October 27, 2017

Peradaban Arab dari pra-Islam, Kekhalifan, Hingga Kejayaan Turki Utsmani



Agus Wibowo

Judul Buku: The History of Arab . Penulis: Philip K. Hitti. Halaman 981 + ix, Penerbit: Serambi Jakarta, 2006. Terbit pertama 1937.

Hingga pertengahan abad 19, masyarakat dunia belum menyadari bahwa bahasa Assyiria, Babilonia, Ibrani, Aramaik, Arab dan Etiopia memiliki kesamaan yang menakjubkan dan karenanya dianggap berasal dari rumpun yang sama. Beberapa kesamaan diantaranya semuanya memiliki akar kata kerja terdiri dari 3 konsonan, hanya mengenal dua penunjuk waktu yaitu telah dan sedang, dan perubahan kata kerja mengikuti pola yang sama. Fakta ini memunculkan pertanyaan "Di mana tempat asal bangsa ini?" 

Ada kelompok ilmuwan punya teori bahwa mereka berasal dari Afrika Timur ada juga yang berteori bahwa mereka berasal dari Mesopotamia. Teori bahwa mereka dari Mesopitamia dianggap Philip K. Hitti sebagai bertentangan dengan hukum sosiologi di mana masyarakat bergerak dari masyarakat pertanian menjadi nomaden. Teori Afrika Timur justru memunculkan banyak pertanyaan daripada menjawab. Penulis buku ini menganggap teori bahwa mereka berasal dari jazirah Arab lebih masuk akal. 


Mereka berkembang di tanah yang terkurung oleh laut di 3 sisi dan terhadang gurun pasir yang mematikan di sisi utara. Ketika penduduk makin banyak dan daya dukung hidup tidak memadai mereka bergerak keluar. Mereka bergerak menyusuri pesisir barat jazirah Arab pada 3500 sebelun masehi, satu kelompok bergerak ke utara lalu belok kiri ke arah Mesir dan kelompok satunya bergerak ke kanan dan membangun basis di lembah Sungai Tigris-Eufrat (di Iraq).

Percampuran dengan bangsa Hamit di Afrika Utara lahirlah bangsa Mesir, sedangkan percampuran dengan bangsa Sumeria melahirkan bangsa Babilonia. Di Mesir dan Afrika utara sampai Etiopia mereka yang pertama kali nembangun hunian dari batu. Di Babilonia, mereka mengembangkan permukiman yang teratur, teknologi mengairi sawah dan mengembangkan huruf. Babilonia dan Mesir secara bersama mengembangkan peradaban baru seperti struktur lingkungan, lorong, kereta beroda, serta sistem timbangan dan ukuran.

Phillip K. Hitti menulis The History of Arab dalam buku panjang, 981 halaman, yang dikelompokan dalam 39 bab. Penulis membagi tulisannya dalam 6 bagian berdasarkan 6 kurun waktu, yaitu: 1. Masa pra-Islam, 2. Kelahiran Islam dan Kekhalifahan, 3. Dinasti Umayah dan Abbasiyah, 4. Bangsa Arab di Eropa, 5. Negara muslim terakhir abad pertengahan dan 6. Kekuasaan Utsmani dan Kemerdekaan.

Di bagian pra-Islam, buku ini menguraikan persebaran bangsa Arab seperti disampaikan di atas dan menceritakan benerapa kerajaan yang pernah ada sampai lahirnya Islam, yaitu: Negeri Saba, Kerajaan Minea, Hadramaut, Nabasia hingga lahirnya Islam di abad 6. Bagian 2 terdiri dari 5 bab, yang berisi Muhammad sebagai Rasul Allah, Al Quran dan fondasi Ajaran Islam, masa penaklukan serta kekhalufahan sebagai lembaga politik. Dua bagian pertama ini relatif pendek dibandingkan dengan bagian 3 tentang Dinasti Umayaj dan Abbasiyah yang terdiri dari 14 bab. 

Panjangnya bagian 3 bisa dipahami karena menceritakan periode kuasaan yang sangat panjang dari tahun 660 Masehi ketika Muawiyah dikantik di Jerusalem sampai dengan tahun 1259 ketika Kekhalifahan Abbasiyah di Bagdad dihancurkan oleh serangan Pasukan Mongol. Pada bagian yang panjang ini Phillip K. Hitti menjelaskan tentang teknologi, sistem pemerintahan, sastra, arsitektur Arab dan lain-lain. Setelah Kekahlifahan Abbasiyah diruntuhkan oleh pasukan Mongol, dominasi bangsa Arab di Timur Tengah terhenti, apalagi ditambah dengan adanya serbuat dari barat beruoa Perang Salib.

Di halaman 621, Phillip K. Hitti menulis "Terhimpit diantara para pemanah pasukan Mongol yang liar di timur dan para ksatria Perang Salib di barat, Islam pada awal abad 13 tampaknya akan tenggelam selamanya ... Tapi kondisi berbalik di akhir abad 13, dimana Pasukan Salib dipukul mundur sampai laut. Penerus ke 7 Sinasti Il Khan ... mengakui Islam sebagai agama Negara -sebuah kemenangan yang mempesona bagi Agama Muhammad". Kurang dari 1/2 abad setelah Hulagu Khan menghancurkan Bagdad, cicitnya Gazan Khan, sebagai seorang muslim yang sholeh mencurahkan waktu dan energi untuk membangkitkan kembali kebudayaan Islam. Para keturunan Gazan Khan inilah yang kemudian mengembalikan kejayaan Islam dalam Turki Usmani.

Selain tentang pergantian kekuasan dan perkembangan peradaban, dalam buku ini Phillip K. Hitti juga menguraikan tentang perkembangan pemahaman masyarakat dunia tentang Arab. Ada yang melakukan penjelajaha sampai Hadramaut, ada juga yang menyamar dengan pergi haji ke Mekah dan Madinah. Di halaman 7-9 dia menjelaskan tentang eksplorasi modern terhadap tanah Arab, di halaman 8 dia menyebut bahwa satu-satunya orang Etopa yang memiliki kesempatan untuk mempelajari Mekah dalam kehidupan sehari-harinya adalah Profesor Snouck Hurgronje dari Leiden yang tinggal di Mekah dari tahun 1885 sampai 1886.

Buku ini menyajijkan sejarah Arab secara lengkap dari berbagai aspek, melalui study selama 10 tahun, baik study literatur, mendalami tradisi lisan, kaligrafi di peti mati bahkan ungkapan masyarak di pasar. Melalui buku ini, bisa dikatakan bahwa Phillip K. Hitti Menyampaikan sejarah Arab bukan sekedar catatan tentang orang besar, melainkan juha ungkapan rakyat kecil maupun coretan yang tercecer di pinggir jalan. Sangat menarik bagi siapa pun yang ingin memahami sejarah jatuh bangun peradaban Arab, perkembangan Islam, hingga ekspansi bangsa Mongol yang kemudian melahirkan bangsa Turki Utsmani yang melebarkan kekuasaan sampai Eropa Timur hingga Daratan India.***