September 29, 2017

Prasasti Canggal, sebagai Proklamasi Kemunculan Wangsa Sanjaya

Agus Wibowo

Prasasti Canggal
Prasasti Canggal menandai munculnya wangsa baru di Jawa Tengah, yaitu Wangsa Sanjaya. Wangsa ini muncul di tengah kekuasaan wangsa yang sudah berkuasa lebih dahulu, yaitu Wangsa Syailendra. Prasasti ini ditemukan di halaman Candi Gunung Wukir, Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang Jawa Tengah. Pesan yang tertulis di lempeng tugu batu ditulis dalam Bahasa Sansekerta dengan huruf Palawa. Berdasarkan tempat ditemukannya, prasasti ini juga dinamakan sebagai Prasasti Gunung Wukir.
Ada kemiripan struktur pesan dengan Prasasti Sojomerto yang menjelaskan penguasa yang membuat prasasti dan orang tuanya. Prasasti berangka tahun 654/732 ini menceritaka bahwa yang berkuasa adalah Sanja, yang menggantikan raja-raja sebelumnya, yaitu pamannya yang bernama Sanna. Sanjaya mendapatkan tampuk kekuasaan melalui ibunya Sannaha yang adalah adik Raja Sanna.
Berdasarkan pembacaan naskah prasasti, bisa diterjemahkan secara bebas sebagai berikut:
-        Pembangunan lingga oleh Raja Sana di atas gunung ini dimaksudkan sebagai pujaan terhadap Dewa Siwa, Dewa Brahma dan Dewa Wisnu(Bait 1-6)
-        Diceritakan bahwa Pulau Jawa sangat makmur, kaya tambang emas dan banyak menghasilkan padi. Di pulau itu didirikan Candi Siwa demi kebahagiaan penduduk dengan bantuan penduduk Kunjarakunjadesa (bait 7)
-        Pulau Jawa yang dahulu diperintah oleh raja Sanna, yang sangat bijaksana, adil dalam tindakannya, perwira dalam peperangan, bermurah hati kepada rakyatnya. Ketika wafat Negara berkabung, sedih kehilangan pelindung. Pengganti raja Sanna yaitu putranya bernama Sanjaya yang ibarat matahari. Kekuasaan tidak langsung diserahkan kepadanya oleh raja Sanna tetapi melalui kakak perempuannya (Sannaha) (bait 8-11)
-        Kesejahteraan, keamanan, dan ketentraman Negara. Rakyat dapat tidur di tengah jalan, tidak usah takut akan pencuri dan penyamun atau akan terjadinya kejahatan lainnya. Rakyat hidup serba senang (bait 12).


Kerajaan Lawram: Penghancur Kejayaan Medang Wangsa Isyana

Agus Wibowo

Dalam pusaran persaiangan antara Wangsa Sanjaya dengan Wangsa Syailendra, Kerajaan Lawram tampil sebentar dalam sejarah dengan peran menentukan. Kerajaan yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur ini berhasil menghancurkan Kerajaan Medang Wangsa Isyana yang merupakan kelanjutan dari Wangsa Sanjaya yang melakukan eksodus ke Jawa Timur.
Prasasti Pucangan
Kerajaan yang lokasinya kini menjadi Desa Ngloram di Kecamatan Cepu Kabuoaten Blora ini disebut di dalam Prasasti Pucangan yang dibuat oleh Erlangga, Raja Kahuripan. Dikisahkan bahwa Istana Kerajaan Medang yang sedang sibuk dalam.pesta perkawinan antara putri Darmawangsa dan Erlangga secara mendadak diserbu oleh pasukan Kerajaan Lawram yang dipimpin raja Aji Wura Wari. Istana Medang dihancurkan, Raja Darmawangsa tewas, tapi Erlangga dan istrinya selamat. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1006.

Serangan mematikan tersebut merupakan balasan terhadap serangan pasukan Medang ke Kerajaan Sriwijaya di Sumatera pada tahun 1005. Erlangga yang selamat berhasil membangun kembali sisa-sisa wangsa Isyana ke dalam Kerajaan Kahuripan. Setelah menaklukan kembali beberapa kerajaan bekas bawahan Kerajaan Medang, pada tahun 1032 pasukan Erlangga menyerang kerajaan Lawram secara terbuka dan memenangkan peperangan. Kerajaan Lwaram tidak bangkit lagi karena sekutu besarnya Kerajaan Sriwijaya sudah lebih dulu dikalahkan oleh Kerajaan Kola dari India.

September 28, 2017

Sri Kameswara, Raja Kediri Menantu Raja Jenggala

Agus Wibowo


Prasasti Sapu Angin
Setelah lama berada dalam kejayaan dan damai di bawah kepemimpinan Raja Jayabhaya, Kerajaan Kediri kembali mengalami perebutan kekuasaan pada tahun 1159. Raja Jayabaya tewas akibat pemberontakan yang dilakukan oleh salah satu putranya yang menduduki Mahamentri Sirikan, Sri Sareswara. Sri Sareswara menjadi Raja Kediri tapi harus menghadapi pemberontakan yang dilakukan oleh adiknya, Sri Ayeswara, yang menjadi Mahamenteri Rakai Hino di masa Jayabhaya berkuasa. Sri Ayeswara berhasil menggulingkan kakaknya dan menjadi Raja Kediri pada tahun 1171. Peristiwa ini dicatat dalam Prasasti Angin pada tahun 1171.
Setelah wafat pada tahun 1181 Sri Ayeswara digantikan oleh putranya Sri Kroncaryadhipa. Perebutan kekuasaan anak cucu Jayabhaya terus berlanjut dimana putra Sri Sareswara yang dikudeta oleh Sri Ayeswara berhasil merebut tampuk kekuasaan Kerajaan Kediri. Dia adalah Kameswara, yang dalam Prasasti Ceker disebut menjadi Raja Kediri tahun 1185 dengan gelar “Triwikramawatara Aniwariwirya Parakrama Digjaya Uttunggadewa”.

Jayanegara, Raja Kedua Majapahit Penerus Raden Wijaya

Agus Wibowo

Gelar: Sri Maharaja Wiraladagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara. Lahir 1294 – wafat 1328, memerintah 1309 – 1328. Ayah: Raden Wijaya, Ibu: Dya Indreswari dipanggil Dara Putih.

Setelah pendiri Kerajaan Majapajit wafat, putranya Jayanegara naik tahta menjadi Raja Majapahit kedua. Jayanegara adalah putra dari istri Raden Wijaya, putri dari Kerajaan Darmasraya bernama Indreswari yang juga disebut sebagai dara petak atau data putih. Jayanegara dipilih menjadi penerus Raden Wijaya karena permaisurinya Sri Tajapadni hanya memiliki anak perempuan.
Di masa kekuasaan Jayanegara, masih banyak pemberontakan yang terjadi. Yang pertama adalah Pemberontakan Nambi, putra Aria Wiraraja, Adipati Sumenep yang menjadi penguasa di Lumajang. Pemberontakkan terjadi berawal dari Patih Nambi yang pergi ke Lumajang untuk menengok Aria Wiraraja yang sedang sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Patih Nambi yang tidak segera kembali ke Majapahit dicurigai menyiapkan pemberontakan. Jayanegara memerintakan Mahapati untuk menumpas pemberontakan Nambi dari wilayah kekuasaan ayahnya. Pasukan Majapahit berhasik menumpas pemberontakan Nambi dan Mahapati diangkat menjadi Patih Majapahit dengan gelar Dyah Halayuda.

Adityawarman Pewaris Darmasraya yang Besar di Majapahit

Agus Wibowo

Adityawarman adalah putra dari Putri Kerajaan Darmasraya dan Panglima Ekspedisi Pamalayu Mahisa Anabrang. Sejak Mahisa Anabrang dibunuh oleh Lembu Sora dalam Peristiwa Pemberontakan Ranggalawe, Adityawarma yang sewaktu kecil dikenal sebagai Mahisa Taruna dijadikan anak angkat oleh Permaisuri dan tinggal di Istana Majapahit. Namanya mulai muncul dalam peristiwa Pemberontakan Lembu Sora. Pararaton mengisahkan bahwa setelah beranjak remaja, ada pejabat istana yang memberitahu Mahisa Taruna bahwa ayahnya tewas dibunuh secara curang oleh pasukannya sendiri, yaitu Lembu Sora, paman Ranggalawe.  Dalam pertempuran di Kali Tambak Beras, Mahisa Anabrang mengalahkan Ranggalawe tapi Lembu Sora yang tidak tega keponakannya tewas langsung menombak Mahisa Anabrang dari belakang.
Mahisa Teruna yang mulai dewasa menuntut Lembu Sora dihukum mati, sesuai undang-undang kerajaan. Tuntutan ini didukung oleh pejabat istana, terutama Mahapatih. Lembu Sora akhirnya datang ke istana setelah beberapa kali dipanggil Raja, dengan ditemani beberapa pasukan pengawal. Tindakan Lembu Sora masuk ke istana dengan pengawal menimbulkan kesalahpahaman dan akhirnya Lembu Sora disergap pasukan Jaga Istana dan terbunuh.

Erlangga pendiri Kahuripan, Leluhur Raja-Raja Jenggala dan Kediri

Agus Wibowo

Nama Airlangga sangat terkenal di Indonesia, terutama di Jawa Timur. Namanya sangat dihormati dan dijadikan nama perguruan tinggi di Surabaya, yaitu Universitas Airlangga. Dalam sejarah kerajaan yang ada di Jawa Timur, Raja Airlangga banyak disebut di dalam prasasti maupun kitab, salah satunya adalah Prasasti Pucangan yang dibangun atas perintah Raja Airlangga. Dalam prasasti yang ditemukan di daerah Pucangan di lereng Gunung Lawu ini, Raja Airlangga menuliskan secara panjang lebar tentang asal usulnya sebagai keturunan Wangsa Isyana dan Raja Udayana dari Bali, dan prasati ini juga menceritakan peristiwa Mahapralaya yang terjadi di hari pernikahan Airlangga dengan putri pamannya Raja Darmawangsa Teguh. 

Wisnuwardhana, Penyatu Keturunan Ken Arok dan Ken Dedes

Agus Wibowo


Candi Jajagu,
sebagai pendermaan Wisnuwardhana
Raja ketiga Kerajaan Tumapel adalah putra Anusapati yang juga cucu Ken Dedes dan Tunggul Ametung, Seminingrat yang bergelar Wisnuwardhana. Dia menjadi raja di Tumapel kemudian membantu Mahisa Cempaka, putra Mahisa Wongateleng, merebut kekuasaan Kerajaan Kediri dari Tohjaya. Kedua raja cucu Ken Dedes ini kemudian membuat kesepakatan menyatukan Kerajaan Kediri dan Tumapel menjadi Kerajaan Singhasari. Mahisa Cempaka berhenti menjadi raja dan Wisnuwardhana menjadi raja di kerajaan yang disatukan, kemudian dia mengangkat putranya, Kertanegara menjadi raja muda di Kediri.
Penyatuan dua kerajaan ini ditulis dalam Prasasti Mula Malurung yang dibuat oleh Wisnuwardhana. Prasasti Mula Malurung mengungkap bahwa kisah tentang Ken Arok yang ada di Kitab Pararaton bukanlah legenda melainkan sejarah factual yang benar-benar terjadi. Prasasti Mula Malurung menuliskan dengan detil tentang anak cucu Ken Arok dan Ken Dedes, termasuk anak cucu Ken Dedes dari suami Tunggul Ametung maupun anak cucu Ken Arok dengan selirnya, Ken Umang. Selain itu, prasasti ini juga menjelaskan posisi Jayakatwang, bupati Gelang-Gelang. Jayakatwang yang merupakan cicit Kertajaya yang ditumbangkan oleh Ken Arok, menjadi menantu Wisnuwardhana melalui perkawinan dengan putrinya. Selain prasasti Mula Malurung, Wisnuwardhana juga memerintahkan Kertanegara yang menjadi raja muda di Kediri untuk membuat prasasti lain, diantaranya Prasasti Kelurak yang ditemukan di Magelang.
Prasasti Mula Malurung
Bersatunya pemerintahan Tumapel di sisi timur Gunung Kawi dan pemerintahan Kediri di sisi barat Gung Kawi menjadikan Kerajaan Singasari mencapai kedamaian dan kejayaan. Di bawah pimpinan Wisnuwardhana, Kerajaan Singhasari mulai menjalankan politik luar negeri yang lebih ekspansif. Selain mengembang diplomasi dengan kerajaan-kerajaan di barat Pulau Jawa, Kerajaan Singasari melakukan ekspansi ke Pulau Bali dan ekspedisi ke Pulau Kalimantan, terutama di pantai sisi Selatan dan Barat. Wisnuwardhana merupakan pelopor kerajaan di Jawa Timur yang mengembangkan politik luar negeri yang memandang pulau-pulau yang dipisahkan oleh laut di perairan nusantara sebagai pulau-pulau yang disatukan oleh laut. Wisnuwardhana wafat pada tahun 1268 dan didermakan di Candi Jajago.

Kebijakan politik luar negeri yang sudah dimulai dilanjutkan oleh putranya –Kertanegara, yang sejak remaja dikader menjadi raja muda di istana Daha di Kediri. 

Lonceng Cakra Donya oleh-oleh Chengho untuk Rakyat Aceh

Agus Wibowo

Memasuki halaman Museum Aceh, siapapun akan dengan mudah melihat lonceng besar yang digantung dalam bangunan kecil seperti meunasah. Lonceng ini dikenal dengan nama “Lonceng Cakradunya”. Lonceng yang disimpan di halaman Museum Aceh ini merupakan buatan China yang dipersembahkan kepada Kerajaan Samudra Pasai di pantai Timur Aceh, sebagai symbol persahabatan antara Kerajaan Samudra Pasai dengan Dinasti Ming yang berkuasa di Daratan China, yang dibawa dalam ekspedisi Cheng Ho pada abad 15. Lonceng ini dibawa oleh Cheng Ho dalam kesempatan ke-4 ekspedisi laut ke wilayah nusantara, sebagai hadiah dari Kaisar Yongle kepada Kerajaan Samudera Pasai.
Lonceng raksasa ini berbentuk stupa, dibuat pada 1409 Masehi. Tingginya mencapai 125 centimeter, lebar 75 centimeter. Di bagian luar terukir hiasan dan tulisan Arab juga China. Naskah dalam huruf Arab sudah tipis dan sulit dibaca, sedangkan China bertuliskan “Sing Fang Niat Tong Juut Kat Yat Tjo” yang berarti “Sultan Sing Fa yang telah dituang dalam bulan 12 dari tahun ke 5.”
Pasai kala itu dikenal sebagai negeri yang makmur dan terbuka. Banyak pedagang-pedagang dari Timur Tengah dan Gujarat India datang untuk berbisnis dan menyebarkan Islam. Pasai juga mengekspor rempah-rempah ke berbagai Negara, termasuk ke Tiongkok.
Sau abad kemudian, Kerajaan Pasai ditakluk oleh Kerajaan Aceh Darussalam pimpinan Sultan Ali Mughayatsyah pada 1542 M. Lonceng persembahan kaisar China ini disita dan dibawa ke Banda Aceh. Di masa Kerajaan Aceh dipimpin Sultan Iskandar Muda, lonceng ini digunakan sebagai salah satu alat komunikasi di kapal perang Kerajaan Aceh, yaitu Kapal Cakra Donya. Lonceng persembahan Cheng Ho ini ditaruh di buritan depan kapal dan dinamakan Akidato Umoe yang berarti Berita Kejadian. Setelah tidak digunakan di kapal, lonceng ini kemudian dikenal dengan nama kapal yang membawanya, yaitu Cakra Donya.

Lonceng Cakra Donya sempat digantung di depan Masjid Raya Baiturrahman yang ada di dalam area Istana Sultan Aceh. Pada 1915 M, dari Masjid Raya, lonceng bersejarah ini kemudian dipindah ke Museum Aceh dan bertahan hingga sekarang.  

Prasasti Kayu Arahyang Desa Boro Purworejo

Agus Wibowo

Prasasti itu bercerita tentang Rakai Wanua Poh Dyah Sala yang telah meresmikan wanua atau desa Kayu Ara Hiyang menjadi sima, yaitu wilayah yang dibebaskan dari pajak karena uang pajaknya dialihkan untuk pembangunan tempat ibadah, jembatan, bendungan, atau tempat umum lain.
Pada prasasti itu juga tertulis nama-nama pejabat kerajaan yang diundang ke upacara penetapan sima dan pasek atau persembahan yang diberikan kepada mereka. Termasuk di antaranya uang emas, yang dalam prasasti ditulis satuannya yaitu ma, dan wdihan, yaitu kain.
Prasasti ini ditemukan di Desa Boro Tengah, Kabupaten Purworejo berangka tahun saka 823 atau 901 masehi. Prasasti terbuat dari batu yang dibentuk segi lima: bagian bawah datar, prasasti melebar ke atas di sisi kiri dan kanan, dan bagian atasnya membentuk limas seperti atap rumah. Naskah ditulis pada seluruh bagian prasasti, baik di bagian depan, belakang, samping kiri dan kanan sampai bagian atas. Saat ini prasasti menjadi koleksi Museum Nasional, yang terletak di Jalan Merdeka Barat, Jakarta.


Prasasti Pamintihan: Anugerah Sima di Masa Perang 2 Majapahit

Agus Wibowo

Prasasti Pamintihan ditulis dalam bentuk 4 lempeng tembaga di Desa Sendang Sedati, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.  Prasasti ini dibuat pada tahun 1395/1473 oleh Raja Majapahit Singhawikramawardhana Dyah Suraprabhawa yang berkuasa dari 1466-1478. Berisi penetaoan anugrah raja Dyah suraprabhawa kepada sang arya surung berupa bidang tanah di pamintihan dengan hak perdikan dan menjadi milik turun temurun tanpa batas karena kesetiaan pada raja.
Pada pertengahan abad 15, Kerajaan Majapahit mengalami konflik perebutan kekuasaan yang rumit. Setelah Raja Girisawardhana wafat pada tahun 1466, Kerajaan Majapahit memiliki dua calon pewaris tahta, yaitu Bre Kertabhumi yang merupakan putra raja sebelumnya (Rajasanegara) dan adik Girisawardhana, yaitu Singhawikramawardhana. Ketika Dewan Kerajaan memutuskan SInghawikramawardhana menjadi raja, Bre Kertabhumi meninggalkan istana Majapahit untuk mengangkat senjata. Dengan dukungan yang besar dari pengkitnya, Bre Kertabhumi berhasil merebut tahta kerajaan Majapahit setelah 2 tahun melakukan pemberontakan (1468).
Meskipun mengalami kekalahan, Singhawikramawardhana berhasil lolos dari kejaran pasukan Bre Kertabhumi dan mencapai Istana Daha di Kediri. Singhawikramawardhana memproklamirkan dirinya tetap sebagai Raja Majapahit yang berkuasa di Istana Dana. Dalam pelarian untuk menyelamatkan diri, Singhawikramawardhana berjanji untuk memberikan tanah perdikan kepada pemimpi Desa Sendang Sedati, Sang Arya Surung. Janji yang ditulisan dalam daun lontar ini kemudian ditetapkan dalam bentuk piagam kerajaan pada tahun 1473, setelah Sang Arya Surung menghadap ke Istana Daha.
Prasasti dibuat dalam piagam perunggu sebanyak 4 lempeng, yang berisi pemberian anugerah sima perdikan kepada Desa Sendang Sedati, dengan hak perdikan dan menjadi hak milik turun temurun tanpa batas karena kesetiaan pada raja. Prasasti ini ditemukan di bagian selatan Kabupaten Bojonegoro, tepatnya di Desa Pamintihan, karena itu prasasti lempeng perunggu ini dinamakan sebagai Prasasti Pamintihan.


Prasasti Kebantenan untuk Pengukuhan Tempat Suci Raja Sunda

Agus Wibowo

Prasasti Kebantenan berupa 5 lempeng perunggu, yang ditemukan di Desa Kebantenan, Kabupaten Bekasi, Proinsi Jawa Barat. Prasasti ini ditemukan oleh penduduk Desa Kebantenan kemudian dibeli oleh Raden Saleh dan kini menjadi koleksi Museum Nasional dengan nomor inventaris E.1, E2, E.3, E.4, dan E.5).
Prasasti ini menerangkan Bahwa Raja Sunda yang memerintah di Pakuan Pajajaran menetapkan desa sima perdikan karena dijadikan sebagai tempat suci milik raja. Tertulis: Raja Rahyang Niskala Wastu mengirimkan perintah melalui Hyang Ningrat Kancana kepada Susuhunan Pakuan Pajajaran untuk mengurus daerah larangan, yaitu Jayagiri dan Sunda Semabawa. Raja tinggal di Pakuan, dari sebuah tanah sakral (tanah devasasana); perbatasan yang sudah mapan, dan tanah itu tidak boleh dibagikan karena pelabuhan devasana menyediakan tempat pemujaan, yang merupakan milik raja.
Sri Baduga Maharaja, yang memerintah di Pakuan, memberi aturan sanksi di sebuah tempat suci (tanah devasana) di Gunung Rancamaya, yang perbatasannya sudah terbentuk. Siapa pun yang masuk area tempat suci ini diharuskan mengikuti aturan dan dilarang menggangku ketertiban, termasuk membuat keributan. Di tempat ini juga dilarang ada pungutan pajak karena daerah tersebut berisi tempat ibadah, yang merupakan milik raja.