February 27, 2018

Prasasti Luitan tentang Sengketa Pajak Tanah di Jaman Mataram Kuno


Agus Wibowo

Di tanggal 10 Sulapaksa, hari Kamis, bulan Caitra tahun 823 saka, penduduk Kampung Luitan datang menghadap Rakryan Mapatih Hino dan Rakryān i Pagarwṣi Kerajaan Medang untuk mengadukan bahwa sawah yang mereka kerjakan hasilnya tidak sanggup membayar pajak yang diharuskan. Dari angka tahun prasasti diketahui dibuat pada saat raja Medang adalah Dyah Balitung.

Prasasti Luitan (BPCB jateng)
Penduduk Kampung Luitan meminta sawah kampung diukur ulang untuk ditentukan kembali beban pajak yang harus dibayarkan. Pengukuran ulang dilakukan oleh Sang Wahuta Hyang Kudur dan pembantu Rakryan i Pagarwsi. Dari hasil pengukuran disimpulkan bahwa sempitnya tanah tidak dapat memenuhi kewajiban pajak yang dibebankan dan tidak sanggup mempunyai enam budak untuk dipekerjakan. Hasilnya, permohonan dari kepala kampung itu untuk mengerjakan sawah (seluas) 1 lamwit 7 tampaḥ, dan dapat mempunyai empat budak.


Berdasarkan transliterasi dan terjemahan oleh Riboet Darmosoetopo di tahun 1997, naskah Prasasti Luitan yang tertulis di lempeng tembaga terdiri dari 13 baris.  Baris 1 menyebutkan hari peristiwa yang ditulis dalam prasasti, yaitu tahun 823 saka (901 Masehi), bulan Caitra (bulan 1), dan tanggal 10 Sulapaksa (setengah bulan pertama). Baris ke-2 sampai baris ke-4 menceritakan hasil pengukuran dan keputusan atas permohonan kepada kampung Luitan yang disetujui. Baris ke-5 sampai baris ke -10 menceritakan bentuk kongkret rasa terima kasih kepala Kampung Luitan dengan memberikan persembahan kaian dan emas kepada pejabat Kerajaan Medang dan rombongan. Baris ke 11 dan baris ke 12 berisi pejabat kampung yang menerima prasasti sebagai keputusan kerajaan, dan baris ke-13 berisi penulis prasasti yaitu jurutulis dari Sumaṅka dan Panawuṅan.

Prasasti Luitan yang ditemukan pada tahun 1976 di Kabupaten Cilacap, saat ini disimpan di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah. Pada bari ke-5 sampai baris ke 10 bisa dilihat siapa saja pejabat Kerajaan Medang yang diberi hadiah oleh Kepala Kampung Luitan, beserta persembahan yang diberikan. Di baris 5 dan 6, yang diberikan hadiah adalah Rakryān Mapatiḥ i Hino pu Dakṣa Śrī Bāhubajrapratipakṣakṣaya, Rake Pagarwṣi pu Wira, Rake Sirikan pu Wariga, Rake Wka pu Kutak, dan Samgat Tiruan pu Śiwāstra. Semua pejabat kerajaan tersebut masing-masing diberi emas 1 suwarṇa atau setara dengan 2,5 gram. Hadiah atau persembahan juga diberikan kepada pejabat yang lebih rendah, termasuk pegawai kerajaan yang menuliskan prasasti yang diberikan emas 4 masa.

Serah terima prasasti keputusan kerajaan ini patut diduga dilaksanakan dalam sebuah pesta adat. Hal ini bisa diliahri adanya hadiah atau persembahan kepada kelompok penghibur, yaitu tuhan (pemimpin) penari topeng dan tuhan (pemimpin) para nayaka (pemain musik). Kepada mereka, kepala Kampung Luitan memberikan hadiah emas masing-masing 4 masa.