October 28, 2017

Kotak Pandora Raffles dan Sumpah Pemuda



89 Tahun Sumpah Pemuda

Agus Wibowo


28 Oktober diperingati sebagai hari Sumpah Pemuda di Indonesia. Al kisah, pada 1928 beberapa organisasi pemuda lintas suku, agama dan organisasi kepemudaan lain mengadakan konggres di Jakarta dan mendeklarasikan Sumpah Pemuda. Mereka berikrar berbangsa satu, bertanah air satu dan menjunjung bahasa persatuan yaitu Bahasa Indonesia.
Peta Indonesia/Badan Iinformasi Geospasial
Beberapa pemuda yang terlibat diantaranya: Soenario dari Madiun, Johanes Leimina dari Ambon, M. Yamin dari Minagkabau, Amir Syarifudin Harahap dari Pemuda Batak, serta Muhammad Roem, AK Gani, Sie Kong Liong, Mangunsarkoro, Singodimejo dan banyak lagi termasuk Kartosuwiryo. Konggres ini melanjutkan konggres tahun 1926 di mana Mohammad Yamin mulai mengusulkan penggunaan Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

October 27, 2017

Peradaban Arab dari pra-Islam, Kekhalifan, Hingga Kejayaan Turki Utsmani



Agus Wibowo

Judul Buku: The History of Arab . Penulis: Philip K. Hitti. Halaman 981 + ix, Penerbit: Serambi Jakarta, 2006. Terbit pertama 1937.

Hingga pertengahan abad 19, masyarakat dunia belum menyadari bahwa bahasa Assyiria, Babilonia, Ibrani, Aramaik, Arab dan Etiopia memiliki kesamaan yang menakjubkan dan karenanya dianggap berasal dari rumpun yang sama. Beberapa kesamaan diantaranya semuanya memiliki akar kata kerja terdiri dari 3 konsonan, hanya mengenal dua penunjuk waktu yaitu telah dan sedang, dan perubahan kata kerja mengikuti pola yang sama. Fakta ini memunculkan pertanyaan "Di mana tempat asal bangsa ini?" 

Ada kelompok ilmuwan punya teori bahwa mereka berasal dari Afrika Timur ada juga yang berteori bahwa mereka berasal dari Mesopotamia. Teori bahwa mereka dari Mesopitamia dianggap Philip K. Hitti sebagai bertentangan dengan hukum sosiologi di mana masyarakat bergerak dari masyarakat pertanian menjadi nomaden. Teori Afrika Timur justru memunculkan banyak pertanyaan daripada menjawab. Penulis buku ini menganggap teori bahwa mereka berasal dari jazirah Arab lebih masuk akal. 

Misteri 5 Abad Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon



Yustiyadi 
Twitter@yuzemerald

Gerbang Masjid Auung sang Cipta Rasa (Yustiyadi)
Salah satu bangunan bersejarah yang menarik di Cirebon adalah Masjid Sang Cipta Rasa. Para peziarah walisongo ke Cirebon menjadi lebih afdol apabila juga mengunjungi masjid ini. Masjid sang Cipta Rasa dibangun pada zaman Sunan Gunung Jati pada tahun 1408 dan masih kokoh hingga kini. Gaya arsitektur masjid mengambil perpaduan gaya Jawa dan Hindu Majapahit. Hal ini bisa dilihat dari gapura di bagian halaman masjid dan serambi, serta atap masjid yang menyerupai rumah Joglo, rumah adat masyarakat Jawa. Secara umum, masjid ini mempunyai 9 pintu masuk, yang terdiri dari satu pintu utama dan masing-masing 4 pintu di di sisi kanan dan sisi kiri.

October 26, 2017

Parodi Harta Karun Keris Kembar

Alkisah, di lereng Gunung Ungaran, ada sebuah desa yang tenteram dan damai. Masyarakatnya makmur hidup dari pertanian yang subur di lereng gunung dan mudah menjual produk pertanian ke kota yang mudah dijangkau. Udara masih segar, air sungai mengalir jernih dan sumur pun mengeluarkan air jernih-segar di kedalaman 3- 5 meter.
Keris di Museum Nasional
Suatu hari datang orang yang tidak dikenal berpakaian serba putih, memakai ikat kepala putih merapikan rambutnya yang putih. Kedatangan pria tua serba putih ini segera menarik perhatian karena penampilannya yang tidak biasa dan belum ada yang mengenalnya. Tukang tambal ban yang ada di pertigaan jalan masuk desa menyapa dan bertanya. “Selamat siang bapak? Bapak mencari siapa dan bapak ini dari mana?” tanya tukang tambal ban.

Kerajaan Kutai, Dari abad V dan Masih Eksis Hingga Masa Milenial



Agus Wibowo

Istana Kutai Kertanegara
Kutai merupakan salah satu kerajaan tertua di wilayah Nusantara, eksis di abad 4 Masehi, eksis di masa Majapahit, eksis di masa penjajahan Belanda bahkan masih ada di masa reformasi. Berdasarkan bukti tertulis Kutai merupakan kerajaan tertua di Indonesia, bahkan menjadi batas masa pra-sejarah dengan masa sejarah. Memang ada kerajaan yang diduga lebih tua, yaitu Salakanegara di ujung barat Pulau Jawa, tapi informasi yang mengabarkan kerajaan ini kebanyakan berasal dari berita luar negeri, baik berita China maupun Eropa.

October 25, 2017

Misteri Kekuasaan yang Runtuh di Puncak Kejayaan

Agus Wibowo 

Ritual Jamas Keris/Puspito
Kerajaan Medang Wangsa Isyana yang dibangkitkan kembali oleh Mpu Sindok di Jawa Timur mencapai puncak kejayaan pada raja keempat, Darmawangsa Teguh. Bukan hanya bisa bertahan dari serangan Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Medang berhasil menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di Jawa Timur, dan bisa membangun koalisi dengan Kerajaan Bedahulu di Pulau Bali melalui perkawinan Raja Udayana dengan Mahendrata, adik Darmawangsa. Dengan kekuatan koalisi tersebut, Darmawangsa bisa mengusir Wangsa Syailendra kembali ke Kerajaan Sriwijaya, bahkan bisa melakukan serangan melalui laut ke pusat Kerajaan Sriwijaya di Pulau Sumatera.

October 24, 2017

Pulau Jawa dalam Pengaruh Empat Peradaban Dunia

Agus Wibowo


Buku Nusa Jawa Silang Budaya merangkul keseluruhan sejarah Pulau Jawa sambil menganalisis unsur-unsur dasar kebudayaannya. Dalam hal ini Profesor enis Lombard merintis sebuah pendekatan baru yag sangat orisinil, dengan mengamati berbagai lapisan budaya, mulai dari yang tampak nyata sampai yang terpendam dalam sejarah. Setiap lapisan budaya diuraikan sejarah perkembangannya dan juga unsur masyarakat yang mengembangkannya. Buku ini menyajikan unsur-unsur budaya modern sebagai hasil dari pengaruh Eropa, kemudian unsur budaya yang terbentuk sebagai dampak dari hubungan dengan Cina dan kedatangan Islam, dan di lapisan paling dalam unsur budaya yang dipengaruhi oleh peradaban kerajaan-kerajaan lokal yang menganut sistem religi dari India.

Misteri Saat Petruk Menjadi Raja

Agus Wibowo


Petruk Paling Jangkung dalam Keluarga Punakawan
Alkisah gemparlah para bangsawan dan raja di kerajaan Astina, Amarta, dan Dwarawati. Entah darimana tiba-tiba muncul kerajaan baru Sonyawibawa dengan raja baru yang menyandang gelar seperti sebaris mantra “Belguelbeh Tongtongsot”. Dia berhasil membangun koalisi atau persekongkolan dengan Batara Guru, rajanya para dewa, dan membuat keonaran dan ontran-ontran di seantero jagat. Para raja dan bangsawan Astina, Amarta, dan Dwarawati pun menghentikan perang antar-mereka bahkan sepakat membentuk blok untuk melawan raja baru yang pongah dari Sonyawibawa. Bala tentara dikerahkan bersama dari segala penjuru untuk mengepung kerajaan yang muncul dari antah berantah ini. Tapi semuanya bisa dipukul mundur. Semua makin penasaran “Siapakah gerangan raja baru ini?” Belum pernah terjadi ada raja yang tidak mereka kenal sebelumnya.

Aria Wiraraja, Politisi Kunci di Balik Berdirinya Majapahit

Agus Wibowo
Gerbang Keraton Sumenep
Sudah banyak yang tahu bahwa Aria Wiraraja sangat berjasa dalam pendirian Kerajaan Majapahit. Alkisah, setelah runtuhnya Kerajaan Singasari oleh serangan Jayakatwang Bupati Gelang-Gelang yang berkedudukan di wilayah Madiun kini, Aria Wiraraja memberikan perlindungan kepada seorang pangeran Kerajaan Singasari, Sangramawijaya, agar mendapatkan kepercayaan dari Jayakatwang. Sangramawijaya dipercaya untuk membuka lahan di Hutan Tarik sebagai lahan perburuan, cocok dengan hobi Jayakatwang.

Budaya Malu Versus Seppuku*


Agus Wibowo

Bagi orang Jepang, apalagi dari golongan Samurai, janji atau ikrar berarti kesiapan untuk mati. Sebab, bila janji atau ikrar tidak terpenuhi, keyakinannya menuntut untuk ber-seppuku, membelah perut sendiri dengan sebilah pisau, tanpa perlu paksaan fisik atau ancaman senjata. Bahkan, bila penagih janji mencegahnya pun, kematian akan tetap dijalanani. Bagi mereka mati dengan ksatria jauh lebih baik daripada tidak bisa menaruh muka karena beban rasa malu dan bersalah. Di situlah letak nilai tanggungjawab dan kekesatriaan.

Tentu saja di sini ana nilai lain yang justru jauh lebih penting daripada sekedar kesiapan untuk mati dan kewajiban untuk bunuh diri, yaitu proses sebelum kematian menjadi keharusan, dalam hal ini “waktu yang harus diisi dengan berusaha keras, membanting tulang, memeras keringan, disertai perencanaan yang matang untuk kemudian bisa memenuhi janji.

October 22, 2017

Candi Tikus di Situs Majapahit di Trowulan Mojokerto


Untuk ribrik travel, kali ini 1000monarki.com menampilkan informasi tentang Candi Tikus yang ada di kawasan situs Kerajaan Majapahit di Trowulan Mojokerto. Naskah ini ditulis oleh bung Satria yang ada di https://plus.google.com/collection/4QIbDE.  Redaksi mendapatkan ijin untuk menampilkannya di sini, dengan beberapa editing di beberapa bagian, terutama penyusunan paragrafnya.Silakan. Redaksi. 

Candi Tikus terletak di dukuh Dinuk, Desa Temon, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Dari jalan raya Mojokerto -Jombang, di perempatan Trowulan, membelok ke kiri jika dari arah Surabaya, melewati Kolam Segaran dan musium Trowulan lalu di perempatan belok ke kiri kurang lebih 2 km setelah melewati gapura Bajang Ratu. Candi Tikus yang semula telah terkubur dalam tanah ditemukan kembali pada tahun 1914.Penggalian situs dilakukan berdasarkan laporan Bupati Mojokerto, R.A.A. Kromojoyo Adinegoro, tentang ditemukannya miniatur candi di sebuah pekuburan rakyat. Pemugaran secara menyeluruh dilakukan pada tahun 1984 sampai dengan 1985.

Rahasia Perebutan Kekuasaan di Demak, Pasca Tewasnya Sultan Trenggono

Agus Wibowo

Masjid Agung Demak/Babad Demak
Kerajaan atau Kesultanan Demak memantapkan eksistensinya setelah mengalahkan Majapahit yang dipimpin oleh Girindrawardhana dan memperoleh legitimasi sebagai penerus Majapahit karena Sultan Fatah adalah putra dari selir Bre Kertabhumi, raja Majapahit bergelar Brawijaya V. Tapi legitimasi berdasarkan garis keturunan tidaklah cukup. Meskipun di sisi barat hanya ada sekali pemberontakan yang dilakukan oleh putra Girindrawardhana di tahun 1512, kerajaan-kerajaan bawahan Majapahit di bagian Timur Gunung Kawi menyatakan tidak tunduk di bawah kekuasaan Kesultanan Demak.

Perang Majapahit - Demak (1478) bukan Perang Bapak vs Anak

Agus Wibowo

Setelah Perang Dua Majapahit yang berpusat di Trowulan dan yang beristana di Daha Kediri, dimenangkan oleh Girindrawardhana yang memerintah di Daha. Berita perang dua Majapahit ini dituis dalam Pasasti Jiwu oleh Girindawardhana pada tahun 1486. 

Mengetahui kekalahan apahnya, putra Bre Kertabhumi yang menjadi Bupati Demak mendeklarasikan Demak sebagai kerajaan merdeka, lepas dari Kerajaan Majapahit pimpinan Girindrawardhana. Kerajaan baru di pesisir utara Jawa ini berbentuk Kesultanan, yang didukung oleh kekuatan muslim yang tumbuh pesat di pesisir utara Pulau Jawa, seperti: Semarang, Lasem, Tuban dan Surabaya. Kesultanan Demak yang dipimpin Sultan Fatah menyatakan perang terhadap Majapahit yang ibukotanya sudah pindah ke Daha, dan telah menjadi lemah oleh perang saudara selama 10 tahun. Dalam buku Babat Demak karya R. Atmodarminto, Kerajaan yang berpusat di Daha tidak disebut sebagai Majapahit, melainkan sebagai Kerajaan Keling.