May 26, 2018

Petirtaan Jolotundo dan Kisah Air Suci Amerta

Agus Wibowo

Petirtaan Jolotundo terletak di Dukuh Balekambang, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Situs ini terletak di lereng barat Gunung Penanggungan pada ketinggian 525 mdpl, yang secara geografis berada dititik koordinat  7046’39” LS dan 112040’57” BT. Petirtaan ini dipugar pada tahun anggaran 1991/1992 sampai dengan 1993/1994 melalui proyek Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur.
Penelitian Candi Jolotundo telah dilakukan oleh beberapa ahli, antara lain Wardenaar pada tahun 1815 dengan melakukan penggalian dan menemukan peripih batu di tengah-tengah kolam yang berisi abu dan potongan emas dengan tulisan yang menyebut Dewa Isana dan Agni. Pada tahun 1838, Domais menemukan arca naga dan garuda di sudut kolam induk. Pada tahun 1840, beberapa ahli seperti Sieburgh, Yunhung, van Hoevel dan Brumund datang dan mendeskripsikan temuan yang ada. Pada tahun 1937, Stutterheim menemukan dan meneliti sebuah pancuran batu yang berbentuk silinder yang dianggap sebagai bagian puncak teras Jolotundo. Selain itu, Bosch meneliti arsitektur, seni hias dan relief Jolotundo. Pada tahun 1987, Soekartiningsih, seorang mahasiswi Arkeologi UGM membahas tentang pendiri dan fungsi petirtaan Jolotundo dalam skripsinya. Berdasarkan hasil penelitiannya, dapat disusun aspek arkeologis dan kesejarahan, serta fungsi Jolotundo.

Fungsi Petirtaan Jolotundo
Candi Jolotundo pada dasarnya merupakan sebuah kolam dengan ukuran 16 x 13 meter persegu yang menghadap ke barat. Candi ini dibuat dengan memotong sebagian lereng barat Gunung Penanggungan. Di sudut tenggara dan timur terdapat masing-masing sebuah kolam kecil. Di atas kolam kecil terdapat bangunan seperti candi, yang semakin ke atas semakin meruncing yang menempel pada dinding belakang. Banunan ini mempunyai dua relung yang pada bagian atas masing-masing relung dihiasi kala. Relung bagian atas telah kosong, sedangkan relung bawah terdapat  arca naga yang berfungsi sebagai saluran air dari dindin belakang ke kolam kecil.
Petirtaan ini dianggap melambangkan pengadukan lautan dalam cerita Amrtamanthana yang menceritakan proses mendapatkan air suci dengan menggunakan Gunung Mahameru yang dililit oleh Ular Batara Wasuki. Berdasarkan hal tersebut, Kolam Jolotundo diibaratkan sebagai lautan, sedangkan teras dengan pancuran berbentuk silindris yang dililit seekor ular melambangkan bentuk Mahameru. Air yang keluar dari pancuran itu sendiri dianggap sebagai air suci Amerta.
Dari berbagai penelitian di atas dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan pendapat mengenai fungsi petirtaan ini. Beberapa ahli seperti Stutterheim , Krom, van Stein Caltenfels beranggapan bahwa Jolotundo merupakan tempat pemakaman. Pendapat ini dibantah oleh beberapa ahli lain yang menganggap sebaliknya, salah satunya Soekmono. Selain itu, bukti arkeologis lain menunjukkan bahwa Jolotundo dibangun oleh Raja Udayana pada saat ia berusia 14 tahun. Dengan demikian, sebagaimana yang dikemukakan oleh Soekartiningsih, maka fungsi petirtaan ini adalah sebagai monumen pernyataan dan keberadaan diri raja Udayana saat mengundurkan diri bersemedi dalam rangka menghimpun kekuatan yang akan digunakannya untuk kembali menduduki tahta di Bali.

Sejarah Jolotundo
Peninggalan arkeologis yang berbentuk relief di petirtaan ini banyak yang rusak dan sebagian tidak diketahui tempat aslinya. Relief-relief yang masih berada di tempat aslinya hanya ada tiga buah yang semuanya terletak di suudut timur laut. Lima buah relief saat ini ada di Museum Pusat Jakarta, sedangkan satu buah relief ada di Kantor BP3 Jawa Timur.
Meskipun tersebar, Bosch berhasil menyusun urutan panel relief yang seharusnya berada di tempat aslinya. Isi cerita relief ini dibaca dri sudut timur laut –dari kiri ke kanan. Secara umum rangkaian relief ini berisi kisah tentang Mahabarata dan Katasaritsagara. Cerita Mahabarata hanya dipahatjan sebagian adegan pokok saja yaitu dari adegan Palasara bertapa sampai Janamejaya mengadakan korban ular. Cerita Kathasaritsagara dikisahkan secara lebih lengkap. Ini kisahnya adalah tentang pengasingan Udayana beserta ibunya Mrgawati di Gunung Udayanaparwa. Dalam kisah ini, ketika Mrgawati sedang mengandung Udayana, ia diculik oleh seekor burung garuda dan dibawa ke puncak gunung. Di gunung itulah lahir Udayana. Setelah 14 tahun dalam pengasingan, Udayana bertemu kembali dengan ayahnya, Raja Sahasranika.
Di bagian dinding candi di atas petirtaan terdapat empat buah prasasti pendek dengan huruf Jawa Kuno, yaitu: (1) angka tahun “saka 899” di dinding atas sebelah kiri, (2) kata “Gempeng” di dinding atas sebelah kanan, (3) tulisan “Udayana” di sudut tenggara dan (4) tulisan “Mrgawati” di suduttenggara. Empat inkripsi pendek ini melengkapi aspek kesejarahaan petirtaan Jolotundo. Banyak para ahli sepakat bahwa angka tahun 899 Saka menunjukkan tahun berdirinya Petirtaan Jolotundo. Bila demikian, maka pada tahun tersebut Udayana berumur 14 tahun.
Inkripsi angka tahun ini menjadi semakin menarik jika dikaitkan dengan cerita yang ada di relief Jolotundo. Cerita tentang penculikan Mrgawati yang sedang mengandung Udayana kiranya dapat disejajarkan dengan proses pengungsian Udayana ke Jawa Timur, ketika Bali sedang dilanda pralaya. Peristiwa ini berkaitan erat dengan inkripsi yang berbunyi Gempeng. Bila dilihat dari aspek arsitektur pembangunan petirtaan ini, maka kata gempeng dapat diartikan sebagai melebur atau memotong. Hal ini disebabkan karena petirtaan ini dibangun dengan memotong lereng gunung, sehingga kemudian bangunan ini seakan-akan melebur menjadi satu kesatuan dengan Gunung Penanggungan.
Tulisan Udayana dan Mrgawati yang dipahatkan pada dinding teras Jolotundo dapat dipandang sebagai usaha Udayana untuk memantapkan kedudukannya dengan menggunakan nama ibunya, yang dalam naskah dikenal sebagai Mrgawati. Dalam sejarah perkawinan Udayana dengan yaitu Gunapriyadarmapatni dipandang sebagai usaha untuk memantapkan kedudukannya. Seperti diketahui, Udayana kemudian menjadi raja di Pulau Bali, tepatnya di Kerajaan Bedahulu. Ia kemudian menikah dengan putri Kerajaan Medang di Pulau Jawa dan mempunyai seorang putra bernama Erlangga.