May 11, 2018

Rahasia Mpu Sindok Eksodus ke Timur Jawa


Agus Wibowo 
Istana Boko - Iyum
Sejak tahun 929 Kerajaan Medang Mataram tidak lagi ada wilayah Jawa Tengah, melainkan sudah eksodus cukup jauh dan mempunyai istana di daerah Tamwlang di Kabupaten Jombang Di Jawa Timur. Ada dua pendapat tentang eksodus atau perpindahan masal di tahun 928 ini. Ada yang berpendapat eksodus dilakukan kerena letusan Gunung Merapi yang super dahsyat dan ada juga pendapat bahwa eksodus dilakukan karena adanya konflik dan menghindari serang dari Kerajaan Sriwijaya.
Letusan Merapi - Amar Beni
Pendapat pertama salah satunya diutarakan oleh van Bammelen. Dia berpendapat bahwa perpindahan istana Medang dari Jawa Tengah menuju Jawa Timur disebabkan oleh letusan Gunung Merapi yang sangat dahsyat. Teori ini percaya bahwa letusan dahsyat ini menhancurkan puncak Gunung Merapi sampai membentuk Gunung Gendol dan lempengan Pegunungan Menoreh. Teori ini mempunyai bukti yang kuat, karena Gunung Merapi mempunyai sejarah panjang sebagai gurung berapi paling aktif di Pulau Jawa. Di masa kini, gunung berapi di Kabupaten Magelang ini sering meletus, yang banyak menyebabkan kerusakan dan korban jiwa. Candi Borobudur yang begitu besar bahkan tampak seperti bukit ketika ditemukan, diduga kuat tertimbun material letus Gunung Merapi.
Berita tentang terjadinya letusan gunung berapi ini bisa ditemukan di dalam prasasti yang dikeluargan oleh salah satu raja Medang Mataram, salah satunya Prasasti Rukam dibuat oleh Dyah Balitung di tahun 829 saka/907 masehi. Prasasti yang ditemukan di desa Petarongan, Parakan, kabupaten Temanggung ini memberitakan peresmian status Desa Rukam sebagai desa perdikan, karena desa tersebut telah dilanda bencana letusan gunung api. Di desa ini dibuat bangunan suci yang ada di Limwung dan penduduk Desa Rukam ditugaskan untuk memelihara bangunan suci ini.
Konflik Tahta dan Pengaruh Kerajaan Sriwijaya
Pendapat kedua didasari oleh terjadinya rentetan perebutan kekuasaan yang terjadi di Kerajaan Medang, terutama setelah berakhirnya kekuasaan Rakai Kayuwangi di di tahun 885. Dyah Tagwas berkuasa 7 bulan di tahun 885, Rakai Panamwungan berkuasa 1 tahun lebih sampai 887 dan Rakai Gurunwangi berkuasa 1 bulan saja di tahun 887. Beberapa raja terakhir juga mengakhiri kekuasaan karena kudeta. Dyah Balitung dikudeta oleh adik iparnya yaitu Mpu Daksa, yang kemudian dijatuhkan oleh Dyah Tulodong, yang kemudian kekuasannya direbut oleh Dyah Wawa. Bahkan Dyah Wawa pun hanya berkuasa selama 1 tahun sebelum Mpu Sindok membawa kerajaan pindah jauh ke Tamwlang, Jombang di tahun 929.  
Prasasti Sywagrha
Dugaan perebutan tahta ini melibatkan Kerajaan Sriwijaya, berdasarkan beberapa fakta. Pertama, peristiwa di masa sebelumnya, dimana Balaputradewa berusaha merebut kekuasaan dari kakak iparnya Rakai Pikatan di tahun 850. Peristiwa ini tertulis di Prasasti Sywagrha (858). Pendapat ini juga didukung oleh dua serangan dari Kerajaan Sriwijaya ke Kerajaan Medang yang sudah ada di Jawa Timur. Serangan pertama terjadi pada 937 di Anjukladang (Kabupaten Nganjuk Saat ini) dan serangan kedua terjadi di tahun 1006 yang menghancurkan Kerajaan Medang, yang menyebabkan Kerajaan Medang di Jawa Timur menghilang selama 3 tahun. Dalam Prasasti Pucangan (1041) yang dibuat atas perintah Raja Erlangga, tertulis bahwa serangan Mahapralaya ini dilakukan oleh Kerajaan Lwaram dengan dukungan pasukan Kerajaan Sriwijaya.

Eksodus yang Disiapkan
Versi letusan Gunung Merapi dan keonflik tahta yang melibatkan Kerajaan Sriwijaya sama-sama didukung oleh fakta, sehingga sama-sama mungkin menjadi sebab. Bahkan bisa menjadi penyebab bersama. Pertanyaan berikutnya adalah “Apakah eksodus dilakukan secara terencana dan bertahap atau mendadak dan gunggang langgang?”
Dari beberapa prasasti Kerajaan Medang yang ditemukan di wilayah Jawa Timur, bisa dibaca bahwa perpindahan kerajaan ke Jawa Timur terkesan direncanakan jauh-jauh hari. Di Tulungagung ada Prasasti Kubu-Kubu yang menjadi bagian dari Candi Penampihan yang ditemukan di Lereng Gunung Wilis. Prasasti yang dibuat atas perintah Dyah Balitung di tahun 905 ini memberitakan ekspansi yang dilakukan oleh Pasukan Dyah Balitung untuk menaklukan Kerajaan Kanjuruhan yang ada di Malang. Pasukan Medang Mataram sempat dipukul mundur ke barat, tapi mendapatkan dukungan dari penduduk Desa Kubu-Kubu dan berhasil mengalahkan pasukan Kerajaan Kanjuruhan.
Prasasti Turyan di Turen 
Ekspansi ke Jawa Timur dilakukan lagi pada tahun 928 yang dipimpin oleh Mpu Sindok yang menjadi Mahamenteri I Hino. Hal ini bisa dibaca di Prasasti Sangguran (929), yang dibuat oleh Mpu Sindok atas perintah Dyah Wawa. Saat ini Prasasti Sangguran ada di pekarangan keturunan Lord Minto di Skotlandia dan lebih dikenal sebagai Minto’s Stone. Singkat kisah, prasasti ini diambil Stamfor Raffles dari Malang, dikirim ke Lord Minto di India, kemudian Lord Minto membawanya pulang ke rumahnya di Skotlandia.  
Gerakan Mpu Sindok di wilayah bekas Kerajaan Kanjuruhan ini bisa dilihat pada tahun 929. Ada beberapa prasasti yang dibangun Mpu Sindok setelah menjadi raja. Paling tidak ada 3 prasasti yang berangka tahun 929, yaitu Prasasti Turyan, Prasasti Linggasutan, dan Prasasti Gulung-Gulung. Juga ada satu prasasti lagi yang ditemukan di Pasuruan, di utara Malang, yaitu Prasasti Cunggrang. Empat prasasti berangka tahun 929 di daerah sekita Malang ini menunjukkan bahwa perpindahan tidak dilakukan dalam situasi hancur lebur. Di tahun 929, tahun eksodus, Mpu Sindok punya pasukan yang kuat untuk memantapkan pendudukannya di bekas wilayah Kanjuruhan.
Jadi letusan Gunung Merapi dan konflik tahta disertai tekanan Kerajaan Sriwijaya kemngkinan lebih menjadi faktor pendorong eksodus dan bukan sebagai faktor pengusir.***