April 16, 2018

Kerajaan Kalingga di Pesisir Utara Jawa

 Agus Wibowo


Kerajaan Kalingga adalah kerajaan yang berkembang di wilayah tengah Pulau Jawa. Nama Kalingga berasal dari kata “kalinga”, nama sebuah kerajaan di India selatan, yang didirikan oleh beberapa kelompok orang lain dari india yang berasal dari Orissa, mereka melarikan diri karena dihancurkan oleh Kerajaan Asoka. Kerajaan Kalingga didirikan pada abad ke-6 dan tidak ditemukan lagi pada abad ke-7. Menurut berita China, pada tahun 752, Kerajaan Ho-ling menjadi wilayah taklukan Kerajaan Sriwijaya, berdasarkan fakta bahwa kerajaan ini menjadi bagian dari jaringan perdagangan Hindu, bersama Kerajaan Malayu dan Kerajaan Tarumanagara yang sebelumnya telah ditaklukan Sriwijaya. Ketiga kerajaan tersebut menjadi pesaing kuat jaringan perdagangan Sriwijaya-Buddha.

Kerajaan Kalingga dikenal terutama melalui kisah Ratu Sima yang memimpin kerajaan dengan tegas dan jujur,  sehingga menjadi kerajaan yang disegani.  Legenda tentang Ratu Sima ini berkembang di daerah utara Jawa Tengah, dimana sang ratu dikenal menjunjung tinggi prinsip keadilan dan kebenaran secara keras tanpa pandang bulu. Kisah ini bercerita mengenai Ratu Sima yang mendidik rakyatnya agar selalu berlaku jujur dan menindak keras kejahatan. Ia menerapkan hukuman yang keras yaitu pemotongan tangan bagi siapa saja yang mencuri.

Alkisah, seorang raja dari Timur Tengah ingin menguji kebenaran berita yang ia dengar. Raja ini memerintahkan anak buahnya untuk meletakkan satu kantong emas di jalanan di wilayah Kerajaan Kalingga. Selama tiga tahun kantong tersebut tidak ada yang menyentuh, jika ada yang melihat kantong itu ia berusaha menyingkir. Suatu hari, putra mahkota tidak sengaja menginjak kantong tersebut hingga isinya berceceran. Mendengar kejadian tersebut Ratu Sima marah dan memerintahkan agar putra mahkota dihukum mati. Tapi para menteri kerajaan menyampaikan permohonan pengampunan bagi putra mahkota, akhirnya Ratu Sima hanya memerintahkan agar jari putra mahkota yang menyentuh kantong emas tersebut di potong.

Selain dari kisah rakyat, keberadaan Kerajaan Kalingga juga berasal dari beberapa sumber lain, diantaranya: Babad Tanah Jawi, Carita Parahyangan, Berita China, dan peninggalan Kerajaan Kalingga –baik berupa prasasti maupun Candi. Babad Tanah Jawi, Carita Parahyangan dan Berita China memberikan gambaran tentang kondisi kerajaan dan peristiwa yang terjadi, sedangkan prasasti dan candi menjadi bukti otentik karena merupakan bukti yang dibuat dimasa kerajaan.

Melalui Babad Tanah Jawi, L. Van Ruckevorsel menulis bahwa “Di awal abad ke-6 ada orang-orang Hindu baru mendarat di sisi barat Pulau Jawa. Rombongan dari India ini banyak yang sakit kemudian bergerak ke arah timur menuju bagian tengah Pulau Jawa. Orang Jawa Waktu itu belum berkembang kemampuannya jika dibandingkan dengan orang-orang India yang baru datang. Rombongan orang-orang India ini mendirikan kerajaan di Jepara. Tempat tingga masyarakat Jawa waktu itu sudah seperti rumah di awal abad 20, sudah pakai atap atau ijuk. Perdagangan dengan pendatang juga sudah berjalan. Transaksi dengan pedagang China diantaranya ada perdagangan emas, salaka, gading dan sebagainya. Orang china menyebut kerajaan ini sebagai “Ho Ling”

Dari naskah Carita Parahyangan yang digubah pada abad ke-16, diceritakan bahwa putri Ratu Shima yang bernama Parwati menikah dengan putera mahkota Kerajaan Galuh yang bernama Mandiminyak. Menantu Ratu Sima ini kemudian menjadi raja kedua dari Kerajaan Galuh. Ratu Sima memiliki cucu yang bernama Sanaha yang menikah dengan raja ketiga dari Kerajaan Galuh, yaitu Bratasenawa. Carita Parahyangan mencatat bahwa setelah Ratu Sima meninggal di tahun 732 M, Sanjaya menggantikan buyutnya dan menjadi raja Kerajaan Kalingga Utara yang kemudian disebut Bumi Mataram, dan kemudian mendirikan Dinasti/Wangsa Sanjaya di Kerajaan Mataram Kuno.

Berita China yang mengabarkan adanya Kerajaan Kalingga di abad 7 Masehi berasal dari 2 sumber, yaitu dari catatan Kerajaan Dinasti Tang dan Catatan Perjalanan seorang Pendeta Budha bernama I Tshing. Catatan dari zaman Dinasti Tang (618 M - 906 M) memberikan keterangan tentang Kerajaan Ho-ling sebagai berikut.

  • Ho-ling atau disebut Jawa terletak di Lautan Selatan. Di sebelah utaranya terletak Ta Hen La (Kamboja), di sebelah timurnya terletak Po-Li (Pulau Bali) dan di sebelah barat terletak Pulau Sumatera.
  • Ibukota Ho-ling dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari tonggak kayu.
  • Raja tinggal di suatu bangunan besar bertingkat, beratap daun palem, dan singgasananya terbuat dari gading.
  • Penduduk Kerajaan Ho-ling sudah pandai membuat minuman keras dari bunga kelapa
  • Daerah Ho-ling menghasilkan kulit penyu, emas, perak, cula badak dan gading gajah. Catatan dari berita Cina ini juga menyebutkan bahwa sejak tahun 674, rakyat Ho-ling diperintah oleh Ratu Hsi-mo (Shima). Ia adalah seorang ratu yang sangat adil dan bijaksana. Pada masa pemerintahannya Kerajaan Ho-ling sangat aman dan tentram.


Catatan I-Tsing (tahun 664/665 M) menyebutkan bahwa pada abad ke-7 tanah Jawa telah menjadi salah satu pusat pengetahuan agama Buddha Hinayana. Di Ho-ling ada pendeta Cina bernama Hwining, yang menerjemahkan salah satu kitab agama Buddha ke dalam Bahasa Cina. Ia bekerjasama dengan pendeta Jawa bernama Janabadra. Kitab terjemahan itu antara lain memuat cerita tentang Nirwana, tetapi cerita ini berbeda dengan cerita Nirwana dalam agama Buddha Hinayana.

Informasi otentik tentang Kerajaan Kalingga juga diperoleh dari sumber yang dibuat oleh Kerajaan Kalingga, yang berupa prasasti maupun bangunan yang dikenal sebagai candi. Ada tiga prasasti yang diidentifikasi dibangun oleh pemerintah Kerajaan Kalingga, yaitu: Prasasti Tukmas yang ditemukan di Magelang, Prasasti Sojomerto yang ditemukan di Kabupaten Batang dan Prasasti Upit yang ditemukan di Klaten. Bangunan berupa candi yang diyakini merupakan peninggalan Kerajaan Kalingga ada dua, yaitu Candi Angin dan Candi Bubrah yang ditemukan di Kabupaten Jepara, kedua candi ini ada di lokasi yang berdekatan.

Lokasi Kerajaan
Berdasarkan beberapa bukti sejarah tersebut, bisa disimpulkan bahwa Kerajaan Kalingga terletak di pesisir utara Pulau Jawa, di bagian tengah, yaitu di Kabupaten Jepara saat ini, tepatnya di Kecamatan Keling. Bahasa yang digunakan Kerajaan Kalingga yaitu, melayu kuna sanskerta, agama yang dianut kerajaan kalingga yaitu, hindu dan buddha. Sebenarnya agama yang dianut oleh penduduk kerajaan ini umumnya buddha, karena agama buddha berkembang pesat pada saat itu, bahkan pendeta cina datang ke Kalingga dan tinggal selama tiga tahun.

Berdasarkan Prasasti Ratu Sima adalah penguasa di Kerajaan Kalingga. Ia digambarkan sebagai  seorang pemimpin wanita  yang  tegas  dan taat  terhadap peraturan yang berlaku dalam kerajaan itu. Ratu sima memerintah sekitar tahun 674-732 m.

Kehidupan Ekonomi 
Dari berita China, berdasarkan catatan seorang pendeta Budha, perekonomian kerajaan kalingga bertumpu pada sector perdagangan dan pertanian. Letaknya yang dekat dengan pesisir pantai utara jawa tengah menyebabkan Kerajaan Kalingga mudah di akses oleh pedagang dari berbagai negara, baik dari utara maupun dari barat. Dalam catatan pendeta yang pernah tinggal selama 5 bulan di Kalingga, kerajaan ini menghasilkan beberapa produk, yaitu: kulit penyu, emas, perak, culabadak, dan gading gajah untuk dijual. Penduduk kalingga dikenal pandai membuat minuman yang berasal dari bunga kelapa dan bunga aren. Adanya emas dan perak sebagai produk yang dihasilkan, bisa disimpulkan bahwa di Kerajaan Kalingga ada usaha pertambangan dan peleburan logam.

Kehidupan Sosial
Kerajaan Kalingga hidup dengan teratur, berkat kepemimpinan Ratu Sima. Ketentraman dan ketertiban di Kerajaan Kalingga berlangsung dengan baik. Dalam menegakkan hukum, ratu sima tidak membeda-bedakan antara rakyat dengan kerabatnya sendiri.

Kehidupan Politik 
Pada abad ketujuh masehi kerajaan kalingga dipimpin oleh ratu sima, hukum di kalingga ditegakkan dengan baik sehingga ketertiban dan ketentraman di Kalingga berjalan dengan baik. Menurut Carita Parahhayang yang diterjemahkan oleh Acha, Ratu sima memiliki cucu bernama sanaha yang menikah dengan Raja Brantasenawa dari kerajaan galuh. Sanaha memiliki anak bernama Sanjaya yang kelas akan menjadi raja mataram kuno. Sepeninggalan Ratu Sima, kerajaan Kalingga ditaklukan oleh kerajaan Sriwijaya.

Masa Kejayaan
Masa kepemimpinan Ratu Sima menjadi masa keemasan bagi kerajaan kalingga sehingga membuat raja-raja dari kerajaan lain segan, hormat, kagum, sekaligus penasaran. Masa masa itu adalah masa keemasan bagi perkembangan kebudayaan apapun. Agama buddha juga berkembang secara harmonis, sehingga wilayah di sekitar kerajaan Ratu Sima juga sering disebut Di Hyang (tempat bersatunya dua kepercayaan hindu dan buddha).

Dalam bercocok tanam Ratu Sima mengadopsi sistem pertanian dari kerajaan kakak mertuanya. Ia merancang sistem pengairan yang diberi nama subak. Kebudayaan baru ini yang kemudian melahikan istilah Tanibhala, atau masyarakat yang mengolah mata pencahariannya dengan cara bertani atau bercocok tanam.

Masa Kehancuran
Kerajaan Kalingga mengalami kemunduran diduga akibat serangan oleh Pasukan Kerajaan Sriwijaya yang menguasai perdagangan, serangan tersebut mengakibatkan pemerintahan kerajaan dipindahkan ke jawa bagian timur atau mundur ke pedalaman jawa bagian tengah antara tahun 742-755 M. Bersama Kerajaan Melayu dan Tarumanegara yang sebelumnya telah ditaklukan Kerajaan Sriwijaya. Ketiga kerajaan tersebut menjadi pesaing kuat jaringan perdagangan Sriwijaya-Buddha. Informasi tentang adanya mobilisasi pasukan untuk ekspansi ke Pulau Jawa ini tertulis di Prasasti Kota Kapur yang ditemukan di sisi barat Pulau Bangka. Di baris terakhir prasasti, dinyatakan bahwa prasasti ini dibuat pada saat pasukan Sriwijaya melakukan ekspansi ke Jawa untuk menaklukan kerajaan-kerajaan di Pulau Jawa yang tidak mau tunduk kepada Sriwijaya.

Eksistensi kerajaan di Jawa Tengah muncul kembali di tahun 732 masehi, yang diidentifikasi dari Prasasti Canggal yang ditemukan di Gunung Wukir Kabupaten Magelang. Prasasti yang dibuat oleh Raja Sanjaya ini menjadi bukti dari apa yang dikisahkan dalam Carita Parahyangan. Melalui prasasti ini, Sanjaya menyebutkan bahwa dia menjadi raja menggantikan Raja Sanna, pamannya. Dia mewarisi tahta kerajaan melalui ibunya bernama Sanaha, yang merupakan adik Raja Sanna. Dari Prasasti Mantyasih yang dibuat oleh Dyah Balitung, Sanjaya kemudian diidentifikasi sebagai pendiri Kerajaan Medang di Bhumi Mataram.

Situs Peninggalan Kerajaan
Ada beberapa situs bersejarah yang diidentifikasi oleh ahli sejarah sebagai peninggal Kerajaan Kalingga, yaitu: Prasasti Tukmas, Prasasti Sojomerto, Candi Bubrah dan Candi Angin.

Prasasti Tukmas
Prasasti Tukmas merupakan prasasti yang naskahnya ditatah pada sebongkah batu besar. Prasasti ini ditemukan di lereng barat Gunung Merapi, yaitu di Dusun Dakawu, Desa Lebang Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Pesan dalam prasasti berupa tulisan dalam huruf Palawa dengan bahasa Sanskerta, serta beberapa gambar, seperti trisula, kendi, kapak, kelasangka, cakra, dan bunga teratai yang yang melambangkan hubungan manusia dengan dewa-dewa dalam agaman Hindu. Pesan yang tertulis dalam huruf Palawa dan Bahasa Sanskerta menceritakan tentang mata air yang bersih dan jernih, dan sungai yang mengalir dari mata air di Gunung Merapi ini diibaratkan atau dimuliakan seperti Sungai Gangga di India.

Prasasti Sojomerto
Prasasti ini ditemukan di Desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang Provinsi Jawa Tengah. Pesan ditatah pada batu andesit pipih yang ditegakkan dengan tinggi 78 sentimeter, lebar 43 sentimeter dan tebal 7 sentimeter. Isi prasasti ditulis dalam huruf Kawi dalam Bahasa Melayu Kuno. Isi prasasti memuat keluarga dari tokoh utamanya, Dapunta Sailendra, yaitu ayahnya bernama Santanu, ibunya bernama Bhadrawati, sedangkan istrinya bernama Sampula. Adanya nama Dapunta Sailendra ini diidentifikasi sebagai tokoh yang menurunkan raja-raja Dinasti Syailendra yang memimpin Kerajaan Medang.

Prasasti Upit
Prasasti Upit adalah sebuah prasasti yang ditemukan di Desa Ngawen, Kec. Ngawen – Kab. Klaten. Isi prasasti ini menceritakan tentang adanya sebuah kampung, bernama Kampung Upit yang menjadi daerah perdikan (bebas pajak) karena anugerah dari ratu Shima. Saat ini, prasasti upit disimpan di Museum Purbakala, Jawa Tengah di Prambanan, Klaten.

Candi Angin
Candi Angin terdapat di desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara. Karena letaknya yang tinggi tapi tidak roboh terkena angin, maka dinamakan “Candi Angin”. Menurut para penelitian Candi Angin lebih tua dari pada Candi Borobudur. Bahkan ada yang beranggapan kalau candi ini buatan manusia purba di karenakan tidak terdapat ornamen-ornamen Hindu-Budha.

Candi Bubrah
Candi Bubrah ditemukan di lokasi sekitar candi angin. Dinamakan candi Bubrah karena pada saat ditemukan, kondisi candi ini sudah luluh lantah (Jawa : Bubrah). Dari arsitektur dan gaya bangunannnya, candi ini diperkirakan dibuat pada sekitar abad ke 9 Masehi dengan bercorak kebudayaan Budha. Candi yang dibuat dari bahan batu andesit ini berukuran 12 meter x 12 meter. Saat ditemukan reruntuhan yang tersisa tingginya hanya sekitar 2 meter saja.

Sumber: Wikipedia, Babad Tanah Jawi, Berita Cina: Dinasti Tang dan Catatan Pendeta I Tshing, Sejarah Nasional Indonesia, Carita Parahyangan - terjemahan Acha