March 12, 2018

Kalender Perhalaan, Salah Satu Kearifan Lokal dari Tanah Batak


Agus Wibowo

Bambu perhalaan atau disebut perhalaan saja adalah jenis almanak kalender Batak. Kalender perhalaan dibuat dari seruas bambu yang ditulisi aksarana Batak, dilengkapi dengan beberapa gambar yang menyimbolkan peredaran bulan. Perhalaan bambu ini digunakan untuk meramalkan hari baik untuk pelaksanaan pesta adat, melakukan usaha, ritual perkawinan dan sebagainya.
Perhalaan berasal dari kata “hala” yang berarti kalajengking, sejenis binatang bersupit dan bisa menyengatkan racun. Hala merupakan binatang beracun yang harus dihindari, dan perhalaan berkaitan dengan hari-hari yang harus dihindari. Pemetaan hari menurut kalender Batak ini divisualkan dalam bentuk binatang hala yang melintang dalam 4 kolom hari. Dari 4 kolom hari ini ada ada beberapa hari yang dihindarkan, yaitu hari yang tepat dengan kolom kepala, punggung dan ekor hala. Hari yang dianggap paling baik adalah hari yang tepat dengan perut hala.
Dalam kalender perhalaan Batak ini terdapat beberapa data astronomi, diantaranya informasi tentang waktu terbit dan tenggelam matahari dan bulan, waktu terjadinya gerhana, pasang surut air laut dan sebagainya. Perhalaan yang digunakan untuk mengamati pengaruh siklus buni, matahari dan bulan ini disebut dengan istilah Pane Nabolon, yakni mengingatkan agar manusia bersikap baik kepada alam agar tidak berbenturan dengan alam. Benturan dari reaksi sifat alam dengan sifat dan perilaku manusia dapat berdampak tidak baik. Sifat alam yang bisa berakibat buruk bagi manusia dilambangkan dengan mulut dan ekor kalajengking. Haria sial ini ditemuka dua kali dalam sebulan selama 4 hari. Dalam 4 hari tersebut ada 3 hari yang harus dihindarkan dan satu hari yang dapat dimanfaatkan.
Selain dibuat dari seruas batang bambu, perhalaan Batak ini juga ada yang dibuat pada buah labu. Perhalaan Batak yang diuat pada bauh labu memperlihatkan gambar hala yang lebih jelas, berupa serangga melata seperti kelabang atau kalajengking. Bagaimana pun, kalajengking maupun kelabang merupakan binatang yang sama-sama berbisa. Kalajengking bisa menyengatkan bisa dengan ekornya, sedangkan kelabang menyengatkan bisa melalui gigitannya.  
Perhalaan dalam bentuk bambu maupun labu ini merupakan koleksi Perpustakaan Nasional, yang bisa dilihat pada bagian Naskah Kuno yang ada di lantai 9 gedung perpustakaan. Dalam keterangan yang bisa dilihat di lemari pajang, perhalaan yang dibuat pada batang bambu maupun buah labu memiliki fungsi yang sama, yaitu menghitung hari baik berdasarkan siklus bumi, matahari dan bulan yang bisa memerikan pengaruh pada lingkungan kehidupan manusia di bumi.