May 26, 2018

Gunung Penanggungan, Tempat Ditemukan Puluhan Bangunan Suci


Agus Wibowo

Gunung Penanggungan menjadi salah satu gunung paling disucikan di masa Kerajaan Kahuripan di abad 11 sampai masa kerajaan Majapahit yang berakhir di awal abad 16. Di gunung ini ditemukan tidak kurang dari 80 bangunan suci yang tersebar di berbagai titik lereng.  

Gunung Penanggungan
Gunung Penanggungan terletak di wilayah Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan Provinsi Jawa Timur. Gunung ini merupakan gunung berapi dengan ketinggian 1653 mdpl dan mempunyai bentuk yang unik karena puncaknya dikelilingi oleh 8 anak gunung, yang letaknya berselang seling. Delapan anak gunung yang mengelilingi Puncak Gunung Gunung Penanggungan adalah: Gunung Kemucup (1238 mdpl), Gunung Srahklapa (1235 mdpl), Gunung Bekel (1260 mdpl), Gunung Gajah Mungkur (1089 mdpl), Gunung Wangi (987 mdpl), Gunung Bende (1015 mdpl) Gunung Jambe 745 mdpl) dan Gunung Gambir (588).

Penelitian arkeologi di Gunung Penanggungan dimulai dengan penemuan kepurbakalaan di Selokelir oleh Broekvelt di tahun 1900. Pada tahun 1915, M. Lydie Melvile mengunjungi gunung ini dan menemukan beberapa bangunan kuno, sebuah arca, prasasti, dan beberapa batu umpak. Pada tahun 1921 De Vink mengunjungi daerah Gunung Bekel, dimana ia menemukan bekas pertapaan dan sebuah batu bertulis dengan angka tahun 1336 saka (14141). Pada tahun 1935 dan 1936, M.A. Gall dan Stuterheim mengadakan penelitian di daerah tertinggi Gunung Penanggungan.

80 Bangunan Suci
Pada tahun 1936, 1937 dan 1940 Dinas Purbakala melakukan penelitian di daerah Gunung Penanggungan dan menemukan bangunan kuno berbentuk candi, punden yang jumlahnya tidak kurang dari 80 buah. Pada tahun 1972, A.S. Wibowo melakukan penelitian di daerah ini dan mengemukakan bahwa bangunan kuno di Gunung Penanggungan berjumlah kurang lebih 81 buah. Pada tahun 1975, Tjokro Sudjono dari Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional cabamg II Mojokerto mengadakan inventarisasi kembalidaerah Gunung Gajah Mungkur, Gunung Bekel dan lereng barat laut Gunung Penanggungan. Hasilya ditemukan kurang lebih 30 candi, beberpa arca, keramik lokal dan asing, serta fragmen bangunan candi dan arca.

Dari berbagai penelitian di Gunung Penanggungan dapat diketahui bahwa bangunan purbakala yang ada di gunung ini didirikan antara tahun 977 masehi sampai dengan 1511. Berdasarkan pertanggalannya, secara umum kepurbakalaan di Gunung Penanggungan dapat dibagi menjadi dua kelompok. Pertama, kelompok yang dibangun sekitar abad X dan kedua, kelompok bangunan yang dibangun sekitar abad 13 sampai dengan awal abad 16.

Banyaknya peninggalan purbakala di gunung ini mengindikasikan bahwa gunung ini pada masa lalu merupakan tempat suci bagi masyarakat Jawa Timur. Dalam Kitab Tantu Pagelaran disebutkan bahwa Gunung Penanggungan dikenal dengan nama Pawitra yang merupakan pindahan Gunung Mahameru di India. Pemindahan Gunung Mahameru ke Jawa konon bertujuan untuk memperkuat dan memperkokoh pulau Jawa yang dianggap masih labil. Ketika dipindahkan bagian Mahameru banyak yang tercecer. Bagian puncaknya jatuh menjadi Pawitra, yaitu Gunung Penanggungan.

Berikut beberapa bangunan suci dalam bentuk candi yang ada di lereng Gunung Penanggungan. Bangunan dalam bentuk candi ini ditemukan tersebar dibeberapa tempat, ada yang masuk wilayah Kabupaten Mojokerto maupun Kabupaten Pasuruan.

Candi Jolotundo
Candi Petirtaan Jolotundo
Petirtaan Jolotundo terletak di Dukuh Balekambang, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Situs ini terletak di lereng barat Gunung Penanggungan pada ketinggian 525 meter dari permukaan laut (DPL). Petirtaan ini dipugar pada tahun anggaran 1991/1992 sampai dengan 1993/1994 melalui proyek Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur. Candi Jolotundo berbentuk persegipanjang dengan teras di tengah dan puncak pancuran di tengah-tengahnya. Hal ini memiliki arti simbolis sebagai gambaran mahameru. Dalam konsep Hindu, Gunung Mahameru dianggap sebagai Gunung Suci tempat bersemayam para dewa. Konsepsi ini sebenarnya telah dikenal sejak jaman prasejarah masa megalitik yang menganggap gunung sebagai uncur tertinggi tempat bersemayam roh nenek moyang.
Candi Jolotundo dianggap pula melambangkan pengadukan lautan dalam cerita Amrtamanthana yang menceritakan proses mendapatkan air suci dengan menggunakan Gunung Mahameru yang dililit oleh Ular Batara Wasuki. Berdasarkan hal tersebut, Kolam Jolotundo diibaratkan sebagai lautan, sedangkan teras dengan pancuran berbentuk silindris yang dililit seekor ular melambangkan bentuk Mahameru. Air yang keluar dari pancuran itu sendiri dianggap sebagai air suci Amerta.

Candi Sinta
Candi Sinta merupakan bangunan berteras empat, terletak di lereng barat Gunung Penanggungan, yang terletak di sebelah utara Candi Gentong. Kondisi teras 1 dan teras 2 telah rusak sedangkan teras 3 dan teras  4 masih ada meskipun tidak utuh. Bekas anak tangga menuju ke teras 1 masih bisa ada tapi anak tangga ke teras 2, 3 dan 4 sudah tidak ada. Pada teras ke 4 yang merupakan teras paling belakang terdapat sebuah bangunan altar. Candi Sinta dibangun di masa akhir Kerajaan Majapahit antara abad 14 dan 15 masehi.

Candi Bayi
Candi Bayi terletak di lereng barat Gunung Penanggungan pada ketinggian 810 mdpl. Sebenarnya yang dinamakan candi adalah duah buah tumpukan batu candi,  yang susunannya sudah tidak beraturan sehingga arah hadap candi sulit ditentukan. Diantara tumpukan batu candi terdapat beberapa batu yang memiliki hiasan pelipit horisontal dan pelipit miring. Belum diketahui secara pasti asal-usul batu candi yang tertumpuk tersebut, karena sampai saat ini belun ditemukan sumber sejarah yang dapat memberikan informasi tentang asal batu-batu di candi itu.

Candi Gentong

Candi Gentong
Candi Gentong terletak di lereng sebelah barat Gunung Penanggungan, terletak tepat di sebelah Candi Sinta. Candi ini dinamakan Gentong karena di tempat ini terdapat sebuah gentong yang berbentuk bulat dan berkarinasi datar dengan ukuran bagian tubuh paling lebar sedangkan bagian dasarnya mengecil. Seluruh permukaan gentong dibuat agak halus tanpa hiasan. Di sebelah kanan gentong terdapat sebuah altar pemujaan yang berbentuk persegi empat dengan struktur bangunan yang dihias pelipit-pelipit horisontal yang semakin ke atas semakin melebar. Bagian bawah berfungsi sebagai dasar altar telah mengalami konsolidasi. Candi Gentong dibangun pada masa akhir Kerajaan Majapahit di abad 15.


Candi Siwa
Candi Siwa terletak di lereng barat Gunung Penanggungan, terletak pada ketinggian 1050 mdpl. Bangunan candi berbentuk persegi panjang menghadap ke arah barat dan merupakan bangunan berundak berteras lima. Anak tangga batu yang menghubungkan teras 1 sampai teras 5 sudah rusak. Hiasan yang masih ada pada candi Siwa adalah panel persegi panjang di dinding teras 1 berukuran 1,10 meter, lebar 35 sentimeter dan tebal 3 sentimeter. Di dinding sebelah kiri dan kanan tangga teras 2 ada hiasan timbul berbentuk medalion diapit oleh sebuah hiasan silang. Hiasan timbul berbentuk belah ketupat ada di sebelah kiri dan kanan tangga teras 3. Kondisi teras ke-4 rusak dan tidak menampakkan adanya bangunan altar. Candi Siwa, diperkirakan dibangun pada masa Kerajaan Majapahit di abad 14-15.

Candi Naga 1
Candi Naga 1 merupakan bangunan berteras 4 yang terletak di Gunung Bekel, menghadap ke arah timur di ketinggian 1060 mdpl. Bangunan candi ini berbentuk bujur sangkar, berukuran 8x8 meter. Tangga masuk ke halaman candi menempel pada lereng yang curam. Antara teras satu dengan teras lain dihubungkan oleh anak tangga dengan pipi tangga yang sudah tidak utuh lagi. Teras 1 mempunyai lima buah anak tangga dan penampil. Teras 2 mempunyai 4 anak tangga. Dinding teras 1 dan 2 memiliki struktur batur relief yang masih utuh dan keadaan polos tanpa hiasan. Pintu masuk dan anak tangga dari teras 2 menuju ke teras 3 sudah rusak dan pada dinding teras terdapat hiasan bentuk belah ketupat sebanyak 8 buah. Pada teras tertinggi tampak adanya sisa-sisa bangunan pemujaan yang sudah rusak. Ragam hias pada Candi Naga 1 antara lain pelipit horisontal, hiasan tumpel, relief taring dan lidah naga. Secara keseluruhan keadaan candi ini diperkirakan dibangun pada masa akhir Kerajaan Majapahit.

Candi Naga 2
Candi Naga 2 terletak di lereng Gunung Penanggungan pada ketinggian 1000 mdpl, menghadap ke arah barat. Bangunan berbentuk persegipanjang dan merupakan bangunan berteras 3. Ketiga dinding teras masih tersusun baik dan tepat. Di tengah candi terdapat tumpukan batu. DI teras 1 terdapat tangga dengan ragam hias tumpel di kanan kiri teras terdapat panel kosong tanpa relief. Dinding 1 dan 2 polos tanpa hiasan kecuali pelipit horisontal. Di atas teras 2 dan 3 terdapat sisa-sisa bangunan pemujaan. Keadaan candi sebagian besar rusak. Candi Naga 2 diperkirakan dibangun pada masa Kerajaan Majapahit di abad 15.

Candi Belahan
Candi Petirtaan Belahan
Candi Belahan merupakan petirtaan yang terletak di Gunung Penanggungan, sama dengan Candi Jolotundo. Bedanya, jika Candi Jolotundo terletak di wilayah Kabupaten Mojokerto, Candi Belahan terletak di lerang gunung yang ada di wilayah Kabupaten Pasuruan, tepatnya di Desa Wonosuryo, Kecamatan Gempol. Perjalanan menuju Candi Belahan tidaklah mudah, karena harus melewati jalan desa yang rusak, berliku, dan terjal. Berdasarkan naskah dalam Prasasti, candi ini dibangun oleh Raja Erlangga di akhir masa kekuasaannya sebelum turun tahta dan menyerahkan kerajaan kepada dua orang putranya, menjadi Kerajaan Panjalu dan Kerajaan Jenggala di tahun 1042.
Awalnya pada Candi Belahan terdapat arca yang diyakini sebagai arca Prabu Airlangga yang berwujud Dewa Wisnu dengan empat tangan, yaitu tangan kiri bagian belakang memegang sangka, sedangkan tangan kanan belakang menggenggam cakra, semacam senjata berupa roda bergerigi yang dapat mengakhiri segala kehidupan. Sementara kedua tangan yang lain membentuk sifat mudra, tulus bersemedi. Arca ini telah dipindahkan dan menjadi koleksi dari Museum di Trowulan, Kabupaten Mojokerto.Tepat di bawah arca Prabu Airlangga terdapat dua arca unik yang menggambarkan dua permaisuri Erlangga, yaitu Dewi Laksmi dan Dewi Sri. Ciri khas candi yang mudah diingat adalah adanya pancuran air yang keluar payudara kedua arca.

Candi Pendawa
Candi Pendawa terletak di lereng barat laut Gunung Bekal atau berada di sebelah timur laut Candi Naga 1, terletak di ketinggian 1000 mdpl dan menghadap ke arah utara. Bangunan candi ini berteras lima berbentuk persegipanjang dengan ukuran panjang 12,30 meter dan lebar 10 meter. Teras 1 memiliki tangga, dimana dinding sampai dengan teras 4 terbuat dari batu gundul sedangkan dinding teras 5 terbuat dari susunan batu candi. Sebagian besar kondisi fisik Candi Pendawa dalam keadaan rusak. Candi ini diperkirakan dibangun pada masa akhir Kerajaan Majapahit di abad 15 Masehi.

Candi Balekambang
Candi Balekambang terletak di lereng barat Gunung Bekel pada ketinggian 1.200 mdpl. Yang dimaksud dengan Candi Balekambang adalah susunan empat buah umpak batu berbentuk persegipanjang. Bentuk masing-masing umpak persehi emapat dimana bagian dasar umpak lebih besar daripada bagian atasnya dan batu umpak ini tidak terdapat hiasan. Keempat umpak berdiri di atas batur yang ditinggikan. Dinding batur terbuat dari tumpukan batu merah, batu candi dan batu gundul yang tatanannya sudah tidak rapi lagi. Karena ada tangga yang rusak di sisi timur, maka dapatlah diartikan bahwa batu candi menghadap ke timur. Di sebelah kanan dan kiri tangga masuk terdapat dua buah umpak kecil dari batu. Kurang lebih 2,5 meter arah bart dari batur terdapat dua buah arca yang belum selesai dibuat dan sebuah batu relief melukiskan miniatur bangunan candi serta seorang wanita dalam keadaan berdiri dengan lengan kanan lurus ke depan sedangkan tangan kirinya memegang pinggul. Secara keseluruhan candi keseluruhan candi Balekambang dapat dikatakan dalam keadaan baik. Candi Balekambang diperkirakan dibangun pada akhir masa kerajaan Majapahit.

Candi Merak
Candi Merak merupakan banhunan candi berteras 2 terletak di di Timur Laut Gunung Bekal, pada ketinggian 950 mdpl, menghadap ke arah utara. Bangunan candi berbentuk bujursangkar dengan ukuran 5,5 x 5,5 meter. Halaman candi cukup luas, di ujung halaman terdapat tangga naik dengan pipi tangga sudah rusak. Penampil tangga menuju teras satu terdiri atas lima buah anak tangga. Sisa ragam hias yang tampak pada teras satu berupa pelipit horisontal dan relief sulur suluran. Pada teras dua terdapat ragam hias pelipit horisontal, motif sulur dau, motif umpak dan di puncak teras terdapat susunan batu berbentuk makam terdiri dari .. segi empat dan dua buah riasan berbentuk ..polos. Pada batu-batu lepas terdapat hiasan motif bunga padma berhias dan motif awan. Keadaan candi merak cukup baik. Candi ini diperkirakan dibangun pada masa akhir Kerajaan Majapahit di abad 15 Masehi.

Candi Lemari
Candi Lemari merupakan bangunan berteras empat, yang terletak di lereng barat Gunung Penanggungan, atau di sebelah timur Gunung Bekel, di ketinggian 950 mdpl. Candi ini menghadap ke arah utara, berbentuk persegi panjang dengan panjang 6,6 meter dan lebar 5,8 meter. Tangga yang menghubungkan antara teras satu dengan teras lain berada di sisi utara candi yang dibuat dari susunan batu gundul tanpa motif. Di teras paling belakang atau tertinggi, teras 4, terdapat bangunan altar dengan ragam hias artefak sudut berbentuk jajaran genjang dan pelipit-peipit horisontal. Keadaan candi Lemari rusak, Candi ini diperkirakan dibangun pada masa akhir Kerajaan Majapahit di abad 15.

Candi Shinta
Candi Shinta merupakan bangunan berteras empat yang terletak di lereng barat Gunung Penanggungan, di sebelah utara Candi Gentong. Keadaan teras 1 dan teras 2 dalam keadaan rusak sedangkan teras 3 dan teras 4 dalam kondisi bagus meskipun tidak utuh. Bekas anak tangga menuju ke teras 1 masih ada, tetapi anak tangga ke teras 2, 3 dan 4 sudah tidak ada. Pada teras ke-4 yang merupakan teras paling belakang terdapat sebuah bangunan altar. Candi Shinta dibangun pada masa akhir Kerajaan Majapahit abad 15.

Candi Pura
Candi Pura merupakan bangunan berteras 3, terletak di lereng Gunung Bekel menghadap ke arah barat. Keadaan bangunan sudah rusak, yang nampak hanya tumpukan batu-batu andesit berserakan. Pintu masuk dan anak tangga dari teras 1 ke teras lain di atasnta sudah tidak ada. Di teras 1 terdapat batu lepas dengan hiasan relief bermotif sulur-suluran sedangkan struktur bangunan di teras 2 sudah banyak yang lepas sehingga batu-batu candi bertumpuk begitu saja tidak beraturan. Di teras ini terdapat hiasan relief sulur-suluran, bunga dan medalion. Teras 2 merupakan teras paling belakang dan tertinggi. Keadaannya sama dengan teras 1, yang tampak setengah utuh adalah bangunan altar dari batu andesit. Bagian atas berukuran panjang 1,12 meter dan lebar 1,1 meter sedangkan bagian bawahnya memiliki panjang 1,74 meter dan lebar 1,14 meter. Bangunan altar dihias dengan relief motif sulur-suluran. Di depan bangunan candi terdapat lumpangan dari batu andesit dalam keadaan utuh, dengan ukuran tebal 19 sentimeter, diameter atas 53 sentimeter dan diameter bawah 31 sentimeter.  Lubang lumpang sedalam 10 sentimeter. Candi Pura diperkirakan dibangun pada masa akhir Kerajaan Majapahit.