October 14, 2017

Transisi Hindu – Budha ke Islam dalam Sejarah Kerajaan Konsentris di Pulau Jawa

Judul Buku: Nusa Jawa Silang Budaya: Warisan Kerajaan-Kerajaan Konsentris. Penulis: Denys Lombard. Halaman: 346. Penerbit: Gramedia. Tahun: 2005  

Agus Wibowo


Pulau Jawa di awal abad 18 lebih tampak wajah pemerintahan VOC yang berwajah Eropa dan beberapa keaultanan Islam di Tengah Jawa dan di pesisir Cirebon dan Banten. Pandangan ini banyak berubah ketika penguasaan atas Pulau Jawa dialihkan ke Inggris dan Stamfor Raffles menjadi Gubernur Jenderal di Indonesia. Dia mempunyai minat sangat besar pada artefak-artefak berupa arca, candi dan prasasti yang ditemukannya. Bangunan, prasasti dan arca yang ditemukan tidak merepresentasikan eksistensi kerajaan-ketajaan yang sedang berkuasa, baik di Surakarta, Yogyakarta, Cirebon, maupun Banten.

Denys Lonbard dalam buku 3 Nusa Jawa Silang Budaya menyebut peran Rafflea sebagai pelopor pengungkapan sejarah kerajaan-kerajaan pra-Islam di Pulau Jawa. Stamfor Raflles melakukan pencarian, bahkan perburuan, situs dan benda bersejarah bercorak Hindu - Budha  di Pulau Jawa. Di Kendal ia menemukan Candi Gedong Songo, terus ke Timur diantaranya menemukan Prasasti Pucangan di Gunung Penanggungan jugan Prasasti Sangguran dan lain-lain. Stamfor Raffles bahkan menyusuri jejak situs menembus hutan dan menemukan Candi Penataran di dataran tinggi Blitar.
Denys Lombard menjelaskan ketertarikan Raffles pada artefak bercorak India, karena mempunyai atasan Gubernur Jenderal Inggris di India, yaitu Lord Minto. Raffles membawa prasasti ke India untuk dipelajari oleh ahli-ahli transliterasi huruf dan bahasa India. Diantara prasasti yang diserahkan oleh Lors Minto adalah Prasasti Sangguran dan Prasasti Pucangan. Setelah itu Raffles membawa ahli sejarah yang sudah bekerja di India untuk bekerja di Pulau Jawa. Hasil dari proyeknya menelaah artefak di Pulau Jawa, Stamfor Raffles menulis buku berjudul The History of Java. Buku tentang Pulau Jawa ini kemudian diikuti buku lain, yaitu Serat Pararaton oleh J. brandes di tahun 1896 dan Negarakertagama di tahun 1915 oleh H. Kern.
Dalam buku ini Denys Lombard mulai menguraikan sejarah kerajaan-kerajaan Hindu Budha yang mulai muncul di pesisir utara Jawa Barat di abad 5 sampai abad 7, kemudian tumbuh intensif di Jawa Tengah sejak abad 7 sampai awal abad 10  kemudian berpindah secara signifikan ke Jawa Timur dari abad 10 sampai abad 16. Pergerakan tersebut dilihat berdasarkan informasi dari naskah prasasti-prasasti yang ditemukan. Berdasarkan alur sejarah tersebut, serta pemahaman atas prasasti dan kitab yang telah diterjemahkan, Denys Lombard mengidentifikasi keterkaitan kerajaan Islam yang ada di Jawa Tengah dengan kerajaan pendahulu yang beragama Hindu Budha. Kerajaan Mataram di Solo dan Yogjakarta membangun keterkaitan legitimasi dengan kerajaan besar yang ada sebelumnya yaitu Majapahit.
Sebagai pelopor pendekatan geologi budaya, Denys Lombard juga mengamati unsur-unsur dasar kebudayaan, berbagai lapisan budaya, mulai yang tampak nyaya maupun yang terpendam dalam sejarah.
Peta Perjalanan Bujangga Manik
Dalam buku ini penulis diantaranya menceritakan perjalanan seorang pangeran kerajaan Sunda bernama  Bujangga Manik yang start dari Istana Pakuan di Bogor sampai ujung timur Pulau Jawa dan menyeberang ke Pulau Bali kemudian kembali Pulang ke Istana Pakuan di Bogor.
Secara detil Denys Lombard mengikuti alur jalan kaki Bujangga Manik di Pulau Jawa dan menampilkan peta perjalanannya.
Aspek sosial budaya juga banyak diuraikan dalam buku ini, termasuk upacara ada sekaten yang terpengaruh tradisi Hindu, juga pertunjukan wayang kulit yang berisi cerita berbasis Mahabarata dan Ramayana yang dipentaskan oleh keluarga kesultanan islam. Silang budaya di Pulau Jawa dijelaskan dengan lengkap dan detil di buku ini. Saking detilnya dari total 347 halaman buku ini, 170 halaman diantaranya berisi catatan, daftar istilah, daftar singkatan dan daftar pusaka. Buku ini sangat penting bagi yanh ingin memahami sejarah bukan hanya berdasarkan tokoh dan rangkaian peristiwa melainkan juga lebih mendalam tentang aspek budaya yang berkembang di kerajaan maupun masyarakat.