October 11, 2017

Sangrama Wijaya, Pendiri Majapahit Penegak Wangsa Rajasa

Agus Wibowo

Arca untuk Sangrama Wijaya
Sangrama Wijaya yang lebih dikenal sebagai Raden Wijaya adalah pendiri Kerajaan Majapahit pada 10 November 1293. Sebelum mendirikan Kerajaan Majapahit, Sangrama Wijaya mengalami petualangan yang menegangkan dan mematikan. Ketika terjadi pemberontakan oleh Jayakatwang, Sangrama Wijaya disuruh oleh Kertanegara untuk memadamkan kerusuhan di utara kota Singasari. Setelah berhasil mengatasi penyerangan di utara, Sangrama Wijaya kembali ke istana tapi ternyata istana Singasari sudah diduduki pasukan Jayakatwang.  
Dia juga mendengar kabar bahwa Kertanegara telah tewas bersama pembesar istana lainnya, bahkan semua putri Kertanegara ditawan oleh Jayakatwang. Sempat melakukan perlawanan dan membebaskan putri sulung Kertanegara, Sangrama Wijaya bersama 12 orang pasukannya memutuskan melarikan diri dan dikejar ratusan Pasukan Jayakatwang. Mereka sempat bersembunyi di Desa Kudadu sebelum akhirnya sampai pantai dan menyeberang ke Pulau Madura menuju Kadipaten Sumenep.

Di Sumenep Sangrama Wijaya mendapatkan jaminan perlindungan dan dukungan dari Aria Wiraraja untuk merebut kekuasaan dari Jayakatwang. Dalam pertemuan dengan Adipati Sumenep ini Sangrama Wijaya berjanji memberikan setengah wilayah bekas Kerajaan Singasari yang sebelah timur, termasuk Lumajang, Jember, sampai ke Blambangan di ujung timur Pulau Jawa dan juga Pulau Madura. Tapi, jaminan Aria Wiraraja tidak menjamin keberhasilan misi. Sangrama Wijaya harus pura-pura menjadi pengabdi Jayakatwang, penguasa Kediri yang pasukannya beberapa hari lewat memburunya.
Kitab Pararaton menceritakan bahwa Sangrama Wijaya berhasil dipercaya oleh Jayakatwang, melakukan pengamatan kekuatan militer sambil membangun kekuatan pasukan tersembunyi di Desa Majapahit di dalam Hutan Tarik. Ketikan Pasukan Mongol datang untuk menghukum Kertanegara, dibelokkan untuk menyerang Jayakatwang. Dengan muslihat Aria Wiraraja, Sangrama Wijaya juga memimpin pengisiran Pasukan Mongol. Pasca perang, Sangrama Wijaya mendeklarasikan berdirinya kerajaan baru yang dinamakan Majapahit, sedangkan dia sendiri dilantik menjadi raja dengan nama dan gelar Nararya Sangrama Wijaya Kertarajasa Jayawardhana.

Manajemen Konflik Pengaruh
Setelah berkuasa, Sangrama Wijaya menghadapi kompleksitas manajemen kekuasaan. Beberapa tantangan yang dihadapinya antara lain: pertama, legitimasinya sebagai raja memiliki kelemahan karena bukan putra mahkota Kerajaan Singasari. Kedua, ada ketergantungan yang sangat besar kepada Aria Wiraraja dan keluarganya, dan ketiga, datangnya pasukan laut Singasari yang pulang dari misi Ekspedisi Pamalayu dan membawa keberhasilan. Kelompok militer ini membawa keberhasilan tapi menjadi pesaing Keluarga Aria Wiraraja yang berjasa merebut kembali kekuasaan dari Jayakatwang. Hal ini menambah kerumitan ketika harus menentukan jabatan dan posisi penting di Majapahit.
Satu tahu menjadi raja, keputusan Raja Wijaya memilih Nambi menjadi Patih, ditentang secara terbuka oleh Ranggalawe. Ekspresi Ranggalawe yang tidak suka dengan keputusan raja ini memunculkan desas-desus akan terjadinya pemberontakan oleh Ranggalawe, bersamaan dengan desas-desus adanya tindakan penumpasan oleh pasukan Majapahit. Mobilisasi pasukan benar-benar terjadi dan perang antara dua kubu terjadi di Kali Tambakberas di Gresik. Pemberontakan Ranggalawe bisa dipadamkan. Setelah Perang Ranggalawe, Aria Wiraraja menagih janji tentang separuh wilayah Majapahit dan Sangrama Wijaya memenuhi janjinya. Beberapa tahun kemudian, Lembu Sora paman Ranggalawe yang dianggap melakukan pembangkangan pada raja. Lembu Sora yang dituduh melakukan penghianatan dan kejahatan perang karena membunuh Mahisa Anabrang yang merupakan senopati  pasukan sendiri, terancam hukuman mati dan dipanggil oleh Raja Wijaya. Lembu SOrang datang ke Istana setelah panggilan ketiga. Karena yakin bahwa sangat dipercaya oleh raja, Lembu Sora datang ke istana dengan pengawalan dan bersenjata. Sikap Lembu Sora dianggap membahayakan keamanan raja, sehingga dia dihadang pasukan kawal istana sampai akhirnya terjadi pertempuran di halaman istana. Lembu Sora tewas dalam pertempuran ini.
Untuk mengatasi tantangan konflik kekuasaan dua kubu berpengaruh besar, Sangrama Wijaya membuat inovasi dengan membuat struktur baru di lingkaran intinya, yaitu Darmaputra. Mereka terdiri dari orang-orang pilihan dengan keahlian khusus, yaitu: Ra Kuti, Ra Tanca, Ra Semi, Ra Wedeng, Ra Yuyu dan Ra Kembar. Para Darmaputra hanya dibentuk di masa Raden Wijaya dan tidak pernah diganti atau diadakan di raja Majapahit berikutnya.
Sangrama Wijaya wafat di tahun 1309 setelah 16 tahun berkuasa. Dia mempunyai satu putri dari permaisuri yaitu Tribuana Tunggadewi dan seorang putra dari istri yang putri Raja Darmasraya, yaitu Janayegara. Keluarga kerajaan akhirnya memutuskan Jayanegara menjadi Raja Majapahit ke-2. Potensi laten persaingan pengaruh di masa Sangrama Wijaya masih muncul di masa Jayanegara. Beberapa pemberontakan justru banyak dilakukan oleh para Darmaputra, yang tidak mendapatkan perlakukan istimewa lagi di masa Jayanegara.

Legitimasi Politik Sangrama Wijaya
Sebagai salah satu pangeran di istana Singasari, Sangrama Wijaya kelihatannya tidak mwmpunyai legitimasi kuat sebagai pengganti Raja Singasari Keetanegara, karena dia bukan putra maupun adik Kertanegara. Meskipun begitu, Aria Wiraraja yang lama tinggal di istana Singasari memahami bahwa Sangrama Wijaya adalah cucu Mahisa Cempaka, pemilik tahta istana Kediri yang rela menyerahkan kekuasaannya kepada Wisnuwardhana pada tahun. Hal ini tertulis di Prasasti Mula Malurung yang dibuat tahun 1258 oleh Kertanegara atas perintah Wisnuwardhana. Setelah menjadi raja Majapahit, Sangrama Wijaya mengukuhkan legitimasinya dengan memposisikan dirinya sebagai anggota Wangsa Rajasa. Peneguhan sebagai anggota Wangsa Rajasa ini ditulis di dalam Prasasti kudadu dan Prasasti Belawi. Legitimasi politik juga dimantapkan dengan menikahi putri-putri Kertanegara, salah satunya Rajapadni yang menjadi Permaisuri.
Sangrama Wijaya dikatakan menegakkan Wangsa Rajasa karena dua raja Singasari yang terakhir adalah dari keturunan Ken Dedes dan Tunggul Ametung. Berdasarkan Prasasti Mula Malurung, Kertanegara adalah putra Wisnuwardhana, cucu Anusapati -yang adalah putra Ken Dedes dan Tunggul Ametung. Prasasti ini juga menjelaskan bahwa Sangrama Wijaya adalah cucu Mahisa Cempaka, cicit Mahisa Wong Ateleng -yang merupakan putra dari Ken Dedes dan Ken Arok.

Siapa orang tua Sangrama Wijaya? Kitab Pararaton dan Negarakertagama memberikan informasi yang berbeda. Menurut Pararaton ayah Sangrama Wijaya adalah Mahisa Cempaka sedangkan menurut Negarakertagama orang tuanya adalah Dyah Lembu Tall putra Mahisa Cempaka. Dalam prasasti-prasasti yang dikeluarkannya, termasuk Kudadu, Belawi maupun Sukamerta Sangrama Wijaya tidak menuliskan dengan jelas identitas orang tuanya. Dia hanya menuliskan bahwa pembangun prasasti sebagai anggota Wangsa Rajasa.