April 03, 2018

Serat Calon Arang, Kitab tentang Sepak Terjang Mpu Barada


Agus Wibowo

Naskah Lontar/Ilustrasi
Serat Calon Arang sangat terkenal, terutama di Pulau Bali, bahkan ada sendratari dengan judul sama, yaitu Sendra Tari Calon Arang. Sendratari ini menampilkan rangkaian kisah teror teluh yang dibuat oleh Calon Arang. Alkisah ada seorang gadis cantik di Desah Girah, yang membuat banyak laki-laki terpesona. Hanya saja, tidak ada laki-laki yang berani melamarnya karena takut pada ibunya, seorang janda yang dikenal sebagai ahli teluh yang bernama Calon Arang. Suatu saat ada yang bergunjing bahwa putri Calon Arang menjadi perawan tuwa, yang membuat Janda Calon Arang marah besar dan meneluh seluruh penduduk Desa Girah.
Latar belakang cerita tersebut membuat Sendratari Calon Arang terasa menghadirkan kesan magis. Kisah yang divisualkan dalam sendratari ini diterjemahkan dari cerita rakyat yang dituliskan pada lembar-lembar daun lontar bolak-balik sebanyak 51 lembar yang disebut sebagai Serat Calon Arang. Serat ditulis dalam Huruf Bali dengan Bahasa Kawi atau Jawa Kuno, yang keseluruhan isinya menceritakan sepak terjang seorang pendeta di masa Kerajaan Kahuripan di abad 11, yang bernama Mpu Barada. Penulis serat ini tidak menyebutkan namanya tapi menuliskan waktu penulisan yaitu pada tahun Saka 1462 (1540 Masehi), tanggal bulanhamacapmika, paroh terang ke-10. Masih di lembar lontar ke 51, penulis juga menjelaskan tempat dia menyelesaikan karyanya, yaitu di Semadri Camara, menghadap ke arah barat, di bawahnya Sungai Harung, di sebuah tempat yang ada guanya.
Berdasarkan kisah secara keseluruhan naskah, serat ini lebih cocok apabila diberi judul Serat Mpu Baradah, karena dari awal sampai akhir serat ini berkisat tentang sepak terjang Mpu Baradah sebagai pendeta sakti yang menjadi panutan Raja Erlangga yang berkuasa di Kahuripan. Naskah dalam serat ini bisa dipilah menjadi dua bagian, yaitu: pertama, tentang Mpu Baradah yang menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh rakyat Kerajaan Kahuripan di Daerah Kediri akibat ulah seorang janda bernama Calon Arang yang meneluh semua warga Desa Girah karena tidak ada laki-laki yang mau mengawini putrinya yang bernama Ratna Manggalih. Penduduk Desa Girah banyak yang sakit dan mati akibat teluh Calon Arang.
Mendengar penderitaan penduduk Desa Girah, Raja Erlangga mengirim pasukan untuk menumpas Calon Arang, tapi gagal. Bahkan efek teluh Calon Arang malah meluas. Raja Erlangga mencari cara lain, kemudian minta bantuan ke seorang pendeta Brahmana yang yang berasrama di Lemah Tulis bernama Mpu Barada. Pendeta ini bersedia dan segera memberikan rekomendasinya, dia usul seorang muridnya yang bernama Mpu Bahula untuk melamar putri Calon Arang. Setelah menjadi suami Ratna Manggalih, dia mengamati kebiasaan Calon Arang dan melaporkannya kepada Mpu Barada.
Pada lembat lontar ke 18 diceritakan bagaimana Mpu Bahula mendapatkan kitab yang menjadi rahasia kekuatan Calon Arang. Kitab tersebut kemudian ditunjukkan kepada Mpu Barada. Mpu Barada Menilai bahwa Kitab sastra milik Calon Arang berisi hal utama untuk jalan kebaikan, menuju kesempurnaan dan puncak rahasia pengetahuan, sayangnya digunakan jalan yang salah, menuju kiri menjalankan ilmu sihir.

Sendratari Calon Arang/www.kamerabudaya.com
Setelah mendapatkan informasi yang cukup Mpu Baradah pun menemui Calon Arang. Dialog Mpu Baradah dengan besannya Calon Arang bisa dilihat mulai lembar lontar ke 23. Calon Arang menyambut Mpu Barada yang merupakan besannya bahkan meminta nasihat tentang kebaikan dan minta diruwat. Mpu Baradah tidak bersedia meruwat karena kerusahan yang diakibatkan teluhnya terlalu besar. Calon Arang marah besar dan menyerang Mpu Baradah dengan sihirnya. Ritual sihirnya digambarkan dengan cara menari-nari, membalikkan rambut di atas kepala, mata melirik-lirik dan seterusnya. Mpu Barada tidak mempan oleh sihir Calon Arang, kemudian balik membalas dan Calon Arang mati ditempat berdirinya. Mpu Barada kemudian menyempurnakan jasad Calon Arang dan mengangkat dua putranya menjadi murid. Abu jasad Calon Arang kemudian dicandikan di Desa Girah atas biaya dari kerajaan Kahuripan (28a) dan dinamakan Rabut Girah, diharapkan menjadi tempa suci bagi orang-orang Girah sampai sekarang. Dipuja dan dihormati.

Pembelahan Kerajaan Menjadi Dua
Kisah kesaktian Mpu Baradah dalam mengatasi teluh Calon Arang sangat berkesan bagi Raja Erlangga. Dalam lembar lontar 29b, Raja Erlangga menyampaikan keinginan untu mengikuti jalan Mpu Barada menjadi resi atau pendeta. Dia menyatakan keinginan untuk “..turut mempelajari Sang Hyang Dharma, meminta ajaran yang baik seorang pendeta melepaskan pikiran hina, mempelajari ajaran hukum”.
Bagian 1 Serat Calon Arang berakhir sampai lembar lontar 36a. Mulai lembar lontar, serat Calon Arang memasuki bagian 2, yaitu tentang pembagian kekuasaan bagi dua putranya yang sama-sama ingin menjadi raja, yaitu Mapanji Garasakan dan Samarawijaya. Mulanya Raja Erlangga ingin salah satu putranya menjadi raja di Pulau Jawa dan satu lagi menjadi raja di Pulau Bali –karena bagaimana pun Erlangga adalah putra pertama Raja Udayana sehingga punya hak atas tahta kerajaan di Bali. Raja Erlangga kembali minta bantuan ke Mpu Barada.
Mpu Barada berangkat ke Bali untuk melakukan lobi dengan menemui seorang pendeta yang lebih senior dan diceritakan lebih sakti daripada Mpu Barada. Sampai di Bali, Mpu Barada mendapatkan penjelasan bahwa Kerajaan Bali sudah memiliki raja dari keturunan sedarah raja sebelumnya. Mpu Barada kembali ke Kahuripan kemudian Raja Erlangga memutuskan untuk membagi kerajaan menjadi dua, satu kerajaan berpusat di Kahuripan dan kerajaan satu lagi berpusat di Daha. Dalam proses ini Mpu Barada berperan menentukan batas wilayah, pejabat kerajaan dan pendudukbagi kedua kerajaan. Setelah pembagian kerajaan selesai, Raja Erlangga mulai menjalani cita-citanya untuk menjadi seorang pendeta atau resi dengan mempelajari Sang Hyang Dharma.
Cerita yang disampaikan dalam Serat Calon Arang banyak mengandung mitologi dan mistik, seperti tentang kesaktian Calon Arang yang bisa menimbulkan wabah yang mengancam stabilitas kerajaan, dan terutama kesaktian Mpu Barada yang mempesona Raja Erlangga. Selain bisa mengalahkan Calon Arang, kesaktian Mpu Barada juga digambarkan dalam kisah perjalanannya ke Pula Bali, dimana dia menyeberang bolak balik dengan menaiki selembar daun keluwih –semacam daun sukun. Meskipun begitu, kisah legenda di di masa Kerajaan Kahuripan di abad 11 yang ditulis di pertengahan abad 16 ini bisa dikonfirmasi bukti-bukti otentiknya.
Jejak Raja Erlangga yang “lengser keprabon mandeg pandito” ini bisa dilihat jejaknya di Lereng Gunung Penanggungan, di Candi Belahan d Daerah Trawas Mojokerto. Pembelahan atau pembagian Kerajaan Kahuripan menjadi Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Panjalu juga bukan sekedar dongeng. Dalam Prasasti Pamwatan disebutkan bahwa Raja Erlangga membangun istana baru yang dinamakan Dahana. Dalam prasasti ini nama Erlangga masih disebut dengan nama abiseka lengkap, yaitu Çri Mahãrãja Rakai Halu Çri Lokeçwara Dharmmawaṅça Airlaṅgga Anãntawikramottuṅgadewa. Dalam Prasasti Gandakhuti yang dibuat pada 24 November 1042, Raja Erlangga ditulis dengan gelar seorang resi, yaitu Resi  Aji Paduka Mpungku.

Adab Menghormati Pendeta
Selain kisah tentang ‘teror teluh’ yang dilakukan oleh Calon Arang dan pembagian kerajaan Kahuripan menjadi Kerajaan Jenggala dan Panjalu, Serat Calon Arang juga memberikan gambaran tentang penghormatan kepada seorang pendeta. Hal ini digambarkan melalui penghormatan kepada Mpu Barada yang dilakukan oleh Raja Erlangga maupun dua orang putranya yang menjadi Raja di Panjalau dan Jenggala. Dalam beberapa lembar lontar digambarkan bagaimana Raja Erlangga berjongkok dan mengelap debu di kaki mpu Barada kemudian mengusapkannya ke dahi. Dalam lontar ke 35a diantaranya, dikisahkan “Sang Raja menghormat kepada Sang Pendeta, lalu mengusap debu kaki Sang Pendeta Baradah, diletakkan di ubun-ubun Sang Raja, berdua dengan permaisurinya”.
Selain penghormatan, Erlangga juga memberikan upah atas jerih payah Mpu Barada yang berperan mengembalikan keamanan dan ketenteraman masyarakat dari teror jahat Calon Arang. Dalam Lontar 34b dijelaskan “Semua menyiapkan kereta gajah dan kuda diberikanlah kepada sang Pendeta oleh Sang Raja, dan uang 50.000, 50 perangkat pakaian, emas dan permata serba banyak, juga pengikut pekerja sawah seratus orang, pemahat seratus orang, kerbau dan sapi pekerja yang banyak.
Dua putra Erlangga yang menjadi raja di Jenggala dan Panjalu juga menghormati Mpu Barada dengan cara yang sama. Mereka berlutut dan mengusat debu di kaki sang pendeta dengan kain dan mengusapkan debu tersebut ke ubun-ubunnya. Hal ini terjadi ketika Mpu Barada mendamaikan dua raja kakak adik ini berperang di awal pembagian kerajaan.

Sumber
- Calon Arang Si Janda dari Girah, Dr. Soewito Santoso, Balai Pustaka 1975
- http://balikasogatan.blogspot.co.id/2012/11/terjemahan-lontar-calon-arang.html