October 22, 2017

Rahasia Perebutan Kekuasaan di Demak, Pasca Tewasnya Sultan Trenggono

Agus Wibowo

Masjid Agung Demak/Babad Demak
Kerajaan atau Kesultanan Demak memantapkan eksistensinya setelah mengalahkan Majapahit yang dipimpin oleh Girindrawardhana dan memperoleh legitimasi sebagai penerus Majapahit karena Sultan Fatah adalah putra dari selir Bre Kertabhumi, raja Majapahit bergelar Brawijaya V. Tapi legitimasi berdasarkan garis keturunan tidaklah cukup. Meskipun di sisi barat hanya ada sekali pemberontakan yang dilakukan oleh putra Girindrawardhana di tahun 1512, kerajaan-kerajaan bawahan Majapahit di bagian Timur Gunung Kawi menyatakan tidak tunduk di bawah kekuasaan Kesultanan Demak.
Menurut Babad Demak (122) wilayah Singasari dan Pasuruan yang masih dikuasasi raja-raja Syiwa Budha. Wilayah ini, seperti pernah disebut sebagai Majapahit 2, wilayah ini disebut sebagai Mataram II. Wilayah Kerajaan ini mempunyai benteng Supiturang besar di Pasuruan. Benteng ini menjadi penghalang bagi Pasukan Demak untuk masuk ke selatan sampai ke Malang dan ke Timur sampai ke Banyuwangi.  

Pada tahun 1536, pasukan Demak bergerak ke Pasuruan dan dipimpin langsung oleh Sultan Trenggono. Pasukan Demak membakar dan menghancurkan benteng Supiturang dan menaklukkan Pasuruan. Dari Pasuruan Sultan Trenggono terus berusaha menaklukkan wilayah di selatan dank ke timur. Dalam operasi ini, Sultan Trenggono akhirnya tewas daam peperagan di Situbondo pada tahun 1546. Jenasahnya dibawa ke Demak dan dimakamkan di dekat Masjid Agung Demak.

Meninggalnya Sultan Trenggono menjadi babak baru di Kesultanan Demak karena terjadi perebutan kekuasaan yang melibatkan putra-putra Sultan Trenggono dan adiknya. Sultan Trenggono punya 2 putra salah satunya Pangeran Mukmin yang diangkat menjadi Wali sebagai Sunan Prawoto dan punya adik yang dikenal sebagai Pangeran Seda Lepen. Pertikaian ini menjadi makin rumit karena para wali juga berbeda pendapat. Di satu sisi Sunan Giri berpendapat bahwa yang berhak menjadi Sultan adalah Sunan Prawoto karena dia adalah putra Sultan, tapi Sunan Prawoto punya cela karena membunuh pamannya Pangeran Seda Lepen. Di sisi lain Sunan Kudus lebih mendukung Aria Penangsang putra Pangeran Seda Lepen, karena Aria Penangsang dianggap punya budi pekerti baik, dan kepasitasnya akan bisa menakklukan wilayah timur yang masih dikuasasi kerajaan Syiwa-Budha, bahkan bangsa dari barat mulai menguasasi sebagian wilayah nusantara.

Dalam sengketa penentuan pengganti Sultan Trenggono, Sunan Prawoto dan istrinya terbunuh dan tersiar kabar bahwa pembunuhnya adalah orang-orang Aria Penangsang. Aria Penangsang kemudian juga membunuh Pangeran Hadiri, suami Ratu Kalinyamat. Keturunan Sultan Trenggono yang laki-laki adalah putra Ratu kalinamat yang masih bayi. Insiden pembunuhan ini kemudian memunculkan calon lain, yaitu Hadiwijaya, menantu Sunan Prawoto yang menjadi Adipati Pajang. Nama Hadiwijaya, dalam Babad Demak, diusulkan oleh Sunan Kalijaga. Akhirnya persaingan terjadi antara Hadiijaya adipati Pajang dan Aria Penangsang Bupati Jipang.

Senapan Pelontar Granat
Dalam persaingan ini Hadiwijaya mndapatkan mandat dari Ratu Kalinyamat agar bisa membalaskan kematian kakak dan suaminya oleh Aria Penangsang. Mediasi yang dilakukan oleh para wali gagal, dan perebutan kekuasaan diselesaikan melalui perang. Hadiwijaya mendapatkan banyak dukungan dari daerah lain dan membuat sayembara untuk memberikan tanah bagi yang bisa membantunya mengalahkan Aria Penangsang. Dalam perang di istana Bupati Jipang, Aria Penangsang akhirnya tewas oleh pendukung Hadiwijaya yang dipimpin oleh Ki Gede Pemanahan dan Danang Sutowijoyo. Hadiwijaya yang mudanya dikenal dengan Legenda Jaka Tingkir akhirnya menjadi Sultan, memindahkan pusat pemerintahan di Pajang, kemudian mendirikan Kesultanan Pajang. 

Ki Gede Pemanahan dan anaknya Danang Sutowijoyo mendapatkan tanah perdikan di hutan Mentaok, Yogyakarta. Ini menjadi rahasia berikutnya memasuki babak baru Kesultanan Mataram.