May 09, 2018

Prasasti Mantyasih Ungkap Rahasia Raja-Raja Medang Mataram

Agus Wibowo
Prasasti Mantyasih
Prasasti Mantyasih adalah piagam kerajaan yang dikeluarkan Kerajaan Medang Mataram, yang berbentuk lempeng tembaga. Isi naskah ditulis bolak balik dengan huruf Palawa   dalam Bahasa Sanskerta. Prasasti ini ditemukan di kampung Mateseh di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah,. Prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Duah Balitung ini merupakan piagam pengkuhan pemberian anugrah sima perdikan bagi penduduk Desa Mantyasih, yang kini menjadi Kampung Mateseh. Di Kampung Meteseh hingga kini terdapat sebuah lumpang batu yang diyakini penduduk sebagai tempat upacara penetapan desa mereka sebagai desa perdikan. 
Selain berisi pemberian anugrah sima perdikan, melalui prasasti berangka tahun 907, Dyah Balitung menyebutkan nama-raja-raja Medang Mataram mulai dari Raja Sanjaya sampai Dyah Balitung yang berjumlah 9 orang. Menurut ahli sejarah, prasasti ini dibuat sebagai upaya melegitimasi Dyah Balitung sebagai pewaris tahta yang sah, sehingga menyebutkan raja-raja sebelumnya yang berdaulat penuh atas wilayah kerajaan Medang Mataram yang sering juga disebut sebagai Mataram Kuno. Penguatan legitimasi ini dilakukan diduga karena Dyah Balitung citra sebagai pewaris tahta yang sah meskipun posisinya adalah menantu raja sebelumnya, bukan putra mahkota.
Di dalam prasasti, nama-nama raja Kerajaan Medang Mataram ditulis di baris 8 dan 9. Daftarnya adalah sebagai berikut: (1) Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya, (2) Sri Maharaja Rakai Panangkaran, (3) Sri Maharaja Rakai Panunggalan, (4) Sri Maharaja Rakai Warak, (5) Sri Maharaja Rakai Garung, (6) Sri Maharaja Rakai Pikatan, (7) Sri Maharaja Rakai Kayuwangi, (8) Sri Maharaja Rakai Watuhumalang, dan (9) Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Dharmmodaya Mahasambhu. Dari daftar nama raja ini bisa dilihat bahwa Dyah Balitung merunut nama raja mengacu pada Prasasti Canggal yang dibuat oleh Sanjaya yang berangka tahun 732, bukan merujuk pada Prasasti Sojomerto yang berangka tahun 682, berbahaya Melayu Kuno dan dibuat oleh tokoh yang bernama Dapunta Syailendra.
Rahasia Prasasti Wanua Tengah
Raja-raja Medang Mataram
sampai tahun 898
Selain melalui Prasasti Mantyasih, Dyah Balitung juga membuat daftar raja-raja Kerajaan Medang Mataram yang disampaikan melalui Prasasti Wanua Tengah satu tahun kemudian (908). Prasasti ini ditemukan di Dukuh Kedunglo, Desa Gandulan, Kecamatan Kaloran, Kota Temanggung. Dalam prasasti yang berupa dua lempeng tembaga ini, Dyah Balitung menyebut jumlah raja sebanyak 13 orang, atau lebih banyak dari yang disebut di Prasasti Mantyasih. Ada perbedaan lain, yaitu adanya angka tahun pada masing-masing raja, kecuali raja pertama. Dalam daftar baru ini posisi Dyah Balitung menjadi raja ke-13 di Kerajaan Medang Mataram.
Empat nama baru dalam daftar raja-raja Kerajaan Medang Mataram yang ada di Prasasti Wanua tengah adalah Dyah Gula (827), Dyah Tagwas (885), Rake Panumwangan (885) dan Rake Gurunwangi (887). Adanya perbedaan nama raja-raja di Prasasti Wanua Tengah seakan menunjukkan ada yang salah di Prasasti Mantyasih dan perlu dikoreksi melalui Prasasti Wanua Tengah.
Mengapa perlu ada dikoreksi?
Setelah mengamati daftar nama di Prasasti Wanua Tengah yang disertai angka tahun, bahkan sampai tanggal dan bulan, bisa didentifikasi alasan adanya 4 nama raja yang tidak disebutkan di dalam Prasasti Mantyasih. Penjelasannya sebagai berikut: Pertama, Dyah Gula yang diurutan raja nomor 5 berkuasa selama 6 bulan dari tahun 827 sampai tahun 828; Kedua, Dyah Tagwas berkuasa selama 7 bulan di tahun 885; ketiga, Rake Panumwangan berkuasa selama 1 tahun lebih dari tahun 885 sampai 887; dan keempat, Rake Gurunwangi berkuasa selama 1 bulan saja di tahun 887.
Mungkin semula Dyah Balitung menganggap masa kekuasaan terlalu sebentar sehingga tidak perlu diberitakan, tapi kemudian dikoreksi melalui prasasti lain satu rahun kemudian.
Konflik Perebutan Tahta
Sedikit diperhatikan lebih, waktu berkuasa yang demikian singkat menunjukkan adanya konflik perebuatan kekuasaan yang terjadi di Kerajaan Medang Matara. Hal ini mudah diidentifikasi pada pergantian empat orang raja dalam waktu 2 tahun. Perebutan kekuasaan di tahun 885 sampai tahun 887, dan kemungkinan besar Dyah Balitung tahu bahkan terlibat. Pada tahun 898, atau 11 tahun kemudian, Dyah Balitung menjadi raja –cukup dekat untuk tahu dan penting terlibat untuk dapat kesempatan menjadi penguasa.