April 16, 2018

Kerajaan Medang Wangsa Isyana


Agus Wibowo 
Prasasti Turyan
Kerajaan Medang Wangsa Isyana didirikan oleh Mpu Sindok, mantan Mahamenteri Hino Kerajaan Medang Mataram dari masa Rake Dyah Wawa. Ada beberapa faktor yang diduga sebagai penyebab eksodus Kerajaan Medang dari Jawa Tengah ke wilayah Jawa Timur. Dua diantaranya adalah letusan Gunung Merapi dan perebutan kekuasaan antara Wangsa Sanjaya dan Wangsa Syailendra yang melibatkan Kerajaan Sriwijaya. Dalam peristiwa ini Raja Dyah Wawa tewas, dan Mpu Sindok yang menjadi Mahamentri I Hino memimpin eksodus keluarga kerajaan ke arah timur Pulau Jawa. Berdasarkan Prasasti Turyyan yang ditemukan di daerah Turen Kabupaten Malang, pusat kerajaan awalnya dibangun di daerah Tamwlang, yang diidentifikasi oleh sejarawan sebagai daerah Tembelang di Kabupaten Jombang saat ini. 
Setelah ditimbang bahwa Tamwlang mudah diserang oleh pasukan laut melalui Kali Brantas, istana Kerajaan Medang dipindah ke daerah Watugaluh masih di daerah Jombang, kemudian dipindahkan ke Istana Wwatan di daerah Maospati Kabupaten Magetan. Ketika terjadi serangan besar dari pasukan Sriwijaya yang mendarat di Kali Brantas, pasukan Kerajaan Medang bisa menahan serangan di Desa Anjukladang, meraih kemenangan besar dan Mpu Sindok mulai membangun kekuatan militer dan meluaskan wilayah di Jawa Timur. Di masa Mpu Sindok, Kerajaan Medang menguasai wilayah sampai Kabupaten Malang. Hal ini dibuktikan oleh Prasasti Turyyan yang dibuat oleh Mpu Sindok yang di dalam prasasti ditulis bergelar Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isanawikrama Dharmottunggadewa.

Kekuasaan Kerajaan Medang terhadap wilayah bekas Kerajaan Kanjuruhan ini merupakan penguasaan ulang yang pernah dilakukan oleh Kerajaan Medang di bawah pimpinam Raja Dyah Wawa pada tahun akhir abad 9.  Ekspansi Kerajaan Medang ke Kerajaan Kanjuruhan di wilayah Malang ini ditulis pada Prasasti Sangguran. Prasasti ini sudah menuliskan jabatan Mpu Sindok sebagai Mahamenteri I Hino di Kerajaan Medang Wangsa Sanjaya, yang menunjukkan bahwa Mpu Sindok adalah putra mahkota kerajaan.
Mpu Sindok meninggal dunia digantikan oleh menantunya Sri Lokapala suami dari putri Mpu Sindok, Sri Isyanatunggawijaya. Raja ketiga Kerajaan Medang adalah cucu Mpu Sindok, Makutawangsawardhana yang berkuasa sampai 9xx.  Raja Medang Wangsa Isyana ke-empat adalah Darmawangsa putra Makutawangsawardhana.

Puncak Kejayaan
Kerajaan Medang mengalami perkembangan pesat di bawah pimpinan raja Dharmawangsa. Raja keempat Wangsa Isyana ini berhasil menciptakan keamanan, membangun kekuatan militer yang tangguh dan membangun koalisi dengan kerajaan lain, salah satunya Kerajaan Bedhahulu di Pulau Bali yang dipimpin Raja Udayana. Koalisi ini dikuatkan dengan tali perkawinan antara Raja Udayana dengan adik Raja Dharmawangsa, yaitu Mahendrata. 
Dengan kekuatan pasukan dan koalisinya, Kerajaan Medang melakukan penyerangan beberapa kali ke Wangsa Syailendra sampai kekuatan dari Kerajaan Sriwijaya yang ada di Pulau Jawa terusir kembali ke pusat Kerajaan Sriwijaya di Sumatera. Dharmawangsa juga membangun pasukan laut, sehingga membuatnya mampu  melakukan ekspansi ke pulau lain, termasuk menyerang Kerajaan Sriwijaya di Pulau Sumatera, meskipun gagal menaklukkan Kerajaan Sriwijaya.
Ekspansi Pasukan Darmawangsa ini tertulis dalam Berita China. Berita Cina yang berasal dari catatan yang ditulis pada zaman Dinasti Sung, yang mencatat bahwa antara kerajaan yang berada di Jawa dan Kerajaan Sriwijaya sedang terjadi permusuhan. Diceritakan, Duta Sriwijaya yang datang ke Dinasti Sung mau pulang dari Cina (tahun 990 M), terpaksa harus tinggal dulu di Campa karena terjadi peperangan di Kerajaan Sriwijaya. Pada tahun 992 M, pasukan dari Jawa telah meninggalkan Sriwijaya dan Kerajaan Medang Kamulan dapat memajukan pelayaran dan perdagangan ke Cina. Pada tahun 992 M berita China mencatat tentang datangnya duta persahabatan dari Jawa ke Kerajaan di China.
Selain dari berita China, ekspansi militer oleh pasukan Raja Darmawangsa dari Kerajaan Medang juga tertulis di berita India. Berita dari India mengatakan bahwa Kerajaan Sriwijaya menjalin hubungan persahabatan dengan Kerajaan Chola untuk membendung dan menghalangi kemajuan Kerajaan Medang pada masa pemerintahan Raja Dharmawangsa.

Keruntuhan Kerajaan Medang
Prasasti Pucangan
Kerajaan Medang mencapai puncak kejayaan pada tahun 1006, dengan menjadi kerajaan terkuat di Pulau Jawa. Keluarga Wangsa Isyana memperkuat koalisi dan kekerabatan dengan Kerajaan Bedhahulu melalui pernikahan putri Dharmawangsa dengan putra Raja Udayana, yaitu Erlangga. Pesta perkawinan diadakan di Istana Wwatan. Tapi pesta perkawinan Putri Kerajaan Medang dan Putra Mahkota Kerajaan Bali ini berujung duka. Di saat keluarga kerajaan larut dalam sukacita  pesta pernikahan, istana Kerajaan Medang diserang oleh pasukan Kerajaan Lawram yang dipimpin raja Aji Wurawari, yang merupakan sekutu Kerajaan Sriwijaya. Kejayaan Kerajaan Medang Wangsa Isyana berakhir tragis dan Raja Dharmawangsa tewas di istana. Kejayaan Kerajaan Medang pun berakhir. 
Erlangga dan istrinya berhasil meloloskan diri bersama gurunya yang bernama Narotama. Mereka menyelamatkan diri wilayah hutan di gunung (wana giri), termasuk Gunung Lawu, dan daerah lain, termasuk Jombang. Setelah dalam pelarian selama 3 tahun, Erlangga menyatukan keluarga dan pendukung Kerajaan Medang yang tersisa. Erlangga kemudian membangkitkan kembali Wangsa Isyana dengan membangun istana daerah dekat lereng Gunung Penanggungan yang dikenal sebagai istana Watan Mas. Hanya saja kerajaan yang dibangun oleh Erlangga ini lebih dikenal sebagai Kerajaan Kahuripan. 

Raja-Raja Medang Wangsa Isyana
Kerajaan Medang periode Jawa Timur yang dikenal sebagai Wangsa Insyana dipimpin oleh 4 orang raja, yaitu Mpu Sindok, Sri Lokapala/Sri Isyana Tunggawijaya, Makutawangsawardana, dan Darmawangsa Tguh. Masa kepemimpinan Mpu Sindok bisa dikatakan merupakan masa konsolidasi di Pulau Jawa, yang bisa dilihat dari banyaknya pemberian anugerah sima perdikan yang bisa dilihat dari prasasti yang dibuat, sedangkan masa Darmawangsa merupakan masa ekspansi keluar pulau, yang bisa dilihat dari berita Cina dan Berita India yang menunjukkan adanya ekspansi pasukan Medang keluar Pulau.   
  
Mpu Sindok
Dalam Kerajaan Medang periode Jawa Tengah, Mpu Sindok merupakan pewaris tahta kerajaan. Dalam Prasasti Sangguran nama Mpu Sindok ditulis mempunyai jabatan sebagai Mahamenteri I Hino pada masa Kerajaan Medang dipimpin oleh Dyah Wawa. Setelah Dyah Wawa meninggal dunia, Mpu Sindok mempimpin keluarga kerajaan untuk melakukan eksodus cukup jauh ke arah timur dan membangun pusat pemerintahan di Tamwlang. Ibukota sempat dipindahkan ke Watugaluh, kemudian dipindahkan lagi ke Wwatan di daerah Maospati Kabupaten Magetan.
Perpindahan besar-besaran ini, menurut analisis sejarawan, diidentifikasi disebabkan oleh beberapa hal, yaitu: adanya letusan Gunung Merapi, adanya perebutan kekuasaan antara keturunan Sanjaya dan Syailendra, dan adanya keterlibatan pasukan Kerajaan Sriwijaya dalam perebutan kekuasaan. Adanya letusan gunung disebutkan dalam salah satu prasasti yang dibuat oleh Raja Dyah Balitung, persaingan keturunan Sanjaya dan Syalendra diidentifikasi terjadi antara Rakai Pikatan dan Balaputradewa di pertengahan abad 9, sedangkan keterlibatan pasukan Sriwijaya kembali terjadi pada tahun 937 ketika terjadi perang di daerah Anjukladang.
Mpu Sindok meninggalkan banyak prasasti sebagai bentuk pengukuhan pemberian anugrah kerajaan yang dinilai berjasa besar bagi kerajaan, baik di dalam menaklukkan wilayah maupun dalam bertahan menghadapi serangan musuh. Diantara prasasi yang dibangun oleh Mpu Sindah ditemukan di daerah Kabupaten Malang. Hal ini diduga dilakukan karena wilayah Malang sudah pernah ditaklukan oleh Kerajaan Medang di masa Raja Dyah Wawa, sebagaimana tertulis di Prasasti Sangguran yang dibuat pada tahun 928, atas perintah Dyah Wawa kepada Mpu Sindok. Beberapa prasasti yang dibuat oleh Mpu Sindok diantaranta: prasasti Turyyan, Prasasti Linggasutan (929), Prasasti Gulung-Gulung (929), Prasasti Cunggrang (929), Prasasti Jru-Jru (930), Prasasti Waharu (931), Prasasti Sumbut (931), Prasasti Wulig (935), Prasasti Anjukladang (937). Dalam berbagai prasasati tersebut, Mpu Sindok ditulis bergelar “Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isanawikrama Dharmottunggadewa”.

Sri Isyana Tunggawijaya
Mpu Sindok meninggal pada tahun 947 dan digantikan oleh putrinya Sri Isyana Tunggawijaya. Dalam Prasasti Pucangan yang dibuat oleh Raja Erlangga pada tahun 1041, putri Mpu Sindok memimpin Kerajaan Medang bersama suaminya yang merupakan putra Raja Bali yang bernama Sri Lokapala. Tidak banyak sumber informasi tentang masa kepemimpinan Sri Isyana Tunggawijaya dan Sri Lokapala. Salah satu sumber informasi yang dikeluarkan oleh kerajaan adalah Prasasti Gedangan yang dibuat pada tahun 950. Meskipun begitu, prasasti yang ditemukan bukan prasasti otentik yang dikeluarkan oleh Sri Isyawan Tunggawijaya maupun Sri Lokapala, melainkan prasasti salinan yang dibuat oleh Kerajaan Majapahit. Prasasti ini berisi penganugerahan Desa Bungur Lor dan Desa Asana pada para pendeta Buddha di Bodhinimba.

Makutawangsawardhana
Raja Ketiga Kerajaan Medang Wangsa Isyana adalah Makutawangsawardhana. Tidak banyak sumber informasi yang berasal dari prasasti atau dokumen kerajaan yang dibuat di masa cucu Mpu Sindok ini. Sumber informasi yang cukup banyak ada di Prasasti Pucangan, yang dibuat oleh Raja Erlangga, pada tahun 1041. Dalam prasasti yang kini tersimpan di Museum Calcuta India ini, Makutawangsawardhana adalah putra Sri Isyana Tunggawijaya dan Sri Lokapala. Makutawangsawardhana mempunyai putri bernama Mahendrata yang menikah dengan raja Bali bernama Udayana.

Dharmawangsa
Pengganti Makutawangsawardhana adalah Darmawangsa. Nama raja keempat Kerajaan Medang Wangsa Isyana ini tertulis di Prasasti Pucangan sebagai mertua Erlangga. Meskipun dalam prasasti yang dibuat tahun 1041 ini Darmawangsa tidak disebutkan sebagai putra Makutawangsawardhana, beberapa ahli sejarah menyimpulkan bahwa Darmawangsa adalah saudara Mahendrata, ibu Erlangga. Dalam hal ini Darmawangsa mewarisi tahta dari Makutawangsawardana, sedangkan Mahendrata adiknya dinikahkan dengan raja Bali yang bernama Udaya.
Selain di Prasasti Pucangan, informasi tentang Kerajaan Medang di masa Raja Darmawangsa juga dicatat dalam berita China dan Berita India. Catatan dari China terutama berkaitan dengan persaingan antara Kerajaan Medang dengan Kerajaan Sriwijaya. Berita dari India mencatat bahwa Kerajaan Sriwijaya menjalin kerjasama dengan Kerajaan Kola di India untuk membendung pengaruh Kerajaan Medang yang mulai melakukan ekspansi keluar Jawa. Berita Cina mencatat adanya utusan atau duta persahabatan dari Kerajaan Sriwijaya yang datang ke Cina tinggal di Campa selama satu tahun karena sedang terjadi perang di Kerajaan Sriwijaya. Satu tahun kemudian, Kerajaan Medang juga mengirim duta persahabatan ke Cina demikian juga Kerajaan Sriwijaya.
Di puncak kejayaannya, Darmawangsa berusaha memperkuat koalisi dengan Kerajaan Bedahulu di Pulau Bali. Dia menikahkan putrinya putra raja Bedhahulu, yang juga merupakan keponakannya yang bernama Erlangga. Ketika pesta pernikahan sedang berlangsung, Istana Kerajaan Medang diserang oleh pasukan Kerajaan Lawram yang dipimpin raja bawahan Aji Wurawari. Penyerangan ini melibatkan pasukan Kerajaan Sriwijaya yang mendukung pasukan Aji Wurawari. Serangan mendadak ini mengakhiri kejayaan Kerajaan Medang, bahkan menewaskan Raja Darmawangsa.
Erlangga dan istrinya berhasil melarikan diri dengan pengawalnya. Setelah mengembara dari hutan ke hutan, ke gunung dan lembah sungai, 3 tahun kemudian Erlangga mendirikan kerajaan di Lereng Gunung Penanggungan di tahun 1009. Pada tahun 1041, Erlangga menuliskan peristiwa serangan mendadak ke istana Medang di hari pernikahannya ini dalam Prasasti Pucangan dan menyebutnya sebagai “Maha Pralaya”.  

Peristiwa Penting
Prasasti Jru Jru
Ada beberapa peristiwa penting yang tercatat dalam sejarah Kerajaan Medang Wangsa Isyana, diantaranya: (1) pemindahan pusat kerajaan ke Jawa Timur, (2) pendudukan wilayah bekas Kerajaan Kanjuruhan, (3) Perang Anjukladang, (4) ekspansi ke Kerajaan Sriwijaya, dan (5) Mahaprlaya.
  1. Pemindahan pusat kerajaan ke Jawa Timur dilakukan pada tahun 929 setelah Raja Dyah Wawa meninggal dan Mpu Sindok sebagai Mahamantri I Hino memegang kendali kerajaan. Pertama kali pusat kerajaan dibangun di Tamwlang kemudian ke Watugaluh di Daerah Jombang, kemudian dipindah ke Wwatan, di Kecamatan Maospati Kabupaten Magetan.
  2. Pendudukan bekas Kerajaan Kanjuruhan dilakukan oleh Mpu Sindok untuk memastikan bahwa pendukungnya masih setia setelah Mpu Sindok menaklukkan wilayah Malang pada tahun 928. Peristiwa ini tertulis dalam Prasasti Sangguran yang dibangun oleh Mpu Sindok atas perintah raja Dyah Wawa. Pendudukan kembali wilayah bekas Kerajaan Kanjuruhan ini ditandai dengan banyaknya prasasti yang dibangun oleh Mpu Sindok di daerah Kabupaten Malang. Ada prasasti Turyyan di Turen, prasasti  Gulung-Gulung, prasasti Jru-Jru dan Prasasti Waharu.
  3. Perang Anjukladang terjadi ketika ibukota sudah dipindahkan ke Wwatan. Dalam peristiwa ini Pasukan lain Kerajaan Sriwijaya melakukan penyerangan melalui Sungai Brantas, kemudian bergerak ke arah barat, dan ditahan oleh Pasukan Medang di Desa Anjukladang, yang kini menjadi Kabupaten Nganjuk. Atas jasa pemimpin desa yang membantu menahan serangan Pasukan Kerajaan Sriwijaya, Mpu Sindok memberikan anugrah sima swatantra yang dikukuhkan dengan pembangunan Candi Lor dan delengkapi dengan Prasasti Anjukladang.
  4. Ekspansi ke Kerajaan Sriwijaya dilakukan oleh raja keempat, yaitu Dharmawangsa. Ekspansi armada laut Dharmawangsa ini dilakukan pada tahun 992 setelah sebelumnya berhasil mengusir keberadaan pendukung Kerajaan Sriwijaya di Pulau Jawa. Dalam serangan ini pasukan Kerajaan Medang berhasil menduduki ibukota Kerajaan Sriwijaya tapi kemudian dipukul mundur kembali ke Pulau Jawa. Berita China menulis peristiwa ini dengan menceritakan duta persahabatan Kerajaan Sriwijaya yang tidak bisa pulang karena sedang terjadi perang di Kerajaan Sriwijaya.
  5. Mahapralaya yang berarti kematian besar menunjuk peristiwa penyerangan pasukan Aji Wurawari ke istana Kerajaan Medang pada saat berlangsung pesta pernikahan putri Darmawangsa dengan putra raja Bali Udayana, yang bernama Erlangga. Dalam serangan ini istana Kerajaan Medang hancur dan Raja Darmawangsa tewas. Serangan mendadak yang didukung oleh pasukan Kerajaan Sriwijaya ini dicatat dalam Prasasti Pucangan yang dibuat pada tahun 1041 atau 35 tahun setelah peristiwa.


Peninggalan Kerajaan Medang
Ada beberapa bukti sejarah yang menjelaskan keberadaan Medang, terutama berupa prasasti batu, baik yang dibangun di masa Mpu Sindok sampai dengan Erlangga mendirikan Kerajaan Kahuripan. Beberapa prasasti ini diantaranya Prasasti Turyyan yang ditemukan di Kecamatan Turen di Malang, Prasasti Anjukladang di Kabupaten Nganjuk, dan Prasasti Pucangan yang ditemukan di lereng Gunung Penanggungan. Prasasti Turyyan merupakan tugu batu untuk pegukuhan pemberian anuegrah sima perdikan kepada penduduk daerah Turyyan. Prasasti Anjukladang merupakan tugu batu bertulis yang dibuat oleh Mpu Sindok untuk mengukuhkan pemberian anugerah sima perdikan kepada penduduk daerah Anjukladang.
Prasasti Pucangan dibuat oleh Raja Airlangga, yang dibangun di Gunung Pucangan. Prasasti Pucangan merupakan informasi paling lengkap tentang keberadaan Kerajaan Medang di Jawa Timur, di bawah kepemimpinan Wangsa Isyana. Selain menjelaskan silsilah Raja Erlangga mulai dari Mpu Sindok, Prasasti Pucangan menceritakan peristiwa penyerangan oleh Kerajaan Lawram yang terjadi di hari pernikahan Erlangga dengan putri Dharmawangsa. Prasasti Pucangan dibawa oleh Stamford Raffles ke India di awal abad 19 untuk dipersembahkan pada atasannya Lord Minto, dan hingga saat ini ada di Museum Kalkuta di India.

Prasasti Turyan (929).
Prasasti Turyyan dikenal juga dengan sebutan Prasasti Watu Godeg karena ditemukan Kampung Godeg Kelurahan Tanggung, Kecamatan Turen Kabupaten Malang. Prasasti ini berbentuk lempeng batu setinggi 130 cm, lebar 118 cm dan tebal 21 cm, yang masih berdiri di tempatnya. Prasasti Turyyan dibangun sebagai pengukuhan atas pemberian tanah oleh Mpu Sindok kepada kepada tokoh Desa Kulawara untuk mendirikan bangunan suci. Naskah dalam prasasti ini ditulis bolak-balik, di bagian depan terdiri dari 43 baris dan di bagian belakang terdiri dari 32 baris. Dari Dari hasil riset JG de Casparis dalam tulisannya  “Where Was Pu Sindok’s Capital Situated?” diketahui struktur Kerajaan Medang yang terdiri dari Rakai, Rakryan, Samgat, Pu, Sang Dyah, dan Si. 
Mpu Sindok menjadi Raja Medang sebagai pendiri Wangsa Isyana, seperti bisa dilihat pada gelarnya “Sri Maharaja Rakai Hino Sri Isanawikrama Dharmottunggadewa”. Prasasti ini berisi tentang permohonan Dang Atu Mpu Sahitya pada Mpu Sindok, agar tanah di sebelah barat sungai desa Turyan dijadikan bangunan suci. Prasasti ini merupakan satu-satunya sumber informasi bahwa sebelum beristana di Wwatan di daerah Magetan, Kerajaan Medang mempunyai pusat kota di Tamwlang atau Tembelang di Kabupaten Jombang saat ini.

Prasasti Gulung-Gulung (929)
Prasasti ini ditemukan di Kecamatan Singasari Kabupaten Malang, sehingga prasasti ini juga dikenal sebagap Prasasti Singasari 5. Prasasti ini berupa batu yang dibentuk menjadi lempengan yang didirikan tegak yang dibentuk limas berukir di bagian atasnya. Naskah ditatah dalam aksara Jawa Kuno dalam Bahasa Sanskerta. Prasasti ini berisi tentang pemberian anugrah sima perdikan bagi lahan pertanian di Gulung-Gulung. Tertulis dalam prasasti bahwa Rakryān Hujung pu Maduraloka memohon kepada Śrī Mahāraja Rake Halu Pu Siṇḍok Śrī Iśānawikrama Dharmottuṅgadewa agar diperbolehkan menetapkan sebidang sawah di Gulung-gulung yang telah dihadiahkan kepadanya seluas 7 tapak dijadikan sima. Ia juga memohon tambahan, berupa sebagian hutan yang terletak di bantaran sungai agar juga dijadikan śīma. Tujuannya untuk dijadikan tanah wakaf (dharma ksetra), berupa tanah sawah di Kuśāla bagi bangunan suci Rakryān Hujung, yaitu sang hyang mahāprāsāda di Desa Hemad. Penghasilan sawah itu akan dijadikan persembahan bagi sang Hyang Kahyaṅan Paṅawan.

Prasasti Cunggrang (929)      
Prasasti ini ditemukan di Dusun Sukci, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Prasasti ini berbentuk tugu batu yang dibentuk lempeng yang melebar di didi atasnya. Dari naskah yang diukir di batu, prasasti ini dibuat pada tahun saka 851/929 M, atas perintah raja Medang yang bergelar çrī mahārāja rake hino pu sindok çrī īçāna wikrama dharmmottungga.
Isi dari Prasasati Cunggrang adalah penetapan Desa Cunggrang sebagai daerah perdikan yang bertugas sebagai penjaga pertapaan di Pawitra yang ada di Gunung Penanggungan. Prasasti Cunggrang juga menyebutkan tentang adanya pancuran yang diyakini adalah Candi Belahan/Patirtan Belahan pada kalimat “sang hyang tīrtha pancūran ing pāwitra” yang berarti pancuran atau patirtan yang suci di Gunung Pawitra.

Prasasti Jru-Jru (930) 
Prasasti Jeru-Jeru ditemukan di daerah Singosari, Kabupaten Malang, sehingga dikenal juga sebagai Prasasti Singasari IV. Prasasti Jru-Jru. Naskah prasasti ditatah dalam lempeng batu besar berbentuk seperti halaman buku dengan dihiasi gunungan. Prasasti dalam kondisi bagus tersimpan di Museum Nasional di Jakarta, dengan nomor inventaris D.70.  
Prasasti Jru-Jru menyebutkan bahwa pada bulan Bhadrawada tanggal 11 Krsnapaksa tahun 852 Saka (26 Mei 930 M) Rakryān Hujung memohon kepada raja Pu Sindok  agar diperkenankan menetapkan Desa Jru-Jru yang merupakan anak Desa Linggasutan yang masuk wilayah Rakryān Hujung sendiri, menjadi wakaf berupa sawah bagi bangunan suci Rakryān Hujung, yaitu Sang Śāla di Himad. Permohonan itu dikabulkan raja.

Prasasti Waharu (931)
Prasasti ini dikenal sebagai Prasasti Waharu IV berangka tahun 853 Çaka atau 931 M yang dikeluarkan oleh Mpu Sindok. Prasasti berupa lempeng tembaga berukuran 36 x 10 cm sebanyak 6 buah. Setiap lempeng memuat 7 baris tulisan yang ditulis pada kedua sisinya, kecuali lempeng pertama. Prasasti ini ditemukan di daerah Gresik, Jawa Timur, merupakan prasasti dari Raja Pu Sindok yang disalin kembali pada masa Majapahit. Kini disimpan di Museum Nasional, Jakarta, dengan nomor E 20 a-f. Prasasti ini diantaranya dialihaksarakan oleh Boechari dan A.S. Wibowo pada tahun 1985/1986.
Prasasti Waharu dibuat sebagai pengukuhan pemberian anugrah bagi penduduk Desa Waharu karena pemimpinnya senantiasa berbakti kepada raja terutama, ikut terlibat dalam peperangan, pada waktu Mpu Sindok hendak membinasakan musuh-musuhnya yang dianggap sebagai perwujudan kegelapan. Meskipun ditemukan di Gresik, prasasti ini dimaksudkan sebagai pengukuhan bagi Desa Waharu yang terletak di Wilayah Kabupaten Malang yang kini dikenal sebagai Lowok Waru.

Prasasti Anjukladang (937)
Prasasti Ajukladang ditemukan di Desa Candirejo, Loceret, Nganjuk. Prasasti ini dinamakan sebagai Prasasti Ajukladang berdasarkan nama daerah yang diberikan anugrah perdikan oleh Mpu Sindok. Prasasti ini juga dikenal sebagai Prasasti Candi Lor karena ditemukan reruntuhan Candi Lor. Saat ini Prasasti Ajukladang menjadi koleksi Museum Nasional di Jakarta.
Dari beberapa tulisan didapatkan keterangan bahwa "Raja Pu Sindok telah memerintahkan agar tanah sawah di Anjukladang dijadikan sima dan dipersembahkan kepada Bathara di Sang Hyang Prasada Kabhaktyan di Sri Jayamerta, Dharma dari Samgat Anjukladang". Menurut J.G. de Casparis, penduduk Desa Anjukladang mendapat anugerah raja dikarenakan telah berjasa membantu pasukan raja di bawah pimpinan Pu Sindok untuk menghalau serangan tentara Malayu (Sumatera) ke Mataram Kuno yang pada saat itu telah bergerak sampai dekat Nganjuk. De Casparis juga menuliskan bahwa dalam prasasti itu disebutkan bahwa Raja Pu Sindok mendirikan tugu kemenangan setelah berhasil menahan serangan raja Malayu, dan pada tahun 937 M, tunggu tersebut digantikan oleh sebuah candi. Kemungkinan besar bangunan suci yang disebutkan dalam prasasti ini adalah bangunan Candi Lor yang terbuat dari bata.
Melengkapi prasasti-prasasti di atas, ada beberapa prasasti lain, diantaranta Prasasti Linggasutan (929) yang merupakan prasasti penetapan desa Linggasutan, wilayah Rakryan Hujung Mpu Madhura Lokaranjana, sebagai sima swatantra untuk menambah biaya pemujaan bathara di Walandit setiap tahunnya. Juga ada Prasasti Sumbut (931) yang berisi tentang penetapan desa Sumbut sebagai sima swatantra, Prasasti Wulig (935) yang berisi tentang peresmian bendungan di Wuatan Wulas dan Wuatan Tamya yang dilakukan Rakryan Mangibil, dan Prasasti Gedangan (950) yang berisi penganugerahan Desa Bungur Lor dan Desa Asana pada para pendeta Buddha di Bodhinimba.

Sumber: Marwati Poesponegoro & Nugroho Notosusanto. 1990. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Balai Pustaka; Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Bhratara; Slamet Muljana. 2006. Sriwijaya (terbitan ulang 1960). LKIS; Terjemahan Prasasti Sangguran, Terjemahan Prasasti Pucangan, Terjemahan Prasasti Jru-Jru.