April 03, 2018

Kitab Pararaton, Dongeng Historis tentang Ken Arok dan Keturunannya


Agus Wibowo

Serat Pararaton di Perpustakaan Nasional
Kitab Pararaton berkisah tentang Ken Arok sebagai tokoh yang menurunkan raja-raja Jawa, mulai dari Kerajaan Singasari sampai runtuhnya Kerajaan Majapahit. Penulis kitab ini tidak menyebutkan namanya, hanya menyebutkan waktu penulisan, yaitu tahun 1613 masehi. Kitab ini terdiri dari 18 pupuh, tapi pupuh pertama sepanjang hampir setengah dari keseluruhan naskah, yang mengisahkan Ken Arok dari bayi sampai menjadi raja dan menaklukkan Kediri. 
Kitab ini menceritakan sosok dan sepak terjang Ken Arok dari lahir, anak-anak, dewasa, menjadi raja sampai wafat. Bahkan di bagian awal dikisahkan kehidupan ibunya ketika Ken Arok di dalam kandungan. Singkat kisah, Ken Arok dilahirkan oleh seorang perempuan istri petani bernama Ken Endok yang dibuat hamil oleh Dewa Brahma. Karena dilahirkan tanpa ayah, bayi Ken Arok dibuang ke pemakaman bayi kemudian ditemukan oleh pencuri yang tersesat dan melihat cahaya dari kuburan yang ternyata berasal dari bayi Ken Arok. Mendengar kabar ada seseorang menemukan bayi yang memancarkan cahaya, Ken Endok datang dan mengakui Ken Arok adalah anaknya, meskipun mengijinkan sang pencuri mengangkat Ken Arok sebagai anak.

Setelah usia anak-anak, Ken Arok begitu sering membuat masalah yang merepotkan orang tuanya. Ketika menjadi penggembala kerbau, kerbaunya hilang sehingga orang tuanya dihukum menjadi budak. Ken Arok kabur meninggalkan desa dan ditemukan seorang penjudi bernama Bonggo Samparan dan diangkat anak karena dianggap membawa keberuntungan. Ken Arok pergi karena sering ribut dengan anak-anak Bonggo Samparan dan bertemu anak Kepala Desa Seganggeng bernama Tita dan kembali menjadi penggembala.
Berteman dengan anak kepala desa membuat nasib Ken Arok membaik, dimana ia sempat mendapatkan pendidikan, belajar baca tulis dan belajar tentang almanak. Hanya saja, kenakalan Ken Arok kembali muncul, bahkan menjadi tindakan kriminal. Ketika tinggal berdua dengan Tita, Ken Arok sering melakukan pembegalan kepada orang-orang yang lewat. Ulah Ken Arok menimbulkan keresahan masyarakagt di lereng timur Gunung Kawi dan laporannya sampai ke Kadipaten Tumapel bahkan sampai ke Istana Kerajaan Kediri di Daha. Ken Arok menjadi buronan kerajaan, bersembunyi di hutan dan hidup dengan mencuri makanan petani yang bekerja di sawah di pinggir hutan.
Dalam pelariannya Ken Arok sekali lagi diangkat anak oleh pembuat emas dan dia diajarkan cara-cara pembuatan kerajinan dari emas sampai tuntas. Singkat kisah, akhirnya Ken Arok bertemu dengan seorang pendeta Hindu bernama Begawan Lohgawe dan kembali diangkat anak. Ken Arok diajak tinggal di pertapaan Begawan Lohgawe dan mempelajari beberapa kitab. Begawan Lohgawe kemudian mengantarkan Ken Arok ke istana Tumapel untuk mengabdi kepada Adipati Tumapel yang bernama Tunggul Ametung. Atas jaminan Begawan Lohgawe, Tunggul Ametung menerima Ken Arok untuk mengabdi di Tumapel, sampai akhirnya menjadi orang kepercayaan sang Adipati. Dari sini kisah petualangan Ken Arok berganti dari kenakalan dan kriminal ke petualangan kekuasaan.
Bermula dari cahaya yang dilihatnya pada kaki Ken Dedes yang tersingkap, Ken Arok mulai mengembangkan ambisi kekuasaan begitu mendapatkan penjelasan bahwa cahaya tersebut merupakan ‘jalan’ menuju pada kekuasaan. Ken Arok menyusun rencana untuk membunuh Tunggul Ametung, untuk bisa menikahi Ken Dedes yang menurut Lohgawe akan menurunkan raja-raja di Jawa. Singkat kisah, dengan keris yang dipesan kepada Empu Gandring, Ken Arok berhasil membunuh Tunggul Ametung. Bahkan Ken Arok berhasil menanamkan jasa besar dari pembuhunan Tunggul Ametung, dengan mengorbankan Kebo Ijo yang dikenal sebagai pemilik keris yang tertancap di tubuh Tunggul Ametung. Ken Arok dipercaya menjadi penguasa Tumapel dan menikahi Ken Dedes.
Pararaton menceritakan bahwa Ken Arok punya  beberapa anak, yang pertama adalah anak tiri bernama Anusapati, anak Ken Dedes dengan Tunggul Ametung. Dari Ken Dedes dia punya 4 anakbernama Mahisa Wong Ateleng, Apanji Saprang, Agnibaya, dan Dewi Rimbu. Dengan istri muda Ken Umang, Ken Arok punya enak anak Panji Tohjaya, Twan Wregola dan Dewi Rimbi.
Setelah berhasil meluaskan kekuasaan di wilayah sisi timur Gunung Kawi, Ken Arok ingin memperluas kekuasaan dengan merebut wilayah sisi barat Gunung Kawi yang dipimpin raja bernama Dandang Gendis. “Pucuk dicinta ulam tiba”, keinginan Ken Arok mendapatkan dukungan dari para brahmana yang marah kepada Dandang Gendis yang meminta para brahmana tunduk dan menyembah Dandang Gendis karena kesaktiannya. Akhirnya terjadi perang antara Pasukan Kediri dan Pasukan Tumapel pada tahun 1222, yang dimenangkan oleh pasukan Ken Arok. Ken Arok menyatukan dua wilayah yang dipisahkan oleh Gunung Kawi, dan dia memimpin dari Tumapel.
Setelah menyatukan dua kerajaan, Ken Arok malah menghadapi ancaman perebutan kekuasaan dari anaknya bernama Anusapati, yang merupakan anak Ken Dedes dari Tunggul Ametung yang dibunuh Ken Arok. Ken Arok dibunuh oleh orang suruhan Anusapati yang akhirnya tahu ayahnya dibunuh oleh Ken Arok. Anusapati dibunuh oleh putra Ken Arok dari Ken Umang setelah disergap dalam permainan adu jago.
Pararaton menuliskan kisah Kerajaan Tumapel sampai di Puncak Kejayaan ketika Wisnuwardana menjadi Raja dan mengubah nama kerajaan menjadi Singasari, Sri Kertanegara menjadi raja dan melakukan ekspedisi Pamalayu sampai keruntuhannya oleh pemberontakan yang dilakukan oleh Bupati Gelang-Gelang  bernama Jayakatwang.

Raden Wijaya Mendirikan Majapahit
Kisah lain yang ditulis secara detil adalah tentang Raden Wijaya pendiri Kerajaan Majapahit. Sosok Raden Wijaya muncul ketika terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Pasukan Jayakatwang. Ketiga terjadi kerusuhan di sisi utara, Raden Wijaya diperintah Sri Kertanegara untuk menumpas. Ternyata datang serang lebih besar dari selatan yang langsung mengepung istana. Raden Wijaya berhasil menumpas kerusuhan di utara kota, tapi Istana Singasari sudah dihancurkan musuh dan Raja Kertanegara wafat dalam serangan Pasukan Jayakatwang.
Raden Wijaya dan pasukan sempat melakukan perlawanan untuk membebaskan putri Kertanegara yang ditawan, justru menjadi buronan pasukan Jayakatwang, kemudian memutuskan untuk meminta perlindungan kepada Aria Wiraraja di Sumenep di Pulau Madura. Aria Wiraraja menerima dengan baik dan bersedia membantu Raden Wijaya untuk merebut kembali kekuasaan dari Jayakatwang. Diceritakan bahwa Raden Wijaya berjanji memberikan separuh wilayah kerajaan apabila berhasil mengalahkan Jayakatwang yang berkuasa di Kediri.
Setelah berpura-pura takluk dan mengabdi, Raden Wijaya mendapatkan kepercayaan untuk membaka hutan Tarik dan membangun kekuatan. Koalisi Raden Wijaya dan Aria Wiraraja berhasil mengalahkan Jayakatwang dengan memanfaatkan pasukan Mongol yang datang untuk menghukum Sri Kertanegara, kemudian pasukan Mongol diusir dengan tipu muslihat dan perang gerilya. Pada babak ini, Pararaton menceritakan kehebatan Aria Wiraraja yang punya banyak akal dan semuanya berhasil. Kerajaan Majapahit pun dideklarasikan pada 10 November 1293, Raden Wijaya dilantik menjadi raja dengan gelar Kertarajasa Jayawardana. Aria Wiraraja dan keluarganya menempati posisi-posisi strategis di Kerajaan Majapahit dan Aria Wiraraja mendapatkan separuh wilayah yang membentang di timur Gunung Kawi dengan pusatnya di Lumajang.

Peristiwa Penting di Masa Majapahit
Kisah tentang Majapahit banyak berkaitan dengan beberapa peristiwa penting, diantaranya Kedatangan Pasukan ekspedisi Pamalayu, Pemberontakan Ranggalawe, Pemberontakan Sora, Pemberontakan Nambi, Pemberontakan Kuti, Pembunuhan Jayanegara, Perang Bubad, Perang Paregreg, sampai Perang antara Bre Kertabhumi dan Singhawikramawardhana yang berakhir pada tahun 1400 Saka atau 1478 masehi –yang kemudian memunculkan candra sengkala tahun yang terkenal oleh Babad Tanah Jawi yaitu “Sirna Ilang Kertaning Bhumi” yang berarti yahun 1400, yang banyak dipahami sebagai tahun hilangnya Kerajaan Majapahit.
Nama Gajah Mada muncul di bagian ini, ketika terjadi Pemberontakan Kuti pada saat Gajah Mada menjadi komandan jaga istana yang bernama Pasukan Bayangkara. Bekel Gajah Mada membawa Raja Jayanegara sampai ke Desa Badander di Bojonegoro, ketika Istana Kerajaan dikuasai oleh Ra Kuti. Gajah Mada kemudian berhasil mengalahkan Ra Kuti dan mengembalikan Jayanegara kembali ke Istana. Atas jasanya, Gajah Mada diangkat menjadi patih di Kahuripan, kemudian menjadi patih di Daha.   
Ketika Tribuana Tunggadewi menjadi ratu, Gajah Mada ditawari untuk menjadi mahapatih Majapahit karena Arya Tadah merasa sudah tua dan sakit-sakitan. Gajah Mada awalnya tidak bersedia, tapi kemudian bersedia setelah padamnya pemberontakan di Sadeng dan Keta, dua wilayah yang ada di wilayah bekas kekuasaan Aria Wiraraja yaitu di Jember dan Panarukan.
Pelantikan Gajah Mada menjadi mahapatih Majapahit menjadi peristiwa yang monumental karena dia mengucapkan sumpah Amukti Palapa dalam pidato pengukuhannya. Sumpah ini dianggap menjadi titik awal penyatuan wilayah nusantara di bawah kepemimpinan Majapahit. Sumpah Palapa di masa Orde Baru diabadinya menjadi nama satelit yang menyatukan wilayah Indonesia dalam satu jaringan komunikasi.

Nilai Sejarah Pararaton
Prasasti Mula Malurung di Museum Nasional
Pada bagian awal, kitab Pararaton berisi kisah yang bersifat legenda dan mistik, seperti Ken Endok yang hamil dari sesosok dewa, bayi Ken Arok yang memancarkan cahaya dan lain-lain. Hal ini mengesankan bahwa kisah tentang Ken Arok lebih mirip sebagai sebagai legenda. Apalagi Pararaton ditulis oleh penulis yang tidak menyebutkan namanya, dan ditulis pada abad 16, atau 300 tahun setelah berdirinya kerajaan Singasari di tahun 1222. Meskipun begitu, beberapa informasi yang diceritakan dalam Kitab Pararaton terkonfirmasi oleh beberapa bukti sejarah yang berupa prasasti.
Tentang Tumapel yang melepaskan diri dari Kediri di tahun 1205 terkonfirmasi pada Prasasti Lawadan yang dibangun atas perintah Kertajaya. Al kisah Kertajaya mengerahkan pasukan untuk menghukum Ken Arok yang memisahkan diri dari Kediri. Dalam peperangan ini pasukan Kediri kalah dan Kertajaya mundur melarikan diri dan mendapatkan perlindungan dari penduduk Desa Lawadan di Tulungagung. Atas jasa penduduk ini, Kertajaya memberikan penghargaan berupa tanah perdikan yang dikukuhkan melalui Prasasti Lawadan.
Bukti sejarah lain adalah Prasasti Mula Malurung yang dibuat pada tahun 1255 atas perintah Raja Singasari Wisnuwardana yang dilaksanakan oleh Kertanegara sewaktu menjadi raja muda dan beristana di Kediri.  Prasasti yang ditulis dalam 12 lempeng  tembaga ini menuliskan silsilah dan keluarga kerajaan Singasari, bahkan keturunan Kertajaya yang dikalahkan oleh Ken Arok di tahun 1222. Dibandingkan dengan Prasasti Mula Malurung, informasi tentang istri dan anak-anak Ken Arok relatif tepat. Informasi yang tidak akurat di dalam Pararaton adalah tentang posisi raja yang kesannya hanya satu saja yang berkedudukan di Singasari.
Dalam Prasasti Mula Malurung dijelaskan bahwa setelah mengalahkan Kertajaya, Ken Arok tetap berkuasa di Istana Singasari sedangkan di istana Kediri Ken Arok menempatkan putranya sulunya dari Ken Dedes, yaitu Mahisa Wongateleng. Setelah Ken Arok terbunuh di istana, Anusapati naik tahta di Singasari sedangkan di istana Kediri tetap Mahisa Wongateleng yang kemudian digantikan oleh adiknya Agnibaya atau Guningbaya. Setelah Anusapati terbunuh pada penyergapan dalam permainan sabung ayam, Tohjaya naik tahta di Kediri menggantikan Agnibaya, sedangkan Anusapati digantikan oleh putranya bernama Wisnuwardana. Melalui kerjasama dengan putra Mahisa Wongateleng, Wisnuwardana mengalahkan Tohjaya dan menyatukan kembali istana Singasari dengan istana Kediri. Dalam hal ini Wisnuwardana menjadi raja berkedudukan di Singasari, dan mendudukkan putranya Kertanegara menjadi raja muda di istana Kediri.
Informasi sampai Kertanegara sampai masa Majapahit bisa relatif banyak kesamaan dengan sumber sejarah lainnya, seperti Kertanegara dan beberapa prasasti. Ketidaksesuaian ditemukan berkaitan dengan waktu terjadinya peristiwa. Pemberontakan Ranggalawe dan pembangkangan Sora dalam versi Pararaton terjadi di masa raja kedua Majapahit, sementara sumber lain mencatat, kedua peristiwa tersebut terjadi pada masa Raden Wijaya menjadi raja. Terlepas dari perbedaan tentang waktu terjadinya peristiwa, banyak kisah dan informasi yang disampaikan dalam Pararaton merupakan peristiwa yang memang terjadi dan tentang tokoh-tokoh yang memang ada –bukan rekaan semata.

Sumber Rujukan
Terjemahan Serat Pararaton - Alang-alang Kumitir
Terjemahan Kakawin Negarakertagama - Prof Slamet Mulyana.  
Terjemahan Prasasti Mula Malurung - Siwi Sang