September 11, 2018

Kisah Air Suci Amerta dalam Samudramanthana


Agus Wibowo

Samudramanthana
Samudramanthana merupakan miniatur bangunan candi, yang terdapat relief kisah agama Hindu tentang pencarian Air Amerta –Air Kehidupan. Alkisah, di suatu masa dunia hanya dihuni oleh para dewa dan para raksasa. Suatu hari Dewa Brahma khawatir suatu saat dunia dikuasai oleh kejahatan, karena jumlah raksasa lebih banyak. Para dewa kemudian berkumpul mengadakan rapat dan memutuskan untuk mengaduk samudra  untuk mendapatkan air amerta. Sebagai alat pengaduk digunakanlah Gunung Mandara dengan alas kura-kura jelmaan Dewa Wisnu. Untuk alat memutar gunung digunakanlah ular yang sangat panjang yang merupakan perwujudan dari Dewa Besuki.

Ular panjang melilit gunung dan para dewa bergantian menarik ular sampai gunung berputar kencang, dan mengebor tanah. Setelah melalui banyak rintangan, upaya mengaduk lautan akhirnya menuai hasil. Keluarlah Ksira Amawa (lautan susu) dari Samudra Ksira. Lalu keluarlah Ardhacandra, Dewi Sura, Dewi Laksmi, Dewi Sri, Ucchaisravara, dan Dewa Dhanwantari dengan membawa Guci Amerta. Tapi guci amerta berhasil direbut oleh para raksasa. Untuk merebut kembali guci tersebut, Dewa Brahma menjelma menjadi bidadari cantik dan kemudian berhasil menggoda para raksasa sampai akhirnya Guci Amerta dapat direbut kembali.

Naga Membelit Gunung di Candi Penataran
Penggalana-penggalan kisah legenda pencarian Tirta Amerta bisa di dilihat di Komplek Candi Penataran di Kabupaten Blitar. Ada candi yang dibelit ular raksasa dan juga umpak/pondasi bangunan yang dilingkari ular raksasa yang dalam masyarakat Jawa dikenal sebagai Naga Gini. Ada beberapa mata air yang dipercaya, setidaknya dikaitkan dengan, legenda air amerta. Salah satu diantaranya adalah air di Kolam Petirtaan Jolotundo di Lereng Gunung Penanggungan, yang masuk dilayah Kabupaten Mojokerto Provinsi Jawa Timur.  

Replika Candi Samudramanthana saat ini ada di Museum Trowulan Mojokerta, ditaruh di sebuah bangunan terbuka yang beratap. Replika candi ini dibuat dari bahan batu putih yang di bagian bawahnya ada lubang sebagai pancuran air. Di bagian tengah ada relief yang menggambarkan sedikit bagian dari kisah pencarian air suci amerta. Sebagai koleksi museum, untuk ke depan replika candi ini perlu  dilengkapi informasi tentang tempat ditemukan dan merupakan bagian dari bangunan apa –apakah ada di istana atau merupakan bagian dari bangunan suci seperti Petirtaan Jolotundo dan Candi Belahan di Lereng Gunung Penanggungan.***  

No comments:

Post a Comment