May 31, 2018

Rahasia Mpu Sindok Eksodus ke Timur Jawa


Agus Wibowo 
Candi Prambanan
Sejak tahun 929 Kerajaan Medang Mataram tidak lagi ada wilayah Jawa Tengah, melainkan sudah eksodus cukup jauh dan mempunyai istana di daerah Tamwlang di Kabupaten Jombang Di Jawa Timur. Ada dua pendapat tentang eksodus atau perpindahan masal di tahun 928 ini. Ada yang berpendapat eksodus dilakukan kerena letusan Gunung Merapi yang super dahsyat dan ada juga pendapat bahwa eksodus dilakukan karena adanya konflik dan menghindari serang dari Kerajaan Sriwijaya.
Letusan Gunung Merapi 
Pendapat pertama salah satunya diutarakan oleh van Bammelen. Dia berpendapat bahwa perpindahan istana Medang dari Jawa Tengah menuju Jawa Timur disebabkan oleh letusan Gunung Merapi yang sangat dahsyat. Teori ini percaya bahwa letusan dahsyat ini menhancurkan puncak Gunung Merapi sampai membentuk Gunung Gendol dan lempengan Pegunungan Menoreh. Teori ini mempunyai bukti yang kuat, karena Gunung Merapi mempunyai sejarah panjang sebagai gurung berapi paling aktif di Pulau Jawa. Di masa kini, gunung berapi di Kabupaten Magelang ini sering meletus, yang banyak menyebabkan kerusakan dan korban jiwa. Candi Borobudur yang begitu besar bahkan tampak seperti bukit ketika ditemukan, diduga kuat tertimbun material letus Gunung Merapi.
Berita tentang terjadinya letusan gunung berapi ini bisa ditemukan di dalam prasasti yang dikeluargan oleh salah satu raja Medang Mataram, salah satunya Prasasti Rukam dibuat oleh Dyah Balitung di tahun 829 saka/907 masehi. Prasasti yang ditemukan di desa Petarongan, Parakan, kabupaten Temanggung ini memberitakan peresmian status Desa Rukam sebagai desa perdikan, karena desa tersebut telah dilanda bencana letusan gunung api. Di desa ini dibuat bangunan suci yang ada di Limwung dan penduduk Desa Rukam ditugaskan untuk memelihara bangunan suci ini.

May 30, 2018

Prasasti Kayumwungan dan Candi Borobudur


Agus Wibowo

Prasasti Kayumwungan b
Prasasti Kayumwungan adalah sebuah naskah yang ditatah dalam lempeng batu yang terbelah menjadi 5 bagian. Prasasti ini ditemukan di Dusun Karang Tengah Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah. Berdasarkan lokasi penemuan, prasasti ini juga disebut sebagai Prasasti Karang Tengah. Lima frakmen prasasti sempat didata dan ditandai dengan potongan atau frakgmen a, b, c, d dan e. Saat ini bagian prasasti yang masih ada adalah fragmen b dan e, sedangkan fragmen a, c dan d tidak diketahui ada di mana. Meskipun begitu fragmen c sempat dipelajari oleh J.G. de Casparis. 
Naskah yang ditatah dalam batu yang dipotong pipih ini menggunakan aksara Jawa Kuno dalam dua bahasa, yaitu Bahasa Sanskerta dan Bahasa Jawa Kuno. Bahasa Sanskerta digunakan pada baris 1 sampai dengan baris ke 24 sedangkan setengah baris sisanya menggunakan Bahasa Jawa Kuno. Pesan dalam 2 bahasa ini masing-masing memiliki angka tahun yang sama, yaitu 746 saka atau 824 masehi.

Prasasti Gulung-Gulung Mantapkan Mpu Sindok di Daerah Malang


Agus Wibowo

Prasasti Gulung-Gulung merupakan salah satu prasasti yang dikeluarkan oleh Mpu Sindok, Raja Medang di Jawa Timur, pendiri Wangsa Isyana. Prasasti dalam bentuk batu bertulis ini dimaksudkan sebagai peneguhan pemberian anugrah sima perdikan untuk sebidang sawah seluas 7 tapak di Desa Gulung Gulung di Kecamatan Singasari, Kabupaten Malang. Berdasarkan lokasi penemuan, prasasti ini juga dikenal sebagai Prasasti Singasari V. Naskah di prasasti ini ditatah dalam betu yang dibentuk menjadi lempengan, dibentuk gunungan di bagian atas dan diberikan ukiran relief pada bagian atas prasasti.
Pesan dalam prasasti menggunakan aksara dan bahasa Jawa Kuno. Berdasarkan angka tahun, prasasti ini dikeluarkan pada hari Selasa, tanggal 9 sulapaksa, bulan Waisaka tahun 852 Saka, yang tepada pada tanggal 20 April tahun 929 Masehi.
Pemberian anugrah sima perdikan untuk sawah di Desa Gulung-Gulung ini berawal dari permohonan Rakai Hujung Pu Madura kepada Raja Medang, agar sawah yang sudah diberikan kepadanya dijadikan sebagai tanah perdikan. Selain memohon status sima perdikan bagi tanahnya, Rakai Hujung Pu Madhura juga mengajukan permohonan tambahan agar diberikan sebagian wilayah hutan yang terletak di bantaran sungai agar juga bisa dijadikan tanah sima/perdikan. Penambahan lahan dan permohonan status sebagai tanah sima/perdikan ini dimaksudkan agar tanah bisa digunakan untuk tempat bangunan suci, yaitu sang hyang mahaprasada di Desa Hemad. Pajak desa yang sebelumnya disetorkan ke kerajaan akan digunakan untuk memelihara bangunan suci, biaya pelaksanaan upacara dan biaya pengadaan persembahan berupa kambing dan aneka bahan makanan.