September 11, 2018

Melihat Rumah Majapahit di Trowulan Mojokerto


Agus Wibowo

Replika Rumah Majapahit
Dalam kunjungan ke situs bekas ibukota Majapahit di Trowulan Kabupaten Mojokerto, saya melihat beberapa bangunan rumah mungil yang tidak banyak ditemukan di wilayah Mojokerto lainnya. Rumah-rumah ini relatif kecil dengan lebar 5 meter, pada umumnya berwarna coklat kemerahan dari bahan batu bata dan kayu. Bagian atabnya berbentuk limas dari genting yang berukuran kecil –lebih kecil dari umumnya genting rumah lainnya. Model rumah segi empat berwarna merah kecokalatan ini ternyata banyak digunakan untuk bangunan posyandu, dan bangunan lainnya. Bahkan mulai banyak penduduk yang mengubah penampilan sisi depan rumahnya dengan bangunan “rumah Majapahit ini”.

Di beberapa tempat banyak pagar rumah yang dihiasi relief Surya Majapahit. Saya sudah lama membaca bahwa Surya Majapahit merupakan lambang Kerajaan Majapahit yang bisa ditemukan di beberapa prasasti. Hanya saja, saya penasaran dan ingin tahu asal usul model bangunan rumah yang mulai banyak diikuti oleh masyarakat di Trowulan.

Rasa penasaran saya terjawab ketika berkunjung ke Museum Trowulan. Di bangunan bangunan utama museum, sebuah bangunan terbuka yang beratap saya melihat kerangka bangunan rumah dari kayu yang berukuran kecil. Secara refleks saya segera membandingkan bangunan kayu ini berkaitan dengan rumah merah kecokalatan yang makin banyak ditemukan di Trowulan. Kerangka rumah kayu mungil ini merupakan temuan dari penggalian situs permukiman di masa Majapahit yang ada di halaman sisi selatan Museum Majapahit.

Ini merupakan salah satu penemuan penting dari ekskapasi di Trowulan, benda temuan cukup lengkap berupa kerangka bangunan rumah utuh di area yang diidentifikasi sebagai permukiman penduduk yang ada di pusat pemerintahan Kerajaan Majapahit.
Temuan Kerangka Rumah Majapahit
Kerangka bangunan rumah kayu ini ditemukan di Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto Provinsi Jawa Jawa Timur. Penggalian dilakukan oleh para arkeolog setelah mengidentifikasi adanya bangunan permukiman, karena banyak ditemukan sia-sisa pondasi bangunan yang membentuk pola permukiman. Situs ini memperlihatkan sisa-sisa bangunan permukiman yang ada di ketinggian 41,49 meter dari permukaan air laut. Pada umumnya orientasi bangunan menghadap ke arah timur laut, ke arah timur sampai arah tenggara.

Dari pondasinya diketahui bahwa bangunan dibuat dari bahan batu bata, dengan denah bangunan berukuran panjang 5,2 meter dan lebar 2,15 meter. Dilihat dari ukurannya, bangunan rumah ini memiliki kapasitas ruang yang sempit apabila dijasikan tempat tinggal, yang hanya bisa menampung 2 atau 3 orang –model rumah yang masih dapat disaksikan di Pulau Bali di masa kini. Rumah Majapahit ini memiliki tangga tiga undakan yang menempel di sisi utara batur. Ini menunjukkan bahwa bangunan menghadap ke arah timur laut. Undagan tangga memiliki panjang 90 meter dan lebar 50 meter setinggi 25 sentimeter.

Lantai bangunan rumah mungil ini tidak ditutup dengan bata, hanya berupa tanah yang dikeraskan bercampur pecahan kecil tembikar dan bata –kemungkinan bata yang menutupi lantai sudah hilang. Rumah kayu menapak di atas batur bangunan dibuat dari pasangan bata yang berukuran panjang 28 sentimeter, lebar 18 sentimeter dan tebal 5 sentimeter. Bagian batur yang paling tinggi terdiri dari 10 lapis bata. Tumpukan antar-bata direkatkan dengan tanah setebal  kurang lebih 1 sentimeter.

Ikon Surya Majapahit di Pagar Rumah
Bangunan mungil di permukiman Majapahit ini mempunyai halaman di sisi utara dan timur, yang posisinya lebih rendah 50 sentimeter dari batur bangunan. Halaman sisi utara diperkeras dengan batu kerikil berukuran besar yang dibingkai dengan batu bata horisontal dalam luasan tertentu. Pola perkerasan halaman menggunakan kerikil yang dibingkai bata ini juga ditemukan pada situs obyek lainnya di wilayah Trowulan. Perkerasan jalan halaman semacam ini bisa mengurangi debu di musim kemarau dan tanah becek di musim hujan. Dari yang sudah digali, halaman utara setidaknya memiliki panjang 6 meter dan lebar 4 meter. Halaman bisa lebih lluas lagi apabila sudah digali lebih luas.

Di sisi utara, halaman rumah sampai pada bangunan berupa selokan yang mengarah timur-barat dan utara selatan. Selokan memiliki lebar 16 sentimeter dan kedalaman 8 sentimeter, dengan dinding dan dasar selokan yang dibatasi dengan bata merah. Berdasarkan analisis ketinggian permukaan dasar selokan, diketahui bahwa air mengalis dari selatan ke utara. Di bagian penggalian lain di halaman Museum Trowulan, ditemukan adanya pipa air dari bahan tanah liat yang tertanam insitu di dekat bangunan rumah.


No comments:

Post a Comment