October 21, 2017

Cincin Keris yang Unik dan Berpamor

Agus Wibowo


Pertama kali tahu ada teman menggunakan cincin yang disebutnya cincin keris saya pun penasaran. Cincin ini berbentuk seperti cincin biasa, tanpa batu, warna hitam dan ada garis-garis lembut warna putih seperti serat. Ini model yang langka, dan di jaman sedang ngetop-ngetopnya cincin batu akik, saya makin tertarik pada cincin keris ini.

October 20, 2017

Majapahit Masih Eksis setelah Sirna Ilang Kertaning Bhumi 1400/1478

Agus Wibowo

Sirna Ilang Kertaning Bhumi menjadi pernyataan yang iconic dan dipercaya sebagai tahun berakhirnya Kerajaan Mahapahit yang dikenal sebagai kerajaan yang berhasil menyatukan kepulauan nusantara. Pernyataan di dalam Babad Tanah Jawi yang melambangkan tahun 1400 saka tersebut juga diartikan sebagai “hancur lebur ditelan bumi”.Sebenarnya apakah yang terjadi?

Dalam periode 1468 sampai 1478 Kerajaan Majapahit mempunyai dua raja yang saling berperang. Di istana Wilwatikta di Trowulan Bre Kertabhumi mengangkat dirinya sebagai Raja Majapahit setelah berhasil menggulingkan pamannya, dari tahta dan melarikan diri ke Kediri. Singhawikramawardhana yang berhasil lolos dari penyerangan, mendirikan istana di Daha Kediri dan tetap menyatakan sebagai Raja Majapahit.

Prasasti Ngantang yang Beritakan Kejayaan Jayabhaya atas Jenggala

Agus Wibowo

Sejak Erlangga membagi Kerajaan Kahuripan menjadi Kerajaan Jenggala dan Panjalu (Kediri) di tahun 1042, dua kerajaan yang dipimpin anak-anak Erlagga selalu terlibat dalam persaingan dan peperangan. Di awal masa pemerintah Pasukan Jenggala yang dipimpin Raja Mapanji Garasakan berhasil mengalahkan Sri Samarawijaya Raja Panjalu, tapi tidak berhasil menguasai Kerajaan Panjalu. Sri Samarawijaya digantikan oleh putranya Sri Jayawarsa Sastraprabu. Kedua kerajaan tetap berdiri sejajar meskipun terlibat dalam persaingan dan perang. Kerajaan Kediri berturut-turut dipimpin anak cucu Sri Samarawijaya, yaitu: Sri Jayawarsa Sastraprabu (1104-), Sri Bameswara Sakalabhuana (1117), dan Sri Maharaja Sang Mapanji Jayabhaya ( -1159). Kerajaan Jenggala, setelah Mapanji Garasakan (1044-1052), berturut-turut dipimpin oleh anak dan cucunya, yaitu: Alanjung Ahyes (1052-1059) dan Samarotsaha (1059). Tidak ada prasasti yang menyebutkan siapa raja Jenggala setelah Samarotsaha. Di tahun 1185 muncul lagi nama Raja Jenggala bernama Sri Maharaja Girindra, yang menjadi mertua Raja Panjalu Sri Kameswara.

October 19, 2017

Rahasia Kemunculan Ken Arok dan Prasasti Lawadan

Agus Wibowo

Setelah Tunggul Ametung tewas terbunuh pada tahun 1201, Raja Kertajaya mengangkat Ken Arok sebagai Adipati Tumapel. Mendapatkan dukungan dari para brahmana pengikut Syiwa yang kecewa dengan sikap diskriminatif Kertajaya, Ken Arok kemudian menyatakan kemerdekaan Tumapel pada tahun 1204, dan dia dilantik sebagai raja dengan gelar Rajasa Sang Amurwabhumi. Di tahun 1205 Pasukan Kediri melakukan serangan untuk menghukum Tumapel, tapi pasukan Kertajaya mengalami kekalahan dan melarikan diri ke selatan ke daerah Lawadan. Raja Kertajaya berhasil memulihkan pasukan dan kembali ke istananya di Kediri.

Misteri Konflik Kependudukan dalam Prasasti Wurudu Kidul

Agus Wibowo

Prasasti Warudu Kidul
Nasib Dhanadi, penduduk Mataram Kuno, betul-betul sial. Betapa tidak, dua kali ia harus menghadapi gugatan terhadap status kependudukannya. Gugatan pertama dialami ketika dituduh sebagai golongan budak raja dan tidak berhak memiliki kemerdekaan. Dhanadi mengadu ke pengadilan kerajaan dan setelah ditelusuri sampai kakek-nenek dan buyutnya, pengadilan memutuskan bahwa Dhanadi adalah penduduk asli, yang merdeka dan bukan budak.  Keputusan pengadilan kerajaan dituliskan pada piagam kerajaan yang berbentuk lempeng tembaga pada 20 April 922.Dengan piagam tersebut, Dhanadi punya status kewarganegaraan yang jelas dan tidak akan menghadapi tuduhan lagi sebagai golongan budak raja. 

October 18, 2017

The Mystery of the Heroes Day 10/11 Same with Majapahit Day 1293

Agus Wibowo
November 10 is celebrated as Heroes Day, Surabaya City Day, and Majapahit Kingdom Anniversary in 1293. 10 November commemorated as Heroes Day refers to the war to defend Indonesia's independence that occurred in Surabaya three months after the Proclamation. This war involves a British-led Allied Troop with tens of thousands of young men from East and Central Java who gathered in Surabaya.
The war came after the Allies threatened to bombard and destroy Surabaya, if all armed laskar in Surabaya do not surrender weapons seized from Japanese troops. Threats spread through airplanes were ignored; even Bung Tomo burned the youthful spirit of Surabaya to continue fighting. Because the threats were not obeyed, the Allies attacked with all force: bombed from a docked ship, deployed a tank army, and a well-armed infantry. Thousands of young men died in this incident. Laskar and youth in Surabaya are not able to strike back because of limited weapons, whether booty weapons from the Japanese arsenal, machetes, swords and sharpened bamboo.

Rahasian Hari Jadi Kabupaten Trenggalek dan Pelarian Raja Panjalu

Agus Wibowo


Sejak Raja Jayabhaya mengalahkan Kerajaan Jenggala pada tahun 1135, tidak ada informasi sejarah yang menunjukkan siapa penguasa wilayah Jenggala yang membentang di sisi timur Gunung Kawi. Ketika Raja Kameswara meninggal dunia pada tahun 1190 identitas penguasa Kerajaan Jenggala muncul dalam catatan sejarah. Namanya mulai disinggung di dalam Prasasti Kamulan yang dibangun oleh Raja Kertajaya. Tanggal yang tertulis di prasasti yang terletak di Desa Kamulan saat ini menjadi hari jadi Kabupaten Trenggalek di Jawa Timur. Bagaimana kisah pembuatan Prasasti Kamulan? Mengapa disebutkan Raja Sri Girindra Maharaja sebagai Raja Jenggala?

Rahasia Kota Baru Kerajaan Medang di Jawa Timur - Serial Kota Baru

Agus Wibowo


Prasasti Siwagrha
tentang Perang Dua Wangsa
Di awal abad 10, tepatnya tahun 929, keluarga kerajaan Medang Wangsa Sanjaya melakukan eksodus besar-besaran dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Menurut teori beberapa ahli sejarah, eksodus ini dilakukan karena letusan Gunung Merapi yang dahsyat. Berdasarkan beberapa prasasti, eksodus ini juga dilakukan karena adanya persaingan dengan Wangsa Syailendra yang juga eksis di Jawa Tengah. Candi Prambanan dalam Prasasti Siwagraha (856) disebutkan sebagai tanda atas kebangkitan Medang Wangsa Sanjaya terhadap Balaputradewa anggota Wangsa Syailendra. Dalam perang dua wangsa yang bersaing di Jawa Tengah ini Rakai Pikatan disebutkan memenangkan peperangan atas Balaputradewa. Awalnya Balaputradewa melarikan diri ke bukit Boko dan membangun pertanahanan tapi tetap berhasil dikalahkan.

Misteri Kudeta terhadap Jayabhaya Ditulis dalam Prasasti Angin

Agus Wibowo

Jayabhaya merupakah raja paling terkenal dalam sejarah Kerajaan Panjalu atau Kediri. Dalam persaingan antara dua kerajaan warisan Erlangga, Jayabhaya yang pertama kali memimpin kemenangan Panjalu terhadap Jenggala. Kemenangan Jayabhaya diabadikan dalam prasasti yag monumental, yaitu Prasasti Ngantang, yang pada bagian atas dituliskan slogan "Panjalu Jayanti" yang berarti Panjalu Jaya atau menang. 

Setelah kemenangan ini Kerajaan Panjalu mengalami kedamaian dan kejayaan, tidak ada lagi serangan dari Kerajaan Jenggala yang berpusat di Kahuripan, Sidoarjo. Hanya saja gangguan ternyata datang dari istana sendiri. Jayabhaya dikudeta oleh putranya sendiri, yaitu Sri Sarweswara, yang menjadi Mahamenteri Sirikan. Kudeta ini dilakukan Sarweswara juga berambisi menjadi raja, meskipun yang menjadi putra mahkota adalah saudaranya, Sri Aryeswara yang menjadi Mahamenteri I Hino. Sri Sarweswara mendahulu proses serah terima kekuasaan dari Jayabhaya kepada Sri Aryeswara. 

Monarki Tanpa Wilayah dalam Demokrasi di Indonesia

Wawancara RM Bastian Hendro Wibowo, Keturunan Ke-6 Raja Solo Pakubuwono IV

Sistem demokrasi di Indonesia memiliki pondasi monarki dengan sejarah panjang. Siatem monarki ada yang eksis secara fisik dan ada juga yang terlibat dalam proses demokrasi. Keluarga kerajaan, banyak yang menjadi elit daerah. Salah satu keluarga kerajaan yang masih ada kini adalah Keraton Surakarta. Meakipun tidak memiliki status keistimewaan seperti Keaultanan Yogyakarta, keraton Solo masih punya istana, punya raja, dan banyak anggota keluarga yang tinggal dalam benteng Keraton. Untuk mengetahui apakah Keraton Surakarta masih memiliki pengaruh dalam proses demokrasi di Indonesia, redaksi 1000monarki.com melakukan wawancara dengan keturunan keenam raja Solo, Pakubuwono IV, yaitu Raden Mas Bastian Hendro Wibowo. Berikut petikan wawancara.

October 17, 2017

The Secret of the Sangguran Stone, which is stranded at Lord Minto's House in Scotland

Agus Wibowo

Sangguran Inscription is an important document that became evidence of Indonesian history, especially about Medang Kingdom. This inscription was brought by Stamford Raffles in the early 19th century, given to the Governor General of the British Empire in India, Lord Minto, and taken to Scotland.

Sangguran Stone on the yard of Lord Minto's house
Before Mpu Sindok led the exodus of the Royal Family of Medang from Central Java to East Java, The Medang Royal military had expanded to the eastern part of Java Island several years earlier. Their tracks were found in Tulungagung until Malang and conquered the Kingdom of Kanjuruhan. Sangguran Ston issued by order Mpu Sindok who became Prime Minister in Medang in the time of King Dyah Wawa. This expansion continued the efforts of King Dyah Balitung in 905, recorded in the Kubu-Kubu Stone, which is part of the Penampihan Temple in Tulungagung.

Prasasti Amogaphasa, Dikirim Kertanegara tahun 1286 Ditulis oleh Adityawarman 1347

Agus Wibowo

Arca Amoghapasa
Sri Kertanegara Raja Singhasari melanjutkan ambisi ayahnya, Wisnuwardhana, untuk membangun kerjasama dengan kerajaan-kerajaan di luar Pulau Jawa. Jika Wisnuwardhana melakukan ekspedisi ke pesisir barat Pulau Kalimantan, Kertanegara melakukan ekpansi ke Pulau Sumatera. Dua kali Kertanegara mengirimkan armada laut kerajaan untuk melakukan Ekspedisi Pamalayu, yaitu padatahun 1275 dan tahun 1286. Ekspedisi pertama dilakukan disertai peperangan akibat adanya penolakan dan perlawanan, ekspedisi kedua dilakukan dalam kondisi damai, dimana armada maritim Singasari membawa Patung Amogaphasa, melambangkan Kertanegara sebagai Budha. Arca ini dimaksudkan sebagai tanda persahabatan dan koalisi antar dua kerajaan.

Rahasia Prasasti Sangguran, yang Terdampar di Rumah Lord Minto di Skotlandia

Agus Wibowo

Prasasti Sangguran merupakan dokumen penting yang menjadi bukti sejarah Indonesia, khususnya tentang Kerajaan Medang. Prasasti ini oleh Stamford Raffless di awal abad 19, diserahkan ke Gubernur Jenderal Kerajaan Inggris di India, Lord Minto, dan dibawa ke Skotladia. Sampai saat ini Prasasti Sangguran masih di lahan milik anak cucu Lord Minto, dan belum bisa diambil untuk dibawa ke Indonesia.

Prasasti Sangguran di Skotlandia/Tempo.co
Sebelum Mpu Sindok memimpin eksodus Keluarga Kerajaan Medang dari Jawa Tengah ke Jawa Timur, Pasukan Kerajaan Medang sudah melakukan ekspansi ke wilayah timur Pulau Jawa, lewat Tulungagung sampai ke Malang dan menaklukan Kerajaan Kanjuruhan. Prasasti Sangguran dikeluarkan atas perintah Mpu Sindok yang menjadi Patih di Medang di masa Raja Sri Maharaja Rakai Pangkaja Dyah Wawa pada tahun 928 masehi. Ekspansi yang dilakukan oleh Raja Dyah Wawa ini melanjutkan upaya Raja Dyah Balitung pada tahun 905 yang tercatat di Prasasti Kubu-Kubu yang merupakan bagian dari Candi Penampihan di Tulungagung.

October 16, 2017

Prasasti Mula Malurung Buka Identitas Ken Arok

Agus Wibowo

3 dari 12 lempeng
Prasasti Mula Malurung
Setelah Tunggul Ametung tewas terbunuh dengan tertuduh Tunggul Ametung, Ken Arok diagkat menjadi Adipati Tumapel. Peristiwa ini oleh Serat Pararaton dikisahkan bahwa Ken Arok yang melakukan pembunuhan. Dia lolos sebagai tertuduh karena keris yang digunakan untuk membunuh Tunggul Ametung diketahui oleh banyak orang di Tumapel sebagai milik Kebo Ijo. Atas jasanya memecahkan kasus pembunuhan Tunggul Ametung, Ken Arok pun mendapatkan kepercayaan dari Raja Kediri, Sri Kerta Jaya. Setelah menjadi Adipati, Ken Arok menikah Ken Dedes, janda Tunggul Ametung. Peristiwa ini terjadi di tahun 1203.

Bujangga Manik, Pangeran Sunda Perintis Travel Jurnalism Indonesia

Agus Wibowo

Naskah Bujangga Manik (sunda.andyonline.net)
Orang pertama yang menempuh perjalanan keliling Pulau Jawa dengan berjalan kaki, tidak terbantahkan adalah Bujangga Manik. Dia adalah seorang pangeran dari Kerajaan Sunda bernama Prabu Jaya Pakuan, yang  tinggal di komplek istana di Pakuan Pajajaran -Bogor saat ini. Meskipun seorang ksatria, Bujangga Manik lebih memilih kehidupan sebagai seorang resi Hindu. Lebih tidak bisa dibantah lagi bahwa dia yang melakukan “perjalanan keliling Pulau Jawa” dan membuat catatan atas perjalanannya tersebut. Catatan perjalanan Bujangga Manik ditulis  pada 29 lembar daun nipah, yang masing-masing terdiri dari 56 baris –totalnya 1.624 baris. Hanya saja catatan perjalanan Bujangga Manik ini tersimpam di Perpustakaan Bodley di Universitas Oxford.

October 15, 2017

Mencari Pusaka di Museum Nasional

Agus Wibowo

Prasasti Kutai
Museum Nasional di Jakarta memiliki banyak koleksi benda bersejarah di Indonesia. Dari benda-prasejarah berupa gading gajah raksasa, arca-arca di masa kerajaan, benda teknologi, alat transportasi, senjata untuk perang, maupun prasasti berisi naskah yang menjadi bukti fase perjalanan Indonesia masuk masa sejarah. Saat berkunjung ke Museum Nasional awal Oktober 2017, sedang ada renovasi sisi kanan museum, sehingga saya tidak bisa melihat koleksi yang berupa arca. Baruntung masih ada yang buka, yaitu lantai 2 -naiknya pakai eskalator.