September 11, 2018

Angklung Buhun, Angklung Pusaha Masyarakat Baduy


Agus Wibowo

Angklung Buhun
Indonesia memiliki banyak peninggalan pusaka, salah satunya Angklung Buhun. Angklung Buhun merupakan kesenian angklung khas Kabupaten Lebak –salah satu Kabupaten di Provinsi Banten yang terletak di sisi tenggara. Kesenian ini memiliki karakter kesenian yang sederhana, baik dalam lirik maupun lagunya. Kenapa disebut sebagai Angklung Buhun? Buhun menunjukkan arti usia yang sudah sangat tua, kuno, peninggalan nenek moyang, hadir dari jaman baheula dan digolongkan sebagai kesenian pusaka. Angklung ini diperkirakan lahir bersamaan dengan terbentuknya komunitas masyarakat Baduy di Kabupaten Lebak.

Penampilan Angklung Buhun saat ini sangat jarang dilihat, karena hanya  isa dijumpai pada acara-acara ritual, seperti adat Seren Taun atau upacara sebelum menanam padi di Cisungsang Sukabumi Barat Daya dan di Masyarakat Baduy di Kanekes Kabupaten Lebak.  Kesenian angklung buhun memiliki aturan bahwa pemainnya harus laki-laki sebanyak 12 orang, 9 orang memainkan angklung dan tiga orang memainkan bedug.  

Sembilan angklung dan 3 bedug menghasilkan suara yang berbeda. Sembilan angklung terdiri dari: indung, ringkung, gimping, dong dong, engklok, indung leutik, trolok, reol 1 dan reol 2. Tiga alat musik perkusi berupa kendang terdiri dari tiga waditra, yaitu bedug, talingtung dan ketug.
Koleksi angklung buhun bisa dilihat di Museum Sri Baduga Provinsi Jawa Barat yang terletak di Jalan BKR No. 185, Pelindung Hewan, Astanaanyar, Kota Bandung. Museum ini berada di seberang Monumen Bandung Lautan Api di Lapangan Tegalega Kota Bandung. Angklung Buhun tercatat sebagai koleksi museum dengan nomor inventaris 03.1493.1-9.

Angklung buhun ini dimainkan dengan berdiri berputar Penampilan Angklung Buhun bisa dilihat pada video di link ini. Video ini dibuat oleh siswa KIR SMAN 2 Tangerang pada saat upacara sebelum menanam padi.

No comments:

Post a Comment