April 04, 2018

Kakawin Negarakertagama, Kisah Kerajaan Majapahit di Masa Hayamwuruk


Agus Wibowo

Kitab Negarakertagama merupakan sumber informasi utama tentang Kerajaan Majapahit di abad 14 Masehi, ketika Hayamwuruk menjadi raja. Hal ini karena naskah ditulis pada saat Hayamwuruk masih hidup, kakawin berisi tentang kerajaan Majapahir, dan ditulis oleh pejabat keagamaan kerajaan yang ikut perjalanan raja, bisa masuk istana, ikut upacara kenegaraan dan dan bisa membaca dokumen-dokumen kerajaan.  Kakawin yang digubah oleh Prapanca ini ditulis dalam 383 lembar daun lontar yang dikelompokkan dalam 98 pupuh. Naskah ditulis dalam aksara dan Bahasa Kawi atau Jawa Kuno.
Dari 7 pupuh di awal kitab yang sebanyak 21 lembar lontar, sangat terasa bahwa kakawin Negarakertagama dimaksudkan sebagai karya puja satra karena Prapanca banyak menyampaikan pujian-pujian kepada Raja Hayamwuruk beserta keluarga dan sanak saudaranya yang menjadi petinggi di Majapahit maupun menjadi raja di kerajaan bawahan yang ada di Pulau Jawa. Gaya pujian yang ditulis oleh Prapanca sangat beragam karena dia memuji sangat banyak tokoh. Hayamwuruk yang sedang menjadi raja Majapahit bahkan dipuji sejak kelahirannya yang ditandai oleh meleusnya Gunung Kamput (kini disebut Gunung Kelut) yang gemuruhnya “membunuh durjana, penjahat musnah dari negara”.

April 03, 2018

Kitab Pararaton, Dongeng Historis tentang Ken Arok dan Keturunannya


Agus Wibowo

Serat Pararaton di Perpustakaan Nasional
Kitab Pararaton berkisah tentang Ken Arok sebagai tokoh yang menurunkan raja-raja Jawa, mulai dari Kerajaan Singasari sampai runtuhnya Kerajaan Majapahit. Penulis kitab ini tidak menyebutkan namanya, hanya menyebutkan waktu penulisan, yaitu tahun 1613 masehi. Kitab ini terdiri dari 18 pupuh, tapi pupuh pertama sepanjang hampir setengah dari keseluruhan naskah, yang mengisahkan Ken Arok dari bayi sampai menjadi raja dan menaklukkan Kediri. 
Kitab ini menceritakan sosok dan sepak terjang Ken Arok dari lahir, anak-anak, dewasa, menjadi raja sampai wafat. Bahkan di bagian awal dikisahkan kehidupan ibunya ketika Ken Arok di dalam kandungan. Singkat kisah, Ken Arok dilahirkan oleh seorang perempuan istri petani bernama Ken Endok yang dibuat hamil oleh Dewa Brahma. Karena dilahirkan tanpa ayah, bayi Ken Arok dibuang ke pemakaman bayi kemudian ditemukan oleh pencuri yang tersesat dan melihat cahaya dari kuburan yang ternyata berasal dari bayi Ken Arok. Mendengar kabar ada seseorang menemukan bayi yang memancarkan cahaya, Ken Endok datang dan mengakui Ken Arok adalah anaknya, meskipun mengijinkan sang pencuri mengangkat Ken Arok sebagai anak.

Prasasti Pamwatan, Dibangun di Akhir Kekuasaan Raja Erlangga di Kahuripan


Agus Wibowo

Prasasti Pamwatan di Pamotan
Prasasti Pamwatan merupakan salah satu prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Airlangga, pada tahun 965 Saka atau 1043 Masehi. Hal ini bisa dilihat dari nama yang tertulis di bagian atas prasasti, berdasarkan hasil pembacaan Damais pada tahun 1955 (Damais 1955, 183), yaitu Çri Mahãrãja Rakai Halu Çri Lokeçwara Dharmmawaṅça Airlaṅgga Anãntawikramottuṅgadewa dan  Rakryãn Mahãmantrĩ i Hino-nya Çrĩ Samarawijaya. Nama Sri Samarawijaya senagai Mahamantri Hino di dalam prasasti ini berbeda dengan Mahamantri Hino di Prasasti Kamalagyan tahun 1037 yaitu Sri  Sangramawijaya Prasadottungadewi. Hal ini sesuai dengan kisah tentang putri Erlangga yang tidak bersedia menjadi ratu karena lebih tertarik menjadi buksuni. Posisi Mahamantri Hino akhirnya digantikan oleh adiknya Sri Smarawijaya.
Prasasti Prasasti Pamwatan ditemukan berupa lempeng batu andesit besar yang ditemukan di Desa Pamotan, Kecamatan Sambeng, Kabupaten Lamongan. Di lokasi sekitar prasasti ditemukan pecahan artefak-artefak kuno dan serakan batu bata kuno berukuran besar, terutama disekitar pekuburan yang terletak 200-300 m di sebelah utara lokasi prasasti. Ditinjau dari letaknya, prasasti ini terletak di lereng sisi utara Gunung Pucangan (tempat ditemukannya Prasasti Pucangan oleh Raffles), berada di sebelah selatan kali Lamong yang di perkirakan sebagai batas dari Kerajaan Panjalu dan Jenggala.
Menurut L.C. Damais, angka yang tertulis di prasasti ini menunjukkan angka almanak yang menunjukkan angka tahun 964 saka atau 1042 masehi, yaitu tanggal 19 Desember 1042. Isi prasasti ditulis dalam aksara Jawa Kuno dan dalam Bahasa Jawa Kuno.
Lokasi Prasasti Pamwatan yang Hilang
Pada sisi depan (recto) bagian atas prasasti terdapat tulisan yang berbunyi DAHAṆA dalam aksara kwadrat. Hal memunculkan spekulasi bahwa Lokasi ditemukannya prasasti ini merupakan Kota Dahana, yang merupakan pusat pemerintahan baru Kerajaan yang ditempati oleh Erlangga sebelum “lengser keprabon mandeg pandito”. Beberapa ahli sejarah menyimpulkan bahwa sebelum mundur dari kekuasaan, Erlangga membangun kota baru yang ditempatinya sampai untuk kemudian menjadi ibukota kerajaan baru yang dinamakan Panjalu, dimana Putra yang bernama Sri Samarawijaya menjadi raja. Sedangkan putra yang bernama Mapanji Garasakan mendapatkan kerajaan timur bernama Janggala yang berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan. Nama Dahaṇa tersebut di dalam sumber lain, yaitu Serat Calon Arang dan Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca. sebagai ibu kota/keraton kerajaan Airlangga, namun dalam uraian serat tersebut tidak disebutkan secara pasti dimanakah persisnya letak keraton Dahaṇa itu berada. 
Saat ini Prasasti Pamwatan tidak ada di lokasi, tapi bekas prasasti masih dipelihara oleh masyarakat sampai kini. Dari keterangan masyarakat yang dimuat oleh koran Radar Bojonegoro, prasasti sudah tidak ada di tempatnya pada 12 September 2003. Hingga saat ini belum ada informasi tentang siapa yang mengambil prasasti dan di mana prasasti disimpan.

Sumber Informasi
-          Muljana, Prof. Dr. Slamet (2006). Tafsir Sejarah Nagara Kretagama. LKiS Yogyakarta.
-          Poesponegoro, Marwati Djoened; Notosusanto, Nugroho (1984). Sejarah Nasional Indonesia untuk SMP 2. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.



Serat Calon Arang, Kitab tentang Sepak Terjang Mpu Barada


Agus Wibowo

Naskah Lontar/Ilustrasi
Serat Calon Arang sangat terkenal, terutama di Pulau Bali, bahkan ada sendratari dengan judul sama, yaitu Sendra Tari Calon Arang. Sendratari ini menampilkan rangkaian kisah teror teluh yang dibuat oleh Calon Arang. Alkisah ada seorang gadis cantik di Desah Girah, yang membuat banyak laki-laki terpesona. Hanya saja, tidak ada laki-laki yang berani melamarnya karena takut pada ibunya, seorang janda yang dikenal sebagai ahli teluh yang bernama Calon Arang. Suatu saat ada yang bergunjing bahwa putri Calon Arang menjadi perawan tuwa, yang membuat Janda Calon Arang marah besar dan meneluh seluruh penduduk Desa Girah.
Latar belakang cerita tersebut membuat Sendratari Calon Arang terasa menghadirkan kesan magis. Kisah yang divisualkan dalam sendratari ini diterjemahkan dari cerita rakyat yang dituliskan pada lembar-lembar daun lontar bolak-balik sebanyak 51 lembar yang disebut sebagai Serat Calon Arang. Serat ditulis dalam Huruf Bali dengan Bahasa Kawi atau Jawa Kuno, yang keseluruhan isinya menceritakan sepak terjang seorang pendeta di masa Kerajaan Kahuripan di abad 11, yang bernama Mpu Barada. Penulis serat ini tidak menyebutkan namanya tapi menuliskan waktu penulisan yaitu pada tahun Saka 1462 (1540 Masehi), tanggal bulanhamacapmika, paroh terang ke-10. Masih di lembar lontar ke 51, penulis juga menjelaskan tempat dia menyelesaikan karyanya, yaitu di Semadri Camara, menghadap ke arah barat, di bawahnya Sungai Harung, di sebuah tempat yang ada guanya.
Berdasarkan kisah secara keseluruhan naskah, serat ini lebih cocok apabila diberi judul Serat Mpu Baradah, karena dari awal sampai akhir serat ini berkisat tentang sepak terjang Mpu Baradah sebagai pendeta sakti yang menjadi panutan Raja Erlangga yang berkuasa di Kahuripan. Naskah dalam serat ini bisa dipilah menjadi dua bagian, yaitu: pertama, tentang Mpu Baradah yang menyelesaikan persoalan yang dihadapi oleh rakyat Kerajaan Kahuripan di Daerah Kediri akibat ulah seorang janda bernama Calon Arang yang meneluh semua warga Desa Girah karena tidak ada laki-laki yang mau mengawini putrinya yang bernama Ratna Manggalih. Penduduk Desa Girah banyak yang sakit dan mati akibat teluh Calon Arang.
Mendengar penderitaan penduduk Desa Girah, Raja Erlangga mengirim pasukan untuk menumpas Calon Arang, tapi gagal. Bahkan efek teluh Calon Arang malah meluas. Raja Erlangga mencari cara lain, kemudian minta bantuan ke seorang pendeta Brahmana yang yang berasrama di Lemah Tulis bernama Mpu Barada. Pendeta ini bersedia dan segera memberikan rekomendasinya, dia usul seorang muridnya yang bernama Mpu Bahula untuk melamar putri Calon Arang. Setelah menjadi suami Ratna Manggalih, dia mengamati kebiasaan Calon Arang dan melaporkannya kepada Mpu Barada.
Pada lembat lontar ke 18 diceritakan bagaimana Mpu Bahula mendapatkan kitab yang menjadi rahasia kekuatan Calon Arang. Kitab tersebut kemudian ditunjukkan kepada Mpu Barada. Mpu Barada Menilai bahwa Kitab sastra milik Calon Arang berisi hal utama untuk jalan kebaikan, menuju kesempurnaan dan puncak rahasia pengetahuan, sayangnya digunakan jalan yang salah, menuju kiri menjalankan ilmu sihir.

Sendratari Calon Arang/www.kamerabudaya.com
Setelah mendapatkan informasi yang cukup Mpu Baradah pun menemui Calon Arang. Dialog Mpu Baradah dengan besannya Calon Arang bisa dilihat mulai lembar lontar ke 23. Calon Arang menyambut Mpu Barada yang merupakan besannya bahkan meminta nasihat tentang kebaikan dan minta diruwat. Mpu Baradah tidak bersedia meruwat karena kerusahan yang diakibatkan teluhnya terlalu besar. Calon Arang marah besar dan menyerang Mpu Baradah dengan sihirnya. Ritual sihirnya digambarkan dengan cara menari-nari, membalikkan rambut di atas kepala, mata melirik-lirik dan seterusnya. Mpu Barada tidak mempan oleh sihir Calon Arang, kemudian balik membalas dan Calon Arang mati ditempat berdirinya. Mpu Barada kemudian menyempurnakan jasad Calon Arang dan mengangkat dua putranya menjadi murid. Abu jasad Calon Arang kemudian dicandikan di Desa Girah atas biaya dari kerajaan Kahuripan (28a) dan dinamakan Rabut Girah, diharapkan menjadi tempa suci bagi orang-orang Girah sampai sekarang. Dipuja dan dihormati.

Pembelahan Kerajaan Menjadi Dua
Kisah kesaktian Mpu Baradah dalam mengatasi teluh Calon Arang sangat berkesan bagi Raja Erlangga. Dalam lembar lontar 29b, Raja Erlangga menyampaikan keinginan untu mengikuti jalan Mpu Barada menjadi resi atau pendeta. Dia menyatakan keinginan untuk “..turut mempelajari Sang Hyang Dharma, meminta ajaran yang baik seorang pendeta melepaskan pikiran hina, mempelajari ajaran hukum”.
Bagian 1 Serat Calon Arang berakhir sampai lembar lontar 36a. Mulai lembar lontar, serat Calon Arang memasuki bagian 2, yaitu tentang pembagian kekuasaan bagi dua putranya yang sama-sama ingin menjadi raja, yaitu Mapanji Garasakan dan Samarawijaya. Mulanya Raja Erlangga ingin salah satu putranya menjadi raja di Pulau Jawa dan satu lagi menjadi raja di Pulau Bali –karena bagaimana pun Erlangga adalah putra pertama Raja Udayana sehingga punya hak atas tahta kerajaan di Bali. Raja Erlangga kembali minta bantuan ke Mpu Barada.
Mpu Barada berangkat ke Bali untuk melakukan lobi dengan menemui seorang pendeta yang lebih senior dan diceritakan lebih sakti daripada Mpu Barada. Sampai di Bali, Mpu Barada mendapatkan penjelasan bahwa Kerajaan Bali sudah memiliki raja dari keturunan sedarah raja sebelumnya. Mpu Barada kembali ke Kahuripan kemudian Raja Erlangga memutuskan untuk membagi kerajaan menjadi dua, satu kerajaan berpusat di Kahuripan dan kerajaan satu lagi berpusat di Daha. Dalam proses ini Mpu Barada berperan menentukan batas wilayah, pejabat kerajaan dan pendudukbagi kedua kerajaan. Setelah pembagian kerajaan selesai, Raja Erlangga mulai menjalani cita-citanya untuk menjadi seorang pendeta atau resi dengan mempelajari Sang Hyang Dharma.
Cerita yang disampaikan dalam Serat Calon Arang banyak mengandung mitologi dan mistik, seperti tentang kesaktian Calon Arang yang bisa menimbulkan wabah yang mengancam stabilitas kerajaan, dan terutama kesaktian Mpu Barada yang mempesona Raja Erlangga. Selain bisa mengalahkan Calon Arang, kesaktian Mpu Barada juga digambarkan dalam kisah perjalanannya ke Pula Bali, dimana dia menyeberang bolak balik dengan menaiki selembar daun keluwih –semacam daun sukun. Meskipun begitu, kisah legenda di di masa Kerajaan Kahuripan di abad 11 yang ditulis di pertengahan abad 16 ini bisa dikonfirmasi bukti-bukti otentiknya.
Jejak Raja Erlangga yang “lengser keprabon mandeg pandito” ini bisa dilihat jejaknya di Lereng Gunung Penanggungan, di Candi Belahan d Daerah Trawas Mojokerto. Pembelahan atau pembagian Kerajaan Kahuripan menjadi Kerajaan Jenggala dan Kerajaan Panjalu juga bukan sekedar dongeng. Dalam Prasasti Pamwatan disebutkan bahwa Raja Erlangga membangun istana baru yang dinamakan Dahana. Dalam prasasti ini nama Erlangga masih disebut dengan nama abiseka lengkap, yaitu Çri Mahãrãja Rakai Halu Çri Lokeçwara Dharmmawaṅça Airlaṅgga Anãntawikramottuṅgadewa. Dalam Prasasti Gandakhuti yang dibuat pada 24 November 1042, Raja Erlangga ditulis dengan gelar seorang resi, yaitu Resi  Aji Paduka Mpungku.

Adab Menghormati Pendeta
Selain kisah tentang ‘teror teluh’ yang dilakukan oleh Calon Arang dan pembagian kerajaan Kahuripan menjadi Kerajaan Jenggala dan Panjalu, Serat Calon Arang juga memberikan gambaran tentang penghormatan kepada seorang pendeta. Hal ini digambarkan melalui penghormatan kepada Mpu Barada yang dilakukan oleh Raja Erlangga maupun dua orang putranya yang menjadi Raja di Panjalau dan Jenggala. Dalam beberapa lembar lontar digambarkan bagaimana Raja Erlangga berjongkok dan mengelap debu di kaki mpu Barada kemudian mengusapkannya ke dahi. Dalam lontar ke 35a diantaranya, dikisahkan “Sang Raja menghormat kepada Sang Pendeta, lalu mengusap debu kaki Sang Pendeta Baradah, diletakkan di ubun-ubun Sang Raja, berdua dengan permaisurinya”.
Selain penghormatan, Erlangga juga memberikan upah atas jerih payah Mpu Barada yang berperan mengembalikan keamanan dan ketenteraman masyarakat dari teror jahat Calon Arang. Dalam Lontar 34b dijelaskan “Semua menyiapkan kereta gajah dan kuda diberikanlah kepada sang Pendeta oleh Sang Raja, dan uang 50.000, 50 perangkat pakaian, emas dan permata serba banyak, juga pengikut pekerja sawah seratus orang, pemahat seratus orang, kerbau dan sapi pekerja yang banyak.
Dua putra Erlangga yang menjadi raja di Jenggala dan Panjalu juga menghormati Mpu Barada dengan cara yang sama. Mereka berlutut dan mengusat debu di kaki sang pendeta dengan kain dan mengusapkan debu tersebut ke ubun-ubunnya. Hal ini terjadi ketika Mpu Barada mendamaikan dua raja kakak adik ini berperang di awal pembagian kerajaan.

Sumber
- Calon Arang Si Janda dari Girah, Dr. Soewito Santoso, Balai Pustaka 1975
- http://balikasogatan.blogspot.co.id/2012/11/terjemahan-lontar-calon-arang.html

Prasasti Kamalagyan, Peneguhan Tanah Perdikan Bagi Penjaga Bendungan Brantas


Agus Wibowo 

Prasasti Kamalagyan ditemukan di Dusun Klagen, Desa Tropodo, Kecamatan Krian Kabupaten Sidoarjo. Prasasti ini dibuat dari lempeng batu andesit besar yang ditegakkan, dengan ukuran lebar 115 sentimeter, tebal 28 sentimeter dan tinggi 215 sentimeter. Selain prasasti utama dalam ukuran besar, ada juga batu kecil di sampingnya. Pesan di prasasti ditatah dalam huruf Jawa Kuno dan dalam bahasa Jawa Kuno. Tulisan yang ditemukan dan bisa dibaca sebanyak 23 baris.  Prasasti ini termasuk prasasti yang masih ada ditempatnya, dimana saat ini dilindungi dengan bangunan joglo berlantai dan beratap, yang melindungi prasasti dari panas matahari dan hujan.

Prasasti ini menjelaskan tentang pembangunan bendungan di Wringin Sapta yang dilakukan oleh Raja Erlangga bersama dengan rakyat. Bendungan dibangun untuk mengatasi banjir yang sering menerjang beberapa desa maupun tanah perdikan. Beberapa desa di daerah hilir yang sering banjir diantaranya  Desa Lusun, Panjuwan, Sijanatyesan, Panjiganting, Talan, Dasapangkah dan  dan Desa Pangkaja. Selain desa pertanian tersebut ada juga beberapa daerah sima, diantaranya Kalang, Kalagyan, Thani Jumput dan beberapa tempat peribadatan seperti biara-biara, bangsal-bangsal kamulan untuk para pertapa, bangunan suci tempat pemujaan dewa, dan pertapaan-pertapaan, terutapa daerah Labapura bagi sang Hyang Dharmma ring Isanabhawana di Surapura.
Banjir ini sering menghancurkan sawah-sawah, sehingga pajak yang masuk kas kerajaan menjadi berkurang. Tidak sekali dua kali rakyat membuat tanggul, tetapi tidak berhasil menanggulangi banjir. Raja Erlangga pun akhirnya mengerahkan seluruh rakyat untuk bekerja bakti membuat bendungan.
Prasasti menyebutkan bahwa pembuatan bendungan oleh raja ini begitu kukuh dan kuat sehingga bisa menahan aliran air Sungai Brantas, yang dipecah menjadi dua dan dialirkan ke arah utara. Bendungan ini langsung dirasakan manfaatnya oleh desa-desa pertanian karena sawah-sawah dapat dikerjakan lagi. Selain bermanfaat untuk pertanian, bendungan Waringin Sapta juga memberikan manfaat bagi perdagangan yang banyak dilakukan melalui melalui sungai dengan moda transportasi perahu. Disebutkan bahwa “Bersukacitalah mereka yang berperahu ke arah hulu, mengambil dagangan di Hujung Galuh, termasuk para pedangang dan nahkoda dari pulau-pulau lain yang berkumpul di Hujung Galuh (Surabaya)”.
Menimbang besarnya manfaat bendungan bagi pertanian dan perdagangan dari daerah hulu ke hilir, raja berpikir tentang kemungkinan penghancuran yang dilakukan oleh musuh. Untuk itu, Raja Erlangga memberikan tugas kepada masyarakat di  beberapa desa untuk menjaga bendungan, terutama kepada penduduk Desa Kamalagyan. Sebagai imbalannya penduduk Desa Kamalagyan diberikan imbalan berupa bagian pajak. Mereka mendapatkan bagian pajak seperti yang telah disebutkan di atas, yaitu jumlah yang dikurangkan dari pajak yang semestinya disetor ke kas kerajaan. Imbalan berupa pengurangan pajak ini dijelaskan cukup detil di dalam prasasti, diantaranya sebagai berikut:
-    1. Pajak dari wilayah pangkaja, kebon sirih, tepian sungai dan rawa-rawa yang sebesar emas 17 swarna, 14 masa, 4 kupang dan 4 satak dikurangi 10 suwarna untuk diserahkan kepada raja setiap bulan Asuji.
      2. Pajak dari Desa Kamalagyan sebesar 2 swarna dan 10 masa emas dikurangi 2 swarna untuk diserahkan kepada warga hatur.
-    3. Dari kakalangan yang pajaknya sebesar 1 masa dan 2 kupang dikurangi 1 masa untuk diterimakan kepada warga pati.
Tiga sumber pemotongan pajak tersebut diberikan kepada Desa Kamalgyan untuk menjaga dan memelihara bendungan, sementara pajak perdagangan yang dilakukan di desa tersebut yang berupa mata uang perak, tidak dikurangi.
Prasasti ini memberikan jaminan bahwa pemimpin Desa Kamalagyan bertanggungjawab langsung kepada raja, tidak kepada pejabat kerajaan lainnya, apalagi pemungut pajak. Peneguhan tentang tugas kepada penduduk Kamalgyan untuk mengamankan bendungan ini dilakukan karena Raja Erlangga merasakan masih adanya potensi ancaman dari adanya kerajaan yang belum menerima kepemimpinan Erlangga di Tanah Jawa. Salah satu diantaranya adalah Kerajaan Wengker yang pemberontakannya baru dipadamkan kurang lebih satu minggu sebelum prasasti dibuat.
Prasasti dimulai dengan penyebutan waktu yaitu “ Swasti Cakawarcatita 959 marggaciramas” atau 10 November 1037. Di baris kedua dan ketiga disebutkan nama pejabat kerajaan, yaitu: (1) Maharaja Rake Hulu Sri Lokecwara Dharmmawanca Airlangganama Prasadottungadewa, (2) Rakyan Mahamantri i Hino yang bernama  Sri  Sangramawijaya Prasadottungadewi, (3) Rakyan Kanuruhan yaitu pu Dharmmamantri Narottamajana.
Dari nama kedua diidentifikasi bahwa yang berkedudukan sebagai pewaris tahta kerajaan adalah Sri Sangramawijaya Prasadottunggadewi, putri sulung Erlangga. Meskipun begitu, dari beberapa sumber berupa prasasti maupun kakawin, putri sulung Erlangga ini tidak bersedia menjadi ratu Kahuripan dan lebih memilih menjadi resi, yang dalam cerita rakyat dikenal sebagai Dewi Kilisuci.

Sumber
2. Slamet Mulyana, Prof. Dalam Negarakertagama.