April 12, 2017

Prasasti Kubu-Kubu tentang Penaklukan Kanjuruhan oleh Kerajaan Medang

Gus Bowii
  
Prasasti Kubu-Kubu dikeluarkan oleh Raja Kerajaan Medang dari Wangsa Sanjaya yang masih berpusat di Jawa Tengah pada 17 Oktober 905, yaitu Rakryan Watukura Haji Balitung. Prasasti ini mejadi bagian dari Candi Penampihan di Tulungagung, yang terdiri dari 6 lempengan tembaga yang masing-masing berukuran  35,5 x 6 sentimeter. Menurut Damais dan Buchori, prasasti ini harusnya terdiri dari 7 lempengan, tapi lempengan ke-2 tidak ditemukan, sehingga prasasti ini diberikan nomor 1, 3, 4, 5, 6 dan 7.

April 11, 2017

Prasasti Adan-Adan, Jejak Raden Wijaya di Bumi Angling Darmo Bojonegoro

Gus Bowii


Prasasti Adan-Adan dibuat atas perintah Raden Wijaya sebagai peneguhan augerah sima perdikan atau swatantra kepada seorang pendeta yang telah berbakti dengan setia kepada Raden Wijaya dan mengikuti semua penderitaan Raden Wijaya waktu menjadi menjadi pelarian, membuka hutan Tarik sebelum kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit dan menjadi raja pertama dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana. Penderitaan yang dialami oleh pendeta yang mengikuti Raden Wijaya ini digambarkan dengan “mengenakan pakaian yang dibuat dari kulit kayu, tetap bertingkah laku susila dan taat menjalankan ibadah.

Prasasti Baru yang Disalin dari Janji Erlangga di Lempeng Tembaga

Gus Bowii

Airlangga yang selamat dari Mahapralaya di hari pernikahannya dan kemudian mendirikan Kerajaan Kahuripan, terus melakukan perluasan kekuasaan dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa Timur. Prasasti Baru dibangun oleh Raja Airlangga sebagai pengukuhan pemberian anugrah sima perdikan kepada Desa Baru yang berjasa dalam penaklukan Kerajaan Hasin. Kerajaan yang terletak di Trenggalek ini adalah pendukung Kerajaan Wengker di Ponorogo yang merupakan saingan terberat Raja Airlangga. Penduduk Desa Baru mendukung Pasukan Airlangga yang membangun perkemahan di desa mereka sebelum melakukan penaklukan ke Kerajaan Hasin.

Prasasti Turyyan Tunjukkan Kota Pertama Kerajaan Medang di Jawa Timur

Gus Bowii

Karena bencana letusan Gunung Merapi dan serangan dari Wangsa Syailendra yang menewaskan Raja Medang, keluarga dan pengikut Kerajaan Medang melakukan migrasi besar-besaran ke arah timur Pulau Jawa dipimpin Mpu Sindok, yang menjabat Mahamentri Hino sejak Rakryan Watukura Haji Balitung menjadi Raja Medang. Berdasarkan Prasasti Turyyan, pusat Kerajaan Medang yang baru di bawah pimpinan Mpu Sindok ada di Tamwlang, diperkirakan di Tembelang, Kabupaten Jombang. Hal ini bisa dilihat pada kalimat “Sri maharaja makadatwan i tamwlang”.

Prasasti Terep dan Rahasia Pemindahan Istana Kahuripan

Gus Bowii

Beberapa bulan setelah masa pelariannya, Airlangga menyatukan pasukan dan pengikut Kerajaan Medang untuk membangun kembali pusat kerajaan di Watan Mas yang terletak di Lereng Gunung Penanggungan, di Wates Kabupaten Mojokerto. Dari lereng Gunung Penanggungan, Airlangga memperluas pengaruhnya dengan mengajak kerajaan-kerajaan bawahan Kerajaan Medang untuk kembali bersatu dan melakukan peperangan untuk penaklukan.

Prasasti Anjukladang Bukti Serangan Sriwijaya ke Kerajan Medang di Jawa Timur

Agus Wibowo

Setelah membangun istana baru di daerah Tamwlang di daerah Jombang, Kerajaan Medang masih mendapatkan serangan dari pasukan Wangsa Syailendra yang menduduki wilayah Jawa bagian tengah. Ibukota Tamwlang bisa diserang melalui pasukan laut yang masuk melalui Kali Brantas. Pertimbangan ini membuat Mpu Sindok memindah pusat Kerajaan Medang ke arah barat, ke Watu Galuh di Maospati Kabupaten Magetan. Prasasti Ajukladang dimaksudkan sebagai peneguhan pemberian anugrah sima perdikan kepada Desa Ajukladang, di sebelah tenggara Kabupaten Nganjuk, yang berjasa dalam menahan serangan Wangsa Syailendra dari Kerajaan Sriwijaya yang sudah menduduki Jawa Tengah.