November 10, 2017

Misteri Hari Pahlawan 10/11 yang Tepat di Hari Proklamasi Majapahit

Agus Wibowo

Tugu Pahlawan Surabaya (Wid)
Tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan dan Hari Jadi Kota Surabaya, serta Hari Jadi Kerajaan Majapahit pada tahun 1293. Tanggal tersebut diperingati sebagai Hari Pahlawan merujuk pada perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang terjadi di Surabaya tiga bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Perang ini terjadi antara Pasukan Sekutu yang dipimpin oleh Inggris melawan puluhan ribu pemuda dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat yang berkumpul di Surabaya. 

Perang terjadi setelah pihak sekutu mengancam akan membumi hanguskan Surabaya apabila semua laskar bersenjata di Surabaya tidak menyerahkan senjata yang dirampas dari Pasukan Jepang. Ancaman yang disebar melalui pesawat udara tidak digubris, bahkan Bung Tomo membakar semangat pemuda Surabaya untuk terus melawan. 

Karena ancaman tidak dituruti, Pasukan Sekutu menyerang dengan semua kekuatan, mengebom dari kapal yang merapat di muara Kali Mas, menurunkan pasukan tank, serta pasukan infantri bersenjata lengkap. Ribuan pemuda tewas dalam peristiwa ini. Laskar dan pemuda di Surabaya tidak sanggup memberikan perlawanan berarti karena senjata terbatas, berupa senjata rampasan dari gudang Jepang, golok, pedang maupun bambu runcing.
Sebagian besar pemuda yang terlibat dalam perang Surabaya adalah santri dari pesantren di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat yang digerakkan oleh para Kiai yang patuh kepada Kiai Haji Hasyim Asyari. Perang habis-habisan pada 10 November 1945 ini memunculkan pertanyaan karena ternyata bertepatan dengan hari proklamasi Kerajaan Majapahit pada tahun 1293.  Meskipun proklamasi Kerajaan Majapahit dilakukan di Tarik dekat Mojokerto, wilayah Surabaya juga menjadi ajang pertempuran antara pasukan Raden Wijaya dan Aria Wiraraja dengan Pasukan Mongol yang dikirim Dinas Yuan dari China. 

Pertanyaan berikutnya "Apakah para Kiai NU tahu bahwa tanggal 10 November adalah “hari jadi Majapahit” dan karenanya berusaha membuat peristiwa besar di hari tersebut? Sepertinya tidak. Dari film "Sang Kiai" tanggal 10 November 1945 tidak dipilih secara sengaja mengaitkan dengan 10 November 1293. Dalam film diceritakan bahwa Bung Tomo menginginkan penyerangan ke Pasukan Sekutu dilakukan pada 8 November, tapi Kiai Hasyim meminta untuk menunggu Kiai Abbas yang datang dari Buntet Cirebon.

Ketika Bung Tomo bertanya “Mengapa harus menunggu Kiai Abbas?” Kiai Hasyim menjawab “..kamu akan kalah jika perang tanggal 8 November. Menunggu mbah Abbas karena beliau orang yang tidak pernah tidur di malam hari, karena hatinya takut putus hubungan dengan Allah. Doanya makbul”.

Perang tidak terjadi pada 8 November dan tidak juga terjadi pada 9 November, melainkan pada 10 November 1945. Kalau 10 November bukan dipilih oleh komandan pasukan republik maupun para Kiai, bisa jadi tanggal 10 November dipilih oleh Pasukan Sekutu. Kemungkinan ini lebih masuk akal, karena Pasukan Inggris tahu lebih banyak tentang sejarah Pulau Jawa, karena mereka pernah menugaskan Stamfor Raffles sebagai Gubernur Jenderal wilayah Jawa dan Sumatera di tahun 1811 sampai tahun 1816. 

Selama menjalankan tugas di Pulau Jawa, Raffles sangat berminat pada sejarah Pulau Jawa. Ia menyusuri prasasti-prasasti yang ada di Pulau Jawa termasuk di Jawa Timur. Bebeberapa prasasti bahkan dibawa ke India untuk dibaca oleh ahli huruf Palawa dan bahasa Sanskrit, kemudian menerbitkan The History of Java. Di kemudian hari ia membawa beberapa ahli sejarah, diantaranya J. Brandes yag menterjemahkan Kitab Pararaton dan H. Kern yang menterjemahkan Kitab Negarakertagama. Pada dua kitab tersebut diperoleh informasi tentang 10 November 1293. Informasi dari Raffles yang mantan gubernur jenderal di Pulau Jawa bersifat A1 dan sangat penting. Pertanyaan berikutnya, "Mengapa 10 November 1293 yang penuh kemenangan dan kejayaan dijadikan moment penghancuran dan pralaya agung di Surabaya?” Tidak ada yang tahu pasti.

Bisa jadi pasukan sekutu yang dipimpin Inggris ingin mengecilkan dan menindas kebanggaan 10 November 1293. Tapi tekat pemuda, para kiai dan santri tidak patah oleh ancaman kematian massal demi mempertahankan kemerdakaan. Bagaimana pun darah yang tumpah di Surabaya pada 10 November 1945 makin menyuburkan semangat Indonesia untuk tetap merdeka dan tetap berdaulat. Semangat Hari Pahlawan dan Selamat Hari Jadi Kota Surabaya.***


November 09, 2017

Prasasti Sojomerto dan Eksistensi Wangsa Syailendra di Jawa

Agus Wibowo

Salah satu prasasti paling tua yang ditemukan di daerah Jawa Tengah adalah prasasti baru yang ditemukan di Kabupaten Batang, yaitu prasasti yang berangka tahun 602 saka atau 680 masehi, yang dikenal sebagai Prasasti Sojomerto. Dinamakan demikian karena prasasti ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Jawa Tengah. Bisa dikatakan ini merupakan prasasti tertua yang ditemukan di Jawa Tengah. Prasasti dalam lempeng batu ini memiliki lebar 43 cm, tinggi 78 cm dan tebal 7 cm. Naskah yang dipahat di batu ditulis dalam aksara Jawa Kuno sepanjang 11 baris, tapi dalam bahasa Melayu Kuno.

Prasasti diawali dengan sembah dan puja kepada para dewa, terutama Dewa Siwa, kemudian dilanjutkan dengan identitas yang membuat prasasti, yaitu Dapunta Syailendra. Ada tiga orang lain yang disebut oleh Dapunta Syailendra, yaitu ayahnya yang bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati dan istrinya bernama Sampula.

November 07, 2017

Hari Jadi Kabupaten Tuban dan Kepahlawanan Ranggalawe

Agus Wibowo

Tuban sudah dikenal sebagai daerah pelabuhan sejak masa Kerajaan Singasari, tapi Pemerintah Kabupaten Tuban menetapkan tanggal 12 Agustus 1293 sebagai hari jadi Kabupaten Tuban. Mengapa tanggal tersebut yang dipilih?

Dalam sejarah kejatuhan Kerajaan Singasari di tahun 1292 sampai berdirinya Kerajaan Majapahit pada 10 November 1293, Ranggalawe menunjukkan pengabdian dan kesetiaannya kepada Raden Wijaya. Ketika Raden Wijaya diperintah oleh Kertanegara untuk menumpas kerusuhan di utara Singasari Ranggalawe yang mengawal. Ketika Raden Wijaya berusaha membebaskan putri-putri Kertanegara yang ditawan oleh pasukan Jayakatwang, Ranggalawe juga yang ikut mengamuk. Ranggalawe juga yang mengusulkan Raden Wijaya pergi ke Sumenep untuk meminta perlindungan pada ayahnya, Aria Wiraraja.