April 03, 2018

Prasasti Pamwatan, Dibangun di Akhir Kekuasaan Raja Erlangga di Kahuripan


Agus Wibowo

Prasasti Pamwatan di Pamotan
Prasasti Pamwatan merupakan salah satu prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Airlangga, pada tahun 965 Saka atau 1043 Masehi. Hal ini bisa dilihat dari nama yang tertulis di bagian atas prasasti, berdasarkan hasil pembacaan Damais pada tahun 1955 (Damais 1955, 183), yaitu Çri Mahãrãja Rakai Halu Çri Lokeçwara Dharmmawaṅça Airlaṅgga Anãntawikramottuṅgadewa dan  Rakryãn Mahãmantrĩ i Hino-nya Çrĩ Samarawijaya. Nama Sri Samarawijaya senagai Mahamantri Hino di dalam prasasti ini berbeda dengan Mahamantri Hino di Prasasti Kamalagyan tahun 1037 yaitu Sri  Sangramawijaya Prasadottungadewi. Hal ini sesuai dengan kisah tentang putri Erlangga yang tidak bersedia menjadi ratu karena lebih tertarik menjadi buksuni. Posisi Mahamantri Hino akhirnya digantikan oleh adiknya Sri Smarawijaya.
Prasasti Prasasti Pamwatan ditemukan berupa lempeng batu andesit besar yang ditemukan di Desa Pamotan, Kecamatan Sambeng, Kabupaten Lamongan. Di lokasi sekitar prasasti ditemukan pecahan artefak-artefak kuno dan serakan batu bata kuno berukuran besar, terutama disekitar pekuburan yang terletak 200-300 m di sebelah utara lokasi prasasti. Ditinjau dari letaknya, prasasti ini terletak di lereng sisi utara Gunung Pucangan (tempat ditemukannya Prasasti Pucangan oleh Raffles), berada di sebelah selatan kali Lamong yang di perkirakan sebagai batas dari Kerajaan Panjalu dan Jenggala.
Menurut L.C. Damais, angka yang tertulis di prasasti ini menunjukkan angka almanak yang menunjukkan angka tahun 964 saka atau 1042 masehi, yaitu tanggal 19 Desember 1042. Isi prasasti ditulis dalam aksara Jawa Kuno dan dalam Bahasa Jawa Kuno.
Lokasi Prasasti Pamwatan yang Hilang
Pada sisi depan (recto) bagian atas prasasti terdapat tulisan yang berbunyi DAHAṆA dalam aksara kwadrat. Hal memunculkan spekulasi bahwa Lokasi ditemukannya prasasti ini merupakan Kota Dahana, yang merupakan pusat pemerintahan baru Kerajaan yang ditempati oleh Erlangga sebelum “lengser keprabon mandeg pandito”. Beberapa ahli sejarah menyimpulkan bahwa sebelum mundur dari kekuasaan, Erlangga membangun kota baru yang ditempatinya sampai untuk kemudian menjadi ibukota kerajaan baru yang dinamakan Panjalu, dimana Putra yang bernama Sri Samarawijaya menjadi raja. Sedangkan putra yang bernama Mapanji Garasakan mendapatkan kerajaan timur bernama Janggala yang berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan. Nama Dahaṇa tersebut di dalam sumber lain, yaitu Serat Calon Arang dan Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca. sebagai ibu kota/keraton kerajaan Airlangga, namun dalam uraian serat tersebut tidak disebutkan secara pasti dimanakah persisnya letak keraton Dahaṇa itu berada. 
Saat ini Prasasti Pamwatan tidak ada di lokasi, tapi bekas prasasti masih dipelihara oleh masyarakat sampai kini. Dari keterangan masyarakat yang dimuat oleh koran Radar Bojonegoro, prasasti sudah tidak ada di tempatnya pada 12 September 2003. Hingga saat ini belum ada informasi tentang siapa yang mengambil prasasti dan di mana prasasti disimpan.

Sumber Informasi
-          Muljana, Prof. Dr. Slamet (2006). Tafsir Sejarah Nagara Kretagama. LKiS Yogyakarta.
-          Poesponegoro, Marwati Djoened; Notosusanto, Nugroho (1984). Sejarah Nasional Indonesia untuk SMP 2. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.