October 17, 2017

Rahasia Prasasti Sangguran, yang Terdampar di Rumah Lord Minto di Skotlandia

Agus Wibowo

Prasasti Sangguran merupakan dokumen penting yang menjadi bukti sejarah Indonesia, khususnya tentang Kerajaan Medang. Prasasti ini oleh Stamford Raffless di awal abad 19, diserahkan ke Gubernur Jenderal Kerajaan Inggris di India, Lord Minto, dan dibawa ke Skotladia. Sampai saat ini Prasasti Sangguran masih di lahan milik anak cucu Lord Minto, dan belum bisa diambil untuk dibawa ke Indonesia.

Prasasti Sangguran di Skotlandia/Tempo.co
Sebelum Mpu Sindok memimpin eksodus Keluarga Kerajaan Medang dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, Pasukan Kerajaan Medang sudah melakukan ekspansi ke wilayah timur Pulau Jawa, lewat Tulungagung sampai ke Malang dan menaklukan Kerajaan Kanjuruhan. Prasasti Sangguran dikeluarkan atas perintah Mpu Sindok yang menjadi Patih di Medang di masa Raja Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa pada tahun 928 masehi. Ekspansi yang dilakukan oleh Raja Dyah Wawa ini melanjutkan upaya Raja Dyah Balitung pada tahun 905 yang tercatat di Prasasti Kubu-Kubu yang merupakan bagian dari Candi Penampihan di Tulungagung.

Prasasti Sangguran terbuat dari batu yang dibentuk lempeng rapi, dimana naskah ditatah di bagian depan 38 baris bagian belakang 45 baris, sedangkan bagian samping kiri dan kanan masing-masing 15 baris. Pada bagian depan ditulis doa pembukaan sebagai berikut: “Semoga tidak ada rintangan! Semoga sejahtera di seluruh jagat, (dan) semoga semuanya berbuat kebajikan!  Semoga leburlah segala dosa, (dan) semoga berbahagialah di seluruh tempat di bumi ini! Selamat!”. Pada bagian ini tertulis tahun 850 Saka atau 928 masehi, ketika Raja Dyah Wawa mengirim perintah pembangunan prasasti bagi Desa Sangguran kepada Mpu Sindok.
Dari transliterasi yang dibuat oleh Hasan, prasasti ini dimaksudkan sebagai pengukuhan pemberian anugrah sima perdikan kepada Desa Sangguran. Melalui prasasti ini ditulis perintah kepada pejabat Desa Sangguran agar memungut pajak sebagai pemasukan untuk memelihara dan membiayai berbagai keperluan bangunan suci pendharmaan tempat Siwa bersemayam di daerah perdikan para pandai besi di Mananjung. Selain perintah penugasan memungut pajak, Prasasti Sangguran di bagian depan ini juga menegaskan larangan bagi pejabat Kerajaan Medang untuk memasuki Desa Sangguran untuk memungut pajak. Nama posisi jabatan yang dilarang masuk sangat banyak, dintaranya patih, wahuta, dan semua abdi dalem raja.
Aspek lain yang berkaitan dengan peraturan juga banyak dikisahkan diantaranya tentang jenis-jenis pungutan maupun denda bagi tindak kejahatan. Prasasti ini juga memberikan laporan terhadap peristiwa yang terjadi dalam upacara pengukuhan pemberian anugrah sima ini. Diceritakan ada pertunjukan wayang (orang), ada banyak hidangan makan minum yang semuanya habis, serta pembagian hadiah kepada banyak tokoh, ada yang mendapatkan hadiah emas atau perak dan kain. Selain kepada para tokoh yang berjasa, hadiah juga diberikan kepada para pemain wayang.
Penjelasan tentang pemberian hadian ini cukup panjang, sampai ke bagian belakang prasasti. 
Setelah cerita tentang pembagian hadiah, pada bagian bawah berisi kalimat-kalimat penutup, yang berisi kutukan-kutukan bagi siapa saja yang merusak, memindah atau tidak mematuhi aturan yang ditulis dalam Prasasti Sangguran. Kalimat kutukan ini sangat panjang, dari baris 28 sampai 38. Diantara kalimat-kalimat kutukannya sebagai berikut:
·        Jika ada orang jahat yang tidak mematuhi dan tidak menjaga kutukan yang telah diucapkan oleh sang wahuta hhyang kudur, (apakah ia) bangsawan (atau) abdi, tua (atau) muda, laki-laki (atau) perempuan, wiku (atau) orang rumah tangga, dan patuih, wahuta, raama, siapapun yang merusak (kedudukan) desa Sangguran yang telah diberikan sebagai sima kepada punta di Mananjung, untuk (kepentingan) Bhatara (yang bersemayam) di bangunan suci peribadatan di daerah perdikan para pandai, sampai ke akhir zaman, hancur leburlah!
·       Demikian pula jika ada orang yang mencabut sang hyang watu siima, maka ia akan terkena karmanya, bunuhlah olehmu Hyang, ia harus dibunuh, agar tidak dapat melihat ke samping, dibenturkan dari depan, dari sisi kiri, pangkas mulutnya, belah kepalanya, sobek perutnya, renggut ususnya, keluarkan jeroannya, keduk hatinya, makan dagingnya, minum darahnya, lalu laksanakan (dan) akhirnya, habiskanlah jiwanya.
·       Jika berjalan di hutan (akan) dimakan harimau, akan dipatuk ular, (akan) diputar-putarkan oleh Dewamanyu (Dewa Kemurkaan atau Dewa Kemarahan-red), jika berjalan di tegalan akan disambar petir, disobek-sobek oleh raksasa, dan seterusnya.
Sungguh kutukan yang sangat mengerikan.

Naskah di bagian samping menjelaskan selesainya acara, pujian bagi pemain wayang yang bermain bagus, penonton yang puas dengan pertunjukan maupun hidangan. Kalimat terakhir adalah “Demikianlah adat daripada penetapan sima di Sangguran. Telah selesailah, ditulis juru-tulis Hino, Laksana”. Yang dimaksud dengan Hino adalah Mpu Sindok yang menjadi Mahamenteri I Hino, sedangkan Laksana adalah juru tulisnya.

Semoga Prasasti Sangguran bisa segera pulang ke Indonesia, dan tidak ada (lagi) yang terkena kutukannya.