktu semalam. Semua warga Cirebon mengenal kisah ini dan tertuang pula dalam buku sejarah Babad Tanah Cirebon. Sunan Kalijaga yang menjadi arsiteknya memimpin pembangunan masjid sejak maghrib sampai subuh datang menjelang, dengan penjagaan dari gangguan mahluk halus.
Bagi masyarakat yang ingin berkunjung, masjid ini mudah dijangkau, yaitu terletak Jalan Keraton Kasepuhan Cirebon. Letaknya kurang lebih 100 meter di sebelah utara Istana Kasepuhan Cirebon.