April 17, 2018

Tamasya Selfie dan Sejarah di Museum Sejarah Jakarta

Agus Wibowo


Museum Sejarah Jakarta
Jika disebut Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahilah, kebanyakan orang segera membayangkan foto bangunan kuno ala Eropa peninggalan VOC. Dalam benak kebanyak orang juga segera terbayang lapangan yang luas, beberapa meriam kuno di halaman, serta seliweran sepeda tempo doeloe dalam warna warni yang disewakan. Banyak remaja, teruma remaja putri, yang berseliweran naik sepeda jadul ini dengan topi Belanda, dengan bergaya seperti noni-noni Belanda.
Bangunan museum yang klasik makin tampak klasik dengan permukaan tanah lapang yang ditutup lempeng batu. Banyak obyek-obyek iconic yang cocok berfoto atau selfie untuk dipajang di media sosial.

Obyek yang ada di dalam museum tidak kalah menarik dengan penampakan wajah depan museum. Di bangunan megah bekas kantor pusat VOC ini banyak informasi tentang sejarah Kota Jakarta dan sejarah wilayah bagian barat pada umumnya. Tidak jauh dari pintu masuk museum yang ada di sisi kiri Museum, pengunjung bisa langsung melihat jejak sejarah Kerajaan Tarumanegara, terutama ketika dipimpin oleh Raja Purnawarman. Da tiga replika prasasti peninggalan Raja Purnawarman, yaitu Prasasti Ciaruteun dan Prasasti Kebon Kopi yang aslinya ditemukan di Kabupaten Bogor serta Prasasti Tugu yang ditemukan di daerah Cilincing Jakarta.

Prasasti Ciaruteun
Prasasti Ciaruteun sangat terkenal karena banyak menghiasi buku-buku sejarah karena pesan yang ditatah di atas batu sangat iconik, berupa sepasang telapak kaki yang disebutkan sebagai kaki Raja Purnawarman.  Prasasti Kebon Kopi juga memiliki corak yang mengesankan dengan adanya ukiran dua kaki gajah bernama Airawata, yang disebut sebagai tunggangan Raja Purnawarman. Prasasti Ciaruteun dan Prasasti Kebon Kopi tidak kelihatan dipentuk menjadi lebih pipih, kotak atau lonjong melainkan ditatah begitu saja pada batu kali yang tersedia di alam.

Prasasti Tugu
Prasasti Tugu memiliki banyak perbedaan dari dua prasasti tersebut. Pertama, batu seperti dibentuk sedemikian ruma sehingga menjadi berbentuk lonjong seperti telur dan kedua, pesan yang ditatah pada batu lebih banyak berupa naskah dalam huruf Palawa dan Bahasa Sanskerta. Naskah prasasti ditatah horisontal yang melingkar pada batu. Dari naskah yang dipajang di tembok ruang pajang prasasti, Prasasti Tugu mendokumentasikan Penggalian Sungai Gomati setelah mengalir melintas di tengah tanah kediaman nenek Raja Purnawarman yang menjadi pendeta. Penggalian saluran sepanjang 6122 busur ini dilakukan selama 21 hari dimulai tanggal 8 paro gelap (tanggal 23) bulan Caitra. Prasasti Tugu juga menyebutkan bahwa Raja Purnawarman lebih dulu telah menggali Sungai Candrabhaga setelah sungai ini sampai ke istana sang raja.


Selain peninggalan berupa prasasti, ada juga koleksi berupa arca dewa yang dipercaya menunjukkan keprcayaan atau agama yang dianut oleh keluarga Kerajaan Tarumanegara. Ada dua arca Dewa Wisnu yang ditemukan di situs Cibuaya, ada satu arca Dewi Durga dan dan arca Ganesha –yang dipercaya sebagai putra Dewi Druga. Keempat arca dewa-dewa Agama Hindu ini disimpan dalam kotak kaca sehingga tidak bisa disentuh.

Jakarta Masa Pendudukan VOC
Prasasti Padrao
Koleksi Museum Sejarah Jakarta yang paling banyak adalah yang berkaitan dengan masa dominasi bangsa Eropa, terutama VOC –perusahaan dagang dari Belanda. Periode dominasi Eropa ini ditandai dengan Prasasti Padrao, sebuah prasasti tonggak batu berisi perjanjian antara Bangsa Portugis yang menduduki Malaka dengan Kerajaan Sunda. Hanya saja perjanjian ini tidak pernah dilaksanakan karena Kawasan Sunda Kelapa kemudian diduduki pasukan dari Kesultanan Banten.
Sejarah tentang masa pendudukan VOC merupakan  informasi paling banyak di Museum ini. Ada beberapa foto Gubernur Jenderal, lemari buku, dan banyak mebel yang digunakan oleh pimpinan VOC selama berkantor di Kantor pusat VOC yang kini dijadikan museum. Salah satu koleksi yang menarik di dalam gedung adalah meriam berhias naga. Berbeda dengan meriam lain yang diletakkan di luar gedung museum, meriam ini disimpan di dalam museum ditelakkan di atas pajangan berukir garuda. Meriam berukir naga ini lebih cenderung tampak sebagai benda pajangan atau koleksi seni seperti keris.
Masih banyak lagi informasi tentang kehidupan di masa pendudukan VOC, termasuk tentang peta kota, sketsa pelabuhan, dan beragam bentuk kapal yang pernah berlabuh di Jakarta. Salah satu peristiwa yang bisa dibaca di museum ini adalah Geger Pecinan yang terjadi pada tahun 1740, dimana pasukan VOC melakukan pembunuhan secara massal terhadap orang-orang Cina yang ada di Jakarta ketika bernama Batavia. Dalam keterangan yang dipajang di Museum, peristiwa ini berawal dari jatuhnya harga gula di pasaran intra-Asia dan Eropa, yang menyebabkan banyak pabrik penggilingan gula yang tutup.
Geger Pecinan 1740
Penutupan pabrik gula tersebut menyebabkan tingginya tingkat pengangguran, yang meresahkan bekas buruh pabrik gula yang sebagian besar merupakan orang China. Masalah menjadi makin serius ketika berkembang kecurigaan di kalangan masyarakat China yang mendapatkan kabar bahwa orang-orang China yang dikirim ke Ceylon (Srilangka) banyak yang ditenggelamkan di laut. Kerusuhan yang terjadi di pabrik penggilingan membuat VOC yang dipimpin Gubernur Jenderal Adrian Valckenier menutup benteng kota dan membunuh orang-orang China yang ada di kota. Peristiwa ini menewaskan 10 ribu orang lebih.

Akses ke Museum Sejarah Jakarta
Museum Sejarah Jakarta sangat mudah diakses dengan transportasi umum, teruma Kereta Komuter Line dan Trans Jakarta. Dari Bogor, Depok, Bekasi, bahkan Tangerang Museum ini bisa diakses dengan kereta komuter line yang berujung di Stasiun Jakarta Kota. Dari stasiun, wisatawan tinggal berjalan kaki ke arah kanan stasiun sejuah 200 meter. Dari Shelter trans Jakarta Kota, wisatawan juga tinggal berjalan kaki. Apabila ingin melihat-lihat penampakan sisi depan dan halaman depan, Museum Sejarah Jakarta mudah ditemukan karena sangat luas dan banyak pengunjung yang sedang beraksi, baik foto-foto, berselfie ria, atau berputar-putar dengan sepeda jadoel.
Bagi pengunjung serius yang ingin mengetahui sejarah Kota Jakarta, bisa masuk melalui pintu di samping kiri museum. Dari pintu samping, pengunjung akan langsung sampai ke sisi belakang museum dan langsung ketemu dengan koleksi benda-benda bersejarah yang ada di dalamnya. Pengunjung bisa melihat-lihat dan membaca sendiri informasi yang dipajang, tapi bisa juga bertanya kepada petugas museum yang siap memberikan penjelasan. Hal ini terutama dilakukan kepada rombongan pelajar yang melakukan wisata belajar ke Museum Sejarah Jakarta.   

Sumber Informasi
Koleksi Museum Sejarah Jakarta, di Jalan Taman Fatahillah No. 1, Jakarta