May 07, 2018

Prasasti Wurareh, Rahasia di Balik Patung Joko Dolog

Agus Wibowo

Arca Joko Dolog di Taman Apsari Surabaya
Prasasti Wurareh adalah prasasti yang berbentuk arca Budha yang dikenal sebagai arca Joko Dolog. Pesan berupa tulisan dalam arca ini ditatah pada tempat dudukan arca sebanyak 19 baris. Naskah ditulis dalam aksara Jawa Kuno dengan berbahasa Sansekerta. Berdasarkan baris 10 sampai dengan baris 17, arca prasasti ini dibuat atas perintah Sri Kertanegara, raja Singasari yang disebut sebagai Sri Jnanasiwawajra. Arca dengan pahatan prasasti ini terbuat dari batu andesit yang kini terletak di kawasan Taman Apsari Surabaya.
Prasasti ini disebut sebagai Prasasti Wurareh karena ditemukan di daerah Wurareh. Ada yang menyebut Wurare terletak  di Desa Kedungwulan, dekat Kota Nganjuk tapi ada juga yang menyebut bahwa Wurare berada di daerah Kandang Gajah, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Versi ketiga berasal dari pendapat Prof. DR. Poerbatjaraka yang berteori bahwa Wurare berkaitan dengan daerah Blora, tempat asal Resi Barada, yang dipuji oleh Kertanegara di baris awal prasasti. Menurutnya kata Blora itu berasal dari kata Wurara atau Wurare.
Pada masa pemerintahan Belanda di Indonesia, Prasasti Wurareh ditemukan di Trowulan di antara tumpukan kayu log. Hal ini membuat arca dinamakan sebagai arca Joko Dolog, yang berasal dari kata “jaga/jogo” yang berarti menjaga dan “dolog” yang berarti kayu log. Jadi nama Joko Dolog berarti "arca yang menjaga kayu log". Prasasti ini dipindahkan ke Surabaya pada masa pemerintahan Kerajaan Inggris di Pulau Jawa.
Prasasti di Dudukan Arca/www.sejarahlengkap.com
Prasasti Wurare yang lebih dikenal sebagai Arca Joko Dolog dibuat oleh Kertanegara sebagai penghormatan kepada Resi Bharada yang tinggal di Wurare. Resi Barada adalah seorang brahmana di masa pemerintahan Erlangga dari 1009 sampai dengan 1042. Dalam Serat Calon Arang, Resi Barada punya peran besar dalam membantu Raja Erlangga dalam memecahkan persoalan Kerajaan Kahuripan. Pertama, berperan dalam mengatasi wabah yang disebabkan tenung dari seorang janda bernama Calon Arang. Kedua, Resi Barada berperan dalam membagi Kerajaan Kahuripan menjadi Kerajaan Jenggala dan Panjalu.   
Penghormatan kepada Resi Barada dalam Prasasti Wurare ditulis cukup panjang, sebanyak 6 bari dari baris sampai baris 6. Pada baris 5 dan 6 dinyatakan dengan jelas peran Resi Barada dalam membagi Kerajaan Kahuripan menjadi dua, sebagai berikut: “Yang telah membagi dataran Jawa menjadi dua bagian dengan batas luar adalah lautan, oleh sarana kendi (kumbha) dan air sucinya dari langit (vajra). Air suci yang memiliki kekuatan putus bumi dan dihadiahkan bagi kedua pangeran, menghindari permusuhan dan perselisihan - oleh karena itu kuatlah Jangala sebagaimana Jayanya Panjalu (vishaya)”.
Setelah pemujaan kepada Resi Barada, prasasti ini menyampaikan pujian bagi raja Singasari sebelum Sri Kertanegara, yaitu Wisnuwardhana. Kemudian mulai baris 10, prasasti ini menjelaskan tentang Sri Kertanegara, yang diarcakan sebagai Mahakshobhya, raja yang memahami hukum dan juga membuat hukum. Prasasti ini berangka tahun 1289, ditulis oleh abdi raja Kertanegara yang bernama Nadajna.

Sumber:
- Alihbahasa Prasasti Wurareh yang diambilkan dari http://menguaktabirsejarah.blogspot.com
- Terjemahan Naskah Serat Calon Arang dari http://balikasogatan.blogspot.co.id
- Artikel Serat Calon Arang dari 1000monarki.com
- Artikel Negarakertagama dari 1000monarki.com