September 11, 2018

Kisah Nabi Yusuf dalam Naskah Lontar


Agus Wibowo

Lontar Kisah Nabi Yusuf di Museum Sri Baduga Bandung
Kisah Nabi Yusuf dan Legenda Damarwulan sama-sama bercerita tentang pemuda tampan, dekat dengan penguasa, dan punya hubungan khusus dengan perempuan cantik di istana kerajaan. Nabi Yusuf dikisahkan secara utuh, panjang-lebar dan tuntas di Al Quran dalam Surat ke-12 yaitu Surat Yusuf sebanyak 111 ayat. Nabi Yusuf hidup di istana dan ketampanannya mempesona Zulaikha yang berujung fitnah dan mengantarkannya ke penjara. Di dalam penjara dia memecahkan teka-teka dari mimpi raja yang melihat 7 sapi gemuk dan 7 sapi kurus, sebagai masa makmur 7 tahun yang disusul kemudian dengan masa kerontang selama 7 tahun .


Nabi Yusuf pun dipercaya jadi pejabat kerajaan untuk mengelola logistik kerajaan agar bisa mengatasi kesenjangan antara makmur 7 tahun dengan paceklik 7 tahun. Ramalan terjadi dan  kerajaan pun selamat dari bencana kekeringan panjang kerena pengetahuan dan pengelolaan logistik yang benar. Ketika orang tua, adik dan kakak-kakaknya terlunta-lunta karena kelaparan, Nabi Yusuf akhirnya menemukan dan menolong mereka. Meskipun pernah dicelakakan oleh kakak-kakaknya yang cemburu dengan dicemplungkan ke sumur, Nabi Yusuf tetap menolong kakak-kakaknya.

Kisah Damarwulan tersebar sebagai dongeng tentang seorang pemuda desa yang mengabdi di istana Kerajaan Majapahit, sebagai pengurus kuda. Al kisah penguasa Majapahit yang bergelar Ratu Kencana Wungu (emas ungu) menghadapi kesulitan akibat pemberontakan yang dilakukan oleh Minakjinggo yang berkuasa di Blambangan. Sang Ratu mengirim pasukan Majapahit untuk menumpas Minakjinggo tapi  semua gagal. Ratu Kencana Wungu pun membuat sayembara  yang intinya “Barang siapa bisa mengalahkan Minakjinggo dan menumpas pemberontakan Blambangan: bila perempuan akan diangkat sebagai saudara, jika laki-laki akan dijadikan suami dan seterusnya).

Damarwulan yang memang sudah lama mengabdi kepada kerajaan ikut sayembara. Dia segera bergerak ke ujung timur Pulau Jawa di Banyuwangi, dan melakukan aksi intelijen. Dia akhirnya tahu bahwa sumber kekuatan Minakjinggo adalah “gada wesi kuning”, lalu dia susun rencana untuk mencurinya. Dengan ketampanannya Damarwulan menggoda istri-istri Minakjinggo, yang kemudian mencuri gada wesi kuning untuk diberikan kepada Damarwulan. Singkat cerita Damarwulan mengalahkan Minakjinggo dengan senjata logam pemukul berwarna keemasan milik Minakjinggo. Sesuai janji sayembara, Damarwulan menjadi suami ratu Kencana Wungu. Dan sesuai janjinya, Damarwulan pun memperistri istri-istri Minakjinggo.

Naskah Lontar dan Kitab Aksara Arab
Kisah Damarwulan dalam Kitab Beraksara Arab
Ketika berkunjung ke Museum Sri Baduga di Kota Bandung, saya melihat naskah dalam tumpukan lempeng bilah lontar yang diikat benang di sisi kira dan kanan, yang ternyata merupakan Kisah Nabi Yusuf. Saya sedikit takjub karena kebanyakan naskah dalam daun lontar berkisah tentang kerajaan-kerajaan masa Hindu-Budha di Pulau Jawa –seperti naskah Pararton, Kitab Negara Kertagama, bahkan Serat Calon Arang. Saya menemukan hal sebaliknya saat berkunjung ke Museum Mpu Tantular, Museum Provinsi Jawa Timur, yang ada di Kabupaten Sidoarjo. Di bagian oleksi naskah dalam daun lontar dan buku tua, saya melihat buku bertuliskan aksara Arab yang ternyata justru berisi kisah Damarwulan.

Meskipun takjub dan penasaran saya tidak tergoda untuk meminjam atau membacanya. Selain karena hanya berkunjung sebentar, saya juga sudah tahu cerita dari kedua kisah tersebut, baik dari dongeng guru Agama, dongeng guru Bahasa Jawa, buku kisah Anak maupun membaca terjemahan Al Quran Surat Yusuf. Saya lebih takjub karena dua naskah ini seperti membantah dugaan banyak orang, setidaknya dugaan saya, bahwa kisah kerajaan masa Hindu ditulis dalam bahasa Sanskerta dan Aksara Palawa atau Jawa Kuno dan sebaliknya.

Fakta dua naskah yang kelihatan tidak biasa ini setidaknya menunjukkan bahwa pertukaran nilai selalu terjadi sepanjang masa. Baik berkaitan dengan substansi pesan maupun wadah media,  aksara dan bahasanya.*    




No comments:

Post a Comment