October 13, 2017

Rahasia 5 Ibukota Baru Kerajaan Besar di Jawa Timur

Agus Wibowo

Dari akhir abad 10 di masa Mpu Sindok Raja Medang sampai akhir abad 14 di masa Raden Wijaya Raja Mapahit, ada 7 kota yang dibangun sebagai ibukota kerajaan besar di Jawa Timur. Kota pertama adalah Kota Tamwlang dan Wwatan sebagai ibukota Kerajaan Medang. Kota kedua adalah Watan Mas dan Kahuripan yang dibangun Erlangga. Kota tiga adahah Daha di Kediri yang dibangun untuk Kerajaan Panjalu. Yang keempat adalah Kota Tumapel menjadi ibukota Kerajaan Singasari, dan kelima Kota Tarik dan Trowulan yang menjadi ibukota Kerajaan Majapahit.

‌Tamwlang dan Wwatan Ibukota Medang Wangsa Isyana

Gunung Lawu
Di awal abad 10, tepatnya tahun 929, keluarga kerajaan Medang Wangsa Sanjaya melakukan eksodus besar-besaran dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Menurut teori beberapa ahli sejarah, eksodus ini dilakukan karena letusan Gunung Merapi yang dahsyat. Berdasarkan beberapa prasasti, eksodus ini juga dilakukan karena adanya persaingan dengan Wangsa Syailendra yang juga eksis di Jawa Tengah. Candi Prambanan dalam Prasasti Siwagraha (856) disebutkan sebagai tanda atas kebangkitan Medang Wangsa Sanjaya terhadap Balaputradewa anggota Wangsa Syailendra. Dalam perang dua wangsa yang bersaing di Jawa Tengah ini Rakai Pikatan disebutkan memenangkan peperangan atas Balaputradewa. Awalnya Balaputradewa melarikan diri ke bukit Boko dan membangun pertanahanan tapi tetap berhasil dikalahkan.
Bukti lain, berdasarkan Prasasti Pucangan yang dibangun oleh Erlangga pada tahun 1042, persaingan antara Kerajaan Medang dengan Wangsa Syailendra terus berlangsung setelah keluarga Kerajaan Medang melakukan eksodus ke Jawa Timur. Di masa kejayaan Kerajaan Medang Darmawangsa berhasil mengusir pasukan Wangsa Syailendra dari Jawa Tengah, sehingga bergeser ke Jawa Barat, bahkan kembali ke Kerajaan Sriwijaya di Palembang.
Eksodus keluarga Wangsa Sanjaya ini dipimpin oleh Mpu Sindok, pembesar kerajaan yang bergelar Mahamantri I Hino pada saat Rakryan Dyah Balitung, Rakryan Dyah Tulodong sampai Rakryan Dyah Wawa menjadi Raja Medang. Eksodus dilakukan setelah tewasnya Dyah Wawa yang satu tahun menjadi Raja.
Berdasarkan Prasasti Turyyan yang dibuat Mpu Sindok, rombongan Kerajaan Medang membangun kota baru di Tamwlang, yang kini dikenal sebagai Desa Tembelang di Kabupaten Jombang. Prasasti Turyyan juga menyebut bahwa raja Medang adalah Mpu Sindok yang bergelar Sri Isyana Wikramadharmottunggadewa. Menurut ahli sejarah, hal ini menandai Mpu Sindok memproklamasikan wangsa sendiri yaitu Wangsa Isyana. Karena beberapa pertimbangan, Kota Tamwlang dipindahkan ke Wwatan di daerah Maospati di Magetang, di dekat Gunung Lawu. Eksodus ke Wwatan dilakukan kemungkinan karena lokasinya yang terlalu dekat dengan Kali Brantas yang mudah dijangkau oleh angkatan laut Kerajaan Sriwijaya yang mendukung Wangsa Syailendra di Jawa Tengah. Hal ini terbukti beberapa tahun kemudian, ketika terjadi perang di Anjukladang. Pasukan laut Kerajaan Sriwijaya yang masuk melalui Kali Brantas bergerak melalui darat ke arah barat dan dihadang oleh pasukan Medang di Desa Anjukladang, di Kabupaten Nganjuk. Atas kesetiaan dan jasa penduduk Anjukladang, Pu Sindok memberikan anugrah sima perdikan yang dikukuhkan dalam Prasasti Anjukladang.
Di kota barunya di Wwatan, Kerajaan Medang bisa membangun pertahanan yang kuat, menciptakan keamanan, dan membangun kekuatan militer untuk melakukan ekspansi perluasan wilayah. Di abad 10 pembangunan kota mempertimbangkan beberapa hal, diantaranya: aspek pertahanan, ketersediaan air dan kesuburan wilayah. Dari arah barat dan selatan Wwatan terlindung oleh Gunung Lawu, sedangkan dari Timur, Wwatan cukup jauh dari Kali Brantas dan Pasukan Medang didukung oleh penduduk desa-desa yang ada. Di masa konflik bersenjata, aspek pertahanan menjadi pertimbangan utama dam membangun kota.


Watan Mas dan Kahuripan, Ibukota Kerajaan Erlangga

Prasasti Pucangan 
Dalam penyerangan Pasukan Aji Wurawari dari Kerajaan Lawram di tahun 1006 yang menghancurkan ibukota Kerajaan Medang di Wwatan, Erlangga dan istrinya berhasil melarikan diri dengan pengawalan guru Erlangga, bernama Narotama. Mereka terus bergerak menghindari kejaran pasukan Kerajaan Lawram dan Kerajaan Sriwijaya, berpindah-pindah dari Gunung Lawu, Wonogiri, Madiun, Ponorogo, Kediri, Jombang sampai Gunung Penanggungan di Mojokerto. Setelah tiga tahun melanglang buana dari hutan ke hutan dan dari gunung ke gunung, Erlangga berhasil mengumpulkan sisa-sisa keluarga dan pasukan Kerajaan Medang yang tercerapi berai. Erlangga membangun kota baru di lereng Gunung Penanggungan, yang memiliki perlindungan alam yang cukup baik. Kota baru bagi Kerajaan Medang ini dinamakan Watan Mas, mengingat nama kota Wwatan, kota Kerajaan Medang di Maospati Kabupaten Magetan.
Dari Istana Watan Mas, Erlangga membangun kembali kekuatan militer Kerajaan Medang dan menyatukan kembali wilayah-wilayah yang sebelumnya menjadi bawahan Kerajaan Medang. Erlangga mengirim utusan ke berbagai penjuru wilayah, termasuk ke Malang, dan Tulungagung di Selatan, ke Arah Timur sampai Bali dan ke arah barat, salah satunya ke Kerajaan Hasin. Cukup banyak kerajaan yang menolak menjadi bawahan Eralangga, menantu Raja Darmawangsa. Kondisi ini membuat Erlangga harus melakukan ekspansi militer untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan yang tidak mau menjadi koalisi. Erlangga melakukan penyerangan ke Lodoyong di daerah Tulungagung dan Blitar, memerangi Kerajaan Hasin di barat dua kali dan memerangi Kerajaan Lawram yang menaklukan Kerajaan Medang di tahun 1006.
Ekspansi militer oleh Erlangga semuanya berhasil kecuali penyerangan ke Lodoyong. Kerajaan yang dipimpin oleh Ratu pengikut Dewi DUrga ini bahkan bisa melakukan serangan balasan. Pada saat Erlangga mengerahkan pasukan secara besar-besaran untuk ekspansi ke Kerajaan Lawram, pasukan Kerajaan Lodoyong melakukan penyerangan ke Watan Mas dan menghancurkan istana Medang yang tidak terjaga dengan dengan maksimal. Setelah berhasil menaklukan Kerajaan Lawram pada tahun 1032, dan mengetahui istananya hancur, Erlangga membangun kembali istana di Kahuripan sebagai ibukota Kerajaan Medang. Kota baru di Kahuripan yang mulai ditempati pada tahun 1036 ini membuat Kerajaan Medang yang dipimpin Erlangga kemudian dikenal sebagai Kerajaan Kahuripan.
Pembangunan ibukota kerajaan Kahuripan yang di dekat Sungai Brantas dan dekat laut ini kemungkinan dipertimbangkan berdasar dua fakta, yaitu: Kerajaan Lawram sudah ditaklukkan dan ancaman kekuatan militer laut Kerajaan Sriwijaya sudah hancur karena dihancurkan oleh Kerajaan Cola Mandala dari India. Kerajaan Medang yang dibangun sebagai kerajaan berbasis gunung berubah menjadi Kerajaan Kahuripan yang memiliki basis pertanian sekaligus mengembangkan basis maritim. Dengan membangun basis maritime, Kerajaan Kahuripan menjual produk pertanian ke luar Pulau Jawa dan lebih bisa mengendalikan perdagangan produk-produk dari luar Pulau, termasuk dari China dan India.
Di masa tua putra-putrinya telah besar, Erlangga membagi Kerajaan Kahuripan menjadi dua, yang diberikan kepada dua putranya, yaitu: Smarawijaya dan Mapanji Garasakan. Erlangga melepaskan kekuasaannya sebagai raja dan kembali ke Gunung Penanggungan sebagai resi.

Daha, Kota Baru untuk Kerajaan Panjalu di Kediri

Candi Ijo di Kediri/Iyum
Pada usia 55 tahun, Raja Erlangga yang berkuasa di Kahuripan telah berhasil membangun kejayaan Wangsa Isyana di Jawa Timur dan ingin berhenti menjadi raja dan menjadi resi atau istilah ngetopnya “lengser keprabon mandeg pandito”. Hanya saja dia menghadapi situasi rumit karena persaingan dua orang putranya. Satu putra dari premaisuri bernama Smarawijaya dan satu putra dari istri lain yang bernama Mapanji Garasakan. Putri sulungnya yang diharapkan bisa menjadi penggantinya dengan legitimasi yang kuat tidak bersedia menjadi pemimpin kerajaan, malah memutuskan menjadi resi di usia muda.
Erlangga juga berusaha melakukan pendekatan ke Bali, dimana dia mempunyai ha katas tahta Bedhahulu, karena Erlangga adalah putra mahkota di sana. Tapi Kerajaan Bedahulu ternyata sudah diwariskan kepada adiknya. Karena tidak mempunya pilihan yang lebih baik, Erlangga akhirnya memutuskan untuk membagi Kerajaan menjadi dua. Dengan bantuan Mpu Barada, pendeta kerajaan, Erlangga membangi Kerajaan Kahuripan menjadi 2 kerajaan, yaitu Jenggala dan Panjalu. Kerajaan Jenggala memiliki wilayah di timur Gunung Kawi sedangkan Kerajaan Panjalu memiliki wilayah yang terbentang di barat Gunung Kawi, termasuk wilayah Kediri.
Kerajaan Jenggala diberikan kepada Mapanji Gasarakan yang berkuasa di Kota Kahuripan yang sudah ada, sedangkan Kerajaan Panjalu harus membangun kota baru. Kota baru ini akhirnya dibangun di daerah Kediri, tepatnya di Daha. Istana Daha dibangun di sisi barat Kali Brantas yang membelah wilayah Kediri. Ibukota Kerajaan Panjalu dibangun berdasarkan pertimbangan agar kerajaan ini bisa mengontrol wilayah selatan, mempunyai akses ke laut melalui Kali Brantas, dan bisa mengembangkan ekonomi pertanian.
Kota Daha sebagai ibukota kerajaan kemudian terbukti bertahan sampai beberapa abad kemudian. Ketika Raja Jayabaya berhasil menyatukan Kerajaan Panjalu dan Jenggala, ibukota tetap di Daha Kediri. Ketika Kerajaan Singasari mengalahkan Kertajaya di tahun 1222, Ken Arok tetap menjadikan Daha sebagai kota penting dan menempatkan putranya, Mahisa Wong Ateleng, sebagai raja muda yang berkedudukan di Daha. Ketika berhasil mengkudeta Kertanegara sebagai Raja Singasari, Jayakatwang menamakan kerajaan sebagai Kediri dan tetap berpusat di Daha. Eksistensi Kota Daha bahwa tetap sampai Jaman Majapahit, dimana Daha menjadi salah satu istana Raja kerajaan bawahan yang ditempati oleh keluarga raja.
Pada saat Kerajaan Majapahit memiliki dua raja, yaitu Bre Kertabumi dan Singhawikramawardhana, Kota Daha menjadi pusat pemerintahan Majapahit barat. Ibukota terkhair Majapahit justru tetap di Daha ketika Girisawardhana berhasil menyatukan kembali Majapahit di tahun 1478.  Kota Daha tetap popular di abad 17 ketika Trunojoyo memberontak kepada Amangkurat I yang berkuasa di Kerajaan Mataram.

Tumapel, Ibukota Singasari yang Dibangun Tunggul Ametung

Candi Singasari di Singasari Malang
Penyerangan pasukan Jenggala karena marah pada Kertajaya yang merebut tahta Kerajaan Panjalu, membuat pasukan Kertajaya di Kediri kocar kacir dan Kertajaya lari ke selatan, sampai daerah Sendang Sekapat di Trenggalek. Dari daerah ini Kertajaya mendapatkan perlindungan penduduk dan membangun lagi kekuatan militernya. Pasukannya bisa merebut kembali Kota Daha dari pasukan Jenggala dan kembali berkuasa Panjalu. Atas jasa penduduk daerah Sendang Sekapat, Kertajaya memberikan anugerah sima perdikan kepada para tokoh desa, yang dikukuhkan dengan membangun prasasti batu di Desa Kemulan pada tahun 1194.
Lebih jauh, Pasukan Kediri yang dipimpin oleh Tunggul Ametung berhasil menyelinap langsung dan menyerang istana Jenggala di Kahuripan. Keluarga Kerajaan Jenggala pun banyak yang menyelamatkan diri ke hutan, termasuk rajanya, Sri Maharaja Baginda. Atas jasanya yang gemilang, Kertajaya mengangkat Tunggul Ametung menjadi Adipati di bekas wilayah Kerajaan Jenggala, untuk mencegah kebangkitan keluarga kerajaan di timur Gunung Kawi tersebut. Tunggul Ametung tidak menempati istana Jenggala di Kahuripan melainkan membuka daerah baru di Tumapel, mulai dari membuka hutan dan membangun desa.
Pararaton menyebut Tunggul Ametung sebagai akuwu atau kepala desa di Tumapel padahal dia adalah seorang adipati, kemungkinan karena pusat kekuasaan yang ditempati merupakan peemukiman yang baru di buka yang lebih mirip sebagai desa. Kota baru di bekas wilayah Jenggala yang dikontrol oleh Tunggul Ametung lebih mendekati hulu Kalu Brantas di dataran tinggi Malang dari Kahuripan yang dekat dengan hilir, bahkan, muara Kali Brantas.
Setelah Tunggul Ametung tewas dibunuh pada tahun 1200, dia digantikan oleh Ken Arok sebagai adipati, istana kadipaten tetap di Tumapel. Setelah Ken Arok mendeklarasikan kemerdekaan Tumapel pada tahun 1204 dan mengklaim wilayah bekas Kerajaan Jenggala, ibukotanya tetap di Tumapel. Bahkan setelah berhasil mengalahkan Kerajaan Panjalu dan menyatukan ke dalam satu kerajaan di tahun 1222, Ken Arok tetap memimpin kerajaan di Istana Tumapel.
Kota Tumapel tetap menjadi ibukota kerajaan ketika Ken Arok terbunuh dan digantikan oleh Anusapati, putra Tunggul Ametung dan Ken Dedes. Posisi Tumapel tidak tergoyahkan setelah Anusapati digantikan putranya, Wisnuwardhana, yang kemudian menamakan kerajaannya sebagai Kerajaan Singasari. Ibu kota Kerajaan Singasari tetap di Tumapel sampai Kertanegara berkuasa dari tahun 1268 sebelum pemberontakan Jayakatwang di tahun 1292.
Waktu Jayakatwang berkuasa selama satu tahun, ibukota kerajaan dipindahkan ke Daha dan nama kerajaan menjadi Kediri. Setelah Jayakatwang dikalahkan oleh Sangrama Wijaya, yang oleh Kitab Pararaton disebut sebagai Raden Wijaya, pusata kerajaan dipindahkan ke daerah yang sama sekali baru, di Desa Majapahit yang dibuka di hutan Tarik. Ibukota baru untuk kerajaan baru yang dinamakan Majapahit ini terletak di dekat hilir Kali Brantas, dekat dengan kita lama di Kahuripan. Meskipun begitu, Kota Tumapel yang berubah menjadi Singasari sesuai dengan nama Kerajaan Singasari, tetap menjadi kota penting.
Kota Singasari menjadi ibukota kerajaan bawahan Majapahit yang dipimpin keluarga raja Majapahit. Bahkan hingga kini Kota Singasari masih eksis, menjadi ibukota Kecamatan di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur.⁠⁠⁠⁠ Lokasinya di sebelah timur Kota Batu dan dilewati jalan utama Surabaya – Malang.

Tarik dan Trowulan, Ibu Kota Kerajaan Majapahit

Situs Kolam Segaran di Trowulan 
Setelah diterima untuk mengabdi kepada Jayakatwang atas jaminan Aria Wiraraja, Sangrama Wijaya bekerja di ibukota Kerajaan Kediri. Dia dipercaya untuk ikut membangun kekuatan kerajaan Kediri yang baru saja direbut Jayakatwang dari Raja Singasari, Kertanegara. Jayakatwang tahu betul Sangrama Wijaya yang cucu Mahisa Cempaka juga punya rasa kecewa pada Kertanegara. Dalam simulasi perang maupun adu ketangkasan beladiri, Sangrama Wijaya selalu unggul dan makin disayang oleh Jayakatwang.
Ketika Sangrama Wijaya usul untuk membangun taman wisata berburu di hutan Tarik, Jayakatwang tidak keberatan. Aria Wiraraja mengerahkan pasukan dari Madura untuk membuka hutan Tarik, membangun persawahan, permukiman dan membangun tempat penggemblengan pasikan serta latihan perang tersembunyi. Menurut Kitab Pararaton, Sangrama Wijaya datang ke Desa Majapahit 10 bulan kemudian setelah padi sudah menguning di sawah yang baru dibuka.
Setelah melihat perkembangan di Desa Majapahit, terutama kekuatan pasukan yang dihimpun, Wijaya menyampaikan ke Aria Wiraraja bahwa mereka bisa mengalahkan pasukan Jayakatwang yang sudah diamati dan diukur selama satu tahun. Penyerangan ke Kediri akhirnya dilakukan dengan melibatkan pasukan Mongol yang datang untuk menghukum Kertanegara.
Setelah menang perang dan mengusir pasukan Mongol, Desa Majapahit dijadikan sebagai pusat pemerintahan kerajaan baru, yaitu Kerajaan Majapahit. Ibukota baru ini keluar dari dua kota yang sudah ada terkenal sebelumnya, yaitu Kota Singasari di selatan dan Kota Daha di Kediri.
Kota Majapahit yang dibangun di Hutan Tarik menjadi ibukota Kerajaan Majaoahit sampai tahun 1323 ketika Majapahit dipimpin Raja Jayanegara. Setelah istana sempat dikuasai pemberontak yang dipimpin oleh Ra Kuti pada tahun 1319, Jayanegara memutuskan untuk membangun kota baru di Trowulan, yang berjarak kurang lebih 10 kilometer arah barat daya Tarik. Pemindahan kota ini tersirat di dalam Prasasti Sidateka yang dikenal juga sebagai Piagam Tuhanyaru. Prasasti yang terdiri dari empat lempeng tembaga ini merupakan dokumen pemberian tanah sima perdikan kepada pejabat Kerajaan Majapahit yang telah berjasa membangun kota baru di Trowulan, kota yang dikelilingi parit yang bergunan untuk drainase maupun pertahanan kota. Kota Trowulan yang kemudian dikenal juga sebagai Istana Wilwatikta, memiliki benteng mengelilingi kota.
Dengan benteng dan sistem parit yang yang terpadu, Kota Majapahit di Trowulan memiliki pertahanan yang baik, bisa memenuhi kebutuhan air, bisa mencegah banjir dan dekat dengan lahan persawahan yang luas. Wilayah Trowulan juga memiliki kandungan tanah liat yang berkualitas untuk bahan bagunan candi dan maupun bangunan lainnya.
.