May 12, 2018

Mpu Barada, Pembelah Kerajaan Kahuripan Menjadi Panjalu dan Jenggala


Agus Wibowo

Ilustrasi Serat Lontar
Mpu Barada adalah seorang resi, seorang brahmana legendaris dimasa Raja Erlangga berkuasa di Pulau Jawa di tahun 1040-an. Alkisah, di masa Kerajaan Kahuripan sudah menaklukkan kerajaan-kerajaan di timur Pulau Jawa dan perekonomian mengalami kemajuan pesat, penduduk Desa Girah di wilayah Kediri menderita karena adanya penyakit yang mematikan. Bisa diibaratkan pagi sakit sore mati, atau bomis –rebo sakit kemis wafat. Menurut penduduk, wabah yang dihadapi penduduk merupakan akibat dari tenung atau kutukan seorang janda ahli sihir yang bernama Calon Arang. Tenung disebar secara massal karena tidak ada laki-laki yang berani melamar anak gadisnya meskipun cantik dan ujungnya masyarakat mulai bergunjing soal putri Calon Arang yang perawan tua. Calaon Arang murka dan kutukanpun ditebar.
Melihat rakyatnya menderita, Raja Erlangga bertindak sigap dengan mengirim pasukan untuk minta sang janda dari Desa Girah menghentikan tenungnya, bila perlu dengan paksaan. Pengerahan pasukan militer tidak bisa menghentikan kemarahan Calon Arang, bahkan pasukan Kahuripan pun banyak yang menjadi korban.
Raja Erlangga akhirnya meminta bantuan ke Mpu Barada dan sang resi segera melakukan langkah-langkah kongkret. Langkah pertama, dia menugaskan seorang muridnya melamar putri Calon Arang dan menikahinya. Langkah Kedua, sang murid diminta menyelidiki sumber kesaktian Calon Arang melalui putrinya. Langkah pertama berjalan mulus dimana Mpu Barada menjadi besan Calon Arang. Langkah kedua juga mulus setelah muridnya mendapatkan kitab rahasia Calon Arang.
Setelah mempelajari kitab tersebut, pu Barada menjalankan langkah ketiga,  yaitu menemui besannya dan memberinya peringatan. Calon Arang menerima dengan baik semua nasihat Mpu Barada, siap mengakhiri hidup dengan syarat minta disucikan dari salah dan dosa-dosanya. Ketika Mpu Barada tidak bisa memenuhi semua syarat yang diajukan, Calon Arang murka dan langsung menyerang dengan ilmu pamungkasnya. Dia menari-nari seperti orang kesurupan, ramput diikat ke atas, mata melotot dan lidah keluar –seperti sendratari Calon Arang yang ada di Bali.
Semua serangan Calon Arang dimentahkan, bahkan berbalik sehingga menewaskan Calon Arang.  Mpu Barada mensucikan jasad Calon Arang melalui kremasi. Bahkan untuk menghormatinya, Raja Erlangga memberi dana pembangunan tempat suci untuk menyimpan abu Calon Arang di Desa Girah. Penderitaan yang diderita oleh penduduk Desa Girah dan sekitarnya pun berakhir.  
Sepak terjang Mpu Barada dan Calon Arang di atas dikisahkan dalam Serat Calon Arang, ditulis tahun 1540, di sebuah tempat yang disebut sebagai “Semadri Camara, menghadap ke arah barat, di bawahnya Sungai Harung, di sebuah tempat yang ada guanya”. Hanya saja penulis tidak menyebutkan namanya.

Pembelahan Kerajaan Kahuripan
Jasa besar Mpu Barada sangat berkesan bagi Raja Erlangga, sehingga dia tertarik untuk menjalani darma dengan menjadi seorang resi. Mpu Barada bersedia membimbing sang raja yang dimulai melalui ritual keagamaan. Atas jasanya, Raja Erlangga memberikan banyak hadiah berupa.. “uang 50.000, 50 perangkat pakaian, emas dan permata serba banyak, juga pengikut pekerja sawah seratus orang, pemahat seratus orang, kerbau dan sapi pekerja yang banyak”. Raja Erlangga sangat menghormati Mpu Barada, bahkan jika ketemu, dia mengusap kaki sang resi dengan kain kemudian mengusapkan kain tersebut ke dahinya.
Raja Erlangga lagi-lagi memita bantu Mpu Barada ketika mau memutuskan meninggalkan tahta dan menjalani hidup sebagai resi. Karena putri sulungnya menarik diri dari kekuasaan, Erlangga menhadapi kerumitan karena dua putranya sama-sama ingin menjadi raja. Penjajakan ke Pulau Bali dilakukan, karena Erlangga adalah putra sulung Raja Udayana, tapi masih ada raja yang berkuasa. Akhirnya diputuskan untuk membagi kerajaan menjadi dua, Samarawijaya menjadi aja Panjalu beristana di Daha (Kediri) sedangkan Mapanji Garasakan menjadi Raja Jenggala beristana di Kahuripan (Sidoarjo). Pembelahan kerajaan ini terjadi pada tahun 1042 Masehi.
Harapan mempertahan kedamaian dengan membagi kerajaan menjadi dua ternyata tidak tercapai. Kerajaan Panjalu dan Jenggala dari awal sudah bersaing dan berperang. Pada tahun 1135, Sri Jayabaya, Raja Panjalu, menaklukkan Kerajaan Jenggala. Kemenangannya diabadikan dalam Prasasti Ngantang yang terkenal dengan semnboyan “Panjalu Jayanti” yang berarti Panjalu menang atau jaya. Hubungan dua kerajaan ini sempat harmonis di masa Kameswara berkuasa di Panjalu, melalui pernikahan Kameswara dengan putri raja jenggala bernama Sri Kirana. Kisah ini diabadikan dalam Kakawin Asmaradana.
Tapi konflik kembali menguat ketika Sri Kertajaya naik tahta di tahun 1186 Kerajaan Jenggala ditaklukkan sepenuhnya dan wilayahnya yang terletak di sebelah timur Gunung Kawi menjadi wilayah tumapel yang diduduki oleh orang kepercayaan Sri Kertajaya yang bernama Tunggul Ametung.

Menjadi Legenda
Prasasti Wurareh di Arca Joko Dolog
Peran Mpu Barada bagi Raja Erlangga yang begitu besar membuatnya menjadi legenda. Bukan hanya ditulis menjadi kisah Calon Arang, tapi juga dimuliakan oleh Raja Singasari keempat Kertanegara dan dipuja oleh Mpu Prapanca melalui Kakawin Negara Kertagama yang ditulis pada tahun 1365. Penghormatan Kertanegara kepada Mpu Barada diwujudkan melalui Arca Mahaksobya yang merupakan perwujudan sosok Kertanegara sebagai Budha. Arca ini sekarang ada di Surabaya dan dikenal sebagai Patung Joko Dolog.
Di bagian tempat dudukan Arca Joko Dolog ada pesan yang ditatah dalam huruf Palawa dan Bahasa Sanskerta, yang dikenal sebagai Prasasti Wurareh. Pada baris 4 sampai 6 Prasasti, Sri Kertanegara menulis tentang Mpu Barada sebagai berikut:
“...seorang pahlawan besar dan yang berhati bersih jauh dari segala noda dan prasangka, yang telah membagi dataran Jawa menjadi dua bagian dengan batas luar adalah lautan, oleh sarana kendi (kumbha) dan air sucinya dari langit (vajra). Air suci yang memiliki kekuatan putus bumi dan dihadiahkan bagi kedua pangeran, menghindari permusuhan dan perselisihan - oleh karena itu kuatlah Jangala sebagaimana Jayanya Panjalu”
Mpu Prapanca yang hidup 3 abad setelah Mpu Barada menyampaikan pujian melalui Kakawin Negara Kertagama, sebagaimana dia tulis di pupuh 68. Pada lontar kedua, Mpu Prapanca menulis “Ada pendeta Budamajana putus dalam tantra dan yoga. Diam di tengah kuburan lemah Citra, jadi pelindung rakyat. Waktu ke Bali berjalan kaki, tenang menapak di air lautan. Hyang Empu Barada nama beliau, faham tentang tiga zaman”.
Tentang pembagian Kerajaan Kahuripan, Mpu Prapanca menulis bahwa penentuan tapal batas dua kerajaan dilakukan dengan  memancurkan air kendi dari langit dengan cara terbang. Mpu Barada barada sempat tersangku pohon asem ketika terbang dan mengutuk pohon asam menjadi kerdil. Mpu Prapanca menulis “Itulah tugu batas gaib, yang tidak akan mereka lalui. Itu pula sebabnya dibangun candi, memadu Jawa lagi”.
Meskipun Jenggala dan Panjalu sempat konflik berkepanjangan, pada akhirnya disatukan dalam Kerajaan Singasari dan kemudian tetap menjadi satu dalam Kerajaan Majapahit. Garis batas yang ditarik dari laut Jawa sampai Laut Selatan melalui titik tengah Gunung Kawi tetap dikenang dan Mpu Barada selalu menjadi lengenda.”””