September 04, 2017

Kekuasaan yang Runtuh di Puncak Kejayaan

Agus Wibowo

Kerajaan Medang Wangsa Isyana yang dibangkitkan kembali oleh Mpu Sindok di Jawa Timur mencapai puncak kejayaan pada raja keempat, Darmawangsa Teguh. Bukan hanya bisa bertahan dari serangan Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Medang berhasil menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di Jawa Timur, dan bisa membangun koalisi dengan Kerajaan Bedahulu di Pulau Bali melalui perkawinan Raja Udayana dengan Mahendrata, adik Darmawangsa. Dengan kekuatan koalisi tersebut, Darmawangsa bisa mengusir Wangsa Syailendra kembali ke Kerajaan Sriwijaya, bahkan bisa melakukan serangan melalui laut ke pusat Kerajaan Sriwijaya di Pulau Sumatera.
Dalam situasi aman dan damai, Kerajaan Medang mau memperkokoh koalisasi dengan mengawinkan putri Darmawangsa dengan putra Raja Bedahulu, yang juga keponakannya, yaitu Erlangga. Tapi pesta pernikahan Putri Raja Darmawangsa dan Putra Raja Udayana di puncak kejayaan ini berakhir tragis.

Money Politic di Masa Jayabhaya

Pada tahun 1190 Sri Kertajaya naik tahta Kerajaan Kediri menggantikan kakaknya Sri Kameswara yang wafat meninggalkan putra dari permaisuri Sri Kirana yang masih kecil. Sri Kirana tidak terima dan mengadu kepada orang tuanya Raja Jenggala, Sri Maharaja Girindra. Situasi politik di Kerajaan Kediri cepat berubah panas dan berkembang menjadi perang antara Kerajaan Kediri di sisi barat Gunung Kawi dengan Kerajaan Jenggala di sisi timur Gunung Kawi. Pasukan Kerajaan Jenggala menyerang sampai istana Kediri dan berhasil membuat Sri Kertajaya melarikan diri ke daerah Ketandan Sekapat, di Kabupaten Trenggalek saat ini.