May 12, 2018

Mpu Barada, Pembelah Kerajaan Kahuripan Menjadi Panjalu dan Jenggala


Agus Wibowo

Ilustrasi Serat Lontar
Mpu Barada adalah seorang resi, seorang brahmana legendaris dimasa Raja Erlangga berkuasa di Pulau Jawa di tahun 1040-an. Alkisah, di masa Kerajaan Kahuripan sudah menaklukkan kerajaan-kerajaan di timur Pulau Jawa dan perekonomian mengalami kemajuan pesat, penduduk Desa Girah di wilayah Kediri menderita karena adanya penyakit yang mematikan. Bisa diibaratkan pagi sakit sore mati, atau bomis –rebo sakit kemis wafat. Menurut penduduk, wabah yang dihadapi penduduk merupakan akibat dari tenung atau kutukan seorang janda ahli sihir yang bernama Calon Arang. Tenung disebar secara massal karena tidak ada laki-laki yang berani melamar anak gadisnya meskipun cantik dan ujungnya masyarakat mulai bergunjing soal putri Calon Arang yang perawan tua. Calaon Arang murka dan kutukanpun ditebar.
Melihat rakyatnya menderita, Raja Erlangga bertindak sigap dengan mengirim pasukan untuk minta sang janda dari Desa Girah menghentikan tenungnya, bila perlu dengan paksaan. Pengerahan pasukan militer tidak bisa menghentikan kemarahan Calon Arang, bahkan pasukan Kahuripan pun banyak yang menjadi korban.

May 11, 2018

Kertanegara, Raja Keempat Singasari


Agus Wibowo

Arca Amoghapasa dengan
naskah di umpaknya
Kertanegara adalah raja keempat Kerajaan Singasari yang berkuasa dari tahun 1268 sampai dengan 1292. Dia naik tahta dalam kondisi kerajaan dalam kondisi stabil, menjadi kerajaan terbesar di Pulau Jawa tapi menghadapi ancaman dari utara dimana Kekaisaran Mongol berkuasa di daratan China. Kubilai Khan yang menjadi penguasa Dinasti Yuan di China sedang meluaskan kekuasaan ke selatan dan mengirim armada laut sampai ke Pulau Jawa. Kertanegara juga mengembangkan kekuatan laut untuk mengantisipasi ekspansi dari utara, dan mengirim pasukan Ekspedisi  Pamalayu di tahun 1275 dan 1286.
Raja keempat Singasari ini banyak disebut dalam naskah sejarah, baik di dalam prasasti maupun dalam karya sastra seperti Kakawin Negarakertagama dan serat Pararaton. Beberapa prarasti yang menyebut nama dan asal usul Kertanegara diantaranya ada Prasasti Mula Malurung, Prasasti Murareh, dan Prasasti Padang Roco. Dari Prasasti Mula Malurung diketahui bahwa Kertanegara adalah putra Ranggawuni, yang menjadi raja ketiga Singasari bergelar Wisnuwardhana dari ibu bernama Waning Hyun yang merupakan cucu Ken Arok. Prasasti Mula Malurung merupakan prasasti dalam 12 lempeng tembaga, yang dikeluarkan oleh Kertanegara sewaktu masih menjadi yuwaraja (raja muda) di Kediri.

Rahasia Mpu Sindok Eksodus ke Timur Jawa


Agus Wibowo 
Istana Boko - Iyum
Sejak tahun 929 Kerajaan Medang Mataram tidak lagi ada wilayah Jawa Tengah, melainkan sudah eksodus cukup jauh dan mempunyai istana di daerah Tamwlang di Kabupaten Jombang Di Jawa Timur. Ada dua pendapat tentang eksodus atau perpindahan masal di tahun 928 ini. Ada yang berpendapat eksodus dilakukan kerena letusan Gunung Merapi yang super dahsyat dan ada juga pendapat bahwa eksodus dilakukan karena adanya konflik dan menghindari serang dari Kerajaan Sriwijaya.
Letusan Merapi - Amar Beni
Pendapat pertama salah satunya diutarakan oleh van Bammelen. Dia berpendapat bahwa perpindahan istana Medang dari Jawa Tengah menuju Jawa Timur disebabkan oleh letusan Gunung Merapi yang sangat dahsyat. Teori ini percaya bahwa letusan dahsyat ini menhancurkan puncak Gunung Merapi sampai membentuk Gunung Gendol dan lempengan Pegunungan Menoreh. Teori ini mempunyai bukti yang kuat, karena Gunung Merapi mempunyai sejarah panjang sebagai gurung berapi paling aktif di Pulau Jawa. Di masa kini, gunung berapi di Kabupaten Magelang ini sering meletus, yang banyak menyebabkan kerusakan dan korban jiwa. Candi Borobudur yang begitu besar bahkan tampak seperti bukit ketika ditemukan, diduga kuat tertimbun material letus Gunung Merapi.
Berita tentang terjadinya letusan gunung berapi ini bisa ditemukan di dalam prasasti yang dikeluargan oleh salah satu raja Medang Mataram, salah satunya Prasasti Rukam dibuat oleh Dyah Balitung di tahun 829 saka/907 masehi. Prasasti yang ditemukan di desa Petarongan, Parakan, kabupaten Temanggung ini memberitakan peresmian status Desa Rukam sebagai desa perdikan, karena desa tersebut telah dilanda bencana letusan gunung api. Di desa ini dibuat bangunan suci yang ada di Limwung dan penduduk Desa Rukam ditugaskan untuk memelihara bangunan suci ini.

May 09, 2018

Prasasti Mantyasih Ungkap Rahasia Raja-Raja Medang Mataram

Agus Wibowo
Prasasti Mantyasih
Prasasti Mantyasih adalah piagam kerajaan yang dikeluarkan Kerajaan Medang Mataram, yang berbentuk lempeng tembaga. Isi naskah ditulis bolak balik dengan huruf Palawa   dalam Bahasa Sanskerta. Prasasti ini ditemukan di kampung Mateseh di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah,. Prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Duah Balitung ini merupakan piagam pengkuhan pemberian anugrah sima perdikan bagi penduduk Desa Mantyasih, yang kini menjadi Kampung Mateseh. Di Kampung Meteseh hingga kini terdapat sebuah lumpang batu yang diyakini penduduk sebagai tempat upacara penetapan desa mereka sebagai desa perdikan. 
Selain berisi pemberian anugrah sima perdikan, melalui prasasti berangka tahun 907, Dyah Balitung menyebutkan nama-raja-raja Medang Mataram mulai dari Raja Sanjaya sampai Dyah Balitung yang berjumlah 9 orang. Menurut ahli sejarah, prasasti ini dibuat sebagai upaya melegitimasi Dyah Balitung sebagai pewaris tahta yang sah, sehingga menyebutkan raja-raja sebelumnya yang berdaulat penuh atas wilayah kerajaan Medang Mataram yang sering juga disebut sebagai Mataram Kuno. Penguatan legitimasi ini dilakukan diduga karena Dyah Balitung citra sebagai pewaris tahta yang sah meskipun posisinya adalah menantu raja sebelumnya, bukan putra mahkota.

May 08, 2018

Prasasti Tangkilan, Batu Bertulis yang Dikeramatkan Penduduk


Agus Wibowo

Prasasti Tangkilan
Prasasti ini dinamakan sebagai Prasasti Tangkilan berdasarkan tempat ditemukannya, yaitu Dukuh Tangkilan, Desa Padangan, Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri. Prasasti ini juga punya dua nama lain berdasarkan desa lokasi yaitu Desa Padangan dan berdasarkan nama tokoh yang menemukannya, yaitu Mbah Gilang. Prasasti Tangkilan berangka tahun 1052 saka atau 1130 masehi, dibuat oleh Çri Mahārāja Çri Bāmeçwara Sakalabuaņatuşţikāraņa Sarwwāniwāryyawiryya Parakrama Digjayottunggadewa, yang dikenal sebagai Sri Bameswara.
Berdasarkan laporan J. Knebel, Prasasti Tangkilan ditemukan pada tahun 1908. Ketika ditemukan prasasti ini ada di lahan tegalan, tapi kini berada di tengah permukiman. Berasama prasasti ditemukan benda-benda  peninggalan bersejarah, diantaranya beberapa arca yang hilang dan juga sumur  tua.

Tulisan dalam prasasti batu ini sudah banyak yang tipis dan sulit dibaca. Tulisan yang bisa dibaca dengan jelas adalah bagian angka tahun dan nama raja yang membuatnya. Masyarakat memperlakukan prasasti ini sebagai obyek benda keramat, tapi prasasti tidak diberikan perlindungan dari terik matahari dan hujan yang membuat aus dan bisa menghilangkan naskah pesan yang tertatah di batu.

Sumber
• Knebel, J. 1910. Beschrijving van de Hindoe-oudheden in de Afdeling Kediri (Residentie Kediri).
• Wibowo, B.S. 2001. Prasasti-Prasasti di Jawa Timur. Mojokerto: BP3 Trowulan


May 07, 2018

Prasasti Wurareh, Rahasia di Balik Patung Joko Dolog

Agus Wibowo

Arca Joko Dolog di Taman Apsari Surabaya
Prasasti Wurareh adalah prasasti yang berbentuk arca Budha yang dikenal sebagai arca Joko Dolog. Pesan berupa tulisan dalam arca ini ditatah pada tempat dudukan arca sebanyak 19 baris. Naskah ditulis dalam aksara Jawa Kuno dengan berbahasa Sansekerta. Berdasarkan baris 10 sampai dengan baris 17, arca prasasti ini dibuat atas perintah Sri Kertanegara, raja Singasari yang disebut sebagai Sri Jnanasiwawajra. Arca dengan pahatan prasasti ini terbuat dari batu andesit yang kini terletak di kawasan Taman Apsari Surabaya.
Prasasti ini disebut sebagai Prasasti Wurareh karena ditemukan di daerah Wurareh. Ada yang menyebut Wurare terletak  di Desa Kedungwulan, dekat Kota Nganjuk tapi ada juga yang menyebut bahwa Wurare berada di daerah Kandang Gajah, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Versi ketiga berasal dari pendapat Prof. DR. Poerbatjaraka yang berteori bahwa Wurare berkaitan dengan daerah Blora, tempat asal Resi Barada, yang dipuji oleh Kertanegara di baris awal prasasti. Menurutnya kata Blora itu berasal dari kata Wurara atau Wurare.

April 17, 2018

Tiga Rahasia di Balik Museum Sejarah Jakarta

Agus Wibowo


Museum Sejarah Jakarta
Jika disebut Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahilah, kebanyakan orang segera membayangkan foto bangunan kuno ala Eropa peninggalan VOC. Dalam benak kebanyak orang juga segera terbayang lapangan yang luas, beberapa meriam kuno di halaman, serta seliweran sepeda tempo doeloe dalam warna warni yang disewakan. Banyak remaja, teruma remaja putri, yang berseliweran naik sepeda jadul ini dengan topi Belanda, dengan bergaya seperti noni-noni Belanda.
Bangunan museum yang klasik makin tampak klasik dengan permukaan tanah lapang yang ditutup lempeng batu. Banyak obyek-obyek iconic yang cocok berfoto atau selfie untuk dipajang di media sosial.


Ada tiga rahasia menarik di dalam museum tidak kalah menarik dengan penampakan wajah depan museum. Di bangunan megah bekas kantor pusat VOC ini banyak informasi tentang sejarah Kota Jakarta dan sejarah wilayah bagian barat pada umumnya. Ada sejarah terkait Raja Purnawarman, Perjanjian Kerajaan Sunda dan Portugis, dan rahasia Geger Pecinan yang menewaskan 10 ribu lebih penduduk China.  
Tidak jauh dari pintu masuk museum yang ada di sisi kiri Museum, pengunjung bisa langsung melihat jejak sejarah Kerajaan Tarumanegara, terutama ketika dipimpin oleh Raja Purnawarman. Ada tiga replika prasasti peninggalan Raja Purnawarman, yaitu Prasasti Ciaruteun dan Prasasti Kebon Kopi yang aslinya ditemukan di Kabupaten Bogor serta Prasasti Tugu yang ditemukan di daerah Cilincing Jakarta.

April 16, 2018

Kerajaan Medang Wangsa Isyana


Agus Wibowo 
Prasasti Turyan
Kerajaan Medang Wangsa Isyana didirikan oleh Mpu Sindok, mantan Mahamenteri Hino Kerajaan Medang Mataram dari masa Rake Dyah Wawa. Ada beberapa faktor yang diduga sebagai penyebab eksodus Kerajaan Medang dari Jawa Tengah ke wilayah Jawa Timur. Dua diantaranya adalah letusan Gunung Merapi dan perebutan kekuasaan antara Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra yang melibatkan Kerajaan Sriwijaya. Dalam peristiwa ini Raja Dyah Wawa tewas, dan Mpu Sindok yang menjadi Mahamentri I Hino memimpin eksodus keluarga kerajaan ke arah timur Pulau Jawa. Berdasarkan Prasasti Turyyan yang ditemukan di daerah Turen Kabupaten Malang, pusat kerajaan awalnya dibangun di daerah Tamwlang, yang diidentifikasi oleh sejarawan sebagai daerah Tembelang di Kabupaten Jombang saat ini. 
Setelah ditimbang bahwa Tamwlang mudah diserang oleh pasukan laut melalui Kali Brantas, istana Kerajaan Medang dipindah ke daerah Watugaluh masih di daerah Jombang, kemudian dipindahkan ke Istana Wwatan di daerah Maospati Kabupaten Magetan. Ketika terjadi serangan besar dari pasukan Sriwijaya yang mendarat di Kali Brantas, pasukan Kerajaan Medang bisa menahan serangan di Desa Anjukladang, meraih kemenangan besar dan Mpu Sindok mulai membangun kekuatan militer dan meluaskan wilayah di Jawa Timur. Di masa Mpu Sindok, Kerajaan Medang menguasai wilayah sampai Kabupaten Malang. Hal ini dibuktikan oleh Prasasti Turyyan yang dibuat oleh Mpu Sindok yang di dalam prasasti ditulis bergelar Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isanawikrama Dharmottunggadewa.

Kerajaan Kalingga di Pesisir Utara Jawa

 Agus Wibowo


Kerajaan Kalingga adalah kerajaan yang berkembang di wilayah tengah Pulau Jawa. Nama Kalingga berasal dari kata “kalinga”, nama sebuah kerajaan di India selatan, yang didirikan oleh beberapa kelompok orang lain dari india yang berasal dari Orissa, mereka melarikan diri karena dihancurkan oleh Kerajaan Asoka. Kerajaan Kalingga didirikan pada abad ke-6 dan tidak ditemukan lagi pada abad ke-7. Menurut berita China, pada tahun 752, Kerajaan Ho-ling menjadi wilayah taklukan Kerajaan Sriwijaya, berdasarkan fakta bahwa kerajaan ini menjadi bagian dari jaringan perdagangan Hindu, bersama Kerajaan Malayu dan Kerajaan Tarumanagara yang sebelumnya telah ditaklukan Sriwijaya. Ketiga kerajaan tersebut menjadi pesaing kuat jaringan perdagangan Sriwijaya-Buddha.

Kerajaan Kalingga dikenal terutama melalui kisah Ratu Sima yang memimpin kerajaan dengan tegas dan jujur,  sehingga menjadi kerajaan yang disegani.  Legenda tentang Ratu Sima ini berkembang di daerah utara Jawa Tengah, dimana sang ratu dikenal menjunjung tinggi prinsip keadilan dan kebenaran secara keras tanpa pandang bulu. Kisah ini bercerita mengenai Ratu Sima yang mendidik rakyatnya agar selalu berlaku jujur dan menindak keras kejahatan. Ia menerapkan hukuman yang keras yaitu pemotongan tangan bagi siapa saja yang mencuri.

April 04, 2018

Kakawin Negarakertagama, Kisah Kerajaan Majapahit di Masa Hayamwuruk


Agus Wibowo

Kitab Negarakertagama merupakan sumber informasi utama tentang Kerajaan Majapahit di abad 14 Masehi, ketika Hayamwuruk menjadi raja. Hal ini karena naskah ditulis pada saat Hayamwuruk masih hidup, kakawin berisi tentang kerajaan Majapahir, dan ditulis oleh pejabat keagamaan kerajaan yang ikut perjalanan raja, bisa masuk istana, ikut upacara kenegaraan dan dan bisa membaca dokumen-dokumen kerajaan.  Kakawin yang digubah oleh Prapanca ini ditulis dalam 383 lembar daun lontar yang dikelompokkan dalam 98 pupuh. Naskah ditulis dalam aksara dan Bahasa Kawi atau Jawa Kuno.
Dari 7 pupuh di awal kitab yang sebanyak 21 lembar lontar, sangat terasa bahwa kakawin Negarakertagama dimaksudkan sebagai karya puja satra karena Prapanca banyak menyampaikan pujian-pujian kepada Raja Hayamwuruk beserta keluarga dan sanak saudaranya yang menjadi petinggi di Majapahit maupun menjadi raja di kerajaan bawahan yang ada di Pulau Jawa. Gaya pujian yang ditulis oleh Prapanca sangat beragam karena dia memuji sangat banyak tokoh. Hayamwuruk yang sedang menjadi raja Majapahit bahkan dipuji sejak kelahirannya yang ditandai oleh meleusnya Gunung Kamput (kini disebut Gunung Kelut) yang gemuruhnya “membunuh durjana, penjahat musnah dari negara”.

April 03, 2018

Kitab Pararaton, Dongeng Historis tentang Ken Arok dan Keturunannya


Agus Wibowo

Serat Pararaton di Perpustakaan Nasional
Kitab Pararaton berkisah tentang Ken Arok sebagai tokoh yang menurunkan raja-raja Jawa, mulai dari Kerajaan Singasari sampai runtuhnya Kerajaan Majapahit. Penulis kitab ini tidak menyebutkan namanya, hanya menyebutkan waktu penulisan, yaitu tahun 1613 masehi. Kitab ini terdiri dari 18 pupuh, tapi pupuh pertama sepanjang hampir setengah dari keseluruhan naskah, yang mengisahkan Ken Arok dari bayi sampai menjadi raja dan menaklukkan Kediri. 
Kitab ini menceritakan sosok dan sepak terjang Ken Arok dari lahir, anak-anak, dewasa, menjadi raja sampai wafat. Bahkan di bagian awal dikisahkan kehidupan ibunya ketika Ken Arok di dalam kandungan. Singkat kisah, Ken Arok dilahirkan oleh seorang perempuan istri petani bernama Ken Endok yang dibuat hamil oleh Dewa Brahma. Karena dilahirkan tanpa ayah, bayi Ken Arok dibuang ke pemakaman bayi kemudian ditemukan oleh pencuri yang tersesat dan melihat cahaya dari kuburan yang ternyata berasal dari bayi Ken Arok. Mendengar kabar ada seseorang menemukan bayi yang memancarkan cahaya, Ken Endok datang dan mengakui Ken Arok adalah anaknya, meskipun mengijinkan sang pencuri mengangkat Ken Arok sebagai anak.

Prasasti Pamwatan, Dibangun di Akhir Kekuasaan Raja Erlangga di Kahuripan


Agus Wibowo

Prasasti Pamwatan di Pamotan
Prasasti Pamwatan merupakan salah satu prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Airlangga, pada tahun 965 Saka atau 1043 Masehi. Hal ini bisa dilihat dari nama yang tertulis di bagian atas prasasti, berdasarkan hasil pembacaan Damais pada tahun 1955 (Damais 1955, 183), yaitu Çri Mahãrãja Rakai Halu Çri Lokeçwara Dharmmawaṅça Airlaṅgga Anãntawikramottuṅgadewa dan  Rakryãn Mahãmantrĩ i Hino-nya Çrĩ Samarawijaya. Nama Sri Samarawijaya senagai Mahamantri Hino di dalam prasasti ini berbeda dengan Mahamantri Hino di Prasasti Kamalagyan tahun 1037 yaitu Sri  Sangramawijaya Prasadottungadewi. Hal ini sesuai dengan kisah tentang putri Erlangga yang tidak bersedia menjadi ratu karena lebih tertarik menjadi buksuni. Posisi Mahamantri Hino akhirnya digantikan oleh adiknya Sri Smarawijaya.
Prasasti Prasasti Pamwatan ditemukan berupa lempeng batu andesit besar yang ditemukan di Desa Pamotan, Kecamatan Sambeng, Kabupaten Lamongan. Di lokasi sekitar prasasti ditemukan pecahan artefak-artefak kuno dan serakan batu bata kuno berukuran besar, terutama disekitar pekuburan yang terletak 200-300 m di sebelah utara lokasi prasasti. Ditinjau dari letaknya, prasasti ini terletak di lereng sisi utara Gunung Pucangan (tempat ditemukannya Prasasti Pucangan oleh Raffles), berada di sebelah selatan kali Lamong yang di perkirakan sebagai batas dari Kerajaan Panjalu dan Jenggala.
Menurut L.C. Damais, angka yang tertulis di prasasti ini menunjukkan angka almanak yang menunjukkan angka tahun 964 saka atau 1042 masehi, yaitu tanggal 19 Desember 1042. Isi prasasti ditulis dalam aksara Jawa Kuno dan dalam Bahasa Jawa Kuno.
Lokasi Prasasti Pamwatan yang Hilang
Pada sisi depan (recto) bagian atas prasasti terdapat tulisan yang berbunyi DAHAṆA dalam aksara kwadrat. Hal memunculkan spekulasi bahwa Lokasi ditemukannya prasasti ini merupakan Kota Dahana, yang merupakan pusat pemerintahan baru Kerajaan yang ditempati oleh Erlangga sebelum “lengser keprabon mandeg pandito”. Beberapa ahli sejarah menyimpulkan bahwa sebelum mundur dari kekuasaan, Erlangga membangun kota baru yang ditempatinya sampai untuk kemudian menjadi ibukota kerajaan baru yang dinamakan Panjalu, dimana Putra yang bernama Sri Samarawijaya menjadi raja. Sedangkan putra yang bernama Mapanji Garasakan mendapatkan kerajaan timur bernama Janggala yang berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan. Nama Dahaṇa tersebut di dalam sumber lain, yaitu Serat Calon Arang dan Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca. sebagai ibu kota/keraton kerajaan Airlangga, namun dalam uraian serat tersebut tidak disebutkan secara pasti dimanakah persisnya letak keraton Dahaṇa itu berada. 
Saat ini Prasasti Pamwatan tidak ada di lokasi, tapi bekas prasasti masih dipelihara oleh masyarakat sampai kini. Dari keterangan masyarakat yang dimuat oleh koran Radar Bojonegoro, prasasti sudah tidak ada di tempatnya pada 12 September 2003. Hingga saat ini belum ada informasi tentang siapa yang mengambil prasasti dan di mana prasasti disimpan.

Sumber Informasi
-          Muljana, Prof. Dr. Slamet (2006). Tafsir Sejarah Nagara Kretagama. LKiS Yogyakarta.
-          Poesponegoro, Marwati Djoened; Notosusanto, Nugroho (1984). Sejarah Nasional Indonesia untuk SMP 2. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.



Serat Calon Arang, Kitab tentang Sepak Terjang Mpu Barada


Agus Wibowo

Naskah Lontar/Ilustrasi
Serat Calon Arang sangat terkenal, terutama di Pulau Bali, bahkan ada sendratari dengan judul sama, yaitu Sendra Tari Calon Arang. Sendratari ini menampilkan rangkaian kisah teror teluh yang dibuat oleh Calon Arang. Alkisah ada seorang gadis cantik di Desah Girah, yang membuat banyak laki-laki terpesona. Hanya saja, tidak ada laki-laki yang berani melamarnya karena takut pada ibunya, seorang janda yang dikenal sebagai ahli teluh yang bernama Calon Arang. Suatu saat ada yang bergunjing bahwa putri Calon Arang menjadi perawan tuwa, yang membuat Janda Calon Arang marah besar dan meneluh seluruh penduduk Desa Girah.
Latar belakang cerita tersebut membuat Sendratari Calon Arang terasa menghadirkan kesan magis. Kisah yang divisualkan dalam sendratari ini diterjemahkan dari cerita rakyat yang dituliskan pada lembar-lembar daun lontar bolak-balik sebanyak 51 lembar yang disebut sebagai Serat Calon Arang. Serat ditulis dalam Huruf Bali dengan Bahasa Kawi atau Jawa Kuno, yang keseluruhan isinya menceritakan sepak terjang seorang pendeta di masa Kerajaan Kahuripan di abad 11, yang bernama Mpu Barada. Penulis serat ini tidak menyebutkan namanya tapi menuliskan waktu penulisan yaitu pada tahun Saka 1462 (1540 Masehi), tanggal bulanhamacapmika, paroh terang ke-10. Masih di lembar lontar ke 51, penulis juga menjelaskan tempat dia menyelesaikan karyanya, yaitu di Semadri Camara, menghadap ke arah barat, di bawahnya Sungai Harung, di sebuah tempat yang ada guanya.
Berdasarkan kisah secara keseluruhan naskah, serat ini lebih cocok apabila diberi judul Serat Mpu Baradah, karena dari awal sampai akhir serat ini berkisat tentang sepak terjang Mpu Baradah sebagai pendeta sakti yang menjadi panutan Raja Erlangga yang berkuasa di Kahuripan. Naskah dalam serat ini bisa dipilah menjadi dua bagian, yaitu: pertama, tentang Mpu Baradah yang menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh rakyat Kerajaan Kahuripan di Daerah Kediri akibat ulah seorang janda bernama Calon Arang yang meneluh semua warga Desa Girah karena tidak ada laki-laki yang mau mengawini putrinya yang bernama Ratna Manggalih. Penduduk Desa Girah banyak yang sakit dan mati akibat teluh Calon Arang.
Mendengar penderitaan penduduk Desa Girah, Raja Erlangga mengirim pasukan untuk menumpas Calon Arang, tapi gagal. Bahkan efek teluh Calon Arang malah meluas. Raja Erlangga mencari cara lain, kemudian minta bantuan ke seorang pendeta Brahmana yang yang berasrama di Lemah Tulis bernama Mpu Barada. Pendeta ini bersedia dan segera memberikan rekomendasinya, dia usul seorang muridnya yang bernama Mpu Bahula untuk melamar putri Calon Arang. Setelah menjadi suami Ratna Manggalih, dia mengamati kebiasaan Calon Arang dan melaporkannya kepada Mpu Barada.
Pada lembat lontar ke 18 diceritakan bagaimana Mpu Bahula mendapatkan kitab yang menjadi rahasia kekuatan Calon Arang. Kitab tersebut kemudian ditunjukkan kepada Mpu Barada. Mpu Barada Menilai bahwa Kitab sastra milik Calon Arang berisi hal utama untuk jalan kebaikan, menuju kesempurnaan dan puncak rahasia pengetahuan, sayangnya digunakan jalan yang salah, menuju kiri menjalankan ilmu sihir.

Sendratari Calon Arang/www.kamerabudaya.com
Setelah mendapatkan informasi yang cukup Mpu Baradah pun menemui Calon Arang. Dialog Mpu Baradah dengan besannya Calon Arang bisa dilihat mulai lembar lontar ke 23. Calon Arang menyambut Mpu Barada yang merupakan besannya bahkan meminta nasihat tentang kebaikan dan minta diruwat. Mpu Baradah tidak bersedia meruwat karena kerusahan yang diakibatkan teluhnya terlalu besar. Calon Arang marah besar dan menyerang Mpu Baradah dengan sihirnya. Ritual sihirnya digambarkan dengan cara menari-nari, membalikkan rambut di atas kepala, mata melirik-lirik dan seterusnya. Mpu Barada tidak mempan oleh sihir Calon Arang, kemudian balik membalas dan Calon Arang mati ditempat berdirinya. Mpu Barada kemudian menyempurnakan jasad Calon Arang dan mengangkat dua putranya menjadi murid. Abu jasad Calon Arang kemudian dicandikan di Desa Girah atas biaya dari kerajaan Kahuripan (28a) dan dinamakan Rabut Girah, diharapkan menjadi tempa suci bagi orang-orang Girah sampai sekarang. Dipuja dan dihormati.

Pembelahan Kerajaan Menjadi Dua
Kisah kesaktian Mpu Baradah dalam mengatasi teluh Calon Arang sangat berkesan bagi Raja Erlangga. Dalam lembar lontar 29b, Raja Erlangga menyampaikan keinginan untu mengikuti jalan Mpu Barada menjadi resi atau pendeta. Dia menyatakan keinginan untuk “..turut mempelajari Sang Hyang Dharma, meminta ajaran yang baik seorang pendeta melepaskan pikiran hina, mempelajari ajaran hukum”.
Bagian 1 Serat Calon Arang berakhir sampai lembar lontar 36a. Mulai lembar lontar, serat Calon Arang memasuki bagian 2, yaitu tentang pembagian kekuasaan bagi dua putranya yang sama-sama ingin menjadi raja, yaitu Mapanji Garasakan dan Samarawijaya. Mulanya Raja Erlangga ingin salah satu putranya menjadi raja di Pulau Jawa dan satu lagi menjadi raja di Pulau Bali –karena bagaimana pun Erlangga adalah putra pertama Raja Udayana sehingga punya hak atas tahta kerajaan di Bali. Raja Erlangga kembali minta bantuan ke Mpu Barada.
Mpu Barada berangkat ke Bali untuk melakukan lobi dengan menemui seorang pendeta yang lebih senior dan diceritakan lebih sakti daripada Mpu Barada. Sampai di Bali, Mpu Barada mendapatkan penjelasan bahwa Kerajaan Bali sudah memiliki raja dari keturunan sedarah raja sebelumnya. Mpu Barada kembali ke Kahuripan kemudian Raja Erlangga memutuskan untuk membagi kerajaan menjadi dua, satu kerajaan berpusat di Kahuripan dan kerajaan satu lagi berpusat di Daha. Dalam proses ini Mpu Barada berperan menentukan batas wilayah, pejabat kerajaan dan pendudukbagi kedua kerajaan. Setelah pembagian kerajaan selesai, Raja Erlangga mulai menjalani cita-citanya untuk menjadi seorang pendeta atau resi dengan mempelajari Sang Hyang Dharma.
Cerita yang disampaikan dalam Serat Calon Arang banyak mengandung mitologi dan mistik, seperti tentang kesaktian Calon Arang yang bisa menimbulkan wabah yang mengancam stabilitas kerajaan, dan terutama kesaktian Mpu Barada yang mempesona Raja Erlangga. Selain bisa mengalahkan Calon Arang, kesaktian Mpu Barada juga digambarkan dalam kisah perjalanannya ke Pula Bali, dimana dia menyeberang bolak balik dengan menaiki selembar daun keluwih –semacam daun sukun. Meskipun begitu, kisah legenda di di masa Kerajaan Kahuripan di abad 11 yang ditulis di pertengahan abad 16 ini bisa dikonfirmasi bukti-bukti otentiknya.
Jejak Raja Erlangga yang “lengser keprabon mandeg pandito” ini bisa dilihat jejaknya di Lereng Gunung Penanggungan, di Candi Belahan d Daerah Trawas Mojokerto. Pembelahan atau pembagian Kerajaan Kahuripan menjadi Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Panjalu juga bukan sekedar dongeng. Dalam Prasasti Pamwatan disebutkan bahwa Raja Erlangga membangun istana baru yang dinamakan Dahana. Dalam prasasti ini nama Erlangga masih disebut dengan nama abiseka lengkap, yaitu Çri Mahãrãja Rakai Halu Çri Lokeçwara Dharmmawaṅça Airlaṅgga Anãntawikramottuṅgadewa. Dalam Prasasti Gandakhuti yang dibuat pada 24 November 1042, Raja Erlangga ditulis dengan gelar seorang resi, yaitu Resi  Aji Paduka Mpungku.

Adab Menghormati Pendeta
Selain kisah tentang ‘teror teluh’ yang dilakukan oleh Calon Arang dan pembagian kerajaan Kahuripan menjadi Kerajaan Jenggala dan Panjalu, Serat Calon Arang juga memberikan gambaran tentang penghormatan kepada seorang pendeta. Hal ini digambarkan melalui penghormatan kepada Mpu Barada yang dilakukan oleh Raja Erlangga maupun dua orang putranya yang menjadi Raja di Panjalau dan Jenggala. Dalam beberapa lembar lontar digambarkan bagaimana Raja Erlangga berjongkok dan mengelap debu di kaki mpu Barada kemudian mengusapkannya ke dahi. Dalam lontar ke 35a diantaranya, dikisahkan “Sang Raja menghormat kepada Sang Pendeta, lalu mengusap debu kaki Sang Pendeta Baradah, diletakkan di ubun-ubun Sang Raja, berdua dengan permaisurinya”.
Selain penghormatan, Erlangga juga memberikan upah atas jerih payah Mpu Barada yang berperan mengembalikan keamanan dan ketenteraman masyarakat dari teror jahat Calon Arang. Dalam Lontar 34b dijelaskan “Semua menyiapkan kereta gajah dan kuda diberikanlah kepada sang Pendeta oleh Sang Raja, dan uang 50.000, 50 perangkat pakaian, emas dan permata serba banyak, juga pengikut pekerja sawah seratus orang, pemahat seratus orang, kerbau dan sapi pekerja yang banyak.
Dua putra Erlangga yang menjadi raja di Jenggala dan Panjalu juga menghormati Mpu Barada dengan cara yang sama. Mereka berlutut dan mengusat debu di kaki sang pendeta dengan kain dan mengusapkan debu tersebut ke ubun-ubunnya. Hal ini terjadi ketika Mpu Barada mendamaikan dua raja kakak adik ini berperang di awal pembagian kerajaan.

Sumber
- Calon Arang Si Janda dari Girah, Dr. Soewito Santoso, Balai Pustaka 1975
- http://balikasogatan.blogspot.co.id/2012/11/terjemahan-lontar-calon-arang.html

Prasasti Kamalagyan, Peneguhan Tanah Perdikan Bagi Penjaga Bendungan Brantas


Agus Wibowo 

Prasasti Kamalagyan ditemukan di Dusun Klagen, Desa Tropodo, Kecamatan Krian Kabupaten Sidoarjo. Prasasti ini dibuat dari lempeng batu andesit besar yang ditegakkan, dengan ukuran lebar 115 sentimeter, tebal 28 sentimeter dan tinggi 215 sentimeter. Selain prasasti utama dalam ukuran besar, ada juga batu kecil di sampingnya. Pesan di prasasti ditatah dalam huruf Jawa Kuno dan dalam bahasa Jawa Kuno. Tulisan yang ditemukan dan bisa dibaca sebanyak 23 baris.  Prasasti ini termasuk prasasti yang masih ada ditempatnya, dimana saat ini dilindungi dengan bangunan joglo berlantai dan beratap, yang melindungi prasasti dari panas matahari dan hujan.

Prasasti ini menjelaskan tentang pembangunan bendungan di Wringin Sapta yang dilakukan oleh Raja Erlangga bersama dengan rakyat. Bendungan dibangun untuk mengatasi banjir yang sering menerjang beberapa desa maupun tanah perdikan. Beberapa desa di daerah hilir yang sering banjir diantaranya  Desa Lusun, Panjuwan, Sijanatyesan, Panjiganting, Talan, Dasapangkah dan  dan Desa Pangkaja. Selain desa pertanian tersebut ada juga beberapa daerah sima, diantaranya Kalang, Kalagyan, Thani Jumput dan beberapa tempat peribadatan seperti biara-biara, bangsal-bangsal kamulan untuk para pertapa, bangunan suci tempat pemujaan dewa, dan pertapaan-pertapaan, terutapa daerah Labapura bagi sang Hyang Dharmma ring Isanabhawana di Surapura.
Banjir ini sering menghancurkan sawah-sawah, sehingga pajak yang masuk kas kerajaan menjadi berkurang. Tidak sekali dua kali rakyat membuat tanggul, tetapi tidak berhasil menanggulangi banjir. Raja Erlangga pun akhirnya mengerahkan seluruh rakyat untuk bekerja bakti membuat bendungan.
Prasasti menyebutkan bahwa pembuatan bendungan oleh raja ini begitu kukuh dan kuat sehingga bisa menahan aliran air Sungai Brantas, yang dipecah menjadi dua dan dialirkan ke arah utara. Bendungan ini langsung dirasakan manfaatnya oleh desa-desa pertanian karena sawah-sawah dapat dikerjakan lagi. Selain bermanfaat untuk pertanian, bendungan Waringin Sapta juga memberikan manfaat bagi perdagangan yang banyak dilakukan melalui melalui sungai dengan moda transportasi perahu. Disebutkan bahwa “Bersukacitalah mereka yang berperahu ke arah hulu, mengambil dagangan di Hujung Galuh, termasuk para pedangang dan nahkoda dari pulau-pulau lain yang berkumpul di Hujung Galuh (Surabaya)”.
Menimbang besarnya manfaat bendungan bagi pertanian dan perdagangan dari daerah hulu ke hilir, raja berpikir tentang kemungkinan penghancuran yang dilakukan oleh musuh. Untuk itu, Raja Erlangga memberikan tugas kepada masyarakat di  beberapa desa untuk menjaga bendungan, terutama kepada penduduk Desa Kamalagyan. Sebagai imbalannya penduduk Desa Kamalagyan diberikan imbalan berupa bagian pajak. Mereka mendapatkan bagian pajak seperti yang telah disebutkan di atas, yaitu jumlah yang dikurangkan dari pajak yang semestinya disetor ke kas kerajaan. Imbalan berupa pengurangan pajak ini dijelaskan cukup detil di dalam prasasti, diantaranya sebagai berikut:
-    1. Pajak dari wilayah pangkaja, kebon sirih, tepian sungai dan rawa-rawa yang sebesar emas 17 swarna, 14 masa, 4 kupang dan 4 satak dikurangi 10 suwarna untuk diserahkan kepada raja setiap bulan Asuji.
      2. Pajak dari Desa Kamalagyan sebesar 2 swarna dan 10 masa emas dikurangi 2 swarna untuk diserahkan kepada warga hatur.
-    3. Dari kakalangan yang pajaknya sebesar 1 masa dan 2 kupang dikurangi 1 masa untuk diterimakan kepada warga pati.
Tiga sumber pemotongan pajak tersebut diberikan kepada Desa Kamalgyan untuk menjaga dan memelihara bendungan, sementara pajak perdagangan yang dilakukan di desa tersebut yang berupa mata uang perak, tidak dikurangi.
Prasasti ini memberikan jaminan bahwa pemimpin Desa Kamalagyan bertanggungjawab langsung kepada raja, tidak kepada pejabat kerajaan lainnya, apalagi pemungut pajak. Peneguhan tentang tugas kepada penduduk Kamalgyan untuk mengamankan bendungan ini dilakukan karena Raja Erlangga merasakan masih adanya potensi ancaman dari adanya kerajaan yang belum menerima kepemimpinan Erlangga di Tanah Jawa. Salah satu diantaranya adalah Kerajaan Wengker yang pemberontakannya baru dipadamkan kurang lebih satu minggu sebelum prasasti dibuat.
Prasasti dimulai dengan penyebutan waktu yaitu “ Swasti Cakawarcatita 959 marggaciramas” atau 10 November 1037. Di baris kedua dan ketiga disebutkan nama pejabat kerajaan, yaitu: (1) Maharaja Rake Hulu Sri Lokecwara Dharmmawanca Airlangganama Prasadottungadewa, (2) Rakyan Mahamantri i Hino yang bernama  Sri  Sangramawijaya Prasadottungadewi, (3) Rakyan Kanuruhan yaitu pu Dharmmamantri Narottamajana.
Dari nama kedua diidentifikasi bahwa yang berkedudukan sebagai pewaris tahta kerajaan adalah Sri Sangramawijaya Prasadottunggadewi, putri sulung Erlangga. Meskipun begitu, dari beberapa sumber berupa prasasti maupun kakawin, putri sulung Erlangga ini tidak bersedia menjadi ratu Kahuripan dan lebih memilih menjadi resi, yang dalam cerita rakyat dikenal sebagai Dewi Kilisuci.

Sumber
2. Slamet Mulyana, Prof. Dalam Negarakertagama.


March 12, 2018

Kalender Perhalaan, Salah Satu Kearifan Lokal dari Tanah Batak


Agus Wibowo

Bambu perhalaan atau disebut perhalaan saja adalah jenis almanak kalender Batak. Kalender perhalaan dibuat dari seruas bambu yang ditulisi aksarana Batak, dilengkapi dengan beberapa gambar yang menyimbolkan peredaran bulan. Perhalaan bambu ini digunakan untuk meramalkan hari baik untuk pelaksanaan pesta adat, melakukan usaha, ritual perkawinan dan sebagainya.
Perhalaan berasal dari kata “hala” yang berarti kalajengking, sejenis binatang bersupit dan bisa menyengatkan racun. Hala merupakan binatang beracun yang harus dihindari, dan perhalaan berkaitan dengan hari-hari yang harus dihindari. Pemetaan hari menurut kalender Batak ini divisualkan dalam bentuk binatang hala yang melintang dalam 4 kolom hari. Dari 4 kolom hari ini ada ada beberapa hari yang dihindarkan, yaitu hari yang tepat dengan kolom kepala, punggung dan ekor hala. Hari yang dianggap paling baik adalah hari yang tepat dengan perut hala.
Dalam kalender perhalaan Batak ini terdapat beberapa data astronomi, diantaranya informasi tentang waktu terbit dan tenggelam matahari dan bulan, waktu terjadinya gerhana, pasang surut air laut dan sebagainya. Perhalaan yang digunakan untuk mengamati pengaruh siklus buni, matahari dan bulan ini disebut dengan istilah Pane Nabolon, yakni mengingatkan agar manusia bersikap baik kepada alam agar tidak berbenturan dengan alam. Benturan dari reaksi sifat alam dengan sifat dan perilaku manusia dapat berdampak tidak baik. Sifat alam yang bisa berakibat buruk bagi manusia dilambangkan dengan mulut dan ekor kalajengking. Haria sial ini ditemuka dua kali dalam sebulan selama 4 hari. Dalam 4 hari tersebut ada 3 hari yang harus dihindarkan dan satu hari yang dapat dimanfaatkan.
Selain dibuat dari seruas batang bambu, perhalaan Batak ini juga ada yang dibuat pada buah labu. Perhalaan Batak yang diuat pada bauh labu memperlihatkan gambar hala yang lebih jelas, berupa serangga melata seperti kelabang atau kalajengking. Bagaimana pun, kalajengking maupun kelabang merupakan binatang yang sama-sama berbisa. Kalajengking bisa menyengatkan bisa dengan ekornya, sedangkan kelabang menyengatkan bisa melalui gigitannya.  
Perhalaan dalam bentuk bambu maupun labu ini merupakan koleksi Perpustakaan Nasional, yang bisa dilihat pada bagian Naskah Kuno yang ada di lantai 9 gedung perpustakaan. Dalam keterangan yang bisa dilihat di lemari pajang, perhalaan yang dibuat pada batang bambu maupun buah labu memiliki fungsi yang sama, yaitu menghitung hari baik berdasarkan siklus bumi, matahari dan bulan yang bisa memerikan pengaruh pada lingkungan kehidupan manusia di bumi.


February 27, 2018

Arie Sujito: Demokrasi Liberal Ada Kelemahan yang Bisa Disubsidi oleh Kearifan Lokal

Wawancara 

Pengantar: Indonesia merupakan negara berbentuk republik, menganut sistem demokrasi, yang memiliki sejarah monarki yang panjang. Bahkan Indonesia lahir dari dukungan kerajaan-kerajaan di nusantara. Saat ini kerajaan dan kesultanan masih eksis dan punya pengaruh dalam politik di Indonesia, khususnya di daerah. Untuk menijau fenomena dan pengaruh monarki dalam demokrasi di Indonesia, redaksi 1000monraki.com melakukan wawancara dengan sosiolog dan pengamat politik, Dr. Arie Sujito, Dosen Pasca Sarjana FISIP Universitas Gajahmada. Berikut hasil wawancaranya:

Bagaimana menurut Anda tentang entitas monarki di dalam demokrasi di Indonesia?
Salah satu problem serius dalam demokrasi di Indonesia adalah corak budaya yang feodal dan patriarki. Kalau kita lihat dalam rentang waktu sejarah di Indonesia,  transformasinya belum tuntas. Tapi itu memang realitas kita. Sejarahnya panjang dan dipelihara pada era kepemimpinan Presiden Suharto, dimana kekuasaan dirancang dengan model sentralistik, otoritarian. Politik sangat personal, semuanya tergantung Suharto. Politik personal ini adalah gaya raja, dimana model kekuasaan yang dia terapkan merupakan pengejawantahan dari corak kultur Jawa.

Prasasti Luitan tentang Sengketa Pajak Tanah di Jaman Mataram Kuno


Agus Wibowo

Di tanggal 10 Sulapaksa, hari Kamis, bulan Caitra tahun 823 saka, penduduk Kampung Luitan datang menghadap Rakryan Mapatih Hino dan Rakryān i Pagarwṣi Kerajaan Medang untuk mengadukan bahwa sawah yang mereka kerjakan hasilnya tidak sanggup membayar pajak yang diharuskan. Dari angka tahun prasasti diketahui dibuat pada saat raja Medang adalah Dyah Balitung.

Prasasti Luitan (BPCB jateng)
Penduduk Kampung Luitan meminta sawah kampung diukur ulang untuk ditentukan kembali beban pajak yang harus dibayarkan. Pengukuran ulang dilakukan oleh Sang Wahuta Hyang Kudur dan pembantu Rakryan i Pagarwsi. Dari hasil pengukuran disimpulkan bahwa sempitnya tanah tidak dapat memenuhi kewajiban pajak yang dibebankan dan tidak sanggup mempunyai enam budak untuk dipekerjakan. Hasilnya, permohonan dari kepala kampung itu untuk mengerjakan sawah (seluas) 1 lamwit 7 tampaḥ, dan dapat mempunyai empat budak.

Prasasti Canggal, Tunjukkan Eksistensi Wangsa Sanjaya di Kerajaan Medang


Agus Wibowo

Prasasti Canggal - Prasasti Sanjaya
Salah satu prasasti batu yang paling tua di Jawa Tengah adalah Prasasti Canggal. Prasasti ini berangka tahun 654 Saka atau 732 Masehi, atau kurang lebih 50 tahun setelah Prasasti Sojomerto yang ditemukan di Kabupaten Batang. Prasasti Canggal juga dikenal sebagai Prasasti Gunung Wukir, karena ditemukan di pelataran Candi Gunung Wukir di Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang. Selain itu prasasti ini juga dikenal sebagai Prasasti Sanjaya karena berisi tentang Sanjaya yang memerintahkan menulis prasasti.

Prasasti Canggal punya kemiripan struktur informasi dengan Prasasti Sojomerto, dimana pembuat prasasti menjelaskan asal usulnya. Perbedaannya, Prasasti Sojomerto ditulis dalam Bahasa Melayu Kuno, sedangkan Prasasti Canggal ditulis dalam Bahasa Sanskerta yang diukir dalam huruf Palawa. Dari transliterasi dan terjemahan yang dilakukan oleh beberapa sejarah, salah satunya Profesor Slamet Mulyana, prasasti terdiri dari 12 bait, yang isinya sebagai berikut: