May 12, 2018

Mpu Barada, Pembelah Kerajaan Kahuripan Menjadi Panjalu dan Jenggala


Agus Wibowo

Ilustrasi Serat Lontar
Mpu Barada adalah seorang resi, seorang brahmana legendaris dimasa Raja Erlangga berkuasa di Pulau Jawa di tahun 1040-an. Alkisah, di masa Kerajaan Kahuripan sudah menaklukkan kerajaan-kerajaan di timur Pulau Jawa dan perekonomian mengalami kemajuan pesat, penduduk Desa Girah di wilayah Kediri menderita karena adanya penyakit yang mematikan. Bisa diibaratkan pagi sakit sore mati, atau bomis –rebo sakit kemis wafat. Menurut penduduk, wabah yang dihadapi penduduk merupakan akibat dari tenung atau kutukan seorang janda ahli sihir yang bernama Calon Arang. Tenung disebar secara massal karena tidak ada laki-laki yang berani melamar anak gadisnya meskipun cantik dan ujungnya masyarakat mulai bergunjing soal putri Calon Arang yang perawan tua. Calaon Arang murka dan kutukanpun ditebar.
Melihat rakyatnya menderita, Raja Erlangga bertindak sigap dengan mengirim pasukan untuk minta sang janda dari Desa Girah menghentikan tenungnya, bila perlu dengan paksaan. Pengerahan pasukan militer tidak bisa menghentikan kemarahan Calon Arang, bahkan pasukan Kahuripan pun banyak yang menjadi korban.

May 11, 2018

Kertanegara, Raja Keempat Singasari


Agus Wibowo

Arca Amoghapasa dengan
naskah di umpaknya
Kertanegara adalah raja keempat Kerajaan Singasari yang berkuasa dari tahun 1268 sampai dengan 1292. Dia naik tahta dalam kondisi kerajaan dalam kondisi stabil, menjadi kerajaan terbesar di Pulau Jawa tapi menghadapi ancaman dari utara dimana Kekaisaran Mongol berkuasa di daratan China. Kubilai Khan yang menjadi penguasa Dinasti Yuan di China sedang meluaskan kekuasaan ke selatan dan mengirim armada laut sampai ke Pulau Jawa. Kertanegara juga mengembangkan kekuatan laut untuk mengantisipasi ekspansi dari utara, dan mengirim pasukan Ekspedisi  Pamalayu di tahun 1275 dan 1286.
Raja keempat Singasari ini banyak disebut dalam naskah sejarah, baik di dalam prasasti maupun dalam karya sastra seperti Kakawin Negarakertagama dan serat Pararaton. Beberapa prarasti yang menyebut nama dan asal usul Kertanegara diantaranya ada Prasasti Mula Malurung, Prasasti Murareh, dan Prasasti Padang Roco. Dari Prasasti Mula Malurung diketahui bahwa Kertanegara adalah putra Ranggawuni, yang menjadi raja ketiga Singasari bergelar Wisnuwardhana dari ibu bernama Waning Hyun yang merupakan cucu Ken Arok. Prasasti Mula Malurung merupakan prasasti dalam 12 lempeng tembaga, yang dikeluarkan oleh Kertanegara sewaktu masih menjadi yuwaraja (raja muda) di Kediri.

May 09, 2018

Prasasti Mantyasih Ungkap Rahasia Raja-Raja Medang Mataram

Agus Wibowo
Prasasti Mantyasih
Prasasti Mantyasih adalah piagam kerajaan yang dikeluarkan Kerajaan Medang Mataram, yang berbentuk lempeng tembaga. Isi naskah ditulis bolak balik dengan huruf Palawa   dalam Bahasa Sanskerta. Prasasti ini ditemukan di kampung Mateseh di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah,. Prasasti yang dikeluarkan oleh Raja Duah Balitung ini merupakan piagam pengkuhan pemberian anugrah sima perdikan bagi penduduk Desa Mantyasih, yang kini menjadi Kampung Mateseh. Di Kampung Meteseh hingga kini terdapat sebuah lumpang batu yang diyakini penduduk sebagai tempat upacara penetapan desa mereka sebagai desa perdikan. 
Selain berisi pemberian anugrah sima perdikan, melalui prasasti berangka tahun 907, Dyah Balitung menyebutkan nama-raja-raja Medang Mataram mulai dari Raja Sanjaya sampai Dyah Balitung yang berjumlah 9 orang. Menurut ahli sejarah, prasasti ini dibuat sebagai upaya melegitimasi Dyah Balitung sebagai pewaris tahta yang sah, sehingga menyebutkan raja-raja sebelumnya yang berdaulat penuh atas wilayah kerajaan Medang Mataram yang sering juga disebut sebagai Mataram Kuno. Penguatan legitimasi ini dilakukan diduga karena Dyah Balitung citra sebagai pewaris tahta yang sah meskipun posisinya adalah menantu raja sebelumnya, bukan putra mahkota.

May 08, 2018

Prasasti Tangkilan, Batu Bertulis yang Dikeramatkan Penduduk


Agus Wibowo

Prasasti Tangkilan
Prasasti ini dinamakan sebagai Prasasti Tangkilan berdasarkan tempat ditemukannya, yaitu Dukuh Tangkilan, Desa Padangan, Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri. Prasasti ini juga punya dua nama lain berdasarkan desa lokasi yaitu Desa Padangan dan berdasarkan nama tokoh yang menemukannya, yaitu Mbah Gilang. Prasasti Tangkilan berangka tahun 1052 saka atau 1130 masehi, dibuat oleh Çri Mahārāja Çri Bāmeçwara Sakalabuaņatuşţikāraņa Sarwwāniwāryyawiryya Parakrama Digjayottunggadewa, yang dikenal sebagai Sri Bameswara.
Berdasarkan laporan J. Knebel, Prasasti Tangkilan ditemukan pada tahun 1908. Ketika ditemukan prasasti ini ada di lahan tegalan, tapi kini berada di tengah permukiman. Berasama prasasti ditemukan benda-benda  peninggalan bersejarah, diantaranya beberapa arca yang hilang dan juga sumur  tua.

Tulisan dalam prasasti batu ini sudah banyak yang tipis dan sulit dibaca. Tulisan yang bisa dibaca dengan jelas adalah bagian angka tahun dan nama raja yang membuatnya. Masyarakat memperlakukan prasasti ini sebagai obyek benda keramat, tapi prasasti tidak diberikan perlindungan dari terik matahari dan hujan yang membuat aus dan bisa menghilangkan naskah pesan yang tertatah di batu.

Sumber
• Knebel, J. 1910. Beschrijving van de Hindoe-oudheden in de Afdeling Kediri (Residentie Kediri).
• Wibowo, B.S. 2001. Prasasti-Prasasti di Jawa Timur. Mojokerto: BP3 Trowulan


May 07, 2018

Prasasti Wurareh, Rahasia di Balik Patung Joko Dolog

Agus Wibowo

Arca Joko Dolog di Taman Apsari Surabaya
Prasasti Wurareh adalah prasasti yang berbentuk arca Budha yang dikenal sebagai arca Joko Dolog. Pesan berupa tulisan dalam arca ini ditatah pada tempat dudukan arca sebanyak 19 baris. Naskah ditulis dalam aksara Jawa Kuno dengan berbahasa Sansekerta. Berdasarkan baris 10 sampai dengan baris 17, arca prasasti ini dibuat atas perintah Sri Kertanegara, raja Singasari yang disebut sebagai Sri Jnanasiwawajra. Arca dengan pahatan prasasti ini terbuat dari batu andesit yang kini terletak di kawasan Taman Apsari Surabaya.
Prasasti ini disebut sebagai Prasasti Wurareh karena ditemukan di daerah Wurareh. Ada yang menyebut Wurare terletak  di Desa Kedungwulan, dekat Kota Nganjuk tapi ada juga yang menyebut bahwa Wurare berada di daerah Kandang Gajah, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Versi ketiga berasal dari pendapat Prof. DR. Poerbatjaraka yang berteori bahwa Wurare berkaitan dengan daerah Blora, tempat asal Resi Barada, yang dipuji oleh Kertanegara di baris awal prasasti. Menurutnya kata Blora itu berasal dari kata Wurara atau Wurare.