May 11, 2018

Kertanegara, Raja Keempat Singasari


Agus Wibowo

Arca Amoghapasa dengan
naskah di umpaknya
Kertanegara adalah raja keempat Kerajaan Singasari yang berkuasa dari tahun 1268 sampai dengan 1292. Dia naik tahta dalam kondisi kerajaan dalam kondisi stabil, menjadi kerajaan terbesar di Pulau Jawa tapi menghadapi ancaman dari utara dimana Kekaisaran Mongol berkuasa di daratan China. Kubilai Khan yang menjadi penguasa Dinasti Yuan di China sedang meluaskan kekuasaan ke selatan dan mengirim armada laut sampai ke Pulau Jawa. Kertanegara juga mengembangkan kekuatan laut untuk mengantisipasi ekspansi dari utara, dan mengirim pasukan Ekspedisi  Pamalayu di tahun 1275 dan 1286.
Raja keempat Singasari ini banyak disebut dalam naskah sejarah, baik di dalam prasasti maupun dalam karya sastra seperti Kakawin Negarakertagama dan serat Pararaton. Beberapa prarasti yang menyebut nama dan asal usul Kertanegara diantaranya ada Prasasti Mula Malurung, Prasasti Murareh, dan Prasasti Padang Roco. Dari Prasasti Mula Malurung diketahui bahwa Kertanegara adalah putra Ranggawuni, yang menjadi raja ketiga Singasari bergelar Wisnuwardhana dari ibu bernama Waning Hyun yang merupakan cucu Ken Arok. Prasasti Mula Malurung merupakan prasasti dalam 12 lempeng tembaga, yang dikeluarkan oleh Kertanegara sewaktu masih menjadi yuwaraja (raja muda) di Kediri.

Dari Prasasti Padang Roco yang ditemukan di Darmasraya di Sumatera Barat, diketahui bahwa Kertanegara adalah raja Singasari yang mengirimkan Ekspedisi Pamalayu untuk menguatkan persahabatan  dan koalisis untuk membendung kekuatan dari utara. Naskah prasasti yang ditemukan di situs Padang Roco ini ditulis di bagian dasar arca Amoghapasa, arca perwujudan Kertanegara sebagai Syiwa Budha. Dalam Prasasti Murareh Kertanegara kembali menyebutkan bahwa dia adalah putra Wisnuwardhana. Prasasti ini dimaksudkan sebagai penghormatan kepada Resi Barada yang hidup di masa Raja Erlangga di abad 11, atau dua abad sebelum Kertanegara menjadi raja Singasari.
Kertanegara mempunyai masa kekuasaan selama 24 tahun dan Singasari mengalami banyak kemajuan, terutama dalam pembangunan pasukan laut. Selain mengirimkan dia kali Ekspedisi Pamalayu yang dipimpin oleh Mahisa Anabrang yang bergelar Rakryān Mahā-Mantri Dyah Adwayabrahma, Singasari juga mengirim pasukan untuk menaklukan Bali. Untuk memantapkan kontrol atas laut Jawa, dia juga memperkuat kontrol di Pulau Madura dengan menempatkan Aria Wiraraja sebagai Adipati Sumenep di ujung timur Pulau Madura.
Serat Pararaton
di Perpustakaan Nasional
Kertanegara meninggal dunia pada tahun 1292 dalam pemberontakan yang dilakukan oleh Jayakatwang, bupati Gelang Gelang yang merupakan kakak ipar dan besan Kertanegara. Peristiwa ini dikisahkan cukup panjang dalam Pararaton. Menurut serat ini, pemberontakan Jayakatwang terjadi karena adanya pengaruh Aria Wiraraja. Jayakatwang diminta untuk melakukan serangan diam-diam pada saat kekuatan Singasari jauh berkurang karena banyak ditinggal pasukan yang ikut dalam Ekspedisi Pamalayu. Menurut Nagarakretagama, Kertanagara dicandikan bersama istrinya di Sagala sebagai Wairocana dan Locana, dengan lambang arca tunggal Ardhanareswari.
Kertanegara meninggalkan 4 orang putri dari istrinya Bjradewi, yaitu: Tribhuwaneswari, Narendraduhita, Jayendradewi, dan Gayatri. Keempat putrinya ini kemudian menjadi istri Sangrama Wijaya yang menjadi pendiri Kerajaan Majapahit pada tahun 1293. Raja pertama Majapahit ini menyebutkan nama-nama putri Kertanegara ini dalam beberapa prasasti, diantaranya Prasasti Kudadu, Prasasti Belawi dan Prasasti Sukamerta.***