April 03, 2018

Prasasti Kamalagyan, Peneguhan Tanah Perdikan Bagi Penjaga Bendungan Brantas


Agus Wibowo 

Prasasti Kamalagyan ditemukan di Dusun Klagen, Desa Tropodo, Kecamatan Krian Kabupaten Sidoarjo. Prasasti ini dibuat dari lempeng batu andesit besar yang ditegakkan, dengan ukuran lebar 115 sentimeter, tebal 28 sentimeter dan tinggi 215 sentimeter. Selain prasasti utama dalam ukuran besar, ada juga batu kecil di sampingnya. Pesan di prasasti ditatah dalam huruf Jawa Kuno dan dalam bahasa Jawa Kuno. Tulisan yang ditemukan dan bisa dibaca sebanyak 23 baris.  Prasasti ini termasuk prasasti yang masih ada ditempatnya, dimana saat ini dilindungi dengan bangunan joglo berlantai dan beratap, yang melindungi prasasti dari panas matahari dan hujan.

Prasasti ini menjelaskan tentang pembangunan bendungan di Wringin Sapta yang dilakukan oleh Raja Erlangga bersama dengan rakyat. Bendungan dibangun untuk mengatasi banjir yang sering menerjang beberapa desa maupun tanah perdikan. Beberapa desa di daerah hilir yang sering banjir diantaranya  Desa Lusun, Panjuwan, Sijanatyesan, Panjiganting, Talan, Dasapangkah dan  dan Desa Pangkaja. Selain desa pertanian tersebut ada juga beberapa daerah sima, diantaranya Kalang, Kalagyan, Thani Jumput dan beberapa tempat peribadatan seperti biara-biara, bangsal-bangsal kamulan untuk para pertapa, bangunan suci tempat pemujaan dewa, dan pertapaan-pertapaan, terutapa daerah Labapura bagi sang Hyang Dharmma ring Isanabhawana di Surapura.
Banjir ini sering menghancurkan sawah-sawah, sehingga pajak yang masuk kas kerajaan menjadi berkurang. Tidak sekali dua kali rakyat membuat tanggul, tetapi tidak berhasil menanggulangi banjir. Raja Erlangga pun akhirnya mengerahkan seluruh rakyat untuk bekerja bakti membuat bendungan.
Prasasti menyebutkan bahwa pembuatan bendungan oleh raja ini begitu kukuh dan kuat sehingga bisa menahan aliran air Sungai Brantas, yang dipecah menjadi dua dan dialirkan ke arah utara. Bendungan ini langsung dirasakan manfaatnya oleh desa-desa pertanian karena sawah-sawah dapat dikerjakan lagi. Selain bermanfaat untuk pertanian, bendungan Waringin Sapta juga memberikan manfaat bagi perdagangan yang banyak dilakukan melalui melalui sungai dengan moda transportasi perahu. Disebutkan bahwa “Bersukacitalah mereka yang berperahu ke arah hulu, mengambil dagangan di Hujung Galuh, termasuk para pedangang dan nahkoda dari pulau-pulau lain yang berkumpul di Hujung Galuh (Surabaya)”.
Menimbang besarnya manfaat bendungan bagi pertanian dan perdagangan dari daerah hulu ke hilir, raja berpikir tentang kemungkinan penghancuran yang dilakukan oleh musuh. Untuk itu, Raja Erlangga memberikan tugas kepada masyarakat di  beberapa desa untuk menjaga bendungan, terutama kepada penduduk Desa Kamalagyan. Sebagai imbalannya penduduk Desa Kamalagyan diberikan imbalan berupa bagian pajak. Mereka mendapatkan bagian pajak seperti yang telah disebutkan di atas, yaitu jumlah yang dikurangkan dari pajak yang semestinya disetor ke kas kerajaan. Imbalan berupa pengurangan pajak ini dijelaskan cukup detil di dalam prasasti, diantaranya sebagai berikut:
-    1. Pajak dari wilayah pangkaja, kebon sirih, tepian sungai dan rawa-rawa yang sebesar emas 17 swarna, 14 masa, 4 kupang dan 4 satak dikurangi 10 suwarna untuk diserahkan kepada raja setiap bulan Asuji.
      2. Pajak dari Desa Kamalagyan sebesar 2 swarna dan 10 masa emas dikurangi 2 swarna untuk diserahkan kepada warga hatur.
-    3. Dari kakalangan yang pajaknya sebesar 1 masa dan 2 kupang dikurangi 1 masa untuk diterimakan kepada warga pati.
Tiga sumber pemotongan pajak tersebut diberikan kepada Desa Kamalgyan untuk menjaga dan memelihara bendungan, sementara pajak perdagangan yang dilakukan di desa tersebut yang berupa mata uang perak, tidak dikurangi.
Prasasti ini memberikan jaminan bahwa pemimpin Desa Kamalagyan bertanggungjawab langsung kepada raja, tidak kepada pejabat kerajaan lainnya, apalagi pemungut pajak. Peneguhan tentang tugas kepada penduduk Kamalgyan untuk mengamankan bendungan ini dilakukan karena Raja Erlangga merasakan masih adanya potensi ancaman dari adanya kerajaan yang belum menerima kepemimpinan Erlangga di Tanah Jawa. Salah satu diantaranya adalah Kerajaan Wengker yang pemberontakannya baru dipadamkan kurang lebih satu minggu sebelum prasasti dibuat.
Prasasti dimulai dengan penyebutan waktu yaitu “ Swasti Cakawarcatita 959 marggaciramas” atau 10 November 1037. Di baris kedua dan ketiga disebutkan nama pejabat kerajaan, yaitu: (1) Maharaja Rake Hulu Sri Lokecwara Dharmmawanca Airlangganama Prasadottungadewa, (2) Rakyan Mahamantri i Hino yang bernama  Sri  Sangramawijaya Prasadottungadewi, (3) Rakyan Kanuruhan yaitu pu Dharmmamantri Narottamajana.
Dari nama kedua diidentifikasi bahwa yang berkedudukan sebagai pewaris tahta kerajaan adalah Sri Sangramawijaya Prasadottunggadewi, putri sulung Erlangga. Meskipun begitu, dari beberapa sumber berupa prasasti maupun kakawin, putri sulung Erlangga ini tidak bersedia menjadi ratu Kahuripan dan lebih memilih menjadi resi, yang dalam cerita rakyat dikenal sebagai Dewi Kilisuci.

Sumber
2. Slamet Mulyana, Prof. Dalam Negarakertagama.