October 07, 2017

Hoax Mematikan di Masa Majapahit

Agus Wibowo


Candi Bulu di Tuban
yang Jadi Lahan Makam
Salah satu tantangan yang dihadapi oleh masyarakat maupun pemerintah adalah hoax atau berita palsu. Berita model ini memiliki unsur fakta dan data yang benar tapi dicampur dengan unsur fakta dan data palsu. Masalahnya unsur fakta palsu ini mengarahkan berita pada kesimpulan yang salah, menjurus fitnah dan bisa mengarah pada terjadinya kekejihan. Menjadi lebih berbahaya karena teknologi komunikasi saat ini bisa menyebarkan informasi dengan cepat, serentak ke jutaan penerima, apalagi jika masyarakat berada dalam situasi konflik dan butuh referensi yang cepat untuk mengambil tindakan. Berita tentang adanya bank kalah kliring, misalnya, bisa membuat puluhan ribu nasabah bank melakukan penarikan uang di bak secara serentak, yang berakibat banyak bank mengalami rush dan mengguncang ekonomi Negara.

October 06, 2017

Rahasia Perjodohan Politik yang Gagal di Kerajaan Singasari - 1292

Agus Wibowo


Singgasana Istana Raja
Setelah bersaing selama 17 tahun, Ken Arok akhirnya bisa mengalahkan Raja Kediri, Kertajaya, di tahun 1222. Kertajaya melarikan diri dari istana dan tidak kembali, putranya Jayasabha tertangkap oleh pasukan Ken Arok. Bukannya dihukum, Jayasabha malah dijadikan Bupati Gelang-Gelang, arah barat Kediri. Setelah wafat, dia digantikan oleh putranya Jayawarsa kemudian posisi Bupati Gelang-Gelang diwariskan kepada Jayakatwang.

October 04, 2017

Daha, Kota Baru untuk Kerajaan Panjalu

Agus Wibowo


Candi Ijo di Kediri/Iyum
Pada usia 55 tahun, Raja Erlangga yang berkuasa di Kahuripan telah berhasil membangun kejayaan Wangsa Isyana di Jawa Timur. Ia ingin berhenti menjadi raja dan menjadi resi atau istilah ngetopnya “lengser keprabon mandeg pandito”. Hanya saja dia menghadapi situasi rumit karena persaingan dua orang putranya. Satu putra dari premaisuri bernama Smarawijaya dan satu putra dari istri lain yang bernama Mapanji Garasakan. Putri sulungnya yang diharapkan bisa menjadi penggantinya dengan legitimasi yang kuat tidak bersedia menjadi pemimpin kerajaan, malah memutuskan menjadi resi di usia muda.
Erlangga juga berusaha melakukan pendekatan ke Bali, dimana dia mempunyai ha katas tahta Bedhahulu, karena Erlangga adalah putra mahkota di sana. Tapi Kerajaan Bedahulu ternyata sudah diwariskan kepada adiknya. Karena tidak mempunya pilihan yang lebih baik, Erlangga akhirnya memutuskan untuk membagi Kerajaan menjadi dua. Dengan bantuan Mpu Barada, pendeta kerajaan, Erlangga membangi Kerajaan Kahuripan menjadi 2 kerajaan, yaitu Jenggala dan Panjalu. Kerajaan Jenggala memiliki wilayah di timur Gunung Kawi sedangkan Kerajaan Panjalu memiliki wilayah yang terbentang di barat Gunung Kawi, termasuk wilayah Kediri.
Kerajaan Jenggala diberikan kepada Mapanji Gasarakan yang berkuasa di Kota Kahuripan yang sudah ada, sedangkan Kerajaan Panjalu harus membangun kota baru. Kota baru ini akhirnya dibangun di daerah Kediri, tepatnya di Daha. Istana Daha dibangun di sisi barat Kali Brantas yang membelah wilayah Kediri. Ibukota Kerajaan Panjalu dibangun berdasarkan pertimbangan agar kerajaan ini bisa mengontrol wilayah selatan, mempunyai akses ke laut melalui Kali Brantas, dan bisa mengembangkan ekonomi pertanian.
Kota Daha sebagai ibukota kerajaan kemudian terbukti bertahan sampai beberapa abad kemudian. Ketika Raja Jayabaya berhasil menyatukan Kerajaan Panjalu dan Jenggala, ibukota tetap di Daha Kediri. Ketika Kerajaan Singasari mengalahkan Kertajaya di tahun 1222, Ken Arok tetap menjadikan Daha sebagai kota penting dan menempatkan putranya, Mahisa Wong Ateleng, sebagai raja muda yang berkedudukan di Daha. Ketika berhasil mengkudeta Kertanegara sebagai Raja Singasari, Jayakatwang menamakan kerajaan sebagai Kediri dan tetap berpusat di Daha. Eksistensi Kota Daha bahwa tetap sampai Jaman Majapahit, dimana Daha menjadi salah satu istana Raja kerajaan bawahan yang ditempati oleh keluarga raja.
Pada saat Kerajaan Majapahit memiliki dua raja, yaitu Bre Kertabumi dan Singhawikramawardhana, Kota Daha menjadi pusat pemerintahan Majapahit barat. Ibukota terkhair Majapahit justru tetap di Daha ketika Girisawardhana berhasil menyatukan kembali Majapahit di tahun 1478.  Kota Daha tetap popular di abad 17 ketika Trunojoyo memberontak kepada Amangkurat I yang berkuasa di Kerajaan Mataram. Trunojoyo menjadi Daha sebagai pusat kerajaannya sebelum digempur oleh Tentara VOC yang berhasil menangkapnya.

.

Prasasti Siwagrha - 856, Rahasia Pembangunan Candi Prambanan oleh Rakai Pikatan

Agus Wibowo

Prasasti Syiwagrha 
Awal abad 9 wilayah tengah Pulau Jawa diwarnai oleh konflik dua keluarga atau wangsa yang saling bersaing berebut pengaruh, yaitu Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra. Setelah Rakai Pikatan berhasil naik tahta Kerajaan Medang setelah mertuanya wafat, keturunan Wangsa Syailendra, Balaputradewa tidak terima dan melakukan perlawanan. Dalam peperangan ini pasukan Rakai Pikatan berhasil mendesak pasukan Balaputra dewa sampai Bukit Boko. Rakai Pikatan bisa mengalahkan Balaputradewa meskipun Bukit Boko mempunyai benteng pertahanan yang kuat.
Prasasti Siwagrha yang berisi peperangan Rakai Pikatan ini dibangun oleh putranya Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala setelah naik tahta menjadi Raja Medang Wangsa Sajaya. Prasasti ini dibuat dalam tugu batu yang isinya ditulisan dalam aksara dan bahasa Jawa Kuno. Dijelaskan dalam prasasti ini tentang seorang raja yang mengundurkan diri, raitu Rakai Pikatan, dan menyerahkan tahtanya kepada putranya, yaitu Rakai Kayuwangi. Prasasti yang dibuat pada tahun 856 masehi ini menceritakan kejayaan Rakai Pikatan dan menceritakan secara detil tentang bangun suci untuk Dewa Syiwa, Yaitu Candi Prambanan yang dibangun oleh Rakai Pikatan.
Diceritakan bahwa Rakai Pikatan membagun Candi Prambanan setelah mengalahkan Balaputradewa. Candi Prambanan yang terletak 3 kilomenter arah utara situs Ratu Boko ini, menurut para ahli sejarah, dijadikan symbol kebangkitan Kerajaan Mataram yang tercerai-berai akibat persaingan dan peperangan dengan Wangsa Syailendra, bahkan sampai memindahkan ibukota kerajaan sebanyak 3 kali. Candi Prambanan bercorak agama Hindu Syiwa yang dibangun pada tahun 850 masehi ini menyaingi kemegahan Candi Borobudur sebagai bangunan suci Agama Budha yang dibangun oleh Wangsa Syailendra pada tahun 750 masehi.  

Watan Mas dan Kahuripan Istana Raja Erlangga

Agus Wibowo

Gunung Penanggungan di Mojokerto
Dalam penyerangan Pasukan Aji Wurawari dari Kerajaan Lawram di tahun 1006 yang menghancurkan ibukota Kerajaan Medang di Wwatan, Erlangga dan istrinya berhasil melarikan diri dengan pengawalan guru Erlangga, bernama Narotama. Mereka terus bergerak menghindari kejaran pasukan Kerajaan Lawram dan Kerajaan Sriwijaya, berpindah-pindah dari Gunung Lawu, Wonogiri, Madiun, Ponorogo, Kediri, Jombang sampai Gunung Penanggungan di Mojokerto. Setelah tiga tahun melanglang buana dari hutan ke hutan dan dari gunung ke gunung, Erlangga berhasil mengumpulkan sisa-sisa keluarga dan pasukan Kerajaan Medang yang tercerapi berai. Erlangga membangun kota baru di lereng Gunung Penanggungan, yang memiliki perlindungan alam yang cukup baik. Kota baru bagi Kerajaan Medang ini dinamakan Watan Mas, mengingat nama kota Wwatan, kota Kerajaan Medang di Maospati Kabupaten Magetan.

October 02, 2017

1468 - Perang Dua Majapahit

Timeline Monarki Nusantara

Agus Wibowo

Meskipun dikalahkan oleh pemberontakan Bre Kertabhumi dan terusir dari istana di Trowulan, Singhawikramawardhana berhasil lolos dan sampai ke Istana Daha. Paman Bre Kertabhumi ini tetap mendeklarasikan diri sebagai raja Majapahit yang bertahta di Daha. Dalam periode 1468 sampai 1478 kerajaan Majapahit mempunyai dua Raja, yaitu Bre Kertabhumi (Brawijaya 5) yang berkedudukan di Istana Trowulan dan Singhawikramawardhana (Brawijaya 4) yang berkedudukan di Daha Kediri. Singhawikramawardhana gagal merebut kembali istana Majapahit di Trowulan, bahkan ia gugur dalam perang pada tahun 1474. Tahta Majapahit di Daha diteruskan oleh putranya,  Girindrawardhana yang mengambil gelar Brawijaya 6.

Perang antara dua Majapahit terus berlangsung selama 4 tahun kemudian, dan akhirnya Girindrawardhana memangkan perang saudara ini. Bre Kertabhumi gugur dalam penyerbuan di  istana Trowulan pada tahun 1478. Kerajaan Majapahit berhasil disatukan kembali setelah 10 tahun berperang. Girindrawardhana tetap memerintah Kerajaan Majapahit dari istana Daha di Kediri. Tewasnya Bre Kertabhumi ini ditulis di Pararaton dengan candra sengkala Saka Sunyanora Yuganing Wong (1400 saka) yang di Babat Tanah Jawa disebut dengan candra sengkala Sirna Ilang Kertaning Bhumi (1400 saka) atau 1478 tahun masehi. 
Penanggalan versi Babat Tanah Jawi tersebut kemudian memunculkan tafsir bahwa Kerajaan Majapahit berakhir tahun 1478. Yang terjadi sesungguhnya adalah berakhirnya kekuasaan Bre Kertabhumi dan berakhirnya Istana Trowulan sebagai pusat Kerajaan Majapahit karena dipindahkan ke Istana Daha di Kediri.Tewasnya Bre Kertabhumi membuat putranya, Raden Patah yang menjadi Bupati Demak melakukan pemberontakan terhadap Majapahit.

1466 - Pemberontakan Bre Kertabhumi

Timeline Monarki Nusantara

Agus Wibowo

Berbeda dengan Hayamwuruk yang tidak mempunyai putra dari permaisuri, cicitnya yaitu Kertawijaya mempunyai tiga orang putra. Hal ini membuat siapa yang menjadi pewaris tahta menjadi jelas, yaitu putra sulungnya. Hanya saja, hal ini menjadi persoalan ketika penerusnya hanya berkuasa sebentar, meninggalkan putra yang masih kecil dan dua adik yang sudah dewasa.
Pada tahun 1451 Keluarga Kerajaan Majapahit dikejutkan oleh meningalnya Ranawijaya yang baru 2 tahun menjadi raja Majapahit. Dewan Kerajaan Majapahit gamang dalam menentukan siapa yang dipilih menjadi raja Majapahit, karena ada tiga orang yang pantas menjadi pewaris tahta: dua adik Ranawijaya yaitu Girishawardhana dan Singhawikramawardhana serta putra Ranawijaya yaitu Bre Kertabhumi yang masih bayi. Setelah tiga tahun Majapahit tidak mempunyai raja definitive, Dewan Kerajaan Majapahit akhirnya memutuskan melantik Girisawardhana menjadi raja. Suksesi berjalan mulus tanpa penolakan.
Suksesi berikutnya menjadi masalah ketika Girisawardhana wafat setelah 10 tahun menjadi raja Majapahit. Dewan Kerajaan Majapahit mempunyai dua pilihan pewaris tahta, yaitu putra ketiga Kertawijaya, Singhawikramawardhana dan putra Ranawijaya yaitu Bre Kertabhumi yang sudah dewasa. Dewan Kerajaan memilih Singhawikramawardhana menjadi Raja Majapahit ke-10. Pelantikan putra ketiga Kertawijaya ini membuat Bre Kertabhumi dan pendukungnya kecewa. Mereka meninggalkan istana kerajan dan melakukan pemberontakan. Pasukan Bre Kertabhumi berhasil merebut istana Majapahit di Trowulan dan Singhawikramawardhana menyalamat diri ke Kediri dan mendeklarasikan diri tetap sebagai raja Majapahit yang memerintah dari Istana Daha.

1404 - Perang Parereg, Pemberontakan Bre Wirabhumi pada Kusumawardhani

Timeline Monarki Nusantara

Agus Wibowo

Topi Perang di Masa Kerajaan
Setelah melalui masa damai yang panjang, terjadi lagi pemberontakan di Majapahit setelah Hayamwuruk wafat. Hal ini terjadi karena Dewan Kerajaan Majapahit memilih putri Hayamwuruk sebagai penggantinya. Singkat kisah, Hayamwuruk mempunyai seorang Putri dari permaisuri yaitu Kusumawardhani dan seorang putra dari selir yaitu Bre Wirabhumi yang berkuasa di Blambangan. Dewan Kerajaan Majapahit memutuskan Kusumawardhani sebagai penerus Hayamwuruk, yang memerintah Majapahit bersama, yaitu Wikramawardhana juga merupakan keponakan Hayamwuruk. 
Keputusan tersebut membuat putra Hayamwuruk, Bre Wirabhumi, kecewa dan marah, apalagi dia curiga bahwa yang menjadi raja justru Wikramawardhana. Sebagai putra tunggal, meskipun dari selir, Bre Wirabhumi merasa lebih berhak daripada menantu. Kemarahan Bre Wirabhumi berujung pada pemberontakan. Pemberontakan ini menjadi perang besar yang dikenal sebagai Perang Paregreg, yang dikenal sebagai perang antara istana barat di  Trowulan dengan istana timur di Bambangan. Perang ini mengingatkan pada fakta bahwa pernah ada Majapahit Timur yang berpusat di Lumajang, yang didirikan oleh Aria Wiraraja. Perang Paregreg berakhir pada tahun 1406 setelah Bre Wirabhumi tewas di Blambangan.

Peristiwa Perang Paregreg ini dikisahkan menjadi Legenda Damarwulan. Dalam legenda ini, disebutkan bahwa Ratu Kencana Ungu yang berkuasa di Majapahit menghadapi pemberontakan Minakjinggo yang menjadi penguasa Blambangan. Ratu Kencana Ungu kemudian dibantu oleh seorang pemuda bernama Damarwulan yang akhirnya berhasil mengalahkan Minakjinggo setelah berhasil mencuri senjata andalannya Gada Besi Kuning. Damarwulan kemudian menikahi Ratu Kencana Ungu dan menjadi Raja Majapahit. Selain memperistri ratu Kencana Wungu, Damarwulan diceritakan juga menikahi istri-istri Minakjinggo yang berjasa dengan menghianati raja jahat dari timur yang menganggu ratu baik di Majapahit.

1357 - Perang Bubat

Timeline Monarki Nusantara

Agus Wibowo

Rombongan Kerajaan Sunda
ke Majapahit melalui Perjalanan Laut
Perang ini terjadi antara rombongan pengawal  mempelai pengantin perempuan Kerajaan Sunda dengan pasukan Majapahit. Silang pendapat antara Perdana Menteri Kerajaan Sunda dengan Gajahmada tentang protokol pernikahan antara Citraresmi Dyah Pitaloka dengan Raja Hayamwuruk berkembang menjadi silang sengketa, saling curiga, saling provokasi hingga menjadi pertempuran. Pertempuran terjadi tidak seimbang karena pasukan pengawal Kerajaan Sunda jumlahnya sedikit dan tidak benar-benar siap berperang. Dalam pertempuran di tanah lapang Bubat ini hampir seluruh rombongan Kerajaan Sunda terbunuh, termasuk Patih Anepaken dan Raja Sunda Sri Baduga Maharaja. Dyah Pitaloka dan pengiringnya bunuh diri. Gajahmada disalah dalam peristiwa ini dan mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri Majapahit.
Air Terjun Madakaripura
Peristiwa ini didokumentasikan oleh beberapa naskah, diantaranya Kidung Sunda yang ditemukan di Bali yang ditulis dalam daun lontar. Kidung Sunda menceritakan dengan detil konflik antara Gajah Mada dan Raja Sunda, yang berkaitan dengan beda persepsi bahwa Kerajaan Sunda versi Gajah Mada yang menjadi bawahan Majapahit dan versi Raja Sunda yang menganggap Kerajaan Sunda sebagai Kerajaan yang berdaulat. Karya sastra dalam Bahasa Jawa abad pertengahan ini mengisahkan bahwa peristiwa ini menyebabkan Hayamwuruk sakit dan akhirnya wafat, sedangkan Gajah Mada disalahkan dan diburu oleh Keluarga kerajaan kemudian hilang muksa. 
Faktanya, Hayamwuruk akhirnya menikah dengan saudara sepupunya yang menjadi permaisuri dan mempunyai seorang putri bernama Indudewi, juga menikah dengan selir dan memiliki putra Bre Wirabhumi. Gajahmada berhenti menjadi patih Majapahit selama 2 tahun, kembali lagi menjadi Patih satu tahun kemudian berhenti dan tinggal di pesanggrahan di Madakaripura, dekat air terjun di Probolinggo.  

1331 - Pemberontakan Sadeng dan Keta

Timeline Monarki Nusantara

Agus Wibowo

Gunung Kapur Sadeng di Jember
Setelah Jayanegara dibunuh oleh Ra Tanca, kekuasaan Majapahit dipegang oleh ibusuri Sri Rajapadni, permaisuri Raden Wijaya. Sri Rajapadni mengundurkan diri untuk menjadi biksuni dan melimpahkan tahta Majapahit kepada putri sulungnya, Tribuana Tunggadewi. Menimbang jasa dan prestasinya, Gajahmada ditawari untuk menjadi Mahapatih Majapahit menggantikan Arya Tadah yang sudah tua dan sering sakit. Dalam Pararaton dikisahkan bahwa Gajahmada tidak bersedia menjadi Mahapatih, karena masih ada pemberontakan di wilayah timur yang masih belum diatasi. Pemberontakan ini dilakukan oleh Bupati yang sebelumnya di merupakan bagian dari wilayah otonom Tigang Juru yang berpusat di Lumajang,  yaitu wilayah Sadeng dan Keta. Bupati Sadeng dan Keta dianggap memberontak karena belum mengakui kedaulatan Majapahit, meskipun Kerajaan Tigang Juru yang dibangun oleh Aria Wiraraja sudah menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit setelah berakhirnya Pemberontakan Nambi.  
Gajahmada menyatakan bersedia menjadi Mahapatih di Majapahit apabila berhasil menumpas pemberontakan tersebut. Gajahmada diberikan mandat dari Ratu Tribuana Tunggadewi untuk memimpin pasukan untuk mengatasi pemberontakan Sadeng dan Keta, bersama Adityawarman. Semula pemberontakan ini diatasi melalui diplomasi dengan mengirim Adityawarman untuk ketemu   Bupati Sadeng dan Keta, tapi upaya ini gagal karena ada pasukan Majapahit yang dipimpin Ra Banyak dan Ra Yuyu melakukan provokasi dengan mendekati wilayah Sadeng. Perang terhadap Sadeng dan Keta akhirnya dipimpin langsung oleh Tribuana Tunggadewi. Gajahmada akhirnya berhasil menumpas pemberontakan di daerah Jember ke timur ini. Wilayah Timur Majapahit yang sebelumnya berada di bawah kontrol keluarga Aria Wiraraja, disatukan kembali secara penuh setelah padamnya Pemberontakan Sadeng dan Keta

Setelah berhasil menumpas pemberontakan di Sadeng dan Keta, Gajahmada bersedia menjadi Mahapatih Majapahit menggantikan Arya Tadah. Dalam upacara pelantikannya menjadi Mahapatih, Gajahmada menyampaikan ikrar yang dikenal sebagai Sumpah Amukti Palapa. Dalam kitab Pararaton disebutkan bahwa Gajah mada megucapkan sumpanya yang terkenal itu; Sumpah Palapa, dengan dukungan penuh Tribhuwanatunggadewi. Pelantikan Gajahmada sebagai rakryan Patih Amangkubhumi Majapahit terjadi pada tahun 1334 Masehi.***

1328 - Pembunuhan Jayanegara oleh Ra Tanca

Timeline Monarki Nusantara

Agus Wibowo

Candi Bajangratu
Padamnya pemberontakan Ra Kuti tidak memadamkan pembangkangan oleh para Darmaputra. Ra Tanca, Darmaputra yang ahli pengobatan justru membunuh Jayanegara pada saat berusaha mengobati sang raja di peraduannya. Ra Tanca langsung dibunuh oleh Gajahmada yang mengetahui tindakannya membunuh raja. Skandal ini terjadi sembilan tahun setelah pemberontakan Kuti.

Mengapa Ra Tanca membunuh raja? Pararaton mengisahkan bahwa Ra Tanca marah karena mendengar cerita dari istrinya bahwa Jayanegara melarang Tribuana Tunggadewi yang menjadi raja Daha untuk menikah, karena ingin memperistri adiknya tersebut. Gajahmada yang menjadi Patih Daha merasa kesal juga mendengar cerita tersebut. Begitu mendapat kabar Jayanegara sakit, keluarga raja datang ke Istana Trowulan, Gajahmada mengiring Ratu Daha. Gajahmada usul agar raja diobati oleh Ra Tanca, tabib kepercayaan Sangrama Wijaya. Menurut Pararaton, Gajahmada mengetahui apabila mendapatkan kesempatan Ra Tanca akan membunuh raja, karena istrinya pernah mengadu digoda oleh Jayanegara. 
Dikisahkan oleh Pararaton, awalnya Ra Tanca tidak bisa membedah benjolan di tubuh Jayanegara, kemudian meminta sang raja untuk melepaskan jimatnya. Begitu jimat dilepas dan benjolan bisa dibedah, Ra Tanca menusuk Jayanegara dan tewas di peraduan. Jayanegara yang belum punya keturunan karena belum menikah, digantikan oleh adiknya, putri sulung Sangrama Wijaya, Tribuana Tunggadewi. Untuk penghormatan bagi Jayanegara, dibangun Candi Bajangratu yang terletak Trowulan. 

1319 - Pemberontakan Darmaputra Ra Kuti yang Menguasai Istana Majapahit

Timeline Monarki Nusantara

Agus Wibowo

Prasasti Tuhanyaru
Pemberontakan yang dilakukan oleh dua orang Darmaputra kepercayaan Raden Wijaya ini terjadi setelah pendiri Majapahit tersebut wafat dan digantikan oleh putranya Jayanegara. Salah satu penyebabnya adalah karena para Darmaputra ini merasa diperlakukan tidak sebaik pada saat Raden Wijaya berkuasa. Salah satu Darmaputra Ra Kuti mewujudkan ketidaksukaannya terhadap Jayanegara melalui pemberontakan dan menyebarluaskan desas-desus bahwa Raja Jayanegara telah berlaku tidak sopan dan berbuat tidak senonoh kepada istrinya dan perempuan lain di istana. Ra Kuti mendapatkan dukungan cukup besar, bahkan berhasil menguasai Istana Majapahit. Dalam peristiwa ini Patih Majapahit, Mahapatih tewas dibunuh.
Jayanegara berhasil diselamatkan oleh kepala pasukan pengawal raja, Gajahmada, dengan dibawa melarikan diri sampai wilayah Matahun (Bojonegoro) dan sembunyi di Desa Badander. Setelah melakukan penggalangan pejabat dan keluarga raja, Gajahmada bisa mengakhiri Pemberontakan Kuti dan Jayanegara kembali menjadi Raja Majapahit. Atas jasanya menyelamatkan Raja Jayanegara dan menumpas Ra Kuti, Gajahmada diangkat menjadi Patih Daha yang berkedudukan di Kediri. Sebagai Patih di Majapahit menggantikan Dyah Halayudha ditunjuk Aria Tadah.
Setelah istana dijarah habis dalam Pemberontakan Ra Kuti, Jayanegara memutuskan untuk membangun pusat pemerintahan baru di Trowulan. Pembangunan kota baru ini berlangsung selama 4 tahun. Peristiwa ini tertulis di dalam Prasasti Tuhanyaru yang ditemukan di Trowulan. 



1316 - Pemberontakan Lembu Nambi

Timeline Monarki Nusantara

Agus Wibowo

Situs Biting, Benteng Tigang Juru
Pemberontakan Nambi bermula dari perjalanannya mengunjungi orang tuanya Sang Pranaraja, yang berkuasa di wilayah timur Majapahit berpusat di Lumajang. Pemberian wilayah otonom ini merupakan bagian dari perjanjian antara Raden Wijaya dengan Aria Wiraraja sebagai imbalan apabila penguasa Sumenep tersebut bisa membantu Raden Wijaya mengalahkan Jayakatwang. Aria Wiraraja berhasil meyakinkan Jayakatwang untuk mengijinkan Raden Wijaya membuka Hutan Tarik sebagai kawasan berburu. Para putra Aria Wiraraja menjadi pasukan Raden Wijaya dan berhasil mengalahkan Jayakatwang, mengusir Tentara Mongol, sampai mendirikan Kerajaan Majapahit di wilayah hutan Tarik di Trowulan.
Sesampai di Lumajang, Aria Wiraraja yang sakit keras sudah meninggal. Nambi memutuskan tinggal lebih lama dan mengirim utusan ke Majapahit untuk menyampaikan kabar. Sri Jayanegara, pengganti Raden Wijaya yang juga beru meninggal, mengirim utusan untuk menyampaikan bela sungkawa. Nambi ternyata tinggal di Lumajang lebih lama lagi, sehingga memunculkan kecurigaan di Majapahit, sampai beredar kabar bahwa Nambi membangun kekuatan untuk memberontak kepada Majapahit.
Raja Jayanegara akhirnya mengirim pasukan yang dipimpin Mahapati untuk menumpas Pemberontakan Nambi. Meskipun melakukan perlawanan, pasukan dan basis kekuatan Nambi di istana lumajang dihancurkan.
Peristiwa yang terjadi di tahun 1316 ini, menurut Pararaton merupakan hasil rekayasa pejabat kepercayaan Jayanegara, yaitu Mahapati. Kunjungan Patih Nambi ke Lumajang adalah usulan Mahapati yang memberi tahu bahwa Jayanegara kurang suka dengan dengan Nambi –tidak seperti Raden Wijaya yang baru digantikannya. Keputusan Nambi menambah cuti juga atas usulan Mahapati waktu menjadi utusan Majapahit untuk menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya Aria Wiraraja. Ulah Mahapati juga yang menyampaikan laporan kepada Jayanegara bahwa Nambi akan melakukan pemberontakan, sampai Jayanegara memutuskan untuk menumpas pemberontakan Nambi dan menunjuk Mahapati sebagai pemimpin pasukan menumpas pemberontakan. Setelah penumpasan pemberontakan Nambi, Mahapati diangkat menjadi Mahapatih Majapahit menggantikan Nambi. Dalam prasasti Tuhanyaru (1323) diketahui setelah tewasnya Nambi, yang menggantikannya adalah Mahapati dengan gelar Dyah Halayudha. 
Penumpasan Pemberontakan Nambi menandai berakhirnya eksistensi Kerajaan Tigang Juru yang dibangun oleh Aria Wiraraja. Kerajaan yang dikenal juga sebagai Majapahit Timur ini didirikan AriaWiraraja sebagai hasil perjanjiannya dengan Sangrama Wijaya pada tahun 1292. ***


1301 - Pemberontakan Lembu Sora

Timeline Monarki Nusantara

Agus Wibowo

Enam tahun setelah Pemberontakan Ranggalawe, kondisi Majapahit tenteram tanpa gejolak. Hal ini karena Pembunuhan Mahisa Anabrang oleh Lembu Sora menjadi rahasia dan tidak ada yang berani mengungkit. Mahisa Taruna, anak Mahisa Anabrang, yang masih kecil dijadikan anak angkat oleh permaisuri Rajapadni dan tinggal di Istana Majapahit. Baru di tahun 1301, skandal yang terjadi di Kali Tambak Beras tersebut mulai menjadi desas-desus di istana. Anak Mahisa Anabrang yang mulai besar mulai bertanya-tanya tentang ayahnya, dan ada yang menyampaikan peristiwa pembunuhan ayahnya oleh Lembu Sora. 
Kitab Kutaramanawa
Mahisa Taruna atau Adityawarman yang makin sering bertanya-tanya membuat desas desus tentang pelanggaran etika oleh Lembu Sora semakin besar. Pelaku pembunuhan Mahisa Anabrang dari belakang oleh anggota pasukan sendiri, menurut kitab Kutaramanawa, bisa dikenakan hukuman mati. Mengetahui kondisi yang makin panas, Raden Wijaya memanggil Lembu Sora yang makin terpojok. Lembu Sora yang menjadi Patih di Daha akhirnya datang ke Istana Wilwatikta bersama pasukan pengawal. Hanya saja, kedatangan Lembu Sora bersama rombongan pasukan besar ini dicurigai sebagai pemberontakan. Sesampai di gerbang istana, Lembu Sora disambut pasukan pengawal istana yang menyatakan bahwa Raja tidak mau menerima Lembu Sora. Terjadi perselisihan yang cepat berkembang menjadi pertempuran di depan istana. Lembu Sora dan pasukannya tewas ditumpas oleh pasukan istana.
Kitab Pararaton mulai menyebut peran Mahapatih yang berperan penting dalam peristiwa Lembu Sora ini. Dikisahkan bahwa mantan pejabat Sriwijaya yang ikut rombongan Ekspedisi Pamalayu ini yang mulai membuka rahasia dan menyebarluaskan pembunuhan Mahisa Anabrang oleh Lembu Sora secara curang. Mahapati pula yang memberitahu Mahisa Taruna atau Adityawarman sehingga terus bertanya kepada ibunya yang merupakan adik istri Raden Wijaya dan juga kepada ibu angkatnya yang merupakan permaisuri raja. Disebutkan bahwa Mahapati pula yang menyampaikan kepada Raden Wijaya bahwa Lembu Sora berniat memberontak, sehingga diputuskan untuk menumpas di depan istana.


1295 - Pemberontakan Ranggalawe

Timeline Monarki Nusantara

Agus Wibowo

Di tahun ketiga sejak didirikan, Majapahit menghadapi pemberontakan pertama, yaitu pemberontakan yang dilakukan oleh Adipati Tuban Ranggalawe. Pemberotakan ini dipicu oleh rasa kecewa Ranggalawe kepada Raden Wijaya, karena mengangkat Lembu Nambi sebagai Mahapatih Majapahit. Pembagian posisi atau jabatan di Majapahit setelah berhasil mengalahkan Jayakatwang di Daha dan mengusir tentara Mongol, menunjukkan pembagian jabatan kepada Aria Wiraraja dan anak-anaknya, yaitu: mPu Nambi sebagai Mahapatih Majapahit, Lembu Sora sebagai Patih Daha, Ranggalawe menjadi Adipati Tuban dan Pesangguhan di istana Majapahit –bersama Aria Wiraraja yang menjadi penguasa wilayah timur Majapahit yang berpusat di Tuban.
Menurut Ranggalawe, yang lebih layak menjadi Mahapatih di Majapahit adalah Lembu Sora. Banyak pengikut Ranggalawe berpendapat bahwa yang pantas menjadi Mahapatih di Majapahit adalah Ranggalawe, mengingat jasa-jasanya mengalahkan panglima perang utama Jayakatwang. Versi kelompok ini bahkan dituangkan dalam Kidung Panji Wijayakrama bahwa Ranggalawe yang menjadi Mahapatih di Majapahit. Ranggalawe menyampaikan ketidakpuasannya kepada Rajasa Jayawardhana dengan keras di istana Majapahit, tapi bisa diatasi oleh kakaknya Lembu Sora yang meminta Ranggalawe untuk pulang ke Tuban untuk berunding dengan ayahnya –Aria Wiraraja.
Kepulangan Ranggalawe ke Tuban sambil membawa kemarahan berkembang menjadi desas-desus bahwa Ranggalawe akan melakukan pemberontakan. Dalam sidang militer akhirnya diputuskan bahwa Ranggalawe melakukan makar dan harus dihadapi dengan operasi militer. Pada tahun 1295, Kerajaan Majapahit mengirimkan pasukan yang dipimpin Mahisa Anabrang untuk menghadapi pemberontakan Ranggalawe. Pasukan Ranggalawe menyambut pasukan Majapahit dan terjadi pertempuran di Kali Tambak Beras, di wilayah Gresik saat ini. Pertempuran ini melibatkan dua orang panglima yang sama-sama terkenal di Majapahit, yaitu: (1) Ranggalawe yang menjadi panglima dalam perang melawan pasukan Jayakatwang dan  pengusiran pasukan Mongol (2) Mahisa Anabrang yang menjadi panglima dalam pasukan ekspedisi Pamalayu yang berhasil mendapatkan mendapatkan kerjasama dari Raja Dharmasraya Mauliwarmadewa.
Pertempuran ini berakhir dengan kemenangan Pasukan Majapahit begitu Mahisa Anabrang mengalahkan Ranggalawe dalam pertempuran di sungai. Tapi kemenangan pasukan Majapahit ini berakhir tragis karena Mahisa Anabrang tewas dibunuh dengan tombak dari belakang oleh Lembu Sora, paman Ranggalawe.

1293 - Kepulangan Pasukan Ekspedisi Pamalayu

Timeline Monarki Nusantara

Agus Wibowo

Sepuluh hari setelah proklamasi Kerajaan Majapahit, rombongan Pasukan Laut Kerajaan Singasari yang menjalankan Ekspedisi Pamalayu kembali ke Pulau Jawa. Mereka terkejut begitu mengetahui telah terjadi perubahan besar di Tanah Jawa, Kerajaan Singasari sudah tidak ada dan sudah berdiri Kerajaan Majapahit. Ada rombongan yang kembali ke Sumatera, tapi rombongan utama yang dipimpin Mahisa Anabrang tetap menghadap Raja Majapahit.
Mereka mengabarkan bahwa misi Ekspedisi Pamalayu berhasil mendapatkan kerjasama Kerajaan Darmasraya, dan sebagai buktinya mereka membawa dua putri raja Darmasraya untuk dijadikan istri Raja, yang dikenal sebagai Dara Putih dan Dara Jingga. Dyah Indreswari dijadikan istri oleh Sangrama Wijaya sedangkan Dara Jingga dijadikan istri oleh Panglima Ekspedisi Pamalayu, Mahisa Anabrang.
Datangnya Pasukan Ekspedisi Pamalayu ini di satu sisi membawa kabar gembira, tapi di sisi lain juga memunculkan tantangan manajemen politik bagi Sangrama Wijaya. Hal ini karena pasukan Ekspedisi Pamalayu merupakan pasukan pilihan dan berhasil membangun koalisi dengan kerajaan di Pulau Sumatera, tapi di Majapahit sangat banyak tokoh yang berjasa dalam mengalahkan Jayakatwang dan mengusir pasukan Mongol. 

1293 - Proklamasi Kerajaan Majapahit dan Pelantikan Sangrama Wijaya sebagai Raja

Timeline Monarki Nusantara

Agus Wibowo

Usai mengalahkan Jayakatwang, Sangrama Wijaya dan pendukungnya kembali ke Tarik sedangkan Pasukan Mongol ke lepas pantai Ujunggaluh untuk menginterogasi Jayakatwang dan Aria Ardaraja. Beberapa hari kemudian panglima pasukan Mongol menagih ke Aria Wiraraja untuk mendapatkan para putri raja sebagaimana dijanjikan. Mereka bergerak menuju Tarik menggunakan kapal menyusuri Kali Brantas dan berjalan kaki menuju permukiman Majapahit.
Pararaton menceritakan bahwa pasukan Mongol yang masuk ke permukiman Majapahit untuk tidak membawa peralatan perang dan tidak perlu terlalu banyak pasukan, dengan aslasan para putri dan gadis pengiringnya takut dengan pasukan bersenjata lengkap. Panglima pasukan mongol dan puluhan pasukan pengawal yang datang ke permukiman Majapahit yang tidak bersenjata lengkap akhirnya dibantai oleh dua pasukan yang dipimpin Lembu Sora dan Ranggalawe. Pasukan Mongol yang masih ada di kapal-kapal perang diserang secara gerilya akhirnya pergi meninggalkan Pulau Jawa.
Wilayah di sepanjang aliran Sungai Brantas dan Pesisir utara Jawa Timur berada dalam situasi damai setelah pasukan Sangrama Wijaya dan Aria Wiraraja mengalahkan Jayakatwang di Kediri dan mengusir Pasukan Mongol melalui muslihat dan gerilya. Kerajaan Majapahit diproklamasikan pada 10 November, berpusat di Hutan Tarik yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Kerajaan ini dinyatakan sebagai kelanjutan dari Kerajaan Singasari. Sangrama Wijaya dilantik sebagai Raja Majapahit dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana, sebagai kelanjutan Wangsa Rajasa. 
Peneguhan sebagai anggota Wangsa Rajasa ini dilakukan karena Sangrama Wijaya mempunyai nenek moyang yang berbeda dengan Kertanegara meskipun sama-sama keturunan Ken Dedes. Kertanegara adalah keturunan dari Ken Dedes dengan Tunggul Ametung yang mempunyai putra Anusapati, cucu Wisnuwardhana dan cicit Kertanegara. Sangrama Wijaya berasal dari Perkawinan Ken Dedes dengan Ken Arok yang mempunyai putra Mahisa Wong Ateleng, cucu Mahisa Cempaka dan cicit Dyah Lembu Tal yang merupakan orang tua Sangrama Wijaya.

1293 - Penyerbuan Istana Kediri oleh Pasukan Sangrama Wijaya dan Pasukan Mongol

Timeline Monarki Nusantara

Agus Wibowo

Meskipun pasukannya dan pasukan Sangrama Wijaya ditimbang mampu mengalahkan pasukan Jayakatwang di Kediri, Aria Wiraraja melihat ada kesempatan lain dari datangnya Pasukan Mongol di Laut Jawa dalam jumlah besar. Aria Wiraraja menawarkan kerjasama pada Pasukan Mongol yang diketahui bermaksud menghukum Kertanegara atas perlakuan kasar pada dua utusan Dinasti Yuan pada tahun 1288. Pasukan Mongol yang tidak mengetahui keberadaan Istana Kertanegara karena tidak ada lagi di Singasari setuju untuk bekerjasama dengan Aria Wiraraja dan Sangrama Wijaya. Mereka sepakat untuk melakukan penyerangan Kediri dari utara dengan dipandu orang-orang Aria Wiraraja. 
Sesuai kesepakatan, koalisi tiga pasukan Aria Wiraraja, Sangrama Wijaya dan pasukan Mongol menggempur Istana Daha di Kedirid ari tiga penjuru; utara, timur dan selatan. Pasukan Mongol menggempur dengan senjata berat untuk menghancurkan benteng, sedangkan pasukan Sangrama Wijaya dan Aria Wiraraja terlibat dalam pertempuran langsung. Kitab Pararaton banyak menceritakan sepak terjang Lembu Sora dan Ranggalawe yang berhasil mengalahkan para panglima perang Jayakatwang.
Pasukan Jayakatwang tidak berdaya menghadapi pasukan Mongol yang bersenjata lengkap. Pasukan Mongol berhasil menangkap Jayakatwang dan putranya Aria Ardaraja. Mereka ditahan kapal dan di bawah ke lepas pantai Surabaya. Sementara pasukan Jayakatwang yang berhadapan dengan pasukan Sangrama Wijaya banyak yang menyerahkan diri dan bersedia menjadi pengikut Sangrama Wijaya. Pasukan Sangrama Wijaya juga membebaskan tiga putri Kertanegara yang ditawan Jayakatwang dan dibawa ke Majapahit di Tarik.

1292 - Perjanjian Sangrama Wijaya dan Aria Wiraraja

Timeline Monarki Nusantara

Agus Wibowo

Sangrama Wijaya sampai dengan selamat di istana Kadipaten Sumenep bersama beberapa pengawalnya, termasuk adik dan putra Aria Wiraraja, yaitu Lembu Sora dan Ranggalawe. Sangrama Wijaya menyampaikan maksudnya untuk meminta perlindungan dan bantuan agar bisa mendapatkan kepercayaan dari Jayakatwang. Aria Wiraraja setuju membantu Sangrama Wijaya untuk merebut kembali kekuasaan Singasari dari Jayakatwang, dengan perjanjian bahwa Aria Wiraraja akan mendapatkan separuh wilayah kerajaan, terutama di bekas wilayah Kerajaan Jenggala. Aria Wiraraja yang sangat dipercaya oleh Jayakatwang bisa meyakinkan bahwa Sangrama Wijaya akan mengabdi kepada Jayakatwang sama setia seperti waktu mengabdi ke Kertanegara. Aria Wiraraja menulis pesan di daun lontar yang diantarkan oleh kurir rahasia.
Setelah mendapatkan jawaban dari Jayakatwang melalui pesan di daun lontar, Sangrama Wijaya berangkat ke Kediri bersama pengawalnya yang adalah adik dan anak Aria Wiraraja. Beberapa bulan mengabdi di Istana Kediri, Sangrama Wijaya makin dipercaya oleh Jayakatwang. Menurut Pararaton, selama di Kediri Sangrama Wijaya melakukan kegiatan mata-mata dan mengidentifikasi pasukan yang masih setia kepada Singasari. Jayakatwang juga setuju dengan usulan Sangrama Wijaya yang disampaikan oleh Aria Wiraraja untuk membuka lahan di Hutan Tarik yang akan digunakan untuk padang berburu. Dengan dukungan pasukan dari Madura, Sangarama Wijaya membuka lahan hutan dan membangun permukiman untuk konsolidasi sisa-sisa pendukung Singasari. Setelah satu tahun Sagrama Wijaya merasa yakin pasukannya dan pasukan Aria-Wiraraja mampu mengalahkan pasukan Jayakatwang.

1292 - Penyerbuan Istana Singasari oleh Jayakatwang

Timeline Monarki Nusantara

Agus Wibowo

Meskipun ditinggalkan setengah pasukan terbaik untuk Ekspedisi Pamalayu, Kertanegara merasa yakin bahwa tidak ada kekuatan yang mengancam kekuasaannya. Sangrama Wijaya yang mempunyai hak atas tahta Kediri  dari kakeknya, Mahisa Cempaka, mempunyai kesetiaan yang besar sebagai pengeran di Istana Singasari. Jayakatwang yang merupakan cicit dari Kertajaya yang dikalahkan oleh Ken Arok, sudah diberikan kompensasi dengan menjadi Bupati Gelang-Gelang secara turun temurun, serta menjadi kakak ipar sekaligus besan Kertanegara. 
Tapi keyakinan Kertanegara salah. Pada saat sedang mengadakan pesta di istana Singasari, pasukan Jayakatwang melakukan serangan dari utara. Ketika pasukan terbaik yang dipimpin Sangrama Wijaya menumpas kerusuhan di utara, datang serangan lebih besar dari arah selatan. Dalam serangan ini Kertanegara tewas dan tiga putrinya ditawan di Kediri. Sangrama Wijaya dan putri sulung Kertanegara bersama 12 pengawalnya manyelamatkan diri ke Madura untuk meminta perlindungan ke Adipati Sumenep Aria Wiraraja.  
Kitab Pararaton menuliskan bahwa penyerangan ini ada campur tangan Aria Wiraraja. Adipati Sumenep ini tahu hasrat terpendam Jayakatwang untuk membalaskan dendam leluhurnya dan juga tahu bahwa Singasari sedang lemah karena ditinggalkan pasukan terbaiknya dalam Ekspedisi Pamalayu. Aria Wiraraja mengirim salah satu putranya untuk menyapaikan kabar tentang situasi Singasari dan saat yang tepat untuk melakukan penyerangan.

1285 - Pemberangkatan Rombongan Ekspedisi Pamalayu

Timeline Monarki Nusantara

Agus Wibowo

Sembilan tahun setelah Ekspedisi Pamalayu pertama yang kurang berhasil, Kertanegara mengirim Ekspedisi Pamalayu ke-2. Pengiriman pasukan laut ini dipimpin oleh Mahisa Anabrang, dengan tujuan untuk membangun koalisi dengan kerajaan-kerajaan di Sumatera dan Semenanjung Melayu untuk membendung ekspansi Pasukan Mongol ke wilayah Nusantara, khususnya ke Pulau Jawa.  Rombongan ekspedisi diplomasi ke Sumatera ini membawa Arca Amogapasha  sebagai persembahan kepada Raja Melayu. Pengiriman Arca Amogapasha ini dilakukan karena Kertanegara mendapatkan kabar bahwa ada Raja Melayu yang bersedia menjalin kerjasama dengan Kerajaan Singasari. 

1268 - Pelantikan Kertanegara sebagai raja Singasari

Timeline Monarki Nusantara

Agus Wibowo

Wisnuwardhana wafat dan digantikan putranya Kertanegara. Cicit Ken Dedes dan Tunggul Ametung ini melanjutkan kebijakan luar negeri yang dikembangkan oleh Wisnuwardhana, yaitu melakukan perluasan pengaruh ke pulau-pulau di Nusantara. Kertanegara diantaranya mengirimkan ekspedisi pasukan laut ke Kutai di pesisir timur Kalimantan dan Ekspedisi Pamalayu ke Pulau Sumatera, bahkan menjalin hubungan sampai ke Campa.
Meskipun mengikuti kebijakan pendahulunya, Kertanegara tidak memperlakukan orang-orang kepercayaan ayahnya dengan baik. Salah satunya adalah Banyak Wide, seorang brahmana yang menjadi ahli nujum kerajaan. Banyak Wide diberikan posisi lebih tinggi dan diberi gelar Aria Wiraraja, tapi ditempatkan di wilayah yang jauh, yaitu Sumenep di ujung timur Pulau Madura. Tindakan Kertanegara ini, menurut Pararaton, kemudian memunculkan persekongkolan diam-diam antara Aria Wiraraja dengan Jayakatwang.

1255 - Wisnuwardhana Menerbitkan Prasasti Mulamalurung

Timeline Monarki Nusantara

Agus Wibowo

Tiga dari 12 lempeng
Prasasti Mula Malurung
Wisnuwardhana memerintahkan Kertanegara untuk membuat prasasti Mula Malurung dalam bentuk Lempeng Tembaga, sebagai pengukuhan pemberian anugrah sima kepada desa Mula Malurung. Prasasti yang terdiri dari 12 lempeng tembaga ini menjelaskan keluarga kerajaan Singasari mulai dari Ken Arok yang disebut sebagai Rajasa Sang Amurwabhumi, dan turunannya. Prasasti ini juga menyebutkan nama Jayakatwang sebagai keturunan Kerjajaya, yang menjadi Bupati Gelang-Gelang dan menjadi menantu Wisnuwardhana. 
Prasasti ini merupakan dokumen resmi kerajaan yang menyebut kerajaan sebagai SIngasari. Prasasti ini, setelah ditemukan pada tahun 1975, menjadi dokumen yang memberikan konfirmasi bahwa tokoh Ken Arok adalah tokoh sejarah yang betul-betul ada, pendiri Kerajaan Singasari yang bergelar Rajasa Sang Amurwabhumi. Dari prasasti ini bisa ditelusuri raja-raja Singasari, bahkan silsilah dari perkawinan Ken Dedes dengan Tunggul Ametung, perkawinan Ken Dedes dengan Ken Arok maupun perkawinan antara Ken Arok dengan Ken Umang.

1248 - Pemberontakan Tohjaya dan Integrasi Kerajaan Singasari

Timeline Monarki Nusantara

Agus Wibowo

Setelah Mahisa Wong Atelengmangkat, dia digantikan oleh adiknya, Gunigbaya. Salah satu anak Ken Arok dari Ken Umang, Tohjaya, melakukan pemberontakan. Pemberontakan ini menewaskan Gunigbaya dan Anusapati yang menghadiri satu acara yang sama. Tohjaya kemudian mengangkat dirinya sebagai raja di Kediri. Anusapati yang juga terbunuh dalam pemberontakan ini digantikan oleh putranya Wisnuwardhana sebagai raja di Tumapel. Putra Mahisa Wong Ateleng, Mahisa Cempaka, meninggalkan istana Daha dan meminta bantuan Wisnuwardhana. Mahisa Cempaka yang mempunyai hak atas tahta di Kediri melakukan pemberontakan didukung Wisnuwardhana yang berkuasa di Tumapel. 
Koalisi pasukan Mahisa Cempaka dan Pasukan Wisnuwardhana berhasil mengalahkan Tohjaya. Setelah berhasil merebut tahta Kediri dari Tohjaya, Mahisa Cempaka menyerahkan wilayah Kediri untuk disatukan dalam Kerajaan Tumapel/Singasari. Di Kerajaan Singasari Wisnuwardhana menjadi Maharaja, sedangkan untuk mengontrol wilayah Kediri Wisnuwardhana mengangkat putranya, Kertanegara, sebagai Raja Muda.

October 01, 2017

1222 - Penaklukan Panjalu oleh Pasukan Tumapel

Timeline Monarki Nusantara

Agus Wibowo

Pedang Pusaka di Museum Nasional
Tujuh belas tahun setelah penyerangan oleh Pasukan Panjalu di tahun 1205, Pasukan Tumapel melakukan penyerangan ke Kediri, dipimpin langsung oleh Ken Arok. Menurut Pararaton, Kertajaya sesumbar bahwa tidak akan bisa dikalahkan kecuali oleh Dewa Syiwa. Menanggapi hal ini, para resi Hindu Syiwa kemudian mentahbiskan Ken Arok sebagai perwujudan Dewa Syiwa. Pasukan Tumapel memenangkan peperangan sampai menduduki pusat Kerajaan Panjalu di Kediri. Kertajaya melarikan diri dari Istana Daha dan tidak kembali lagi. Putra Kertajaya, Jayasabha, ditawan oleh Ken Arok diberikan pengampunan dan diangkat menjadi bupati di Gelang-Gelang. Jayasabha mempunyai putra bernama Jayawarsa dan cucu yang bernama Jayakatwang.
Ken Arok menempatkan putranya dari Ken Dedes, Mahisa Wong Ateleng, di Istana Daha di Kediri. Sejak penaklukan Kertajaya oleh Ken Arok, nama Panjalu tidak ditemukan lagi dan lebih sering disebut sebagai wilayah Kediri dengan pusat pemerintahan di Daha. 

1204 - Proklamasi Kerajaan Tumapel yang Lepas dari Kerajaan Panjalu

Timeline Monarki Nusantara

Agus Wibowo

Beberapa tahun menjadi Adipati Tumapel, Ken Arok mengumumkan kemerdekaaan Tumapel sebagai kerajaan yang terlepas dari Kerajaan Panjalu yang berpusat di Kediri. Wilayah Kerajaan Tumapel adalah bekas wilayah Kerajaan Jenggala yang terletak di sisi timur Gunung Kawi. Ken Arok mendapatkan dukungan dari sisa pengikut Kerajaan Jenggala dan para penganut Hindu Syiwa. Ken Arok dilantik menjadi raja dengan gelar Rajasa Sang Amurwabhumi.
Setahun kemudian, tahun1205, Kertajaya menanggapi dengan mengirim pasukan untuk menumpas Kerajaan Tumapel. Hanya saja serangan dari Pasukan Panjalu ini gagal, Kertajaya sempat mencari perlindungan di daerah Lawadan Tulungagung sebelum sampai kembali di Istana Daha di Kediri. Atas jasa penduduk Desa Lawadan ini, Kertajaya memberikan anugrah sima perdikan yang dikukuhkan dalam Prasasti Lawadan. 

1201 - Pembunuhan Tunggul Ametung Adipati Tumapel

Timeline Monarki Nusantara

Agus Wibowo

Tunggul Ametung yang diangkat menjadi Adipati di bekas wilayah Kerajaan Jenggala berpusat di Tumapel. Pada tahun 1201 Tunggul Ametung tewas terbunuh pada waktu tidur. Ken Arok yang menjadi komandan pasukan Tumapel menangkap Kebo Ijo sebagai pembunuh dan langsung membunuhnya. Sebagai pengganti Tunggul Ametung, Kertajaya mengangkat Ken Arok sebagai Adipati Tumapel. Ken Arok kemudian menikahi istri Tunggul Ametung, yaitu Ken Dedes.   
Menurut Kitab Pararaton, pelaku pembunuhan terhadap Tunggul Ametung sesungguhnya adalah Ken Arok dengan menggunakan Keris Mpu Gandring. Keris yang dipesan kepada Mpu Gandring dipinjamkan pada temannya, yaitu Kebo Ijo, yang sering memamerkan keris Mpu Gandring dalam beberapa kesempatan sehingga banyak orang mengetahui bahwa keris yang digunakan untuk membunuh Adipati Tumapel adalah milik Kebo Ijo.  

1045 - Perang Jenggala dan Panjalu Jilid 2

Timeline Monarki Nusantara

Agus Wibowo

Setelah dikalahkan Panjalu di masa Raja Jayabaya informasi tentang Kerajaan Jenggala muncul lagi setalah Sri Kameswara menjadi Raja Panjalu. Dikisahkan bahwa Sri Kameswara menikah dengan Sri Kirana putri Raja Jenggala, Sri Bagianda Maharaja. Pernikahan ini diabadikan dalam Cerita Panji Smaradahana. Dalam cerita ini dikisahkan secara terbalik, bahwa Kameswara yang Raja Panjalu sebagai Raja Jenggala dan Sri Kirana adalah putri Kerajaan Panjalu. Dari pernikahan ini mereka dikaruniahi seorang putra.  Kameswara wafat ketika putranya masih kecil. Kertajaya mengambil alih kekuasaandan menjadi Raja Panjalu. Permaisuri, Sri Kirana tidak terima dengan pegambilalihan tahta Panjalu oleh Kertajaya karena yang lebih berhak adalah putranya. 

Sri Kirana mengadu ke Jenggala dan hal ini memancing peperangan antara Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Panjalu. Pasukan Kerajaan Jenggala menyerang ke istana Daha di Kediri sampai Kertajaya mengungsi ke arah Trenggalek. Setelah mendapatkan perlindungan dari masyarakat di wilayah Sendang Sekapat, Kertajaya bisa merebut kembali Istana Daha di Kediri. Kertajaya memberikan anugrah sima perdikan kepada Desa Sendang Sekapat yang dikukuhkan dengan Prasasti Kamulan. Salah satu panglima perangnya, Tunggul Ametung berhasil menyerang ke Istana Jenggala dan menguasai wilayah Jenggala.  

1159 - Kudeta Sri Sareswara terhadap Jayabaya

Timeline Monarki Nusantara

Agus Wibowo

Prasasti Sapu Angin
Sri Jayabaya punya dua putra, yaitu Sri Aryeswara dan Sri Sareswara. Setelah dewasa keduanya menjadi pejabat Kerajaan Panjalu, Sri Aryeswara menjadi Maha Menteri I Hino yang menandakan dia menjadi putra mahkota dan Sri Sarewara menjadi Mahamenteri I Sirikan. Ketika Jayabaya sudah tua, Sri Sareswara melakukan kudeta dan mengangkat dirinya menjadi raja Panjalu menggantikan ayahnya. Sri Aryeswara yang harusnya menjadi pewaris tahta jika Jayabaya mangkat menyingkir dari istana dan melakukan pemberontakan. Kudeta yang dilakukan terhadap Jayabaya ini dibalas oleh putra sulungnya. Karena lebih berhak atas tahta Panjalu, Sri Aryeswara melakukan pemberontakan dan mendapatkan banyak dukungan dari rakyat dan pasukan Panjalu. Sri Aryeswara akhirnya berhasil mengalahkan Sri Sareswara adiknya. Sri Aryeswara kemudian mewariskan kekuasaan kepada putranya Sri Gandra.
Peristiwa ini dituliskan di Prasasti Sapu Angin. Prasasti ini dibangun oleh Sri Gandra, putra Sri Aryeswara. 

1135 - Kemenangan Jayabaya raja Panjalu atas Jenggala

Timeline Monarki Nusantara

Agus Wibowo

Perang dua kerajaan warisan Erlangga menghasilkan pemenang ketika Jayabaya menjadi Raja Panjalu. Kemenangan Jayabaya atas Kerajaan Jenggala ini dituliskan dalam Prasasti Hantang, yang ditemukan di Daerah Ngantang Kabupaten Malang. Prasasti ini dibangun sebagai pengukuran pemberian anugrah sima bagi penduduk di Wilayah Ngantang yang setia mendukung Jayabhaya meskipun dekat dengan perbatasan dengan wilayah Jenggala dan menjadi garis depan dalam konflik dua kerajaan. Dalam prasasti ini ada tulisan yang terkenal “Panjalu Jayanti” yang berarti Panjalu Jaya atau menang. 
Kemenangan Jayabaya ini merupakan pertama kali Kerajaan Panjalu dan Jenggala bisa disatukan. Dua kerajaan yang dipisahkan oleh Gunung Kawi ini kembali di bawah satu kekuasaan. Kejayaan Jayabaya ini membuatnya dikenal hingga saat ini sebagai raja terbesar di Panjalu atau Kediri.

1042 - Erlangga membagi Kahuripan menjadi Kerajaan Panjalu dan Jenggala

Timeline Monarki Nusantara

Agus Wibowo

Gunung Kawi sebagai Batas Kerajaan
Erlangga mempunyai satu putri mahkota dan dua putra dari dua istri. Setelah putri sulungnya memutuskan menjadi biksuni, dua putranya Smarawijaya dan Mapanji Garasakan bersaing untuk menjadi pwaris tahta Kerajaan Kahuripan.  Erlangga menjajaki kemungkinan salah satu putranya menjadi raja di Bali, tapi Kerajaan Bali sudah menjadikan adiknya sebagai raja. Dengan bantuan mPu Barada, Kerajaan Karupan menjadi dua, yaitu Kerajaan Panjalu dengan wilayah yang terbentang di sisi barat Gunung Kawi dan Kerajaan Jenggala yang terletak di sisi timur Gunung Kawi.
Smarawijaya menjadi Raja Panjalu beristana di Daha Kediri, sedangkan Mapanji Garasakan menjadi Raja Jenggala beristana di Kahuripan. Pembagian Kerajaan Kahuripan menjadi 2 tidak mengakhir perasingan antara dua putra Erlangga. Perang antara Kerajaan Panjalu dan Jenggala dimulai oleh serangan yang dilakukan oleh Mapanji Garasakan yang berkuasa di Jenggala. Tapi peperangan tidak menghasilkan pemenang yang berhasil menyatukan Kerajaan Jenggala dan Panjalu.

1032 - Perang Pasukan Erlangga dengan pasukan Aji Wurawari

Timeline Monarki Nusantara

Agus Wibowo

Kakawin Arjuna Wijaya
Setelah menguasai wilayah yang luas di Jawa Timur Erlangga mulai merencanakan penyeragan ke Kerajaan Lawram yang telah menghanccurkan Kerjaan Medang di tahun 1006. Penyerangan dilakukan melalui laut dan melalui pasukan dari yang bergerak dari selatan. Kerajaan Lawram tidak mendapatkan dukungan dari Kerajaan Sriwijaya yang sudah ditaklukan oleh Kerajaan Kola Mandala dari India pada tahun 1028. Pasukan Erlangga berhasil mengalahkan pasukan Aji Wurawari dan mulai kembali meluaskan kekuasaan di Jawa Tengah. 
Kemenangan peperangan melawan pasukan Aji Wurawari dari Kerajaan Lawram ini diabadikan dalam Kakawin Arjuna Wijaya yang digubah Mpu Tantular. Kakawin ini ditulis dalam lempeng daun lontar yang saat ini disimpan di Bali.

1009 - Erlangga membangun istana di Watan Mas di Lereng Gunung Penanggungan

Timeline Monarki Nusantara

Agus Wibowo

Pemandian Jolotundo Trawas
Setelah melanglangbuana ke hutan dan gunung antara Magetan sampai Jombang dan Mojokerto, Erlangga berhasil menyatukan sisa-sisa pengikut Kerajaan Medang dan membangun pusat pemerintahan baru di Lereng Gunung Penanggungan yang dinamakan Watan Mas. Nama Watan Mas mengingatkan pada Istana Wwatan di Magetan yang dihancurkan oleh Pasukan Aji Wurawari dari Kerajaan Lawram. Pada masa ini Kerajaan Medang yang dipimpin Erlangga hanya meliputi wilayah Mojokerto, Sidoarjo dan Pasuruan –tiga daerah yang berbatasan langsung dengan Gunung Penanggungan. 
Setelah mencapai puncak kejayaan, Erlangga memutuskan menjadi seorang resi dan lengser keprabon dengan membangun bangunan suci untuk pertapaan di Gunung Penanggungan. Salah satu situs yang masih ada hingga kini adalah Candi Belahan yang terdapat Pamandian Jolotundo. 

1006 - Maha-Pralaya di Istana Medang Wangsa Isyana

Timeline Monarki Nusantara

Agus Wibowo

Kerajaan Medang merasakan kedamaian setelah Wangsa Syailendra meninggalkan Jawa Tengah dan kembali ke Sriwijaya. Darmawangsa berusaha menguatkan koalisi dengan Kerajaan Bali dengan menikahkan putrinya dengan pangeran Kerajaan Bali yang juga keponakannya, yaitu Erlangga. Di hari pernikahan ini, Kerajaan Medang diserang oleh Pasukan Kerajaan Lawrang yang dipimpin Raja Aji Wurawari dengan dukungan Pasukan Sriwijaya. Istana Watan Mas dihancurkan dan Raja Darmawangsa tewas. Erlangga dan istrinya selamat bersama pengawalnya yang dipimpin Narotama. Erlangga dan rombongannya melanglang buana dari hutan ke hutan, dari Gunung Lawu di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur sampai Gunung Penanggungan yang terletak di antara wilayah Mojokerto, Pasuruan dan Sidoarjo.

997 - Penyerangan Pasukan Laut Darmawangsa ke Sriwijaya

Timeline Monarki Nusantara

Agus Wibowo

Kerajaan Medang Wangsa Isyana mencapai kejayaan pada masa Raja Darmawangsa yang naik tahta pada 991. Selain menaklukkan kerajaa-kerajaan kecil di Jawa Timur, Darmawangsa juga menjalin koalisi dengan Kerajaan Bali melalui perkawinan adiknya dengan Raja Bali Udayana. Darmawangsa bahkan berhasil mengusir kekuatan Wangsa Syailendra sampai kembali ke Sriwijaya. Darmawangsa bahkan mempunyai armada pasukan laut yang bisa melakukan penyerangan ke Sriwijaya di Palembang. Hanya saja serangan ini gagal. Meskipun sempat menguasai pusat pemerintahan Kerajaan Sriwijaya, pasukan Darmawangsa akhirnya mengalami kekalahan dan kembali ke Pulau Jawa.***