November 02, 2017

Keindahan Puja Puji di Jaman Baheula

Agus Wibowo

Bahkan durjana takut berbuat jahat takut akan keberaniannya. Dewa-Bhatara (yang) lebih khayal dari yang khayal, tapi tampak di atas tanah. Begitu salah satu pujian Mpu Prapanca kepada Raja Hayamwuruk. 

"Kid jaman now" punya gaya dan bahasanya sendiri untuk memberi apresiasi. Meskipun begitu nenek moyang menyediakan banyak stok gaya jika si kid mulai mati gaya dengan gayanya sendiri. Salah satu sumber dari masa lalu adalah Kitab Negarkertagama, karya Mpu Prapanca yang didentifikasi oleh Profesor Slamet Mulyana sebagai seorang pembesar urusan agama Budha bernama Dang Acarya Nadendra. Kitab ini cenderung diingat berkaitan dengan wilayah kekuasaan Majapahit yang seluas Nusantara dan juga tentang Sumpah Palapa yang diikrarkan oleh Gajahmada.
 
Meskipun disebut sebagai karya pujasastra, tidak banyak informasi tentang kalimat puja puji di dalam Negarakertagama kepada Raja Majapahit dan keluarganya. Dalam Negara Kertagama, semua keluarga Raja Majapahit yang disebut oleh Mpu Prapanca selalu disertai dengan pujian di belakangnya. Selain kepada Raja Hayamwuruk, pujian-pujian juga diberikan kepada orang tua, bibi, paman, permaisuri, putri, bahkan para saudari nenek Hayamwuruk dan buyutnya.

Kalimat pujian paling banyak tentu saja diberikan kepada Hayamwuruk, Raja Majapahit ketika Negarakertagama ditulis. Mpu Prapanca menyebut Hayamwuruk sebagai “menyapu duka rakyat dan tunduk setia segenap bumi Jawa”. Lebih lengkap lagi Mpu Prapanca memuji dengan kalimat panjang “Pada saat di dalam kandungan sudah menmpakkan keluhuran, di mana gunung Kamput (Gunung Kelut) meletus, gemuruhnya membunuh durjana. Bahkan durjana takut berbuat jahat takut akan keberaniannya. Dewa-Bhatara (yang) lebih khayal dari yang khayal tapi tampak di atas tanah”.  

Beberapa tokoh laki-laki yang disebut dan diceritakan karakternya dengan pujian diantaranya: ayah Hayam Wuruk, Sri Kertawardhana, yang disebut “teguh beriman demi perdamaian praja dan teguh tawakal memajukan kemakmuran", serta paman Hayamwuruk Sri Wijayarajasa yang dipuji sbegai “rupawan bagai titisan Upendra dan masyur bagai sarjana". Beberapa tokoh perempuan yang menjadi asaran pujian Mpu Prapanca diantaranya adalah permaisuri dan putrinya. Permaisuri Hayamwuruk, putri Bre Wengker, dipuji sebagai “paling cantik diantara istri dan putri di puri, paling jelita dan memang pantas menjadi imbangan baginda”.

Tidak hanya di situ, kreativitas Mpu Prapanca dalam memuji seperti tidak ada habisnya. Sebagian kecil diantaranya dicontohkan sebagai:
-       Sri Rajapadni, Nenek Hayamwuruk: “seperti titisan Parama Bagawati memayungi jagat raya”.
-       Bibi Hayam Wuruk, Ratu Daha: “cantik tak bertara”
-       Rajasawardana, Adik ipar Hayamwuruk: “sangat bagus lagi putus dalam naya”.
-       Sri Singawardana, adik ipar Hayamwuruk: “rupawan, bagus, sopan dan perwira, cinta sesama dan membuat puas rakyat”.
-       Kusumawardhani, putri Hayamwuruk: “sangat cantik, jelita mata dan lengkung lampai”.
-       Sri Wikramawardhana, keponakan Hayamwuruk: bagai “titisan Hyang Kumara, wakil utama Sri Narendra”.
-       Surawardani, keponakan Hayamwuruk: “indah laksana gambar”.
-       Sang Prameswari Tribuwana, istri tertua Raden Wijaya: “luput dari cela.
-       Prameswari Mahadewi,  istri kedua Raden Wijaya: “rupawan tak bertara.
-       Prajnyaparamita Jayendra dewi, istri ketiga Raden Wijaya: “cantik manis menawan hati.
-       Dyah Lembu Tal, disebut ayah Raden Wijaya: “dalam hidup atut runtut sepakat sehati. Setitah raja diturut, menggirangkan pandang.

Pujian kepada Raja Majapahit dan keluarganya belum cukup bagi Mpu Prapanca. Untuk makin meninggikan keluarga Kerajaan Majapahit, di kalimat awal Negarakertagama, dia merendahkan dirinya dengan kalimat “Sembah pujiku orang hina ke bawah telapak kaki pelindung jagat”.

Meskipun begitu ada yang aneh, Mpu Prapanca tidak banyak memuji Tribuana Tunggadewi, ibu Hayamwuruk yang menjadi Ratu Majapahit dan mengangkat Gajahmada menjadi patih. Terhadap Tribuana Tunggadewi, pada pupuh 49, Mpu Prapanca menulis dengan dingin saja: 

Rani Jiwana Wijayatunggadewi bergilir mendaki tahta Wilwatikta didampingi raja putera Singasari. Selama bertahta, semua terserah kepada menteri bijak, Mada namanya".


Ada rahasia apa sampaiMpu Prapanca tidak memuji tokoh yang merintis penyatuan Nusantara, mungkin tidak perlu dicari. Tapi kid jaman now setidaknya punya tetap perbedaharaan puja-puji yang bisa disimpan dan digunakan pada saat dibutuhkan atau mungkin menemukan jamannya kembali.***