February 27, 2018

Arie Sujito: Demokrasi Liberal Ada Kelemahan yang Bisa Disubsidi oleh Kearifan Lokal

Wawancara 

Pengantar: Indonesia merupakan negara berbentuk republik, menganut sistem demokrasi, yang memiliki sejarah monarki yang panjang. Bahkan Indonesia lahir dari dukungan kerajaan-kerajaan di nusantara. Saat ini kerajaan dan kesultanan masih eksis dan punya pengaruh dalam politik di Indonesia, khususnya di daerah. Untuk menijau fenomena dan pengaruh monarki dalam demokrasi di Indonesia, redaksi 1000monraki.com melakukan wawancara dengan sosiolog dan pengamat politik, Dr. Arie Sujito, Dosen Pasca Sarjana FISIP Universitas Gajahmada. Berikut hasil wawancaranya:

Bagaimana menurut Anda tentang entitas monarki di dalam demokrasi di Indonesia?
Salah satu problem serius dalam demokrasi di Indonesia adalah corak budaya yang feodal dan patriarki. Kalau kita lihat dalam rentang waktu sejarah di Indonesia,  transformasinya belum tuntas. Tapi itu memang realitas kita. Sejarahnya panjang dan dipelihara pada era kepemimpinan Presiden Suharto, dimana kekuasaan dirancang dengan model sentralistik, otoritarian. Politik sangat personal, semuanya tergantung Suharto. Politik personal ini adalah gaya raja, dimana model kekuasaan yang dia terapkan merupakan pengejawantahan dari corak kultur Jawa.

Prasasti Luitan tentang Sengketa Pajak Tanah di Jaman Mataram Kuno


Agus Wibowo

Di tanggal 10 Sulapaksa, hari Kamis, bulan Caitra tahun 823 saka, penduduk Kampung Luitan datang menghadap Rakryan Mapatih Hino dan Rakryān i Pagarwṣi Kerajaan Medang untuk mengadukan bahwa sawah yang mereka kerjakan hasilnya tidak sanggup membayar pajak yang diharuskan. Dari angka tahun prasasti diketahui dibuat pada saat raja Medang adalah Dyah Balitung.

Prasasti Luitan (BPCB jateng)
Penduduk Kampung Luitan meminta sawah kampung diukur ulang untuk ditentukan kembali beban pajak yang harus dibayarkan. Pengukuran ulang dilakukan oleh Sang Wahuta Hyang Kudur dan pembantu Rakryan i Pagarwsi. Dari hasil pengukuran disimpulkan bahwa sempitnya tanah tidak dapat memenuhi kewajiban pajak yang dibebankan dan tidak sanggup mempunyai enam budak untuk dipekerjakan. Hasilnya, permohonan dari kepala kampung itu untuk mengerjakan sawah (seluas) 1 lamwit 7 tampaḥ, dan dapat mempunyai empat budak.

Prasasti Canggal, Tunjukkan Eksistensi Wangsa Sanjaya di Kerajaan Medang


Agus Wibowo

Prasasti Canggal - Prasasti Sanjaya
Salah satu prasasti batu yang paling tua di Jawa Tengah adalah Prasasti Canggal. Prasasti ini berangka tahun 654 Saka atau 732 Masehi, atau kurang lebih 50 tahun setelah Prasasti Sojomerto yang ditemukan di Kabupaten Batang. Prasasti Canggal juga dikenal sebagai Prasasti Gunung Wukir, karena ditemukan di pelataran Candi Gunung Wukir di Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang. Selain itu prasasti ini juga dikenal sebagai Prasasti Sanjaya karena berisi tentang Sanjaya yang memerintahkan menulis prasasti.

Prasasti Canggal punya kemiripan struktur informasi dengan Prasasti Sojomerto, dimana pembuat prasasti menjelaskan asal usulnya. Perbedaannya, Prasasti Sojomerto ditulis dalam Bahasa Melayu Kuno, sedangkan Prasasti Canggal ditulis dalam Bahasa Sanskerta yang diukir dalam huruf Palawa. Dari transliterasi dan terjemahan yang dilakukan oleh beberapa sejarah, salah satunya Profesor Slamet Mulyana, prasasti terdiri dari 12 bait, yang isinya sebagai berikut: