May 30, 2018

Prasasti Gulung-Gulung Mantapkan Mpu Sindok di Daerah Malang


Agus Wibowo

Prasasti Gulung-Gulung merupakan salah satu prasasti yang dikeluarkan oleh Mpu Sindok, Raja Medang di Jawa Timur, pendiri Wangsa Isyana. Prasasti dalam bentuk batu bertulis ini dimaksudkan sebagai peneguhan pemberian anugrah sima perdikan untuk sebidang sawah seluas 7 tapak di Desa Gulung Gulung di Kecamatan Singasari, Kabupaten Malang. Berdasarkan lokasi penemuan, prasasti ini juga dikenal sebagai Prasasti Singasari V. Naskah di prasasti ini ditatah dalam betu yang dibentuk menjadi lempengan, dibentuk gunungan di bagian atas dan diberikan ukiran relief pada bagian atas prasasti.
Pesan dalam prasasti menggunakan aksara dan bahasa Jawa Kuno. Berdasarkan angka tahun, prasasti ini dikeluarkan pada hari Selasa, tanggal 9 sulapaksa, bulan Waisaka tahun 852 Saka, yang tepada pada tanggal 20 April tahun 929 Masehi.
Pemberian anugrah sima perdikan untuk sawah di Desa Gulung-Gulung ini berawal dari permohonan Rakai Hujung Pu Madura kepada Raja Medang, agar sawah yang sudah diberikan kepadanya dijadikan sebagai tanah perdikan. Selain memohon status sima perdikan bagi tanahnya, Rakai Hujung Pu Madhura juga mengajukan permohonan tambahan agar diberikan sebagian wilayah hutan yang terletak di bantaran sungai agar juga bisa dijadikan tanah sima/perdikan. Penambahan lahan dan permohonan status sebagai tanah sima/perdikan ini dimaksudkan agar tanah bisa digunakan untuk tempat bangunan suci, yaitu sang hyang mahaprasada di Desa Hemad. Pajak desa yang sebelumnya disetorkan ke kerajaan akan digunakan untuk memelihara bangunan suci, biaya pelaksanaan upacara dan biaya pengadaan persembahan berupa kambing dan aneka bahan makanan.

Ditulis juga bahwa upacara pemujaan bagi bhatara ini dilaksanakan bersama-sama oleh penduduk Desa Hemad dan Desa Panawan. Mereka bisa bergantikan menyelenggarakan upacara karena memuja bathara yang sama. Upacara ini dilaksanakan dua kali dalam satu tahun, yaitu pada saat matahari melintasi garis katulistiwa, yaitu pada bukan Maret dan bulan September.      
Selain Desa Hemad dan Desa Panawan, ada juga tanah yang mendapatkan status simā di beberapa desa, diantaranya Desa Batwan, Desa Guru, Desa Air Gilaṅ, dan Desa Gapuk. Desa-desa tersebut dibebankan kewajiban untuk memberi persembahan kepada sang hyang prasāda di Desa Hemad. Masing-masing desa diberikan rincian tugas yang berbeda. Raja mengabulkan permintaan tersebut dan kedua desa itu pun dijadikan sima yang tidak diwajibkan menyetor pajak ke kerajaan, karena pajak digunakan untuk menjalankan kewajiban untuk memelihara bangunan suci dan untuk membiayani penyelenggaraan upacara.
Penetapan pemberian anugrah sima di ini dilakukan melalui upacara adat, yang dihadiri oleh pejabat kerajaan, dan disertai acara hiburan. Setelah upacara selesai, diuraikan pembagian hadiah yang dilakukan oleh Rakryan Hujung Pu Madhura, yang berupa kain dan emas. Besar hadiah disesuaikan dengan jabatan dalam kerajaan dan peran dalam upacara penganugerahan sima. Selain pejabat kerajaan, hadiah juga diberikan kepada pemain sandiwara, juru bicara kerajaan, dan juga penulis naskah prasasti. Prasasti Gulung-Gulung sekarang disimpan di Museum Nasional dengan nomor inventaris D. 88.
Dikaitkan dengan prasasti lain yang dikeluarkan oleh Mpu Sindok, Prasasti Gulung-Gulung termasuk salah satu prasasti yang dikeluarkan di tahun pertama Mpu Sindok memindahkan pusat kerajaan Medang Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Ada beberapa prasasti lain, yang dikeluarkan oleh Mpu Sindok di wilayah Malang dan sekitarnya, yaitu Jru-Jru (929), Cunggrang (929)  dan Linggasutan (929). Keempat prasasti ini berjarak satu tahun dibandingkan dengan Prasasti Sangguran, yang dibuat oleh Mpu Sindok saat menjabat sebagai Mahamentri I Hino atas perintah raja Medang Rakai Sumba Dyah Wawa.