October 09, 2017

Tarik dan Trowulan, Kota Baru Bagi Kerajaan Majapahit

Agus Wibowo


Gerbang Wringin Lawang
Setelah diterima untuk mengabdi kepada Jayakatwang atas jaminan Aria Wiraraja, Sangrama Wijaya bekerja di ibukota Kerajaan Kediri. Dia dipercaya untuk ikut membangun kekuatan kerajaan Kediri yang baru saja direbut Jayakatwang dari Raja Singasari, Kertanegara. Jayakatwang tahu betul Sangrama Wijaya yang cucu Mahisa Cempaka juga punya rasa kecewa pada Kertanegara. Dalam simulasi perang maupun adu ketangkasan beladiri, Sangrama Wijaya selalu unggul dan makin disayang oleh Jayakatwang.
Ketika Sangrama Wijaya usul untuk membangun taman wisata berburu di hutan Tarik, Jayakatwang tidak keberatan. Aria Wiraraja mengerahkan pasukan dari Madura untuk membuka hutan Tarik, membangun persawahan, permukiman dan membangun tempat penggemblengan pasikan serta latihan perang tersembunyi. Menurut Kitab Pararaton, Sangrama Wijaya datang ke Desa Majapahit 10 bulan kemudian setelah padi sudah menguning di sawah yang baru dibuka.
Setelah melihat perkembangan di Desa Majapahit, terutama kekuatan pasukan yang dihimpun, Wijaya menyampaikan ke Aria Wiraraja bahwa mereka bisa mengalahkan pasukan Jayakatwang yang sudah diamati dan diukur selama satu tahun. Penyerangan ke Kediri akhirnya dilakukan dengan melibatkan pasukan Mongol yang datang untuk menghukum Kertanegara.
Setelah menang perang dan mengusir pasukan Mongol, Desa Majapahit dijadikan sebagai pusat pemerintahan kerajaan baru, yaitu Kerajaan Majapahit. Ibukota baru ini keluar dari dua kota yang sudah ada terkenal sebelumnya, yaitu Kota Singasari di selatan dan Kota Daha di Kediri.
Kolam Segaran di Trowulan
Kota Majapahit yang dibangun di Hutan Tarik menjadi ibukota Kerajaan Majaoahit sampai tahun 1323 ketika Majapahit dipimpin Raja Jayanegara. Setelah istana sempat dikuasai pemberontak yang dipimpin oleh Ra Kuti pada tahun 1319, Jayanegara memutuskan untuk membangun kota baru di Trowulan, yang berjarak kurang lebih 10 kilometer arah barat daya Tarik. Pemindahan kota ini tersirat di dalam Prasasti Sidateka yang dikenal juga sebagai Piagam Tuhanyaru. Prasasti yang terdiri dari empat lempeng tembaga ini merupakan dokumen pemberian tanah sima perdikan kepada pejabat Kerajaan Majapahit yang telah berjasa membangun kota baru di Trowulan, kota yang dikelilingi parit yang bergunan untuk drainase maupun pertahanan kota. Kota Trowulan yang kemudian dikenal juga sebagai Istana Wilwatikta, memiliki benteng mengelilingi kota.

Dengan benteng dan sistem parit yang yang terpadu, Kota Majapahit di Trowulan memiliki pertahanan yang baik, bisa memenuhi kebutuhan air, bisa mencegah banjir dan dekat dengan lahan persawahan yang luas. Wilayah Trowulan juga memiliki kandungan tanah liat yang berkualitas untuk bahan bagunan candi dan sebagainya.***