October 18, 2017

Rahasia Kota Baru Kerajaan Medang di Jawa Timur - Serial Kota Baru

Agus Wibowo


Prasasti Siwagrha
tentang Perang Dua Wangsa
Di awal abad 10, tepatnya tahun 929, keluarga kerajaan Medang Wangsa Sanjaya melakukan eksodus besar-besaran dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Menurut teori beberapa ahli sejarah, eksodus ini dilakukan karena letusan Gunung Merapi yang dahsyat. Berdasarkan beberapa prasasti, eksodus ini juga dilakukan karena adanya persaingan dengan Wangsa Syailendra yang juga eksis di Jawa Tengah. Candi Prambanan dalam Prasasti Siwagraha (856) disebutkan sebagai tanda atas kebangkitan Medang Wangsa Sanjaya terhadap Balaputradewa anggota Wangsa Syailendra. Dalam perang dua wangsa yang bersaing di Jawa Tengah ini Rakai Pikatan disebutkan memenangkan peperangan atas Balaputradewa. Awalnya Balaputradewa melarikan diri ke bukit Boko dan membangun pertanahanan tapi tetap berhasil dikalahkan.


Bukti lain, berdasarkan Prasasti Pucangan yang dibangun oleh Erlangga pada tahun 1042, persaingan antara Kerajaan Medang dengan Wangsa Syailendra terus berlangsung setelah keluarga Kerajaan Medang melakukan eksodus ke Jawa Timur. Di masa kejayaan Kerajaan Medang Darmawangsa berhasil mengusir pasukan Wangsa Syailendra dari Jawa Tengah, sehingga bergeser ke Jawa Barat, bahkan kembali ke Kerajaan Sriwijaya di Palembang.
Eksodus keluarga Wangsa Sanjaya ini dipimpin oleh Mpu Sindok, pembesar kerajaan yang bergelar Mahamantri I Hino pada saat Rakryan Dyah Balitung, Rakryan Dyah Tulodong sampai Rakryan Dyah Wawa menjadi Raja Medang. Eksodus dilakukan setelah tewasnya Rakryan Dyah Wawa yang satu tahun menjadi Raja.

Berdasarkan Prasasti Turyyan yang dibuat Mpu Sindok, rombongan Kerajaan Medang membangun kota baru di Tamwlang, yang kini dikenal sebagai Desa Tembelang di Kabupaten Jombang. Prasasti Turyyan juga menyebut bahwa raja Medang adalah Mpu Sindok yang bergelar Sri Isyana Wikramadharmottunggadewa. Menurut ahli sejarah, hal ini menandai Mpu Sindok memproklamasikan wangsa sendiri yaitu Wangsa Isyana. Karena beberapa pertimbangan, Kota Tamwlang dipindahkan ke Wwatan di daerah Maospati di Magetang, di dekat Gunung Lawu. 

Gunung Lawu,
Benteng alam Istana Wwatan
Eksodus ke Wwatan dilakukan kemungkinan karena lokasinya yang terlalu dekat dengan Kali Brantas yang mudah dijangkau oleh angkatan laut Kerajaan Sriwijaya. Hal ini terbukti beberapa tahun kemudian, ketika terjadi perang di Anjukladang. Pasukan laut Kerajaan Sriwijaya yang masuk melalui Kali Brantas bergerak melalui darat ke arah barat dan dihadang oleh pasukan Medang di Desa Anjukladang, Kabupaten Nganjuk. Atas kesetiaan dan jasa penduduk Anjukladang, Pu Sindok memberikan anugrah sima perdikan yang dikukuhkan dalam Prasasti Anjukladang.


Di kota barunya di Wwatan, Kerajaan Medang bisa membangun pertahanan yang kuat, menciptakan keamanan, dan membangun kekuatan militer untuk melakukan ekspansi perluasan wilayah. Di abad 10 pembangunan kota mempertimbangkan beberapa hal, diantaranya: aspek pertahanan, ketersediaan air dan kesuburan wilayah. Dari arah barat dan selatan Wwatan terlindung oleh Gunung Lawu, sedangkan dari Timur, Wwatan cukup jauh dari Kali Brantas dan Pasukan Medang didukung oleh penduduk desa-desa yang ada. Di masa konflik bersenjata, aspek pertahanan menjadi pertimbangan utama dam membangun kota.***